Selasa, 25 September 2018

Malalui Seni dan Budaya, mendorong LDII untuk lebih inklusif, terbuka bagi siapapun


Bertempat di Gedung baru Ponpes Baitul Mahmud, Kalibagor, Banyumas Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah menggelar Workshop Seni Dan Budaya, Selasa (25/9).

Workshop ini diikuti seluruh jamaah LDII se Kabupaten Banyumas sejumlah 100 peserta. Dalam sambutan selamat datang, Ketua LDII Kabupaten Banyumas H. Sutanto mengucapkan terimakasih atas terselenggaranya workshop seni dan budaya ini dan mengambil lokasi di sebuah gedung baru yang belum tuntas pembangunannya. Rencana, gedung serba guna itu tidak hanya diperuntuukan untuk internal Ponpes atau LDII saja, tetapi siapapun boleh menggunakannya.

Selasa, 11 September 2018

Saat bicara Kebudayaan, disitu kita bicara Kehidupan


Saat bicara Kebudayaan, disitu pula kitas sedang membicarakan kehidupan, karena kebudayaan mengatur kehidupan kita dari bangun tidur, samapai dengan tidur lagi dan dari lahir hingga kita mati.

Diatas merupakan sepenggal uraian dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid, Ph.D saat menjadi narasumber dalam acara Dialog Kebudayaan Indonesia di Padepokan Wulan Tumanggal, Bojong, Kabupaten Tegal, Minggu Pahing (9/9).

Dialog ini dimoderatori oleh Bambang Permadi, sekretaris KEIMANAN (Kelompok Intelektual Anak Alam Nusantara) yaitu organiasasi bidang kepemudaan dibawah naungan Perguruan Trijaya.

Tampak hadir sebagai peserta dialog Wakapolres Tegal didampigi Kapolsek Bojong, Kasubdit Kepercayaan Dra. Wigati, Kasubdit Kelembagaan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Lita Rahmiati. Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, Ketua Yayayan Kanthil Semarang Prof. Soetomo, Dosen UPS Tegal Dr Purwo Sasongko, para Mahasiswa dari UPS Tegal,  

Pada kesempatan ini, Hilmar Farid membuka forum tanya jawab kepada para peserta dialog.
Dialog Kebudayaan ini merupakan satu acara utama dalam rangka peringatan Ulang Tahun Padepokan Wulan Tumanggal yang ke 34.


Merajut Kebersamaan demi Menguatkan Perdamaian

Menjelang hari perdamaian internasional, satu kegiatan dilaksanakan oleh  Perempuan-perempuan penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME Indonesia (Puanhayati) Jawa Tengah. Anjangsana yang bertajuk “Merajut Kebersamaan demi Menguatkan Perdamaian” menjadi program yang dipilih untuk menjalin kerukunan dan komunikasi diantara perempuan-perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Satu kegiatan ini selain sebagai perekat persatuan juga menjadi gerakan pijakan khususnya bagi Puanhayati Jawa Tengah dalam melakukan penguatan dan konsolidasi bahwa Perempuan penghayat  menjadi pemeran kunci dalam eksistensi dan kemajuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Dwi Setiyani Utami, ketua Puanhayati Jawa Tengah, menyampaikan bahwa acara ini juga bertujuan untuk menginternalisasi penghormatan terhadap keragaman ajaran Ketuhanan sesuai ajaran Kepercayaannya masing-masing. Disanalah Puanhayati hadir dan turut berkontribusi mewujudkan Perdamaian bumi nusantara.

Kunjungan kegiatan anjangsana antara lain ke Pendopo Wiragati Paguyuban Maneges Tegal, Padepokan Wulan Tumanggal Perguruan Trijaya dan diakhiri dengan wisata bersama ke Pemandian Gucci Kab Tegal. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 22 perempuan penghayat dari 9 kota/kabupaten se Jawa Tengah yang mendapat sambutan hangat dari kadhang penghayat Paguyuban Maneges dan pengurus MLKI Kab Tegal.

