Selasa, 24 November 2020

GERBANG Watugong gelar "Silaturahmi Kebangsaan" di Magelang

Menindaklanjuti Piagam Watugong yang lahir pada tanggal 10 Oktober 2020, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Tengah membentuk Gerakan Kebangsaan (GERBANG) Watugong pada acara ‘Silaturahmi Kebangsaan’ yang bertempat di Ballroom Semanggi Hotel Grand Artos, Magelang, Jawa Tengah pada Selasa, (21/11/2020).

“Gerbang Watugong dimaksudkan untuk menguatkan tiga komitmen kebangsaan yang ada di Piagam Watugong menjadi gerakan yang konkrit,” kata Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan setelah acara selesai.

Pada acara yang dihadiri oleh 75 orang dari 44 organisasi yang menandatangani Piagam Watugong tersebut, Taslim menjelaskan bahwa, Gerbang Watugong merupakan rumah bersama dalam membangun toleransi dan melawan intoleransi antar umat beragama dan kepercayaan khususnya di Jawa Tengah.

“Di samping menjadi gerakan konkrit, ini (Gerbang Watugong) adalah sound system kita dalam menyuarakan toleransi di Jawa Tengah ini. Sehingga, Jawa Tengah dapat menjadi teladan untuk berbagai daerah di Indonesia,” tutur Pria kelahiran Jepara tersebut. “Kami (FKUB Jawa Tengah) tidak dapat berjalan sendiri dalam menjaga toleransi di Jawa Tengah.”

Pada sesi Focus Group Discussion (FGD), Taslim secara gamblang menjelaskan kepada para hadirin bahwa Gerbang Watugong merupakan legitimasi dalam melakukan aksi nyata untuk mewujudkan kerukunan berbagai umat beragama serta penghayat kepercayaan.

Tidak sampai di situ, menurut Taslim Gerbang Watugong adalah rumah yang lebih besar dari organisasi-organisasi yang ada di Jawa Tengah khususnya organisasi yang telah menyepakati 3 komitmen kebangsaan di dalam Piagam Watugong.

Menurut inisiator Piagam Watugong, Saefullah Ahmad Faruk, Gerbang Watugong tersebut merupakan bukti keseriusan untuk menjaga kerukunan dan toleransi di negara Indonesia khususnya di Jawa Tengah.

“Setelah lebih dari satu bulan, kita perlu mengokohkan kembali kesepakatan dalam Piagam Watugong dan pengokohan itu kita lakukan dengan menyepakati Gerakan Kebangsaan saat ini,” tutur pria yang akrab dipanggil Maulana Saefullah tersebut.

Apresiasi dari Berbagai Pihak
Acara silaturahmi kebangsaan Gerbang Watugong turut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah, Musta’in Ahmad. “Piagam Watugong dan Gerbang Watugong merupakan sejarah yang baik dalam pembangunan agama dan kepercayaan yang damai di Jawa Tengah,” ujar Musta’in saat menerima Piagam Watugong dari Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah.

Dalam acara tersebut juga diadakan webinar sekaligus penyerahan Piagam Watugong secara virtual kepada Koordinator Jaringan GUSDURian Nasional, Alissa Wahid. Dalam kesempatan tersebut, putri dari mendiang Gus Dur tersebut turut mengapresiasi atas lahirnya Piagam Watugong dan Gerbang Watugong.

“Ini merupakan suatu dobrakan bagi kita semua untuk berbagai persoalan umat beragama dan pengahayat kepercayaan yang ada di Indonesia,” kata Alissa melalui telekonferensi dengan aplikasi zoom.

Alissa yang tidak dapat hadir secara langsung dalam acara silaturahmi kebangsaan tersebut menyampaikan apresiasi karena gerakan kebangsaan yang ada di Jawa Tengah dilahirkan secara bersama-sama oleh berbagai lembaga. “Ini sangat istimewa,” ungkap putri sulung Presiden RI keempat tersebut.

