Sabtu, 22 Juni 2019

3 Tahun Pelita terangi Semarang dengan cahaya toleransi

Pada hari Kamis, 20 Juni 2019 Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) mengadakan acara halalbihalal dan syukuran ultah ke-3 Pelita di aula Gereja Katolik Keluarga Kudus Atmodirono, Semarang. Tokoh-tokoh lintas agama dan kepercayaan turut hadir dan menyampaikan testimoni tentang kiprah Pelita selama ini.

Dilanjutkan dengan potong #tumpeng "Lintas Agama" untuk rasa syukur Pelita 3 tahun terakhir, diakhiri dengan ramah tamah dan juga bernyanyi bersama diiringi musik keroncong dari Tim keroncong "Irama Surgawi" GIA dr. Cipto Semarang.

Minggu, 02 Juni 2019

Hari Pancasila 2019, Bangkit dan teguhkan kembali semangat persatuan pasca Pemilu


Sabtu Pahing (1/6), Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal, kembali menggelar upacara bendera dalam rangka peringatan Hari Pancasila 2019 di Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal. Peringatan Hari Pancasila ke 74 ini mengukuhkan kembali bahwa Perguruan Trijaya telah melaksanakan peringatan Hari Pancasila yang ke 19, tepatnya mulai tahun 2000 silam.

"Di tahun ke 16 kami (PerguruanTrijaya) melaksanakan peringatan Hari Pancasila, tepatnya tahun 2016 pemerintah baru menetapkan 1 Juni menjadi hari libur nasional dan kami apresiasi meskipun ada yang kurang pas karena menggunakan kata "lahir"pada Hari Lahir Pancasila", jelas Romo Guru KRA Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya dalam amanat pembina upacara.


"Karena lahir itu akan ada satu batas seperti orang berkehidupan, yaitu mati. Dengan mengambil analog atau persamaan 21 April adalah sebuah peristiwa pribadi Ibu Kartini, pemerintah Republik Indonesia menetapkan sebagai Hari Kartini, bukan Hari Lahir Kartini. Untuk itu Trijaya tetap bersepakat 1 Juni adalah Hari Pancasila, hari dimana rumusan 5 dasar negara kita dibacakan oleh Ir. Soekarno dihadapan BPUPKI", tambah Romo Guru.

Pada kesempatan ini Romo Guru juga menyampaikan selamat berpuasa bagi peserta upacara yang menunaikan ibadah puasa dan sebentar lagi akan berakhir dan menyambut hari raya idul fitri.

Dalam kesempatan ini juga beliau menyampaikan puji sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa bangsa Indonesia telah selesai melaksanakan hajat terbesar didunia yaitu pesta demokrasi Pemilu. Untuk itu beliau menyerukan kembali akan pentingnya semangat untuk bangkit kembali, meneguhkan rasa persatuan Indonesia, dengan mewujudkan sebuah keharmonisan, sinergi antara sesama anak bangsa yang berbhinneka Tunggal Ika.

Meskipun diadakan dibulan Ramadhan, tidak menyurutkan semangat para Putera, simpatisan, tamu dan keluarga untuk mengikuti upacara bendera. Terlebih upacara kali ini juga diikuti oleh barisan Saka Bayangkara Kabupaten Tegal dan BANSER Bojong, Kabupaten Tegal.

Malam sebelumnya, diadakan sukuran berupa tumpengan sebagai tradisi di Perguruan Trijaya. Dalam acara tersebut terdapat 9 (sembilan) Putera dan keluarga yang ikut sukuran ulang tahun.


sumber : www.perguruantrijaya.org


Minggu, 28 April 2019

Menebar toleransi melalui Pondok Damai 2019

Selama 3 (tiga) hari sebuah komunitas pemuda lintas agama Semarang yang bernama Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) mengadakan sebuah acara yang bernama Pondok Damai 2019 yang diadakan di Vihara Buddhagaya Watugong Semarang, Jumat s/d Minggu 26 - 28 April 2019.

Kegiatan yang bertema Merajut Harmoni, Memupus Prasangka ini diikuti 29 peserta yang mewakili dari semua agama dan kepercayaan yang ada di tanah air.

Kegiatan ini merupakan Pondok Damai yang ke 10 dilaksanakan beberapa komunitas pemuda di Semarang dan 2 tahun terakhir ini dilaksanakan oleh Pelita.

Yang istimewa di Pondok Damai kali ini, peserta tak hanya dari kota Semarang saja, tetapi dari kota lain di antaranya Surabaya, Jakarta dan bahkan dari luar negeri yaitu, Laos.

Koordinator Pelita, Setyawan Budi menjelaskan bahwa target awal adalah 30 peserta, karena tidak hadir 1 total peserta menjadi 29. Menurut Wawan (panggilan akrab) dibatasinya jumlah peserta karena yang dicari dalam kegiatan ini adalah kualitas, karena semua peserta diharapkan bisa aktif. Di setiap sessi, para peserta diberi kesempatan yang sama untuk sharing, berbicara satu per satu tentang alasan beragama tertentu dan pengalaman baik ataupun buruk dengan orang lain yang berbeda keyakinan.

