Sabtu, 07 Maret 2020

Terbang dari Bandung, Ganjar Ngumpul Bareng Seribu Anggota Bus Mania Community

SEMARANG - Sekitar 1000 pecinta bus dari seluruh penjuru Tanah Air tumplek-blek di Dusun Semilir, Kabupaten Semarang, Minggu (8/3) merayakan HUT Bus Mania Community ke 12. Bagi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mereka layak dijadikan inspirator masyarakat untuk beralih ke moda transportasi umum.

Berawal dari berbagi di media sosial tentang suka duka menjalani hari-hari di atas bus, ditambah kecintaan pada keunikan-keunikan bus, dari desain interior, lampu sampai klakson, Bus Mania Community dilahirkan 12 tahun silam.

"Kami dari berbagai daerah ini disatukan karena sama-sama suka naik bus," kata Zainal Arifin, Ketua Pusat Bus Mania Community, mengawali perayaan HUT Bus Mania Community ke 12.

Dari ruang komunitas tersebut, berbagai hal tentang seluk bus dikupas. Bahkan, seluruh yang berhubungan bus tidak luput dari pandangan komunitas itu. Termasuk kebijakan-kebijakan pemerintah soal perhubungan darat.

"Kami selalu berdiskusi dengan dinas-dinas perhubungan dan juga pengusaha agar bus-bus dirawat dengan baik, terminal juga dikelola dengan baik. Karena ini untuk kemajuan transportasi di Indonesia," katanya.

Kebiasaan para anggota Bus Mania Community tersebut ternyata menarik hati Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menurutnya, apa yang dilakukan para pecinta bus tersebut sangat menginspirasi masyarakat agar memanfaatkan transportasi umum. Saking tertariknya, Ganjar bahkan terbang langsung dari Bandung untuk ngumpul bareng mereka.

"Menarik banget. Ternyata dihadiri seluruh orang dari Indonesia. Dan mereka adalah orang-orang yang peduli pada transportasi umum," kata Ganjar.

Begitu dipersilakan memberi sambutan, Ganjar mengabsen satu persatu perwakilan anggota Bus Mania Community dari berbagai daerah. Sumatera Selatan, Bali, Jawa Tengah, Jakarta, Banten, Kalimantan hingga Ternate.

"Kamu dari Bandung? Tadi pagi saya habis car free day di sana. Nah, ini sebenarnya orang-orang pengguna transportasi umum yang mesti dilindungi dan dilayani dengan baik," katanya.

Ide-idenya, lanjut Ganjar, sangat brilian. Dengan rajin naik bus, mereka bisa ngecek jalan, sistem transportasi sampai mengawal kebijakan pemerintah. Apa yang dilakukan oleh anggota Bus Mania Community itu, menurut Ganjar sederhana, tapi mampu mendorong secara optimal agar layanan publik transportasi menuju ke arah yang lebih baik.

"Kritikannya bagus, mereka mengakui toiletnya kotor, maka pengelola, penumpang semuanya harus menjaga. Mereka juga punya catatan, sopir busnya jangan ugal-ugalan. Tapi juga punya catatan bus sekarang sudah bagus-bagus, ekonomi saja sudah pakai AC. Ini kemajuan yang bagus banget," kata Ganjar.

Karena berbasis angkutan umum, Ganjar berpesan agar kebersihannya juga diperhatikan. Terlebih menyikapi perkembangan situasi saat ini yang masih diresahkan persebaran virus Corona. Ganjar mendorong agar pecinta dan pengusaha bus mulai saat ini lebih peduli terhadap kebersihan handle bus, tempat duduk maupun seluruh pelayanannya.

"Di tengah orang-orang yang sibuk dan takut dengan virus maka bus harus dibersihkan. Pengusaha bus juga harus membersihkan. Karena orang banyak megang handle, menggunakan sabun antiseptik. Agar penumpang terlindungi," kata Ganjar.( LIPUTAN RELAWAN GANJAR PRANOWO/ editor Mastok dkk).