“Saya turut mengapresiasi gerakan ini. Ini adalah sesuatu yang istimewa. Sebab dalam beberapa deklarasi tidak banyak menghadirkan lembaga. Tapi ini (Gerbang Watugong) sangat semarak” tuturnya.

Bagi Alissa, Piagam Watugong dan Gerbang Watugong di Jawa Tengah ini hadir di saat yang tepat. Ketika Indonesia mengalami tantangan toleransi dan pemenuhan hak kemerdekaan beragama. Dirinya berpesan bahwa Gerbang Watugong tidak hanya berhenti di Piagam Watugong tapi juga menjadi persaudaraan sejati antar umat beragama dan kepercayaan.

“Semoga ini dapat membawa kebaikan dan mejadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia,” harapnya.

Harapan yang sama juga dituturkan oleh Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia Semarang yang sekaligus menjadi inisiator Piagam Watugong, Saefullah Ahmad Faruk. Selain menjadi contoh bagi daerah lain, ia berharap Gerbang Watugong dapat memperkuat toleransi serta bisa menjadi jembatan komunikasi dan advokasi.

Saat ditanya soal harapan ke depan terkai Gerbang Watugong, Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan berharap, Gerbang Watugong dapat menjadi ‘rumah bersama’ semua agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

“Ada banyak pekerjaan strategis yang dapat dilakukan. Mulai dari penguatan toleransi yang berbasis pada moderasi, penggunaan Pancasila sebagai kompas utama gerakan hingga mewujudkan kepedulian atas dasar kemanusiaan,” tutur Taslim melalui aplikasi berbagi pesan WhatsApp. [Sidik Pramono]

 






sumber : elsaonline.com

 

 

 

Minggu, 22 November 2020

Ganjar Pranowo : Siapapun yang ganggu Ideologi Pancasila, Kita Lawan.

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo secara tegas akan melawan bagi siapapun yang mencoba mengganggu keutuhan NKRI atau merubah ideologi pancasila. Hal itu disampaikan usai menggelar sarasehan kebangsaan bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Gedung Gradhika Bhakti Provinsi Jawa Tengah, Jumat (20/11/2020).

 “ Clear, kita akan bersikap terhadap problem yang dihadapi. Seandainya ada yang mengganggu ideologi atau mengganti NKRI dan pancasila, kita sepakat akan melawan,” tegas Ganjar.

Sarasehan Kebangsaan bertajuk “Jaga Jawa Tengah, Jaga Indonesia” itu turut menghadirkan TNI, Polri, Kejaksaan dan BIN. Tujuannya, untuk mengurai masalah yang dihadapi dan mencari solusi bersama. Ada dua hal yang ditekankan dalam pembahasan pada pertemuan ini, yakni Pandemi COVID-19 dan ideologi negara. 

“Tadi sudah disampaikan oleh Habib Luthfi bahwa pandemi ini serius, tapi persoalan ideologi jangan sampai abai,” lanjutnya.

Dari situlah, Ganjar menggelar sarasehan kebangsaan untuk meminta pendapat dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan elemen yang lain. 

“Ada banyak urgensi, hari ini kita undang tokoh agama dan tokoh masyarakat di Jawa Tengah. Kalau saya memulai tadi, kita mendengarkan dari tokoh agama menyampaikan kondisi yang ada di umatnya masing-masing, dan tokoh masyarakat juga menyampaikan kondisi Jawa Tengah. Ada ekonomi, sosial, dan politik,” ujar Ganjar.

Ia berharap, kegiatan tersebut mampu memberikan dampak yang baik bagi Jawa Tengah. Jika memang diperlukan, kegiatan tersebut akan digelar secara rutin.

“Semua juga sepakat kondisi ini belum baik, semua akan mendukung. Pemerintah diminta merumuskan dan menggerakkan formula seluruh sektor yang ada agar semuanya bisa baik. Bukan hanya urusan lahiriah tapi juga batiniah, agar mental kita menjadi baik spiritual kita menjadi baik, nanti akan berujung kebaikan. Konsultasi ini kita lakukan agar jateng bisa menjadi tenang, senang dan semua bisa mengikuti kegiatan dengan protokol kesehatan yang baik.”  paparnya.

