Rabu, 01 Juli 2020

Perkuat persaudaraan, FKUB Jateng berajangsana ke Walubi

Pengurus FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Jawa Tengah dengan mengajak beberapa tokoh dari organisasi/komunitas lintas agama dan kepercayaan, Selasa kemarin (30/6) melakukan anjangsana ke DPD Walubi Jawa Tengah yang bertempat di Jalan Plampitan No 56 Kranggan, Kota Semarang.

Rombongan diterima oleh Wakil Ketua DPD Walubi Jateng, Tanto Suwito Harsono bersama beberapa pengurus di kantor Sekretariat DPD Walubi Jateng.

Sembari menikmati hidangan makan siang, acara tersebut jauh dari resmi dan tampak obrolan semakin hangat saat masing-masing tokoh memberikan sambutan secara bergantian. 

Berikut beberapa tokoh lintas agama dan kepercayaan yang turut hadir dalam acara ini. Diantaranya H. Taslim Sahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah), Dwi Setiyani Utami (Ketua Puanhayati/Perempuan Penghayat Indonesia Provinsi Jawa Tengah), Eko Santoso (Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Jawa Tengah), dan Rama Agadhamo Wartha (Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Tengah).

Hadir juga KH. Iman Fadhilah (Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Jawa Tengah), Maulana Saefullah A. Faruq (Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia Kota Semarang), Anton Baskoro (Humanity First Chapter Jawa Tengah), Pdt. Yosua Wardaya (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah Jawa Tengah), Bambang Permadi (Penghayat Kepercayaan Perguruan Trijaya), Setyawan Budy (Koordinator Persaudaraan Lintas Agama), Nuhab Mujtaba Mahfuzh (Gusdurian Semarang), Ceprudin (Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang), dan Lusiana (Majelis Niciren Shoshu Buddha Dharma Indonesia).

"Toleransi, saling memahami, dan mewujudkan kehidupan yang damai adalah dambaan kita bersama,” kata Ketua FKUB Jateng Taslim Sahlan.

“Kami, pengurus FKUB selalu berusaha untuk menjalin silaturahmi kepada semua kelompok keagamaan. Bahkan tidak hanya kelompok agama, tapi juga kelompok penghayat kepercayaan. Jadi, perjumpaan dengan kelompok lain tidak hanya dalam acara formal,” sambung Dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang ini.

Tanto Suwito Harsono menyampaikan, Walubi sependapat dengan FKUB untuk terus menjalin silaturahmi antar agama. Untuk mencapai kehidupan yang damai dibutuhkan peran dari segala sektor. Termasuk dalam bidang ekonomi.

“Selain itu, hemat saya, untuk mewujudkan kehidupan yang damai, kita bisa mulai dari ekonomi. Kita perbaiki kondisi ekonomi (semua lapisan masyarakat), kalau ini terwujud, kedepannya akan semakin mudah,” tambah Tanto.

Setyawan Budy selaku Koordinator Pelita Semarang menyampaikan pesan dan harapan agar kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan di Jawa Tengah semakin solid di tengah pandemi Covid-19.








Sabtu, 27 Juni 2020

3 Tokoh Lintas Agama Semarang kunjungi warga Penghayat Perguruan Trijaya

3 (tiga) tokoh lintas agama kota Semarang mengunjungi warga Penghayat Kepercayaan Perguruan Trijaya di Padepokan Wulan Tumanggal, Desa Duikuhtengah, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Kamis Kliwon (18/6).

Ketiga tokoh tersebut diantaranya KH. Abdul Qodir (Pengasuh Ponpes Roudhotus Sholihin Demak), Dammateja Wahyudi (Ketua Budha Teravadha Semarang) dan Setyawan Budy (Koordinator Pelita Semarang).

Rombongan berangkat dari Semarang hari itu juga, Kamis pukul 14.00 yang didampingi oleh Bambang Permadi, anggota Pelita dari unsur penghayat kepercayaan yang juga merupakan putera/anggota dari Perguruan Trijaya.

Kedatangan rombongan disambut oleh Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya PW. Ang. K Teja Sulaksana dan salah satu Pengurus Pusat, PW. Ang. Joko Sugianto. Selanjutnya mereka bertiga dijamu makan malam dengan menu utama sate kambing, kuliner tradisional khas di Perguruan Trijaya yang diyakini mampu mengobati berbagai penyakit.

