Jumat, 25 September 2020

Setelah 22 Tahun, GBI Tlogosari akhirnya bisa melanjutkan pembangunan Gereja

Setelah selama 22 tahun, akhirnya GBI (Gereja Babtis Indonesia) Tlogosari Semarang, bisa melanjutkan pembangunan tempat ibadah (gereja). Hal ini ditandai dengan penyerahan IMB baru yang diserahkan oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi kepada Pendeta Wahyudi dari GBI Tlogosari.

Penyerahan IMB tersebut dilakukan bersamaan dengan acara Pelantikan Pengurus Badan Musyawarah Gereja (BAMAG) Kota Semarang di Balaikota Semarang, Kamis (24/9).

"Saya serahkan IMB untuk gereja bapak, semoga bisa membuat situasi menjadi lebih baik, jemaatnya juga semakin hebat dan gerejanya bermanfaat" pesan Hendi, sapaan akrab walikota Semarang itu saat menyerahkan IMB kepada Pendeta Wahyudi.  

Dalam kesempatan tersebut, Pendeta Wahyudi yang didampingi oleh Naufal Sebastian dari LBH Semarang dan Setyawan Budy dari Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang, merasa senang menerima IMB Baru dari Walikota Semarang. 

 "Saya sangat senang sekali, perjalanan yang panjang untuk mewujudkan impian sebuah gedung gereja, diperlukan ketekunan, semangat, dan kesetiaan" jelas Pendeta Wahyudi.

"Semua bisa kita lalui berkat dukungan Keluarga Jemaat, LBH Semarang, Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang, Elsa Semarang dan Gusdurian Semarang yang telah membuat kami bangga dan kuat dalam menghadapi pergumulan IMB yang kedua ini, kiranya segala kebaikan teman-teman pendamping, Tuhan sendiri yang membalasnya berlipat ganda", lanjut Pendeta Wahyudi.

IMB baru ini adalah hasil dari beberapa proses terakhir yang ditempuh GBI Tlogosari. Yaitu pada saat kasus ini dimediasi oleh Komnas HAM RI pada hari Kamis (17/9) di Balaikota Semarang yang menghasilkan putusan agar GBI Tlogosari segera mengurus IMB baru, meskipun IMB lama yang terbit tahun 1998 masih sah secara hukum. 

Hasil mediasi tersebut disambut baik oleh FKUB Kota Semarang dan Kemenag Kota Semarang yang menerbitkan rekomendasi untuk GBI Tlogosari yang diterbitkan secara cepat yaitu pada hari Sabtu (19/9). 

Surat rekomendasi inilah yang menjadi syarat utama hingga Pemkot Semarang mengeluarkan IMB untuk GBI Tlogosari yang teletak di Jl. Malangsari No. 83 Semarang.  

 

 

Sabtu, 29 Agustus 2020

Karena pandemi, peringatan Asyura digelar secara sederhana oleh Muslim Syiah di Semarang.


M
erayakan sebuah perayaan merupakan hak setiap individu dan oleh siapa saja tanpa terkecuali. Tanpa memandang status agama, aliran, hingga status sosial. 

Di setiap tanggal 10 Muharram selalu diperingati saudara-saudara Syiah sebagai peringatan Asyura. Pada tanggal 10 Muharram 1442 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 2020 ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, saudara-saudara Syiah yang ada di Semarang tetap memperingati Asyura walau di tengah keadaan Pandemi Covid-19. 

Peringatan Asyura pada tahun ini, diperingati dengan menerapkan protokol kesehatan sebagaimana yang diatur oleh pemerintah dengan mengaruskan mencuci tangan bagi para jamaah, memakai masker, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga jarak. Acara tersebut dilakukan secara online yang disiarkan langsung melalui kanal youtube Alhurr TV dan dilaksanakan secara offline yang dihadiri oleh sekitar 50 jamaah.

Acara peringatan Asyura tersebut dimulai pada pukul 12.30 WIB. Peringatan tersebut dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan. Dalam sambutannya, Taslim mengatakan, dirinya sangat bersyukur dapat datang dan bisa berkumpul dengan saudara-saudara Syiah dalam acara peringatan Asyura pada tahun ini. 

