Selasa, 11 September 2018

Saat bicara Kebudayaan, disitu kita bicara Kehidupan

Merajut Kebersamaan demi Menguatkan Perdamaian

Menjelang hari perdamaian internasional, satu kegiatan dilaksanakan oleh  Perempuan-perempuan penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME Indonesia (Puanhayati) Jawa Tengah. Anjangsana yang bertajuk “Merajut Kebersamaan demi Menguatkan Perdamaian” menjadi program yang dipilih untuk menjalin kerukunan dan komunikasi diantara perempuan-perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Satu kegiatan ini selain sebagai perekat persatuan juga menjadi gerakan pijakan khususnya bagi Puanhayati Jawa Tengah dalam melakukan penguatan dan konsolidasi bahwa Perempuan penghayat  menjadi pemeran kunci dalam eksistensi dan kemajuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Dwi Setiyani Utami, ketua Puanhayati Jawa Tengah, menyampaikan bahwa acara ini juga bertujuan untuk menginternalisasi penghormatan terhadap keragaman ajaran Ketuhanan sesuai ajaran Kepercayaannya masing-masing. Disanalah Puanhayati hadir dan turut berkontribusi mewujudkan Perdamaian bumi nusantara.

Kunjungan kegiatan anjangsana antara lain ke Pendopo Wiragati Paguyuban Maneges Tegal, Padepokan Wulan Tumanggal Perguruan Trijaya dan diakhiri dengan wisata bersama ke Pemandian Gucci Kab Tegal. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 22 perempuan penghayat dari 9 kota/kabupaten se Jawa Tengah yang mendapat sambutan hangat dari kadhang penghayat Paguyuban Maneges dan pengurus MLKI Kab Tegal.

Malam harinya, di Perguruan Trijaya Tegal, ruangan diliputi suasana gembira dengan gerak dan lagu dari ibu-ibu PPK, anak-anak AAN , serta Putera dari perguruan Trijaya Tegal yang disuguhkan dalam  pesta perayaan HUT Padepokan Wulan Tumanggal ke 34. Usai pemotongan tumpeng, acara dilanjutkan dengan makam malam bersama para tamu yang hadir.

Pada sesi Puanhayati, Dian Jennie Cahyawati, Ssos, ketua Puanhayati tingkat Nasional menyatakan apresiasinya terhadap Perguruan Trijaya dalam membina perempuan dan generasi mudanya ditengah arus globalisasi dan degradasi moral yang terjadi belakangan.

Romo Guru Panji Suryaningrat, pembina perguruan Trijaya juga memberikan arahan dan semangat kepada Puanhayati agar terus maju dengan tetap berpegang pada akar budaya Jawa.

Hadir pula dalam kegiatan itu, Dra. Wigati subdit kelembagaan kepercayaan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan tradisi,  Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd . Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Sekda Provinsi Jawa Tengah.

Selasa, 28 Agustus 2018

Meneguhkan solidaritas, melalui Grebeg Agustusan

Lurah Tologsari, Sri Lestari saat memberangkatkan Grebeg
Siang itu, Minggu (26/8) sedikit demi sedikit, sekelompok warga berduyun-duyun mendatangai sebuah lapangan tonis, yang berada disamping masjid, disebuah perumahan padat di kota Semarang. Tepatnya di RW.21 kelurahan Tlogosari Kulon, kecamatan Pedurungan.

Mereka berkumpul dalam sebuah acara rutin tahunan yang diadakan setiap bulan Agustusan yaitu Grebeg Agustusan yang kali ini merupakan tahun ke 3 (tiga) sejak tahun 2016. Grebeg Agustusan 2018 merupakan sebuah upacara adat dan tradisi yang dilakukan masyarakat RW.21 Tlogosari Kulon dalam rangka memperingati ulang tahun kemerdekaan Indnonesia.

Menurut ketua RW.21 Bambang Setyabudi, Grebeg ini dilaksanakan dengan tujuan diantaranya untuk memperingati ulang tahun Republik Indonesia dan sebagai sarana untuk meningkatkan watak pekerti bangsa pada generasi muda sekaligus nguri-nguri budaya jawa.

Grebeg Agustusan 2018 dengan mengelilingi komplek perumahan di RW. 21 ini menempuh jarak kurang lebih 1 kilometer. Pemberangkatan Grebeg dilakukan oleh Lurah Tlogosari Kulon, Sri Lestari, pada pukul 16.24 WIB.

Dalam event ini, peserta Grebeg dibagi berkelompok sesuai dengan RT masing-masing, dimana sebanyak 10 (sepuluh) RT yang berada di RW. 21. Yang menarik dalam Grebeg ini, dilakukan perlombaan antar kelompok peserta Grebeg, sehingga masing-masing RT berusaha untuk mengeluarkan kemampuan mereka dalam menjaga kekompakan.

Diantaranya mereka berlomba-lomba dalam menggunakan kostum yang unik dan menarik, seperti busana adat, profesi sampai dengan membuat gerakan tarian khas masing-masing RT. Dari penilaian juri, muncul sebagai kelompok terbaik diraih oleh RT. 10.