Selanjutnya rombongan tokoh agama ini diterima oleh Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru KRA Panji Suryaningrat II dalam sebuah ramah tamah kecil di Ruang Anggrek, Suryaningratan.

Setelah itu mereka bergabung dengan para putera/anggota Perguruan Trijaya di sebuah sasana yaitu Pamiwahan Putera untuk melaksanakan Pengantar Supit.

Kedatangan para tokoh agama ini bersamaan dengan ritual rutin Perguruan Trijaya yang dilaksanakan setiap malam Jumat Legi, yaitu Supit. Supit adalah singkatan dari Sujudan Kecepit. Suatu ritus doa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilaksanakan diantara 2 (dua) malam sujudan wajib yaitu malam Kamis Kliwon dan Sabtu Pahing, tepatnya dimalam Jumat Legi tersebut.

Dalam sambutannya, Romo Guru menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tokoh agama dari komunitas Pelita ini untuk ikut doa bersama dalam acara Supit yang diadakan setiap selapan sekali ini.

"Kehadiran beliau bertiga melengkapi sujudan kita sebagai unsur diluar anggota Perguruan Trijaya pada permohonan kita dimalam Supit ini", lanjut Romo Guru.

Setyawan Budy selaku koordinator Pelita menyampaikan bahwa ini merupakan kunjungan luar kota  pertama kali oleh Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) sejak pandemi Covid-19 diberlakukan.

"Kami merasa senang bisa berkesempatan mengikuti prosesi Supit ini, sebagai salah satu ritus rutin di organisasi penghayat kepercayaan Perguruan Trijaya", jelas Wawan panggilan akrab koordinator Pelita ini.

Setelah mengikuti sarasehan kecil dengan beberapa pengurus Perguruan Trijaya, tepat pukul 02.00 ketiga tokoh ini mengikuti  sujudan/doa bersama di sebuah lokasi berdoa yang dinamakan dengan Sanggar Pamujan yang berjarak sekitar 300 meter menuju keatas dari Sasana Pamiwahan Putera.

Sujudan yang dilaksanakan sekitar 30 menit dengan suasana sepi dan dingin membuat perut terasa lapar. Usai sujudan rombongan turun dari Sanggar Pakujan menuju sebuah kantin yang bernama Pondok Kopi Sasaling, masih di area Padepokan Wulan Tumanggal untuk menikmati Mie rebus dan kopi panas. Obrolan pun berlangsung hingga terbitnya matahari.

Setelah beristirahat sekitar 2 jam, tepatnya pukul 9 pagi rombongan diminta untuk makan pagi, kemudian dilanjutkan dengan jalan-jalan berkeliling Padepokan Wulan Tumanggal yang mempunyai luas sekitar 3 hektar ini, sambil menikmati udara segar pagi hari Gunung Slamet.

Mereka mengunjungi beberapa sasana/tempat seperti Sasana Nunggalati (tempat sujudan/beribadah), Baita Dutaning Bangsa (replika perahu), Tugu Jiwa Nusantara, Tugu Batu (Bangsaku Bersatu), dan Sanggar Pamujan (tempat sujudan tertinggi).

Selain itu, mereka juga mengunjungi pesarean (makam) Pendiri sekaligus Pembina Perguruan Trijaya yang pertama, Romo Guru KPA EK Giripati Suryaningrat yang dikebumikan di area pemakaman khusus penghayat Perguruan Trijaya dengan nama Astanalaya Kasidanjati.
 
"Kami merasa gembira bisa menikmati suasana padepokan yang asri, sejuk dan damai ini, yang secara geografis sengat strategis berada ditempat dingin yaitu di kaki Gunung Slamet." jelas Dammateja Wahyudi, atau biasa dipanggil dengan Romo Wahyudi.

"Semoga dengan kunjungan kami yang tak direncakan jauh hari ini, bisa menjadikan awal, situasi ini menjadi lebih baik, serta pandemi ini bisa segera sirna dari muka bumi", tukas KH. Abdul Qodir. (BP)

 








Sumber : www.perguruantrijaya.org


Kamis, 11 Juni 2020

GSI Semarang salurkan bantuan sembako kepada mahasiswa perantauan.