Senada dengan Ganjar, Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi memastikan untuk tidak akan memberi ruang bagi kelompok intoleran di Jawa Tengah, dalam hal ini Polda akan bersikap tegas.

"Tidak ada kesempatan dan ruang buat kelompok intoleran. Khususnya di wilayah Polda Jateng itu harga mati. Seluruh jajaran Kapolres sudah saya perintahkan,” ungkapnya.

Kapolda juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya turut melakukan penanganan COVID-19  dan pengamanan Pilkada serentak 2020. 

“Pada prinsipnya kita menegakkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tandasnya.

 

Sumber : humas.jatengprov.go.id

Senin, 16 November 2020

Dilereng Gunung Slamet ini, Gerbang Watugong diresmikan.

Sabtu Pon (14/11), Gerakan Kebangsaan Watugong atau disingkat sebagai Gerbang Watugong resmi digunakan untuk penyebutan Gerakan Solidaritas Kemanusiaan dan Silaturahmi Kebangsaan oleh para tokoh lintas agama dan kepercayaan yang terlibat dalam Piagam Watugong.

Peresmian istilah ini dilakukan saat para tokoh lintas agama dan kepercayaan melakukan Silaturahmi Kebangsaan di Padepokan Wulan Tumanggal yang terletak dilereng Gunung Slamet tepatnya di Desa Dukuhtengah Kec. Bojong, Kab. Tegal pada hari Sabtu Pon (14/11).

Rombongan yang dipimpin oleh Ketua FKUB Jawa Tengah KH. Taslim Syahlan ini diterima langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KP Panji Suryaningrat II.

Dalam Silaturahmi Kebangsaan ini, rombongan juga berkesempatan menyerahkan Piagam Watugong kepada Pembina Perguruan Trijaya. 

"Ini menjadi salah satu agenda penyerahan Piagam Watugong yang ditandatangi oleh 44 elemen/organisasi/lembaga/majelis agama dan kepercayaan di Vihara Budhagaya Watugong Semarang, 10 Oktober 2020 lalu kepada para tokoh pimpinan organisasi, termasuk Perguruan Trijaya yang merupakan salah satu organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tingkat pusat yang berpusat di Tegal", jelas KH. Taslim Syahlan.

Setelah penyerahan Piagam Watugong, KH. Taslim Syahlan meminta restu Romo Panji untuk meresmikan Gerbang Watugong sebagai istilah gerakan ini yang bertiujuan untuk membumikan nilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan di Jawa Tengah khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.

Selain Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, beberapa tokoh lintas agama yang ikut hadir di Padepokan Wulan Tumanggal antara lain Setyawan Budy (Koordinator Persaudaraan Lintas Agama), Mln. Saefullah A. Farouk (Mubaligh Daerah JAI Provinsi Jawa Tengah), Bhante Ditthisampano (Sekwil Sangha Agung Indonesia Provinsi Jawa Tengah), Bhante Jatiko (Wakil Koordinator Sangha Agung Indonesia Provinsi Jawa Tengah), Samanera Santi Phalo (Badrasanti Institute), Anton Baskoro (Humanity First Indonesia), Abdul Somad (Ketua JAI Semarang), Naufal Sebastian (LBH Semarang), Gabriela Adeline T. (Ketua Cabang PMKRI Kota Semarang), Cahya Astika T. (Sekretaris GUSDURian Semarang), Dewi Kandiati (Bendahara GUSDURian Semarang), Nuhab Mujtaba (GUSDURian Peduli), dan Iqbal Alma G.A. (Koordinator GUSDURian Unnes).