Meskipun sudah ber-IMB, GBI (Gereja Babtis Indonesia) Tlogosari ini mengalami penolakan.


Sejumlah warga yang mengaku dari RW VII Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang kembali menggelar aksi penolakan pembangunan Gereja Baptis Indonesia (GBI) Tlogosari yang ada di Jalan Malangsari.

Kali ini aksi berlangsung di depan Balaikota Semarang, Jumat (6/3/2020). Padahal gereja tersebut sudah punya IMB. Berikut kronologinya

1. Bahwa pada tahun 1998 Pemerintah Kota Semarang menerbitkan Ijin Prinsip Pendirian Gereja dengan nomor 452.2/42/Tahun 1998 serta Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dengan nomor 645/387/Tahun:1998 bagi GBI Tlogosari untuk mendirikan rumah ibadat di di Jl. Malangsari No. 83;

2. Bahwa pada awal bulan Juli 1998 GBI Tlogosari mulai membangun rumah ibadat di Jl. Malangsari No. 83;

3. Bahwa pada 31 Juli 1998 pembangunan rumah ibadat mendapatkan protes dari warga RT dan RW setempat sehingga proses pembangunan dihentikan;

4. Bahwa pada tanggal 6 Juli 2019 GBI Tlogosari memulai kembali pembangunan gereja dengan tahapan memplester tembok dan memasang atap baja. Pembangunan ini berjalan selama 3 minggu;

5. Bahwa pada hari kamis 1 Agustus 2019 sekira pukul 08.30 WIB, lokasi pembangunan rumah ibadat didatangi oleh sekelompok orang dengan jumlah kurang lebih 12 orang yang dikoordinir Nur Aziz dengan maksud menghentikan pembangunan rumah ibadat. Sekelompok orang tersebut merusak beberapa benda yang ada di lokasi pembangunan serta melakukan penguncian pintu gerbang dengan menggunakan rantai digembok;

6. Bahwa pada hari senin 5 Agustus 2019, sekitar pukul 08.00 WIB dilaksanakan mediasi di Kantor Kecamatan Pedurungan. Nur Aziz dan kelompoknya menyampaikan bahwa alasan penolakan pendirian rumah ibadat adalah berkaitan dengan IMB yang lahir dari penipuan tanda tangan. Alasan tersebut terbantahkan karena proses perijinan rumah ibadat yang terbit pada tahun 1998 merujuk pada SKB Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama No. 1/BER/MDN-MAG/1969 yang tidak mensyaratkan tanda tangan. Sehingga alasan tersebut tidak relevan sebagai pijakan untuk mempermasalahkan IMB;

7. Bahwa pada hari senin 5 Agustus 2019, sekitar pukul 10.00 WIB dilaksanakan mediasi di Kantor Kesbangpol Kota Semarang. Dalam mediasi ini, alasan penolakan pembangunan rumah ibadat dengan dalih tanda tangan diperoleh dengan cara penipuan tidak lagi digunakan oleh kelompok penolak pembangunan rumah ibadat.

Alasan utama penolakan adalah bahwa IMB telah daluarsa karena tidak melakukan aktivitas pembangunan setelah 6 bulan diterbitkan.

Dalil bahwa IMB telah daluarsa karena tidak melakukan aktivitas pembangunan setelah 6 bulan diterbitkan sebetulnya tidak relevan untuk digunakan, karena pada faktanya pihak GBI Tlogosari telah memulai pembangunan pada Juli 1998 meski pembangunan tidak selesai dan dihentikan karena mendapat protes oleh beberapa orang;