Setelah melakukan aksi kemanusiaan berupa penyaluran sembako kepada warga lansia terdampak Covid-19 di Kota Semarang, kembali Gerakan Solidaritas Iman (GSI) melakukan penyaluran sembako untuk para mahasiswa perantauan, Senin (8/6). Bantuan ini diprioritaskan untuk mahasiswa yang berasal dari luar jawa dimana tidak bisa pulang kampung dan harus tetap tinggal di Semarang.


Perguruan Trijaya berbagi APD untuk masyarakat Kabupaten Tegal

Sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona, Perguruan Trijaya yang merupakan salah satu organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan YME yang berpusat di Tegal, tergerak untuk ikut serta dalam usaha tersebut dengan memberikan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) kepada Satuan Gugus Tugas Desa Dukuhtengah, Kecamatan Bojong, Kab. Tegal.

Penyerahan APD tersebut dilakukan di Balai Desa Dukuhtengah, Minggu (7/6) oleh Setyoning Ayu Anindita, selaku Bendahara Keimanan (Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara) dan didampingi anggota Keimanan lainnya, Fian, Krisna dan Radit sebagai perwakilan AAN (Anak Alam Nusantara) yang merupakan cikal bakal Keimanan. Keimanan sendiri merupakan wadah para pemuda di Perguruan Trijaya.

APD tersebut terdiri atas 5 pasang sepatu boot, 5 coverall, 5 face shield, 55 masker kain, 1 box sarung tangan, 2 goggles (kacamata) dan 2 botol skin antiseptic. Sumbangan tersebut diterima langsung oleh Kepala Desa Dukuhtengah, Waristo didampingi pamong desa.


Aksi ini adalah tindak lanjut dari diskusi bersama antara Keimanan dan Pemuda Desa Dukuhtengah yang digelar pada 1 Juni 2020 saat peringatan Hari Pancasila 2020 di Padepokan Wulan Tumanggal, Desa Dukuhtengah, Kec. Bojong, Kab., Tegal.

Diskusi ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Dukuhtengah dan Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya, PW. Ang. KRT. K . Teja Sulaksana.

"Diharapkan dengan APD ini bisa membantu perangkat desa khususnya gugus tugas dalam menjalankan tugasnya untuk mencegah masuknya Covid19 di wilayah desa Dukuhtengah" ujar Anin, panggilan akrab Bendahara Keimanan tersebut. (BP).

Sabtu, 06 Juni 2020

Gerakan Solidaritas Iman salurkan sembako kepada 40 Lansia di Semarang

Gerakan Solidaritas Iman (GSI) Kota Semarang menyalurkan paket sembako kepada 40 lansia, Sabtu (6/6/2020) sore. Para lansia yang disasar berada di Kampung Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati.

Koordinator GSI Kota Semarang, Gabriella mengatakan, penyaluran sembako tersebut berasal dari penggalangan dana yang dilakukan GSI Semarang. Penggalangan dana dimulai tanggal 13-27 Mei 2020.

Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap warga lansia yang terdampak pandemi Covid-19 di Kampung Deliksari. Sebagian besar warganya adalah pekerja informal yang tidak memiliki penghasilan tetap, ujar Gabriella.

Gabriella mengatakan, warga Kampung Deliksari sebagian besar bekerja menjadi pemulung, pengamen, dan pengemis. Mereka sangat rentan mengalami masalah ekonomi di tengah pandemi ini. Kebutuhan hidupnya harus diperhatikan, ucap Gabriella.

Dalam penyaluran sembako, GSI Kota Semarang disambut Ketua RW 06 Deliksari, Supangat. Relawan juga melakukan edukasi mengenai disiplin menerapkan protokol kesehatan agar aman dari virus Covid-19.

Gerakan Solidaritas Iman Kota Semarang merupakan sebuah gerakan yang terdiri dari beberapa organisasi maupun komunitas lintas agama. Wadah tersebut diikuti Rumah Ragawidya (Regio Semarang), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kota Semarang, dan GUSDURian Semarang, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita).

Selain itu GSI juga menggandeng Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Semarang, Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi) Kota Semarang, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Kota Semarang, dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kota Semarang.