Yang unik juga kegiatan ini tidak adanya seorang narasumber tetapi fasilitator yang memandu jalannya diskusi disetiap sessi. Disessi pertama hadir sebagai fasilitator adalah Ellen Kristi, Koordinator Nasional PHI (Persatuan Homeschooller Indonesia). Beliau hadir untuk memandu sessi perkenalan dan alasan peserta untuk beragama yang diyakini saat ini.

Dimalam kedua hadir sebagai fasilitator adalah Dr. Tedi Kholiludin. Direktur eLSA Semarang ini memandu jalannya sessi pengalaman buruk peserta dengan pemeluk agama/kepercayaan lain. Sessi ini cukup menarik karena permasalahan dan gesekan umat beragama sering kali ditimbulkan oleh kurang baiknya komunikasi di masyarakat yang heterogen.

Dibantu dari perwakilan panitia yaitu Dwie Utami Setyani yang juga Ketua Puan Hayati (Perempuan Penghayat Indonesia) Jateng, sessi ini pun memiliki aturan khusus yaitu setiap peserta dilarang untuk tersinggung dengan peserta lainnya. Disinilah sebuah pengertian dan kedewasaan beragama dalam bermasyarakat dibangun, sesuai dengan tema Pondok Damai, yaitu merajut harmoni, memupus prasangka.

Dihari terakhir, hadir rohaniawan muda dari Konghucu, Andi Gunawan sebagai fasilitator. Beliau memandu jalannya sessi bercerita pengalaman baik dengan pemeluk agama lain. Pengalaman baik ini yang harus dijaga agar selalu terpupuk rasa toleransi antar umat beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Selain sessi indoor, kegiatan ini juga diisi dengan sessi trouring. Hari ke 2 (dua), Sabtu (27/4) para peserta Pondok Damai 2019 diajak kelilling kota Semarang untuk berkunjung 3 (tiga) ibadah, diantaranya Gereje Isa Almasih Pringgading, Klenteng Sinar Samudera (Tek Hay Bio) Gang Pinggir dan Pura Agung Giri Natha Gajahmungkur. Disetiap kunjungan mereka diterima oleh pengasuh masing-masing tempat ibadah dan diajak diskusi tentang semua hal yang berhubungan dengan agama

Kegiatan ini dibuka pada Jumat Sore (26/4) oleh Romo Narto, rohaniawan Vihara Buddhagaya Watugong. Sedangkan acara penutupan pada Minggu siang (28/4) dilakukan oleh Kepala Kesbangpol Kota Semarang Abdul Haris, SH, MM, mewakili Walikota Semarang yang tadinya direncakan akan hadir menutup kegiatan.

Jumat, 14 Desember 2018

Sambut Hari Ibu dengan Lomba Mars PKK


Pagi itu, Minggu Pon (9/12) di Gedung Kelurahan Bangetayu Wetan, Genuk Semarang, tampak dipenuhi ibu ibu dengan berseragam PKK (hijau toska). Banyak dari mereka yang sudah merias sendiri sejak fajar untuk tampil lomba Koor dalam rangka memperingati Hari Ibu tahun 2018.

Acara ini diselenggarakan oleh Kader PKK RW. 01 Kelurahan Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.

"Ada14 tim yang ikut dalam lomba Koor ini, 14 tim ini dari 14 RT dari total 15 RT yang ada di RW. 01 ini" , jelas Mutia Farida, Ketua TP PKK RW. 01 Kelurahan Bangetayu Wetan.



Senin, 26 November 2018

Pemkot Semarang gelar Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa di Hutan Tinjomoyo

Minggu (25/11) lalu, Pemkot Semarang menggelar acara yang bertajuk Festival Cinta Pusa dan Satwa. Acara ini sebagai bentuk peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa yang dilaksanakan di Hutan Wisata Tinjomoyo.

Tujuan diselenggarakannya acara ini agar kita dapat bergerak bersama menjaga dan mencintai keaneka ragaman hayati puspa dan satwa dibumi ini. Dalam acara ini terdapat banyak event pendukung diantaranya pameran holticultura, lomba tari, lomba mewarnai, lomba menggambar, kontes kicau burung, beauty contest lovebird dan showing pet & reptil.

Aksi GO Green juga melengkapi acara ini dengan penanaman 400 pohon yang dilakukan oleh para Mahasiswa Jurusan Gizi POLTEKKES SEMARANG​. Pasar Semarangan yang menjadi ikon hutan Tinjomoyo juga mensupport dengan sajian kuliner khas Semarang.