8. Bahwa pada hari selasa 6 Agustus 2019, Walikota Semarang memfasilitasi audiensi para pihak dalam kasus ini. Untuk menyelesaikan permasalahan sosial, Walikota meminta GBI Tlogosari untuk memenuhi persyaratan tandatangan warga yang menyetujui pembangunan rumah ibadat sesuai dengan PBM Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 dan 8 Tahun 2006. Pengumpulan tandatangan ini tidak membuat IMB yang telah ada menjadi batal, melainkan hanya sebagai prasyarat sosial. Meski sebetulnya hasil mediasi ini merugikan GBI Tlogosari yang telah memiliki IMB namun pihak GBI Tlogosari menyanggupi persyaratan tersebut;

9. Bahwa pada tanggal 26 Agustus 2019, GBI Tlogosari mengirimkan Surat Permohonan Rekomendasi kepada Ketua FKUB Kota Semarang dengan melampirkan persyaratan tanda tangan yang berhasil dikumpulkan oleh GBI Tlogosari sebagaimana dimaksud pada pertemuan 6 Agustus 2019;

10. Bahwa pada tanggal 18 September 2019, Walikota Semarang mengundang rapat para pihak yang juga dihadiri oleh FKUB Kota Semarang dan para Muspika. Pada rapat ini Ketua FKUB Kota Semarang membacakan memorandum yang pada initinya menyatakan Belum Memberikan Rekomendasi Pendirian Rumah Ibadat GBI Tlogosari dan Menyarankan Pemerintah Kota Semarang untuk memfasilitasi tersedianya lokasi Pembangunan Rumah Ibadat GBI Tlogosari. Adapun yang menjadi dasar FKUB Kota 
Semarang menyatakan belum memberikan rekomendasi adalah :

1.  Belum tercipta aspek kerukunan umat beragama di lokasi pendirian gereja, sehubungan dengan ketidaksetujuan masyarakat setempat lokasi calon pendirian gereja. Adapun yang menjadi alasan ketidaksetujuan tidak lagi mempersoalkan IMB namun berubah menjadi beberapa alasan antara lain:
·         Bahwa tidak satu pun warga Malangsari yang ikut menggunakan tempat ibadah tersebut; Bahwa di wilayah Rt. 06/VII hanya ada satu keluarga yang beragama non muslim, itupun mereka tidak ikut dalam jemaat gereja tersebut;
·         Bahwa pemilik tanah yang berbatasan langsung dengan tanah gereja TIDAK SETUJU atas rencana pendirian gereja. Sebelah utara dan barat berbatasan dengan tanah milik alm. Bapak H. Sumari dengan ahli waris bapak Rohmadi dan sebelah selatan dengan tanah milik bapak Singgih;
·         Bahwa kami khawatir jika ada pembangunan tempat ibadah non muslim di Malangsari akan mengganggu keimanan dan keyakinan kami atau anakanak kami;
·         Bahwa sebagian besar warga bersepakat TIDAK SETUJU rencana pendirian gereja di Malangsari, namun SETUJU bila didirikan di tempat lain seperti di wilayah RW. VIII berdasarkan tanda tangan yang telah dapat dikumpulkan oleh pihak gereja;
·         Bahwa dengan adanya rencana pendirian gereja tersebut telah menjadikan kehidupan beragama kami menjadi tidak tenang. Berkunjungnya pihak gereja kepada ketua ta’mir Masjid Mamba’un Ni’mah justru memunculkan kecurigaan di kalangan kami sendiri;
·         Bahwa penduduk wilayah Malangsari adalah penduduk asli perkampungan yang secara kebetulan ikut bagian dari kelurahan Tlogosari Kulon. Cara berfikir kami belum terbuka sebagaimana penduduk wilayah perumnas Tlogosari pada umumnya;
·         Bahwa di wilayah perumnas masih banyak fasilitas umum yang memungkinkan untuk bisa digunakan alternatif pilihan sebagai pengganti dari tempat semula;
·         Bahwa kami sebagai warga sangat mendambakan penyelesaianpenyelesaian yang berdasarkan kerukunan, toleransi dan kejujuran. Di mana semua ini sulit terwujud bila ada keterpaksaan yang hanya akan berubah pada kerukunan yang semu semata.
2. Tanda tangan persetujuan yang diperoleh GBI Tlogosari merupakan tandatangan warga RW. VIII Kelurahan Tlogosari Kulon, sementara lokasi pembangunan rumah ibadat berada di RW. VII Kelurahan Tlogosari kulon. FKUB Kota Semarang berpandangan bahwa tanda tangan persetujuan hanya diperoleh dari wilayah yang tidak setempat dengan lokasi rumah ibadat. Sehingga dianggap tidak memenuhi syarat administratif sebagaimana diatur dalam PBM No. 9 & 8 Tahun 2006.