Sumber : ayosemarang.com

Kamis, 28 Mei 2020

Stok darah PMI menipis, FKUB Jateng gandeng PELITA dan Humanity Fisrt Indonesia untuk aksi donor darah lintas agama dan kepercayaan

Sejumlah tokoh dari berbagai organisasi kemasyarakatan dan organisasi lintas agama/kepercayaan di Kota Semarang, kemarin Jumat (22/5) berkumpul di UDD (Unit Donor Darah) Kota Semarang, yang terletak di Jl. Soegrijapranata Semarang. Mereka menggelar sebuah acara pembukaan aksi kemanusiaan berupa donor darah lintas agama dan kepercayaan yang bertajuk "Berbagi Darah Di Masa Pandemi Covid-19".

Kegiatan ini diselenggarakan oleh FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Provinsi Jawa Tengah, PELITA (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang dan Humanity First Indonesia. Elemen organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan yang ikut terlibat acara ini diantaranya Gusdurian Semarang, PGIW Jateng, PHDI Jateng, Walubi Jateng, Permabudhi Jateng, Matakin Jateng, WKRI Semarang, Perguruan Trijaya, YPSS Semarang, Magabhudi Jateng, Gema FKUB Jateng, MNDBDI Jateng, Puanhayati Jateng, Persada Kota Semarang, dan Give Blood Community.

Virus Corona atau Covid-19 akhirnya masuk ke Indonesia setelah pertama kali virus ini muncul pada Oktober 2019. Sejak pengumuman resmi terkait virus Corona ini diumumkan oleh Presiden tanggal 2 Maret 2020, virus ini makin mengganas dan menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia. Per-tanggal 16 Mei 2020 yang positif 17.025, sembuh 3911, dan meninggal 1089. Bahkan penyebarannya sudah mencapai 34 propinsi di Indonesia.

Efek dari pandemi Covid-19 ini dirasakan oleh berbagai sektor kehidupan termasuk kelangkaan stok darah merupakan salah satu efek yang ditimbulkan dari Covid-19 ini. Banyak sekali pihak yang membutuhkan darah mengalami kesulitan untuk mendapatkannya di tengah pandemi Covid-19. Faktor terbesar dari kelangkaan darah ini adalah karena ketakutan akan keamanan tempat donor dan kekhawatiran tertularnya virus Covid-19. Padahal pihak PMI sudah membuat standar keamanan tersendiri bagi pendonor dan memastikan para pendonor tetap aman mendonorkan darahnya.

Di masa pandemi Covid-19 ini PMI di berbagai daerah kehabisan stok dan mengalami penurunan stok darah yang sangat drastis, yaitu berkurang 50% stok darah. Sehingga banyak pasien kesulitan untuk mendapatkan darah. Melalui gerakan “Berbagi Darah di Masa Pandemi Covid-19” ini diharapkan bisa mengedukasi, menggerakan relawan donor darah dan masyarakat umum untuk tetap melakukan donor darah serta membantu pemerintah dan juga masyarakat yang membutuhkan darah dengan mengajak para relawan donor darah dari berbagai elemen organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan untuk tetap melakukan aktivitas donor darah dengan aman.

Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 22 Mei sampai dengan 30 Juni 2020 yang diawali oleh para pendonor dari perwakilan organisasi yang akan dilaksanakan di Gedung Unit Donor Darah PMI kota Semarang. Untuk seterusnya kegiatan donor darah ini bisa diadakan di tempat-tempat ibadah atau sekretariat-sekretariat organisasi masing-masing yang terlibat dalam aksi kemanusiaan ini ataupun bisa datang mandiri ke PMI di wilayahnya dengan terlebih dahulu mendata jumlah pedonor kemudian dilaporkan kepada Koordinator Kegiatan Donor Darah via Humanity First Jateng.

Narahubung : 0812-2801-796 (Anton Baskoro)

Minggu, 17 Mei 2020

Keuskupan Agung Semarang Salurkan Bantuan Ke Pondok Pesantren dan Panti Sosial

Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang melakukan aksi amal kasih berupa berbagi bantuan kebutuhan pangan bagi pondok pesantren. Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti seruan Paus Fransiskus, Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed al-Tayeb, dan Pemerintah Indonesia.

Pondok Pesantren yang menerima bantuan itu antara lain; Roudhotus Sholihin, Sayung, Demak dan warga desa Loireng di kampung sekitar pesantren tersebut serta Pondok Pesantren sekaligus Panti Asuhan Darul Yatim di Sayung, Demak. Rumah Singgah Anak Aira Semarang, dan Panti Asuhan Kyai Ageng Majapahit Semarang. Pengiriman bantuan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, 16 -17 Mei 2020. 