 

 

 

 

 


 

   

Selasa, 27 Oktober 2020

Kirab dan Selametan Kebangsaan, mengawali pembangunan Gereja di Semarang

Sabtu Pon, 24 Oktober 2020 menjadi hari yang bersejarah bagi jemaat GBI Tlogosari. Penantian panjang selama 22 tahun menemui jalan terang dengan diberikannya IMB baru oleh Walikota Semarang. 

Sebelum pembangunan yang sempat terhenti dimulai kembali, jemaat GBI Tlogosari mengadakan acara "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" guna memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar proses pembangunan berjalan dengan lancar serta keberadaan gereja membawa berkat bagi jemaat dan masyarakat.

Acara "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" tidak hanya dihadiri oleh jemaat GBI Tlogosari saja, melainkan juga beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang ada di Kota Semarang. Beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang hadir, antara lain: I Komang Dipta Jananuraga (PHDI Kota Semarang), Pandhita Aggadhammo Warta (Ketua Magabudhi Provinsi Jawa Tengah), H. Taslim Syahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah), Maulana Saefullah A. Farouk (Mubaligh Jamaah Muslim Ahmadiyah Provinsi Jawa Tengah), Ahmad Sajidin (Koordinator GUSDURian Semarang), Habib Nuhab Mujtaba (Penggerak GUSDURian Semarang), Romo Eduardus Didik, SJ (Ketua Komisi HAK-KAS), Sr. Marlina (Suster PI), Pdt. Bambang Mulyono (Ketua Bamag Kota Semarang), Pdt. Kornelius Surman (Ketua BPD Sinode Baptis Kota Semarang), Ws. Andi Tjiok (Wakil Ketua Matakin Provinsi Jawa Tengah), KRT. Bambang Permadi (Perguruan Trijaya), dan masih banyak lagi.

Acara diawali dengan "Kirab Kebangsaan" dari seberang gereja. Urutan peserta "Kirab Kebangsaan", yakni tim rebana GUSDURian Semarang; tumpeng "Selametan Kebangsaan" yang ditandu oleh rekan-rekan GUSDURian Semarang; Pdt. Wahyudi (membawa kendi berisi air), Ibu Eunike (membawa sapu lidi), dan salah seorang jemaat (membawa teplok). Tokoh-tokoh lintas agama dan kepercayaan yang hadir berbaris rapi di belakangnya.

Pada saat memasuki halaman gereja, Pdt. Wahyudi menuangkan air di dalam kendi sebagai imbol tanah air (Indonesia). Diharapkan keberadaan GBI Tlogosari mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebhinekaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Kemudian Ibu Eunike, istri Pdt. Wahyudi, secara simbolis menyapu halaman gereja menggunakan sapu lidi yang merupakan simbolisasi untuk menyingkirkan segala halangan dan rintangan. 

Selain itu sapu lidi juga merupakan simbol akan pentingnya persatuan baik di intern jemaat GBI Tlogosari maupun antara jemaat GBI Tlogosari dengan warga sekitar. Sedangkan lampu teplok adalah simbol pelita. Harapannya perjalanan GBI Tlogosari ke depan senantiasa diterangi sehingga dapat berjalan dalam kebenaran dan keberadaan GBI Tlogosari membawa manfaat positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Pdt. Kornelius Surman (Ketua BPD Sinode Baptis Kota Semarang) memimpin doa pembukaan. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh H. Taslim Syahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah) dan diserahkan kepada Pdt. Wahyudi (Gembala Sidang GBI Tlogosari). Beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang hadir secara simbolis memasang batu bata sebagai bentuk dukungan moril kepada GBI Tlogosari. Sesudahnya plang IMB baru GBI Tlogosari diserahkan secara estafet oleh tokoh-tokoh agama dan kepercayaan yang hadir kepada Pdt. Wahyudi untuk dipasang di dinding depan gereja. 