“Ini merupakan sebuah hal yang luar biasa bagi saya. Kesempatan yang sangat membanggakan bagi saya. Saya sangat senang sekali bisa datang dan dapat mejalin silaturahim dengan panjenengan semua.” sambut Taslim. 

Menurut Taslim, kegiatan yang dilakukan oleh saudara-saudara Syiah tersebut harus diapresiasi oleh semua pihak. “Siapapun tidak boleh merepresi perayaan agama yang itu diperbolehkan untuk diekspresikan semua warga negara,” tuturnya. Kita semua boleh mengekspresikan ekspresi keberagamaan masing-masing.

“Pada bulan Muharram tepatnya pada tanggal 10 Muharram ini, memang menjadi sejarah yang sangat memilukan dalam bagi kita semua. Tapi ada sisi lain yang dapat kita pelajari dari sejarah kelam tersebut. Kita perlu berkaca kepada Kuda kesayangan Nabi Muhammad SAW yang sangat mencintai Sayyidina Husen. Ketika Sayyidina Husen sudah tidak berdaya kuda itu tetap menunjukan kasih sayangnya. Karena itu kami sowan dengan saudara-saudara semuannya pada acara ini paling tidak untuk meneladani kuda Nabi Muhammad SAW yang notabene adalah binatang, tapi kasih sayangnya luar biasa kepada Sayyidina Husen. Maka dari itu, hadirnya kami di sini adalah untuk mengapresiasi bahwa acara yang digelar pada siang ini merupakan kegiatan yang baik, kegiatan yang harus apresiasi semua orang. Serta acara ini menjadi ekspresi kasih sayang kita kepada semua umat manusia bukan hanya kepada umat islam,” jelas Taslim di hadapan jamaah yang datang.

Dalam akhir sambutannya, Taslim menuturkan, Tragedi Karbala di satu sisi adalah kepiluan tetapi mari kita bangkit dan menjadi satu sisi untuk mendisemenasi kemanuasiaan kita terhadap semua umat manusia. “Pesan khusus dari saya, mari kita bersama-sama menjadi perekat dan jangan sampai menjadi penyekat di antara kita. Kita ini sejatinya saudara, dan mari bersama menguatkan ukhuwah kita baik ukhuwah islamiyyah, ukhuwah insaniyah, dan ukhuwah wathoniyyah,” jelas Taslim.

Setelah sambutan oleh Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, acara dilanjutkan dengan tausiyah dari Sayyid Thoha Musawa. Dalam pembukaan tausiyahnya, Sayyid Thoha menjelaskan, Karbala mengandung pengajaran bagi kita semua bahwa kita tidak dapat menginjak-injak hak orang lain dengan mengatasnamakan agama. Namun kenyataannya, apa yang mereka lakukan (menginjak-injak hak) sangat jauh dari ajaran agama. “Siapapun yang berusaha memaksakan keherndaknya, menekan ekspresi keberagamaan manusia merdeka dan bertindak semena-mena bukanlah ajaran serta jauh dari agama yang di bawa Nabi Muhammad SAW yang mulia.”

Dalam tausiyahnya, Sayyid Thoha di samping menjelaskan tentang kejadian Karbala, beliau mengapresiasi kehadiran Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah. Menurut beliau, keberagaman merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindari, akan tetapi kita tidak boleh mengintervensi dan memakasa manusia merdeka untuk mengikuti kehendak orang lain. “Masing-masing kita tidak boleh diintervensi dalam mengekspresikan ekspresi keagamaan,” tutur Sayyid Thoha.