Malam harinya, di Perguruan Trijaya Tegal, ruangan diliputi suasana gembira dengan gerak dan lagu dari ibu-ibu PPK, anak-anak AAN , serta Putera dari perguruan Trijaya Tegal yang disuguhkan dalam  pesta perayaan HUT Padepokan Wulan Tumanggal ke 34. Usai pemotongan tumpeng, acara dilanjutkan dengan makam malam bersama para tamu yang hadir.

Pada sesi Puanhayati, Dian Jennie Cahyawati, Ssos, ketua Puanhayati tingkat Nasional menyatakan apresiasinya terhadap Perguruan Trijaya dalam membina perempuan dan generasi mudanya ditengah arus globalisasi dan degradasi moral yang terjadi belakangan.

Romo Guru Panji Suryaningrat, pembina perguruan Trijaya juga memberikan arahan dan semangat kepada Puanhayati agar terus maju dengan tetap berpegang pada akar budaya Jawa.

Hadir pula dalam kegiatan itu, Dra. Wigati subdit kelembagaan kepercayaan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan tradisi,  Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd . Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Sekda Provinsi Jawa Tengah.

Selasa, 28 Agustus 2018

Meneguhkan solidaritas, melalui Grebeg Agustusan

Lurah Tologsari, Sri Lestari saat memberangkatkan Grebeg
Siang itu, Minggu (26/8) sedikit demi sedikit, sekelompok warga berduyun-duyun mendatangai sebuah lapangan tonis, yang berada disamping masjid, disebuah perumahan padat di kota Semarang. Tepatnya di RW.21 kelurahan Tlogosari Kulon, kecamatan Pedurungan.

Mereka berkumpul dalam sebuah acara rutin tahunan yang diadakan setiap bulan Agustusan yaitu Grebeg Agustusan yang kali ini merupakan tahun ke 3 (tiga) sejak tahun 2016. Grebeg Agustusan 2018 merupakan sebuah upacara adat dan tradisi yang dilakukan masyarakat RW.21 Tlogosari Kulon dalam rangka memperingati ulang tahun kemerdekaan Indnonesia.

Menurut ketua RW.21 Bambang Setyabudi, Grebeg ini dilaksanakan dengan tujuan diantaranya untuk memperingati ulang tahun Republik Indonesia dan sebagai sarana untuk meningkatkan watak pekerti bangsa pada generasi muda sekaligus nguri-nguri budaya jawa.

Grebeg Agustusan 2018 dengan mengelilingi komplek perumahan di RW. 21 ini menempuh jarak kurang lebih 1 kilometer. Pemberangkatan Grebeg dilakukan oleh Lurah Tlogosari Kulon, Sri Lestari, pada pukul 16.24 WIB.

Dalam event ini, peserta Grebeg dibagi berkelompok sesuai dengan RT masing-masing, dimana sebanyak 10 (sepuluh) RT yang berada di RW. 21. Yang menarik dalam Grebeg ini, dilakukan perlombaan antar kelompok peserta Grebeg, sehingga masing-masing RT berusaha untuk mengeluarkan kemampuan mereka dalam menjaga kekompakan.

Diantaranya mereka berlomba-lomba dalam menggunakan kostum yang unik dan menarik, seperti busana adat, profesi sampai dengan membuat gerakan tarian khas masing-masing RT. Dari penilaian juri, muncul sebagai kelompok terbaik diraih oleh RT. 10.

Bambang Permadi, bersama jurnalis TVRI Tono Hermawan
berpose dengan gunungan
Menurut pelaku sekaligus pengamat budaya Jawa Tengah, Bambang Permadi mengatakan bahwa acara seperti ini biasa diadakan di masyarakat pedesaan, dan ini menjadi sebuah konsep yang bagus dalam meneguhkan rasa solidaritas dan gotong royong dimasyarakat perkotaan sehingga terbangun persatuan sesama warga negara Indonesia.

Karena dengan persatuan, maka kerukunan dan kemakmuran masyarakat akan mudah diwujudkan, imbuhnya.