Pada pertemuan ini Walikota Semarang memberikan 3 (tiga) opsi penyelesaian, yaitu:
1. Lokasi gereja dipindah di Fasum yang telah disediakan pemerintah kota;
2. Gugatan PTUN bagi yang menolak pembangunan gereja;
3. FKUB memfasilitasi pertemuan untuk menyelesaikan konflik sosial;

Alasan yang digunakan FKUB Kota Semarang untuk tidak mengeluarkan rekomendasi adalah alasan yang tidak berdasar. Dasar penolakan rumah ibadat yang disampaikan kelompok Nur Aziz merupakan alasan subjektif dan merupakan permasalahan sosial, semestinya FKUB melakukan tugasnya untuk menyelesaiakan permasalahan sosial yang ada demi kerukunan umat beragama. FKUB Kota Semarang juga sesat dalam menafsirkan frasa “wilayah setempat” dalam PBM No. 9 & 8 Tahun 2006. Frasa “Wilayah setempat” oleh FKUB Kota Semarang dimaknai sebagai wilayah RW. Semestinya hal tersebut harus dimaknai sebagai desa/kelurahan.

11. Bahwa pada senin 23 September 2019 LBH Semarang selaku penasihat hukum GBI Tlogosari atas kasus ini, mengadukan kasus ini kepada Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah;

12. Bahwa pada tanggal 21 Oktober 2019, GBI Tlogosari telah mengirimkan surat yang ditujukan kepada Walikota Semarang yang pada pokoknya menyampaikan opsi yang dipilih, yaitu tetap akan membangun rumah ibadat GBI Tlogosari di Jl. Malangsari No. 83 Rt.06/VII Kelurahan Tlogosari Kulon sesuai dengan IMB sejak tahun 1998 dengan Nomor 645/387/Tahun:1998 serta Ijin Prinsip Pendirian Gereja Nomor 452.2/42/Tahun 1998 serta mempersilahkan para pihak yang keberatan terhadap pendirian rumah ibadat untuk menempuh upaya hukum. Selain menyampaikan pilihanya, GBI Tlogosari juga memohon perlindungan kepada Pemerintah Kota Semarang agar dapat menjalankan haknya sebagai umat beragama dengan rasa aman.

Dengan dipilihnya opsi tersebut maka GBI Tlogosari tidak menerima tawaran untuk pindah lokasi pembangunan rumah ibadat ke fasilitas umum yang disediakan oleh Pemerintah Kota Semarang.

13. Bahwa pada tanggal 4 November 2019 salah seorang Jemaat GBI Tlogosari yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil didatangi oleh Badan Kesbangpol Kota Semarang dan Lurah Tlogosari Kulon yang meminta agar GBI Tlogosari mau menerima opsi untuk pindah lokasi rumah ibadat;

14. Bahwa pada hari jum’at tanggal 15 November 2019 sekitar pukul 07.30 WIB, GBI Tlogosari mendapatkan informasi melalui pesan Whatshap dari salah seorang anggota TNI yang meminta agar pembangunan gereja dihentikan dahulu karena ada informasi bahwa akan ada demonstrasi;