Acara peringatan Asyura yang diadakan oleh saudara-saudara Syiah Kota Semarang berlangsung dengan lancar dan aman tanpa kendala apapun. Para jamaah begitu hikmat mengikuti prosesi peringatan Asyura. Khususnya pada saat acara Maqtal yang dilangsungkan pasca tausiyah selesai. Acara Maqtal dipimpin oleh Sayyid M. Ridho Assegaf. Para jamaah larut dalam kesedihan saat menghayati pembacaan maqtal tersebut. Pada saat acara Maqtal, seluruh jamaah tenggelam dalam tangis dan begitu khusyuk. Setelah acara Maqtal, acara dilanjutkan dengan pembacaan Syair yang dipimpin Sayyid Alwi Assegaf, dilanjutkan dengan doa dan ziarah yang dipimpin oeh Sayyid Lutfi Al-Idrus dan diakhiri dengan makan bersama oleh semua jamaah.

Pada acara tersebut, di samping dihadiri oleh Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah,turut hadir Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (PELITA), Humanity First Indonesia, Perguruan Trijaya, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Semarang, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Lembaga Pers Mahasiswa Justisia yang juga mengapresiasi dan mengikuti acara peringatan Asyuro hingga akhir acara.

Selasa, 25 Agustus 2020

Silaturahim Kebhinnekaan FKUB Jateng ke Pondok Pesantren Darut Taqrib, Jepara

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah bekerjasama dengan Ponpes Darut Taghrib (DATA) Jepara menggelar kegiatan Silaturahim Kebhinekaan pada hari Selasa, 25 Agustus di Aula Ponpes Darut Taqhrib (DATA) yang dihadiri ratusan warga termasuk tokoh agama, penghayat kepercayaan, dan tokoh masyarakat di Kabupaten Jepara dan Provinsi Jawa Tengah. 

Silaturahim yang mengangkat tema "Memperkokoh Kerukunan Menuju Kejayaan dan Kesejahteraan di Masa Depan" itu dihadiri oleh Ketua FKUB Jepara, DR. KH Mashudi, M.Ag sekaligus ketua MUI Jepara, Ketua FKUB Jateng Drs. KH. Taslim Sahlan, MSI, Bupati Jepara H Dian Kristiandi S.SOS, Kapolres Jepara AKBP. Nuryanto Dwi Nugroho, SIK, M.H dan Dandim 0719/Jepara Letkol Arm Suharyanto S.SOS. Hadir dalam acara itu perwakilan enam penganut agama dan empat penghayat kepercayaan, antara lain dari Walubi, Permabudhi, Magabudhi, Pelita, GUSDURian, PMKRI, Hikmahbudhi, MNSBDI, JAI, Humanity First Indonesia, Perguruan Trijaya, dsb. 

Dalam sambutannya, Ustadz Miqdad Turkan sebagai pemimpin Ponpes memuji kehadiran para tokoh, aparat, ulama dan elemen masyarakat di sebuah ponpes Syiah, yang menurutnya, adalah satu tindakan berani dan harus diapresiasi. Dia menegaskan bahwa gerakan intoleran yang mengatasnamakan agama adalah penyebab terjadinya intoleransi yang membawa nama Tuhan.

Anggota Dewan Syuro ABI Pusat itu juga bersyukur atas terselenggaranya acara dan berharap gerakan anti intoleransi akan menjadi gerakan massif yang menyebar ke seluruh Jawa Tengah. "Ini adalah kita yang sama, saudara dalam kemanusiaan", tegasnya.

Ustad Miqdad juga mengucapkan terimaksih kepada seluruh aparat keamanan negara yang hadir dalam mengawal acara peringatan malam-malam Asyura. "Terima kasih kami ucapkan kepada jajaran Kapolres dan Kapolsek Jepara yang menjaga acara-acara Asyura di beberapa wilayah Jepara. Meski kita beda dalam agama namun kita tetap menjaga NKRI," pungkasnya.

Sementara itu ketua FKUB Jepara, DR. KH Mashudi, M.Ag dalam sambutannya mengatakan acara ini dibuat dalam rangka menjaga kerukunan dan merajut kebersamaan. 

"Kerukunan biasa dimulai dengan komunikasi dan silaturahmi. Keragaman adalah kenicayaan dan kita tidak bisa hidup sendiri, harus rukun dan toleran," katanya. "Bangsa yang besar tidak boleh dicabik-cabik oleh segelintir orang yang tidak jelas siapa pemesannya dan apa pesanannya."