Doa penutup dipimpin oleh Maulana Saefullah A. Farouk (Mubaligh Jamaah Muslim Ahmadiyah Provinsi Jawa Tengah). Acara terakhir adalah ramah tamah. Seluruh hadirin menikmati hidangan yang disediakan termasuk warga di sekitar gereja juga mendapatkan hantaran nasi kotak yang diserahkan oleh perwakilan jemaat GBI Tlogosari dan rekan-rekan GUSDURian Semarang.

"Kiranya apa yang diharapkan melalui prosesi "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" ini dikabulkan oleh Tuhan YME sehingga proses pembangunan GBI Tlogosari dapat berjalan lancar", jelas Setyawan Budy, Koordinator Pelita Semarang yang juga sebagai penggagas acara.

Selasa, 20 Oktober 2020

Piagam Watugong diterima Ganjar Pranowo


Senin 18 Oktober 2020 merupakan momentum penting, Gerakan Silaturrahmi dan Solidaritas Kebangsaan (GASSIK) berkesempatan menyerahkan Piagam Watugong kepada Gubernur Jawa Tengah.

Bermula dari undangan Kapolda Jawa Tengah kepada Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah untuk mengahadiri acara Deklarasi Cinta Damai di Mapolda Jawa Tengah, kemudian saya usul melalui Humas Polda Jawa Tengah agar dalam rangkaian acara ini dapat diberi kesempatan untuk menyerahkan Piagam Watugong kepada Kapolda Jawa Tengah. 

Selang sehari kemudian usul saya diterima. Minggu 17 Oktober 2020 telah ada informasi kepastian. Kapolda berkenan menerima persembahan Piagam Watugong yang diacarakan secara resmi dalam rangkaian acara Deklarasi Cinta Damai.

Informasi kepastian ini kemudian saya teruskan kepada kawan-kawan Gassik. Terutama kepada mas Setyawan Budi, koordinator PELITA Semarang. Saya minta bantuan mas Wawan (panggilan akrab mas Setyawan Budy) untuk meneruskan kepada kawan-kawan lain agar berkenan turut serta hadir di Mapolda Jawa Tengah untuk bersama-sama menyaksikan peristiwa penting ini. Beberapa kawan menyatakan bersedia untuk hadir bersama.

Senin (18/10) kami pun bersepakat kumpul di kantor secretariat Jemaat Ahmdiyah Indonesia (JAI) Jawa Tengah di Jl. Erlangga Semarang. Saya sendiri (FKUB), Romo Warto (FKUB/Budha) mas Wawan (PELITA), mas KRT. Bambang Permadi atau nama bekenya mas Boim Nusantara (Perguruan Trijaya), Mln. Saefullah Ahmad Farouk (JAI), mas Anton Baskoro (HFI) berangkat bersama menuju Mapolda di Jl. Pahlawan Semarang. Sesampai di lokas mas Eko Pujianto (FKUB/Hindu) menyusul hadir.

Sesampai di lokasi acara, Humas Polda Jawa Tengah mempersilakan kami masuk ruang acara. Setelah mengisi daftar hadir saya diarahkan untuk mengikuti rappid test covid-19 terlebih dahulu. Semantara kawan-kawan memposisikan diri duduk di roudtable yang sudah disediakan oleh panitia. Seusai menjalani rappid test saya pun diarahkan oleh Humas Polda untuk bertemu Dirbinmas Polda Jawa Tengah. Dengan begitu saya berkesempatan untuk menjelaskan cerita singkat tentang lahirnya Piagam Watugong 2020.

Setelah bercerita secukupnya kepada Dirbinmas, saya diarahkan oleh protokol untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Kursi pun telah ditulis “KETUA FKUB” bersebalahan dengan kursi MUI Jawa Tengah. Namun Ketua Umum MUI Jawa Tengah tidak hadir. 

Saya duduk bersebelahan dengan Ibu Padma dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan pak Afif yang mewakili Ka Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah. Oleh karena kursi MUI kosong, maka saya berinisiatif untuk mempersilkan Romo Anggadamo Warto untuk berkenan duduk menempati kursi Ketua Umum MUI Jawa Tengah persis di samping saya.