Tim Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang mengikutsertakan Persaudaraan Lintas Agama Kota (PELITA) Semarang, Penghayat Kepercayaan Perguruan Trijaya, dan tim relawan SalingJaga Gusdurian.

Romo Eduardus Didik Chahyono SJ, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang menyatakan aksi peduli sesama ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Gerakan bersama secara spiritual yang baru saja dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2020.

“Aksi ini juga sekaligus perwujudan pemenuhan hukum cinta kasih yang tertuang pada Injil Matius 22:37-40, Markus 12:28-34, dan Lukas 10:25-28. Hukum kasih itu mencakup perintah mengasihi Allah dan sesama, supaya semua orang saling mengasihi seperti Kristus telah mengasihi kita,” ucapnya saat dihubungi pada Minggu (17/5/2020) usai melakukan rangkaian kegiatan pemberian bantuan.

Sebelumnya pada tanggal 14 Mei 2020, pimpinan umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, telah menerima permohonan dari Komisi Tinggi untuk Persaudaraan Manusia. Komisi tersebut menyerukan kepada para pemeluk agama dan kepercayaan dari semua agama dan keyakinan agar bersatu secara spiritual untuk berdoa dan berpuasa pada. Aksi puasa dan amal tersebut guna memohon kepada Tuhan agar menolong umat manusia mengatasi wabah corona.

Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed al-Tayeb, menyambut gembira seruan itu dan mendukung Gerakan bersama untuk berpuasa, berdoa dan beramal.

“Hal tersebut makin istimewa karena dilaksanakan bersama umat Muslim yang juga sedang berpuasa di bulan Ramadhan,” tukas Romo Didik dengan bangga. Maka, menurut Romo Didik, melalui aksi peduli sesama ini, dirinya berharap Kasih Allah menjadi nyata dan dialami bersama. 

“Orang yang dipenuhi kasih Allah akan juga berbuat kasih pada sesamanya. Dengan demikian dunia ini akan diwarnai kasih persaudaraan dan damai sejahtera,” harapnya. Romo Didik menambahkan, aksi peduli kasih ini juga dilaksanakan untuk mewujudkan solidaritas dalam mengatasi virus corona. “Kita mengetahui bahwa virus corona ini tidak hanya menyerang orang-orang yang terpapar secara kesehatan, namun juga berdampak bagi orang lain sehingga ada yang terpapar secara sosial, ekonomi, Pendidikan dan lain-lain,” jelasnya.

Melalui aksi peduli kasih ini, Romo Didik berharap dapat membangkitkan rasa pengharapan ditengah situasi yang sulit ini. Sebagai sesama saudara sebangsa dan makhluk ciptaan Tuhan, lanjutnya, sudah sewajarnya kita saling memperhatikan dan membantu.

“Virus ini telah menyerang umat manusia tanpa diskriminasi, maka kita pun harus berjuang melawannya secara bersama tanpa diskriminasi juga. Kami berharap aksi peduli sesama ini dapat semakin menguatkan jalinan persaudaraan dan kerukunan umat beragama di Indonesia, khususnya kota Semarang dan sekitarnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kiai Muhammad Abdul Qodir, pengasuh Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin berharap semoga umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa dapat terdukung dengan bantuan bahan pokok ini untuk sahur atau pun buka puasa.

“Selanjutnya semoga semua umat Muslim dalam keadaan sehat sehingga bisa menyambut hari Idul Fitri dengan penuh suka cita,” harap kyai Muda yang pernah satu kos dengan Romo Didik saat kuliah di Jogjakarta. Dirinya merasa terharu dan gembira atas kepedulian dari umat lintas agama, khususnya Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang.

“Di tengah pandemi Covid19, kita sebagai umat manusia tetap dapat saling memperhatikan dan membantu. Kami akan bagikan bantuan untuk warga RT di desa Loireng yang terdampak sosial ekonomi karena covid19. Kami berharap warga dapat merasakan indahnya persaudaraan lintas agama dengan saudara sebangsa dan setanah air,” pungkas Kyai Qodir. (Mushonifin).

Sumber : sigijateng.id