"Di Jepara tidak boleh ada darah tercecer sia-sia," katanya menyinggung demo terbaru oleh sekelompok orang di desa Slagi yang mengibarkan bendera tertentu. "Ini adalah pembelajaran penting dalam toleransi sampai akhir hayat," tandasnya. 

Usai sambutan KH Mashudi, acara dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis Alat Pelindung Diri (ABD) kepada Ponpes DATA dari FKUB Jateng via Bupati Jepara dan diterima oleh Ustad Miqdad.

Ketua FKUB Jateng, Drs. KH. Taslim Sahlan, MSI yang hadir disertai 21 personil yang mayoritas adalah para pengusaha serta perwakilan organisasi, lembaga, maupun komunitas mengatakan, "Jawa Tengah harus terjaga dari sikap intoleransi. Semua elemen bangsa, apapun agama dan keyakinannya, tetap kita ayomi sekaligus saling menggayomi."

"Harus saling memperkuat dan memperekat kebangsaan. NU dengan ke-NU-annya, Syiah dengan ke-Syiah-annya dan tetap menjadi bagian warga NKRI dan bangsa Indonesia," tegasnya.

Bupati Jepara, Bapak H Dian Kristiandi S.SOS juga menegaskan, "Republik Indonesia berdiri bukan hanya untuk kelompok dan suku tertentu. Juga budaya dan adat istiadatnya adalah modal dasar berdirinya kemerdekaan.”

Dia juga menegaskan tidak ada paksaan adat istiadat, budaya dan ideologi sembari menyinggung konflik berkepanjangan di Suriah, yang menurutnya ada unsur paksaan dari kelompok tertentu dalam konflik tersebut. 

Mengakhiri sambutannya, Bupati Jepara menegaskan bahwa forum –forum seperti ini sangat dibutuhkan sebagai bagian dari sebuah kebutuhan bersama. 

Acara yang digelar pada pukul 10:25 pagi waktu setempat itu berakhir pada pukul 11:40 dengan pembacaan doa keselamatan bangsa oleh perwakilan Kemenag Jepara yang dilanjutkan dengan sholat Dhuhur berjamaah. Dalam shalat, setiap jamaah melaksanakan shalat sesuai dengan fikih masing-masing.

Acara yang digelar para pemuka agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Ponpes DATA itu diharapkan menjadi salah satu kunci dalam menjaga kondusifitas wilayah yang dihuni oleh masyarakat dengan keberagaman agama dan suku. Serta mendukung program pemerintah untuk mengantisipasi merebaknya paham radikalisme. 

Acara ini juga diharap mampu menciptakan suasana aman, nyaman, rukun dan damai dalam masyarakat heterogen, yang merupakan ciri khas Bangsa Indonesia.

Sebelum ini, beberapa peristiwa persekusi terjadi di sejumlah tempat, seperti Solo, yang dilakukan oleh kelompok tertentu menunjukkan adanya sentimen SARA untuk mencitakan konflik horisontal. 

Di masa depan, diharapkan kegiatan silaturahmi seperti ini tidak berhenti di panggung seremonial belaka tapi berlanjut dalam tindak kehidupan sehari-hari, dengan berbagai kegiatan nyata dan kesepakatan-kesepakatan supaya kerukunan antar umat beragama dapat terwujud dengan baik. (SB)

Rabu, 05 Agustus 2020

Gelar Baksos, Lembaga Keagamaan Buddha gandeng FKUB dan komunitas lintas agama

Lembaga Keagamaan Buddha dan Bimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, menggelar bakti sosial di Vihara Vajra Bumi Dharma Sugata, Bringin, Kab. Semarang, kemarin Rabu, 5 Juli 2020. 