Di saat-saat menunggu acara dimulai, saya dihampiri oleh pengatur acara. Saya dibisiki bahwa Piagam Watugong yang  renacana saya serahkan itu yang akan  menerima bapak Gubernur Ganjar Pranowo. Hal ini atas arahan dari Kapolda Jawa Tengah. Saya pun mengiyakan sesuai pengarah acara.

Sesaat kemudian MC menginformasikan bahwa Gubernur Jawa Tengah segera memasuki ruangan. Hadirin dimohon berdiri. Kami pun serentak berdiri. Segeralah Gubernur memasuki auditorium yang diikuti rombongan terdiri dari Kapolda Jawa Tengah, Pangdam IV/Diponegoro dan Rektor UNDIP Semarang.

Rangkain acara yang dipandu oleh MC segera bergulir. Diwali dengan pengucapan Deklarasi Cinta Damai yang dipimpin oleh Rektor UNDIP Semarang. Beberapa orang perakilan organisasi diminta untuk naik ke panggung menyertai Rektor UNDIP Semarang. Saya pun bergegas naik panggung untuk bersama-sama mengucapkan Deklarasi Cinta Damai. 

Dalam durasi sekira 5 menit prosesi deklarasi selesai. Kemudian dilanjutkan penandataganan bersama naskah deklarasi yang telah dibaca bersama-sama.

Penandatanganan deklarasi yang disaksikan Gubernur Jawa Tengah, Kapolda Jawa Tengah, Pangdam IV/Diponegoro dan Rektor UNDIP Semarang selesai. Kemudian MC segera menyampaikan bahwa acara selanjutnya penyerahan Piagam Watugong dari Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah kepada Gubernur Jawa Tengah. 

Sesegera mungkin petugas yang membawa Piagam Watugong menghampiri saya untuk memberikan Piagam Watugong yang memang sudah disiapkan dengan pigura yang baik. Saya pun segera menyerahkanya kepada Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo, SH., MIP.

Ketika momentum serah terima dengan pose saling memegangi pigura yang relatif besar dengan warna dominan keemasan itu saya sempatkan menyampaikan penjelasan singkat kepada pak Gubernur tentang isi dan sejumlah organisasi yang menandatangani piagam watugong itu. 

Saya pun berucap singkat, “pak Gub piagam ini kami persembahkan kepada bapak sebagai jimat untuk melawan intoleransi di Jawa Tengah ini..”. Dengan tersipu pak Gub pun mengucap, “terimakasih..terimakasih..” dengan gaya khasnya sembari mengacungkan jempol kepada hadirin dan juba media massa yang mengabadikan peristiwa ini.


Catatan kaki Ketua FKUB Jawa Tengah, Drs. KH. Taslim Syahlan, M.Si.

Rabu, 14 Oktober 2020

Polimik tempat ibadah, GITJ Dermolo Jepara mengadu Ke FKUB Jawa Tengah

Setelah Sabtu kemarin menggelar Deklarasi Piagam Watugong, Ketua FKUB Jateng dan Jaringan Lintas Kepercayaan Kota Semarang yang terdiri dari Pelita Semarang, Gusdurian Semarang, Jemaat Ahmadiyah Semarang, GBI Tlogosari dan beberapa lembaga seperti LBH Semarang dan Elsa, Rabu siang (14/10) menerima rombongan tamu dari GTIJ (Gereja Injili di Tanah Jawa) Jepara. 

Kedatangan mereka terkait dengan polemik kebebasan beribadah yang mereka alami selama bertahun-tahun. Pertemuan ini bertempat di ruang aula Jemaat Ahmadiyah Semarang dan dipimpin oleh Setyawan Budy (Kordinator Pelita Semarang). 

Di awal, Setyawan Budy membuka rapat dan memperkenalkan peserta rapat dan menyampaikan maksud diadakannya pertemuan, yakni mencari solusi bersama berkaitan dengan polemik yang sedang dihadapi oleh Gereja Injili di Tanah Jawa, di Desa Dermolo, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara.  