15. Bahwa pada hari jum’at tanggal 15 November 2019 sekitar pukul 09.00 WIB, terlihat puluhan aparat TNI dan Polisi berkumpul disekitar lokasi pembangunan rumah ibadat GBI Tlogosari. Peristiwa ini juga dihadiri oleh Ketua Badan Kesbangpol Kota Semarang;

16. Bahwa pada hari jum’at tanggal 15 November 2019 Jemaat GBI Tlogosari yang berada di lokasi pembangunan telah menyampaikan bahwa pihak GBI Tlogosari menghargai dan mempersilahkan kepada pihak penolak pembangunan untuk melaksanakan demonstrasi, karena hal tersebut merupakan bentuk dari hak asasi. Sementara GBI Tlogosari juga tetap melakukan pembangunan rumah ibadat yang juga merupakan hak asasi;

17. Bahwa pada hari jum’at tanggal 15 November 2019, karena pembangunan rumah ibadat GBI Tlogosari tetap dilanjutkan. Seorang anggota TNI berpangkat Kapten bernama Jono masuk ke lokasi pembangunan dan memerintahkan seluruh tukang bangunan yang tengah bekerja untuk berhenti dan keluar dari lokasi pembangunan;

18. Bahwa pada hari jum’at tanggal 15 November 2019 sekitar pukul 12.00 WIB aparat TNI dan POLRI yang berkumpul sejak pagi berangsur-angsur meninggalkan lokasi pembangunan rumah ibadat. Sementara informasi bahwa akan ada demonstrasi penolakan pembangunan rumah ibadat tidak terbukti.

19. Bahwa pada tanggal 22 November 2019 Polsek Pedurungan menginisiasi forum mediasi yang dihadiri oleh Kapolsek Pedurungan, Danramil Pedurungan, Lurah Tlogosari Kulon, Pdt. Wahyudi (pihak GBI Tlogosari), dan Nur Aziz (Penolak pendirian rumah ibadat), Ketua RW, dan Gusdurian. Dalam mediasi ini diperoleh kesepakatan bahwa permasalahan akan diselesaikan melalui Gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara yang akan dilakukan oleh Nur Aziz selaku pihak penolak pendirian rumah ibadat pada hari senin, 25 November 2019;

20. Bahwa pada tanggal 20 Januari 2020, GBI Tlogosari mendapatkan informasi bahwa Nur Aziz megirimkan surat kepada Walikota Semarang untuk membatalkan IMB yang telah dimiliki oleh GBI Tlogosari;

21. Bahwa pada tanggal 29 Januari 2020, GBI Tlogosari mendapat undangan dari Badan Kesbangpol Kota Semarang untuk mengdadiri mediasi penyelesaian rencana pembangunan tempat ibadah oleh Mediator Independent Bp. Dr. Muksin Jamil beserta rekan;

22. Bahwa pada tanggal 31 Januari 2020, YLBHI-LBH Semarang sebagai kuasa hukum GBI Tlogosari menyampaikan tanggapan atas upaya mediasi dengan mediator independent yang pada intinya menyampaikan bahwa dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia terdapat lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk melakukan mediasi, yaitu Komnas HAM RI. Untuk itu, apabila diperlukan upaya mediasi maka Komnas HAM RI lah yang berwenang untuk melakukan mediasi;

23. Bahwa pada hari jumat tanggal 21 Februari 2020 diperoleh informasi bahwa akan ada demonstrasi penolakan pembangunan rumah ibadah. Kemudian AKBP Guki Ginting selaku Kasat Intel Polres Semarang meminta agar pihak GBI Tlogosari menghentikan pembangunan selama 1 (satu) minggu kedepan karena Walikota akan menerima audiensi kelompok penolak pembangunan rumah ibadat. Setelah 1 (satu) minggu pihak GBI Tlogosari dipersilahkan untuk melanjutkan pembangunan;