Lembaga Keagamaan Buddha dalam hal ini DPD Walubi Jawa Tengah dalam melaksanakan bantuan kemanusiaan ini menggandeng FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Provinsi Jawa Tengah, FKUB Kab. Semarang, Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang, Humanity First Indonesia, Gusdurian Semarang, JAI Salatiga, dan Perguruan Trijaya. 

Bakti Sosial dalam bentuk sembako dan alat kesehatan penunjang protokol pencegahan Covid-19 ini ditujukan untuk beberapa Vihara dan Penyuluh Buddha di 4 Wilayah yaitu, Kab. Semarang, Salatiga, Boyololi dan Grobogan. Semoga bermanfaat dalam upaya pencegahan perluasan Covid-19. 

Ketua DPD WALUBI Provinsi Jawa Tengah Tanto Sugito, menyampaikan terimakasih kepada semua pendukung di kegiatan sosial ini. 

Meskipun acara ini mendadak, tetapi kehadiran Pengurus FKUB baik Provinsi Jawa Tengah maupun Kabupaten Semarang serta beberapa organisasi lintas agama dan kepercayaan semakin menguatkan kebersamaan dan kerukunan atar umat agama yang ada di Jawa Tengah ini, khususnya di Kabupaten Semarang", jelas Tanto. 

Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Sutarso, menjelaskan bahwa untuk agama Budha di Kanwil Kemenag Jawa Tengah terdiri dari 22 Satker, tetapi jumlah Kota dan Kabupaten total ada 35, yang dikategorikan menjadi 6 eks karisedanan. 35 Kabupaten ini rencana akan dibantu Walubi baik sembako maupun alat kesehatan protokol covid-19.

"Kami sangat berterimakasih kepada Walubi yang selalu bersemangat melakukan bakti sosial, dan ini sangat bagus karena didukung oleh FKUB dan organisasi kepemudaaan lintas agama dan kepercayaan", jelas Sutarso.

Lebih lanjut Sutarso menjelaskan bahwa kegiatan bersama ini akan semakin meningkatkan kerukunan yang diaplikasikan di Jawa Tengah. Hal ini sesuai dengan program Kementerian Agama yaitu Peningkatan Kualitas Keimanan, Kerukunan, dan Pendidikan.

"Mari kita senantiasa tingkatkan kerukunan, sentuhan kasih yang diberikan secara kuantitas memang tidak seberapa, tetapi kebersamaan ini kita tonjolkan maka akan diikuti umat didaerah ini, sehingga kebersamaan tetap terjaga", pungkas Sutarso.

Ketua FKUB Jawa Tengah, KH. Taslim Syahlan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Walubi Jawa Tengah dan Bimas Budha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah yang sekaligus menggandeng organisasi lintas agama dan kepercayaan dalam melaksanakan bakti soial ini. 

"Perjumpaan lintas agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME ini merupakan salah satu wujud nyata dalam memperkokoh kerukunan umat beragama" jelas Taslim.

"Kokohnya kerukunan umat beragama tentu menjadi modal sosial yang penting dalam merealisasikan Jawa Tengah yang gayeng dan majeng" tukas Ketua FKUB Jawa Tengah ini.

Minggu, 02 Agustus 2020

HF Indonesia Gandeng FKUB Jawa Tengah dan Komunitas Lintas Agama untuk "HFBerQurban"

Humanity First (HF) Indonesia kembali melakukan aksi bantuan kemanusiaan berupa penyaluran hewan qurban ke Masjid Jami Baitussalam di Desa Bringin, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara.

Dalam aksi sosial ini, HF Indonesia menggandeng FKUB Jawa Tengah, Persaudaraaan Lintas Agama (Pelita) Semarang, GUSDURian Semarang, Yayasan Panembahan Senopati Semarang (YPSS), JAI Semarang dan Penghayat Kepercayaan Perguruan Trijaya.

"Kami lakukan ini sebagai bentuk empati terhadap masyarakat dimasa pandemi Covid-19, dan kami lakukan bersama ini untuk menjalin kebersamaan dan kerukunan berbangsa khususnya di Jawa Tengah", Jelas Anton Baskoro, Kabid Finance HF Indonesia wilayah Jawa Tengah.