Pendeta Theofillus Tumijan sebagai perwakilan dari GITJ menyampaikan uraian kronologis polemik yang sedang mereka hadapi. Pendeta Theo menyampaikan apa yang dialami mereka merupakan proses yang panjang. "Secara hukum, berkaitan dengan perizinan pendirian dan penggunaan gereja begitu clear, sehingga penolakan yang dilakukan Forum Solidaritas Muslim Dermolo (FSMD) tidaklah rasional dan tidak dapat diterima dengan akal sehat", jelas Pendeta Theo. 

Seperti disampaikan, hingga saat ini jemaat Gereja belum bisa melakukan ibadah dengan tenang. "Pemerintah dan aparat setempat bukannya melaksanakan kewajiban untuk melindungi kebebasan beribadah warga negara, malah melindungi pihak yang melakukan penolakan aktivitas ibadah gereja", tambah Pendeta Theo.

Perwakilan dari Elsa, Cepprudin menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum bisa menemui pihak yang mengaku menolak karena sangat tertutup dan terkesan sembunyi-sembunyi namun aktif untuk mempengaruhi warga setempat. "FKUB Jepara pernah menyampaikan informasi yang keliru kepada pihak Elsa tentang 90 tanda tangan yang diperoleh adalah karena dibayar", tambah Cepprudin.

Direktur LBH Semarang yang diwakili oleh Naufal Sebastian, menyampaikan bahwa perjuangan GBI Tlogosari memberikan energi positif kepada daerah lain yang mengalami persoalan serupa. "Persoalan GBI Tlogosari dan GITJ Jepara merupakan contoh kecil dari potret buramnya toleransi dan kualitas jaminan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing -masing", jelas Naufal.

"Sudah seharusnya semua pihak yang berkompeten, ikut mendorong kehadiran negara agar memastikan jaminan untuk kebebasan beribadah sesuai dengan keyakinan masing sesuai amanat dari konstitusi terpenuhi pelaksanaannya", tambah Naufal.

Di akhir pertemuan, KH. Taslim Syahlan selaku Ketua FKUB Jawa Tengah menyampaikan beberapa poin, diantaranya bahwa FKUB Jateng tidak dapat mengambil keputusan karena kasus ini merupakan wilayah FKUB Jepara. FKUB Jawa Tengah akan  melakukan komunikasi dan koordinasi guna meluruskan beberapa kekeliruan berkaitan dengan kasus GITJ Jepara.

Taslim juga menambahkan, FKUB Jateng sepakat untuk bergerak bersama, membangun Jawa Tengah yang toleran. "Organ-organ yang tergabung dalam penandatanganan Piagam Watugong dapat diikutsertakan dalam upaya pengawalan", jelas Taslim. 

"Silaturahmi Kebangsaan yang menjadi salah astu point Piagam Watugong dapat dijalankan dengan berkolaborasi bersama untuk mengawal kasus-kasus intoleransi yang terjadi di wilayah Jawa tengah", tambah Taslim. (Iqbal)

Selasa, 13 Oktober 2020

Berbagai Kuliner Tradisional warnai Deklarasi Piagam Watugong

Setiap acara yang melibatkan banyak orang tak lepas dari anggaran komsumsi baik dalam bentuk makanan maupun minuman. Begitupun pada acara deklarasi Piagam Watugong yang digelar Sabtu lalu (10/10) di Pelataran Pagoda Avalokitesvara Vihara Buddhagaya Watugong, Banyumanik, Semarang.

Acara yang merupakan gagasan oleh beberapa perwakilan dari organisasi/lembaga, majelis agama dan kepercayaan di Jawa Tengah ini memang tidak dianggarkan secara spesifik. Acara ini murni dari gerakan beberapa elemen masyarakat, tanpa melibatkan instansi pemerintah, termasuk juga dalam hal pendanaan. 