24. Bahwa pada kamis malam tanggal 5 Maret 2020 Gembala Sidang GBI Tlogosaric ditelpon oleh Bapak Tut yang diketahui adalah Wakanit Intel Polsek Pedurungan yang mendesak agar GBI Tlogosari membuat pernyataan untuk menghentikan pembangunan selama 3 (tiga) bulan kedepan;

25. Bahwa pada hari jum’at tanggal 6 Maret 2020 terdapat informasi bahwa pihak penolak akan melaksanakan demonstrasi dan oleh AKBP Guki Ginting selaku Kasat Intel Polres Semarang pihak GBI Tlogosari diminta untuk menghentikan kembali pembangunan selama 3 (tiga) bulan kedepan.


sumber : suaraislam.co




Jumat, 21 Februari 2020

Pererat persaudaraan, Perguruan Trijaya kunjungi Ponpes Roudhotus Sholihin Demak

Kamis Legi 20 Februari 2020, Perguruan Trijaya mengunjungi Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin yang berlokasi di Desa Loireng, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Rombongan yang berjumlah 13 orang tersebut terdiri atas Pengurus dan Putera Daerah Semarang serta didampingi Pengurus Pusat Perguruan Trijaya.

Kunjungan ini merupakan bentuk silaturahmi dimana akhir bulan lalu, tepatnya pada hari Kamis malam (30/1) rombongan Ponpes yang terdiri dari anak-anak dan para Guru SMP IT Roudhotus Sholihin melaksanakan kunjungan di Padepokan Wulan Tumanggal dalam rangka tour Studi Lintas Agama yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya.

"Kami berkunjung disini untuk mempererat tali persaudaraan, dimana sebagai Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, baru pertama kali padepokan kami dikunjungi satu rombongan bis besar dari Pondok Pesantren dan sekaligus mengikuti ritual rutin Supit malam Jumat Legi" tutur Trubus E.S selaku juru bicara sekaligus Pengurus Pusat Perguruan Trijaya .

Kehadiran rombongan dari Perguruan Trijaya ini disambut hangat oleh Pengasuh Ponpes KH. Abdul Qodir. "Terimakasih atas kerawuhan saudara-saudara kami dari Perguruan Trijaya, dan rawuhnya bapak ibu telah membawa berkah secara langsung yaitu menyingkirkan mendung tebal dan nyalanya listrik yang sebelumnya padam" terang Kyai Qodir yang selalu cair dan disambut gelak tawa bersama.

"Monggo kapan waktu bisa rawuh kembali, disini kami terbuka 24 jam dan tak lupa kami nitip salam hormat kepada Romo Guru sebagai Pembina Perguruan Trijaya yang telah menerima kami dengan sangat baik" lanjut Kyai Qodir.

Setelah ramah tamah dan makan siang di kediaman Kyai Qodir, acara pun bergeser ke Mushola. Disini digelar sarasehan singkat bersama para santri Ponpes. Sarasehan dibuka Kyai Qodir dan mempersilakan dari Perguruan Trijaya untuk memberikan kuliah kepada para santri tentang Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Penjelasan tentang Penghayat Kepercayaan dan Perguruan Trijaya dipaparkan secara jelas oleh Sutrimo Puspoyudo selaku Kabid PPM (Paguyuban Penghayat Murni) Pengurus Pusat Perguruan Trijaya. Para santri pun menyambut baik sarasehan ini dengan peran aktif mereka untuk bertanya saat sessi diskusi dibuka oleh Kyai Qodir.

Diakhir sarasehan sekaligus sebagai penghujung kunjungan ini, Perguruan Trijaya menyerahkan cinderamata berupa pigura foto kegiatan saat rombongan Ponpes berkunjung di Padepokan Wulan Tumanggal, yang diserahkan oleh Trubus ES kepada Kyai Qodir.