Lebih lanjut lagi Anton mengatakan bahwa selain di Jepara, kami juga menyalurkan hewan qurban ke Demak, Gorontalo dan Masamba. "Dua tempat terakhir ini kami pilih karena kita tahu dua wilayah tersebut terakhir dilanda bencana alam, baik gempa bumi maupun banjir bandang", lanjut Anton.

Ketua FKUB Jawa Tengah, H. Taslim Syahlan menyampaikan apresiasi terhadap HF Indonesia yang telah menggandeng FKUB dan beberapa organisasi lintas agama dan kepercayaan dalam malaksanakan bantuan kemanusiaan ini.

"Semoga pola kebersamaan ini bisa terus belangsung dan menjadi contoh, untuk lebih meningkatkan rasa persatuan dan kerukunan antar sesama manusia, tak membeda-bedakan agama dan kepercayaan", jelas Taslim.


Senin, 27 Juli 2020

Viral, video para Bikku terima sedekah dari komunitas lintas agama dan kepercayaan

Hari ini, jagad medsos dihebohkan dengan video beberapa rohaniawan Buddha yang menerima sedekah dari sekelompok warga lintas agama dan kepercayaan di kota Semarang.

Video berdurasi 56 detik tersebut diambil oleh salah satu Penggerak GUSDURian Semarang, Cahya Astika di Vihara Buddhadipa yang berlokasi di Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (26/7). Saat itu pihak vihara sedang menggelar ritual rutin upacara Pindapata.

Makna Pindapata adalah sedekah, yaitu para rohaniawan menerima sedekah makan dan minum dari para umat yang berjajar berdiri dipinggir jalan sekitar vihara.

Tak seperti biasanya, Pindapata kali ini tampak indah dan sejuk dengan keikutsertaan beberapa komunitas lintas agama/kepercayaan yang ikut berbaris bersama umat Buddha lainnya untuk memberi 'sedekah' berupa makanan maupun minuman kepada Bhikku, Samanera, dan Sameneri. Upacara pindapata ini dipimpin langsung oleh Bhikkhu Dithisampanno, P.hd. (Ketua Sekretaris Wilayah Sangha Agung Indonesia Provinsi Jawa Tengah).

Turut hadir dalam acara ini H. Taslim Syahlan, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah), Sutarso Girivana, S. Ag., M.M. selaku Pembimas Buddha, Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Anton Baskoro dari Humanity First Indonesia, Bambang Permadi dari Penghayat Kepercayaan Perguruan Trijaya, Cahya Astika T dari Penggerak Gusdurian Semarang, Iqbal Alma selaku Koordinator GUSDURian Unnes, dan beberapa mahasiswa Unnes yang sedang menjalani KKN di Kelurahan Pakintelan.

Video ini seolah memberi pesan kedamaian dan kesejukkan, makna dari nilai toleransi beragama yang saat ini jarang terlihat dan bahkan sesuatu yang langka.

"Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu sekali menjaga kerukunan antar sesama warga negara tanpa membeda-bedakan suku ras, agama maupun kepercayaannya" jelas Setyawan Budy, koordinator Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang.

Apresiasi yang sama juga disampaikan Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah. "Ini bisa menjadi contoh, khususnya di Jawa Tengah, agar nilai kebersamaan itu lebih diutamakan dalam tindakan kemanusiaan, inilah aplikasi dari moderasi beragama", jelas H. Taslim Syahlan.


Berikut video Pindapata di Vihara Buddhadipa Pakintelan Semarang.


Minggu, 26 Juli 2020

Ketua FKUB Jawa Tengah kunjungi Penghayat Kepercayaan Perguruan Trijaya

Kamis Kliwon (23/7), Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, KH. Drs. Taslim Syahlan, M.Si, melakukan kunjungan ke Padepokan Wulan Tumanggal, Desa Dukuhtengah, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal milik Perguruan Trijaya, yang merupakan salah satu organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berpusat di Tegal.