Bambang Permadi, bersama jurnalis TVRI Tono Hermawan
berpose dengan gunungan
Menurut pelaku sekaligus pengamat budaya Jawa Tengah, Bambang Permadi mengatakan bahwa acara seperti ini biasa diadakan di masyarakat pedesaan, dan ini menjadi sebuah konsep yang bagus dalam meneguhkan rasa solidaritas dan gotong royong dimasyarakat perkotaan sehingga terbangun persatuan sesama warga negara Indonesia.

Karena dengan persatuan, maka kerukunan dan kemakmuran masyarakat akan mudah diwujudkan, imbuhnya.

Rabu, 22 Agustus 2018

Bedaya Tunggal Jiwo, buka Grebeg Besar Demak 2018

9 (sembilan) gadis cantik menari dengan lembut dan penuh karismatik, di Pendopo Kabupaten Demak, Rabu Wage (22/8).

Mereka menarikan Bedaya Tunggal Jiwo sebagai tarian pembuka pada Kirab Prajurit 40 (patangpuluhan) yang merupakan rangkaian dari Upacara Tradisi Grebeg Besar Demak Tahun 2018.

Menurut Dyah Purwani Setianingsih, yang merupakan pencipta Bedaya Tunggal Jiwo ini, menjelaskan bahwa tarian ini mengandung harapan bahwa agar para pemimpin, pemangku jabatan, dan pembuat kebijakan untuk selalu menyatukan pikiran, perkataan dan perilakunya dengan Jiwa-nya masing-masing. Karena Jiwa mempunyai originalitas/kemurnian, kejujuran, dan nilai - nilai dasar kemanusiaan. 

Dengan kemampuan mengolah Jiwa itu maka seseorang akan mampu menjadi pemimpin yang benar-benar bijaksana, adil, dan menjadi harapan rakyatnya. 

Setelah bedaya ini ditampilkan, dilanjutkan dengan pelepasan Kirab Prajurit Patangpuluhan oleh PLH Bupati Demak, Joko Sutanto. Kirab ini mengambil rute dari Pendopo Kabupaten Demak menuju Makam Sunan Kalijaga, di Kadilangu.

Kirab ini merupakan rangkaian dari upacara tradisi Grebeg Besar Demak, yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun, pada tanggal 10 dzulhijah (Besar) saat Idul Adha.

Sabtu, 04 Agustus 2018

Gambang Semarang, Pengantin Kaji dan Kalang Obong Kendal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Tim ahli dan narasumber Sidang Penetapan WBTB
didepan para peserta sidang
Gambang Semarang, kesenian khas Semarang ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia, pada Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2018 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta (4/8).

Selain Gambang Semarang, sama-sama dari Kota Semarang, Pengantin Kaji pun juga lolos ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Kemudian dari Kabupaten Kendal, karya budaya berupa upacara adat (ritus) Kalang Obong Kendal juga ikut ditetapkan.

Acara ini diselengarakan oleh Kemendikbud RI, melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Ditjen kebudayaan dan dilaksanakan selama 4 hari, mulai Rabu (1/8) sampai dengan Sabtu (4/8).
 
Tim WBTB Jawa Tengah terdiri atas 4 orang diantaranya Hermawati, Eny Haryanti, Bambang Permadi dan Iwuk Trika. Mereka mendapatkan jatah untuk memaparkan karya budaya didepan tim ahli, narasumber dan  seluruh peserta sidang pada hari ke 2 (dua), Kamis (2/8). Atas dasar keadilan, jadwal paparan oleh panitia dibuat secara undian yang diikuti sebanyak 34 provinsi dari seluruh Indonesia. 

Anggota tim Jateng, Bambang Permadi saat menjelaskan
sebuah karya budaya pada acara sidang
Jawa Tengah sendiri mengusulkan 10 karya budaya antara lain Gambang Semarang (Kota Semarang), Manten Kaji (Kota Semarang), Kalang Obong (Kab. Kendal), Grebeg Besar Demak (Kab. Demak), Hak Hakan (Kab. Wonosobo), Tari Topeng Endel (Kab. Tegal), Begalan (Kab. Banyumas), Lengger Banyumas (Kab. Banyumas), Kethek Ogleng (Kab. Wonogiri), dan Sedulur Sikep (Kab. Blora).

Dari ke 10 karya budaya tersebut, 9 ditetapkan dan1 ditangguhakan, yaitu lengger Banyumas karena adanya kekurangan kelengkapan data pendukung. Meskipun ditangguhkan penetapannya tetapi Lengger Banyumas sudah dicatatkan dan diagendakan tahun depan tetap diusulkan untuk ditetapkan sebagai WBTB Indonesia Tahun 2019.

Sidang Penetapan WBTB ini ditutup oleh Dirjen Kebudayaan Kemendibud RI, Hilmar Farid. Dalam sambutan penutupannya, Hilmar berpesan agar karya budaya yang sudah ditetapkan ini agar dibuatkan album atau ensiklopedi atau istilah lainnya, agar semua lapisan masyarakat bisa mengetahui kekayaan akan khasanah budaya kita.