Haul Gus Dur merupakan hadiah terbesar bagi keluarga besar Gus Dur, melebihi kehormatan apapun

Alissa Wahid mengungkapkan, momen Haul Gus Dur merupakan hadiah terbesar bagi keluarga besar Gus Dur, melebihi kehormatan apapun.
“Momen ini bukan untuk mengelu-elukan atau mengkultuskan Gus Dur. Namun untuk meneladani nilai-nilai perjuangan yang dilakukan oleh Gus Dur semasa hidupnya,” ungkapnya.
Hal itu diungkapkan pada acara Haul Dasa Warsa Gus Dur yang berlangsung di Kampus USM, Senin malam lalu (12/2).
Acara tersebut diselenggarakan Gus Durian Semarang, Pelita, generasi muda NU, dan Ormas se Kota Semarang. Turut hadir antara lain, Rektor USM, kalangan pejabat Pemprov Jateng dan Pemkot Semarang, anggota DPRD Prov Jateng dan anggota DPRD Kota Semarang.
Putri pertama Gus Dur ini lebih lanjut menceritakan sosok ayahnya yang adil gender, salah satunya terhadap istirinya. Ia tak segan memberi dukungan terhadap Sinta Nuriyah Wahid untuk tampil di ruang publik.
Kepada hadirin yang hadir, Alissa juga meminta agar tak  berkecil hati dalam menghadapi kpndisi kesulitan ekonomi. Ia teringat saat Gus Dur datang ke rumahnya di Yogja. Bapaknya, ingin meminjam uang. Sontak Alissa sedih, lalu ia menelpon adik-adiknya.
“Seorang mantan presiden tidak punya uang lima juta,” ujar Mbak Alissa.
Padahal adiknya, Yenny Wahid  pernah bercerita kepadanya, kebiasaan Gus Dur memberi uang kepada siapapun yang meminta. “Bahkan saya iri sama anak-anak IAIN Yogja yg sering dapat uang saku dari Gus Dur, sementara saya sebagai anaknya sangat jarang,” tuturnya.
Alissa Wahid juga mengakui, adanya kebiasan Gus Dur yang suka humor. Hal itu justru menjadi sesuatu yang ditunggu oleh pendengarnya saat berbicara di berbagai acara. Alissa Wahid menceritakan satu jokes yang diceritakan bapaknya kepada Presiden Kuba, Fidel Castro.
“Presiden di Indonesia itu bermacam-macam. Presiden pertama negarawan, presiden kedua hartawan, presiden ketiga ilmuwan. Sementara presiden keempat wisatawan,” ucapnya yang membuat seisi ruangan tertawa.

sumber : asatu.id

Senin, 17 Februari 2020

Penghijauan di kaki Gunung Slamet, menjadi agena rutin ulang tahun Perguruan Trijaya

Kegiatan penghijauan dalam rangka HUT ke 54th Perguruan Trijaya di Kaki lereng Gn. Slamet, diatas Padepokan Wulan Tumanggal, Kab. Tegal.

Sabtu, 23 November 2019

Pertama kalinya, Pemprov Jateng Gelar Tradisi Ritual Penghayat

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, S.TP, M.Si (beskap hitam),
saat mengunjungi stand pameran Perguruan Trijaya
Untuk pertama kalinya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan event besar yang bertajuk "Gelar Tradisi Ritual" Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tahun 2019.

Kegiatan yang melibatkan beberapa organisasi Penghayat Kepercayaan ini digelar selama 5 hari, yang dibuka pada Senin malam (18/11) sampai dengan Jumat siang (22/11) di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Kegiatan yang sarat dengan tradisi budaya spiritual ini, meliputi Gelar Tradisi Ritual, Pameran, dan Seminar Penghayat Kepercayaan.

Organisasi Penghayat Kepercayaan yang terlibat dalam kegiatan tahun ini meliputi Cahya Buwana, Sedulur Sikep, AK Perjalanan, Sapta Darma (Persada), Kapribaden, Tunggul Sabdo Jati, MLKI, Perguruan Trijaya, Puanhayati, Ngudi Utomo dan Kejawen Maneges.