Kunjungan yang bertajuk Silaturahim Kebangsaan tersebut merupakan kunjungan ke 3 (tiga) dalam satu hari itu, setelah sebelumnya  rombongan Ketua FKUB ini mengunjungi KH. Mustamsikin di Kaliwungu Kendal dan FKUB Kabupaten Kendal, kemudian di Slawi rombongan berkunjung di kantor Kemenag Kabupaten Tegal bersama FKUB Kabupaten Tegal.

Kedatangan Ketua FKUB Jawa Tengah dan rombongan ini diterima langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru Kanjeng Pangeran Suryaningrat II. Selain Ketua FKUB, ikut serta dalam rombongan yaitu Setyawan Budy selaku Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Maulana Saefullah A. Faruq, mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia Cabang Semarang, Anton Baskoro dari Humanity First (HF) Indonesia, Nuhab Mujtaba dari GUSDURian Peduli, Iqbal Alma GA selaku Koordinator GUSDURian UNNES dan Bambang Permadi yang juga merupakan Putera Perguruan Trijaya.

Kedatangan rombongan ini bertepatan dengan ritual Supit (Sujudan Kecepit) yang dilaksanakan setiap malam Jumat Legi di Perguruan Trijaya. Dalam acara pengantar Supit, Romo Guru menyampaikan selamat datang dan ucapan terimakasih atas kunjungan ketua FKUB Jawa Tengah dan para tokoh lintas agama yang datang langsung dari Semarang.


Dalam acara tersebut, Romo Guru juga memberikan kesempatan kepada KH. Taslim Syahlan untuk memberikan sambutan kepada para Putera dan Simpatisan Perguruan Trijaya yang hadir malam itu untuk mengikuti sujudan malam Jumat Legi tersebut.

Ada 2 (dua) hal penting yang disampaikan Ketua FKUB Jateng tersebut. Diantaranya adalah pesan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, agar pelaksanaan ibadah bersama ditempat ibadah baik agama maupun kepercayaan untuk selalu memperhatikan protokol kesehatan.

Dan yang kedua, Penghayat Kepercayaan kedepan akan dilibatkan dalam acara-acara FKUB atau kegiatan-kegiatan lintas agama lainnya. "Mengacu pada aturan, memang Penghayat Kepercayaan belum bisa masuk menjadi pengurus dalam FKUB, tetapi dalam hal berkegiatan, mereka harus kita rangkul, bersama-sama di semua acara atau kegiatan lintas agama dan kepercayaan" tegas KH. Taslim Syahlan.

"Seperti akhir Mei kemarin, saat pandemi Covid19 stok darah di PMI menipis, kami serentak melaksanakan aksi kemanusiaan berupa Donor Darah Lintas Agama dan Kepercayaan, dan kami ajak penghayat untuk ikut terlibat, dan saat itu 3 (tiga) organisasi perwakilan penghayat ikut bergabung yaitu Perguruan Trijaya, Sapta Darma dan Puanhayati", lanjut dosen Unwahas ini yang biasa dipanggil dengan Mbah Sunan Ngaliyan.

Dengan pernyataan tersebut, menegaskan bahwa peran penghayat kepercayaan menjadi unsur penting dalam melengkapi kebersamaan dengan pemeluk agama lainnya, bersama-sama membina kerukunan, menciptakan suasana damai dan toleran agar nilai persatuan dalam berbangsa serta bernegara selalu tercipta, untuk Indonesia yang lebih maju dan untuk keutuhan NKRI.

Setelah mengikuti sujudan di sanggar pamujan selama 1 jam mulai jam 2 pagi, rombongan melanjutkan obrolan santai sambil ngopi di Pondok Kopi Sasaling yang ada di Padepokan Wulan Tumanggal hingga fajar tiba.

Setelah beberapa waktu istirahat, Jumat siang rombongan bertolak pulang ke Semarang dan sebelumnya berfoto bersama Romo Guru dan Pengurus Pusat Perguruan Trijaya di depan Suryaningratan, Padepokan Wulan Tumanggal.



sumber : perguruantrijaya.org