 "Ini adalah usaha mandiri kita, semua mengalir baik sarana prasarana, hingga termasuk konsumsi. Untuk makan siang dan snack, adalah sumbangan dari teman-teman muda dari perwakilan elemen yang terlibat", Jelas Ketua FKUB Jawa Tengah KH. Taslim Syahlan dan juga pemrakarsa acara tersebut.

Beberapa sumbangan konsumsi tersebut diantaranya adalah makanan tradisional. Yaitu Sego Berkat Godong Jati atau biasa disingkat SBGJ, yang merupakan sumbangan dari Pelita (Persaudaraan Lintas Agama). SBGJ adalah makanan tradisonal tempo dulu yang saat ini mulai jarang ditemui apalagi di masyarakat perkotaan. 

SBGJ dibuat sekumpulan ibu-ibu di Kota Semarang, tepatnya di kelurahan Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk, yang sejak Covid-19 melanda negeri ini, banyak mereka yang menjadi korban pandemi secara ekonomi. Diantaranya ada yang berprofesi sebagai perias pengantin, jasa laundry, guru TK, dan juga korban dirumahkan.

"Selain untuk membantu ibu-ibu di Bangetayu yang terdampak Covid-19 secara ekonomi, kami pilih SBGJ karena menu ini sangat murah yaitu lima ribu rupiah per-bungkus, sehat dan nikmat dengan aroma khas daun jati" Jelas Setyawan Budy selaku Koordinator Pelita.

Menurut informasi, SBGJ diolah tanpa memakai micin/penyedap rasa dan juga ramah lingkungan karena tanpa menggunakan pembungkus plastik.

Berikutnya ada menu Nasi Ulam Bunga Telang yang merupakan sumbangan dari Yayasan Rasa Dharma. Meskipun sekilas mirip dengan nasi tumpeng, nasi ulam punya varian topping dan lauk yang berbeda. Ada berbagai sayuran seperti wortel serta daun bawang, kedelai sangrai, ikan asin, dan satai lilit. Nggak cuma itu, nasi ulam juga disertai berbagai macam sambal seperti sambal kelapa, sambal goreng ati dan sambal kecombrang. Pangsit dan emping melinjo pun menambah kelezatan nasi ulam.

Menariknya, nasi ulam berwarna biru muda. Konon, warna nasi yang nggak biasa ini melambangkan keanekaragaman suku dan etnis di Indonesia.Untuk menyantap kuliner ini, semua elemen harus dicampur sehingga merata. Setelah tercampur rata pun, nasi ulam akan tetap bercita rasa istimewa. Dalam satu suapan nasi ulam, sensasi pedas, gurih, wangi, sedap, dan crunchy tercampur jadi satu. Lauk nasi ulam ini berupa sate lilit yang melambangkan persatuan bangsa yang melekat erat. 

“Nasi ulam ini adalah simbol dari Bhinneka Tunggal Ika, karena beraneka ragam dan bermacam-macam dicampur jadi satu tanpa kehilangan identitas dan menciptakan rasa baru yang luar biasa,” tutur Harjanto Halim, perwakilan dari Yayasan Rasa Dharma yang juga pengusaha ternama di Kota Semarang.

Selanjutnya ada minuman khas dari India, yaitu Chai. Minuman ini adalah gabungan antara teh, susu dan bermacam rempah-rempah. Selain rasanya yang nikmat, minuman chai memiliki banyak khasiat untuk tubuh, karena kandungan rempah-rempahnya. Seperti jahe yang menghangatkan badan, dan membantu meningkatkan imunitas. Begitu juga dengan lada hitam, cengkih, kayu manis dan adas, yang selain bermanfaat untuk daya tahan tubuh, juga mengandung antioksidan yang tinggi.

Chai ini merupakan sumbangan dari JAI (Jamaat Ahmadiyah Indonesia) Semarang. Minuman ini sering dijumpai diacara-acara yang diselenggarakan oleh para Jemaat Ahmadiyah diseluruh dunia.