Minggu, 25 November 2018

Pengarusutamaan Budaya Pilihan Tepat

Semarang, 22 November 2018 -- Pengarusutamaan kebudayaan dalam pembangunan merupakan pilihan tepat apabila Indonesia ingin menjadi sebuah Negara dan bangsa yang ‘unggul.  Upaya menjadi Negara maju bidang teknologi bukan tidak  mungkin dilakukan, namun pada kenyataannya Indonesia sudah tertinggal terlalu jauh dibandingkan Negara-negara Eropa, China,  Jepang dan yang lainnya.
 “Apabila kita memilih untuk berpacu di bidang teknologi setidaknya butuh waktu 50 tahun, atau lebih, ini dengan anggapan pihak yang maju tidak lebih maju lagi,” tutur Dirjen  Kebudayaan Hilmar Farid di depan peserta ratusan peserta Pra Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 Provinsi Jawa Tengah di Wisma Perdanaian Semarang, November 22, 2018.
 Melihat kenyataan itu, pillihan untuk  maju dengan pijakan kekuatan budaya merupakan  cara yang paling realistis. Kebudayaan Indonesia amat kaya demikian pula keanekaragaman hayati. Dengan pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur banyak hal yang bisa dikerjakan untuk membuat Indonesia maju.
 Sayang kekayaan itu kerap diabaikan, sementara pihak lain datang dan melihatnya dan kemudian dengan keunggulan naluri bisnisnya, pengetahuan   nenek moyang kita dan kekayaan alam kita diolah menjadi produk-produk tertentu. Dalam hal itu kita kemudian malah menjadi konsumennya karena memang tak bisa memanfaatkan warisan itu.
Strategi Kebudayaan
 Dalam hal ini bukan berarti bangsa Indonesia saat ini sama sekali belum memanfaatkan kekayaan budaya itu.  Secara terpisah atau sporadic hal itu sudah dilakukan. Tentu saja tak cukup untuk bisa membawa Indonesia kea rah kemajuan. Apa yang diperlukan adalah sebuah Grand Strategi agar upaya pemajuan kebudayaan  berjalan ke arah yang benar. Di sinilah sebuah strategi kebudayaan menjadi amat penting.
 Negara lain seperti Korea merupakan sebuah contoh bagaimana kebudayaan menjadi modal penting dalam pembangunan. Tentu saja hal itu tidak bisa ditiru mengingat Korea adalah Negara yang tidak terlalu majemuk ketimbang  Indonesia. Untuk dapat menjadi bangsa yang berkepribadian bidang kebudayaan, Indonesia harus menemukan jalannya sendiri.
 Pemajuan kebudayaan sendiri mencakup pemeliharaan, pemanfaatan, pembinaan dan pengembangan.  Pengelolaan budaya telah dilakukan oleh berbagai pihak misalnya pengembangan ekonomi kreatif oleh Bekraf dan juga pemanfaatan oleh Kementerian Pariwisata. Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana budaya Indonesia menjadi kekuatan besar karena setidaknya 60% wisatawan berkunjung dengan tujuan menikmati kebudayaan Indonesia.
Rumah Kebudayaan
 Perkembangan teknologi membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia sehingga sendi-sendi kebudayaan bergeser. Hal itu seharusnya membuat kita berpikir apakah sebuah produk teknologi bermanfaat atau malah menciptakan kesulitan hidup. Sikap yang bijak amat dibutuhkan dalam pemanfaatannya.
 Untuk itulah sebuah rumah kebudayaan perlu dibangun di Provinsi Jawa Tengah sebagai wadah pemajuan kebudayaan yang menjadi prioritas dalam program pemerintahan Gubernur Gandjar Pranowo ;periode 2018-2023.
 Rumah kebudayaan yang dimaksud tidak berwujud sebuah bangunan kasat mata. Namun sebuah institusi budaya yang terbuka untuk mewadahi kreatifitas warga.
 “Saya kerap merasa heran setiap kali mendengar ada orang tua member hadiah telepon pintar kepada anaknya yang masih balita,” ujar Gubernur Jawa Tengah, Gandjar Pranowo.
 Menghadapi tantangan seperti itu, pihak pemerintah provinsi Jawa Tengah selalu berusaha untuk peka dan mencoba membuat upaya-upaya  mengatasinya.  Dalam hal itu, Gandjar menyatakan pendapatnya agar kepemilikan  telepon pintar dibatasi dalam hal usia.
 “Saya juga menantang kepada pemilik akun media social untuk secara terang-terangan mencantumkan identitasnya,” tambah Gandjar.
 Menurut dia, hal itu merupakan  sebuah bentuk pertanggungjawaban sebagai salah satu ciri dari budaya kita. Sayang demokrasi yang berkembang saat ini kerap diartikan  kurang tepat oleh pengelola media massa. Mereka hanya meliput apabila terjadi kontroversi, kritik keras kepada penguasa bahkan bila muncul kekacauan.
 “Bukankah ada pesan dari leluhur bahwa bila kita ingin mengkritik penguasa, sebaiknya kita sampaikan tanpa diketahui orang  lain,” tambah Gandjar. (***)