Kegiatan ini juga diisi dengan penampilan karya seni oleh beberapa Sekolah di Kota Semarang, dan pagelaran Wayang Kulit. Di hari terkahir Jumat (22/11) sebelum penutupan digelar Seminar Penghayat yang menghadirkan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dra. Christriyati Ariani, M.Hum.

Sebuah ritus dalam bentuk gerak tari dari Perguruan Trijaya, yaitu Tari Kalang, membuka acara ini dengan spektakuler.

Selasa, 22 Oktober 2019

Semangat Gotong Royong, Karakter Bangsa Indonesia


Semangat Gotong Royong dan Persatuan antar organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa menjadi ruh Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi yang diselenggarakan di Hotel Grand Pasundan, Bandung (22-25 Okt 2019).

Secara resmi tema Sarasehan Nasional tahun 2019 ini yaitu Ekosistem Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME yang berkepribadian Gotong Royong Berkontribusi dalam Pembangunan Karakter Bangsa.

Sarnas yang diselenggarakan setiap 5 (lima) tahun sekali ini sangat semarak karena dihadiri 1000 (seribu) tamu undangan yang memadati ruang ballroom Grand Pasundan di acara pembukaan. Tamu undangan terdiri dari 225 undangan sarasehan tingkat nasional dan 760 undangan invite via call dari komunitas budaya, dinas-dinas terkait, Penghayat Kepercayaan dari Bandung dan sekitarnya, narasumber dan akademisi.

Acara dibuka dengan tari Rampak Kendang, Lagu Indonesia Raya tiga stansa, Pembacaan Pancasila, Doa  dan dilanjutkan sambutan. Pembukaan acara secara resmi dengan pemukulan kendang serempak oleh Dra. Christriyati Ariani, M.Hum selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Hentoro Cahyono, S.H,M.H Kasubdit Sosial dan Ketentraman Kejaksaan Agung, Ir Ananto Kesuha, Msc, Staf Ahli Kementrian Inovasi dan Daya Saing, Andreas Wijayanto, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat serta Arnold Panahal, Ketua Presidium MLKI Pusat.

Eksistensi penghayat kepercayaan saat ini semakin kuat jaminan hukumnya pasca terbitnya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 yang kemudian ditindak lanjuti dengan Permendagri No 118 tahun 2017 tentang Blangko KK, Register dan Kutipan Akta Pencatatan Sipil. Selain itu tidak kalah pentingnya dengan terbitnya Undang- undang no 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pada “Azas Keberagaman” bahwa pemajuan kebudayaan mengakui dan memelihara perbedaan suku, agama, ras dan kepercayaan.

Berdasarkan hal tersebut peran nyata penghayat kepercayaan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam membentuk karakter dan jati diri Bangsa Indonesia.  Dengan Sarasehan Nasional 2019 ini dapat menyusun rumusan dan langkah-langkah konkrit sebagai upaya meningkatkan peran Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kerangka pelestarian nilai-nilai luhur, dan membangun budi pekerti dan karakter bangsa.

Adapun tujuan acara ini antara lain Menguatkan persatuan dan kesatuan yang berlandaskan gotong royong di antara penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME dalam upaya pelestarian nilai-nilai budaya Budi luhur bangsa, meningkatkan partisipasi dan kapasitas organisasi penghayat dan pengamalan nilai ajaran kepercayaan terhadap Tuhan YME, dan meningkatkan pelayanan Negara terhadap pemenuhan hak-hak penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Hadir pula dalam acara ini, mantan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, Drs. KRT Sulistyo Tirto Kusumo, MM, Kasubdit Kelembagaan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Dra. Wigati, Presidium MLKI Pusat,  Engkus Ruswana dan Andri Hernandi, dan Ketua Puanhayati Pusat, Dian Jennie Cahyawati, Ssos . (DSU)