Jumat, 21 Februari 2020

Pererat persaudaraan, Perguruan Trijaya kunjungi Ponpes Roudhotus Sholihin Demak

Kamis Legi 20 Februari 2020, Perguruan Trijaya mengunjungi Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin yang berlokasi di Desa Loireng, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Rombongan yang berjumlah 13 orang tersebut terdiri atas Pengurus dan Putera Daerah Semarang serta didampingi Pengurus Pusat Perguruan Trijaya.

Kunjungan ini merupakan bentuk silaturahmi dimana akhir bulan lalu, tepatnya pada hari Kamis malam (30/1) rombongan Ponpes yang terdiri dari anak-anak dan para Guru SMP IT Roudhotus Sholihin melaksanakan kunjungan di Padepokan Wulan Tumanggal dalam rangka tour Studi Lintas Agama yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya.

"Kami berkunjung disini untuk mempererat tali persaudaraan, dimana sebagai Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, baru pertama kali padepokan kami dikunjungi satu rombongan bis besar dari Pondok Pesantren dan sekaligus mengikuti ritual rutin Supit malam Jumat Legi" tutur Trubus E.S selaku juru bicara sekaligus Pengurus Pusat Perguruan Trijaya .

Kehadiran rombongan dari Perguruan Trijaya ini disambut hangat oleh Pengasuh Ponpes KH. Abdul Qodir. "Terimakasih atas kerawuhan saudara-saudara kami dari Perguruan Trijaya, dan rawuhnya bapak ibu telah membawa berkah secara langsung yaitu menyingkirkan mendung tebal dan nyalanya listrik yang sebelumnya padam" terang Kyai Qodir yang selalu cair dan disambut gelak tawa bersama.

"Monggo kapan waktu bisa rawuh kembali, disini kami terbuka 24 jam dan tak lupa kami nitip salam hormat kepada Romo Guru sebagai Pembina Perguruan Trijaya yang telah menerima kami dengan sangat baik" lanjut Kyai Qodir.

Setelah ramah tamah dan makan siang di kediaman Kyai Qodir, acara pun bergeser ke Mushola. Disini digelar sarasehan singkat bersama para santri Ponpes. Sarasehan dibuka Kyai Qodir dan mempersilakan dari Perguruan Trijaya untuk memberikan kuliah kepada para santri tentang Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Penjelasan tentang Penghayat Kepercayaan dan Perguruan Trijaya dipaparkan secara jelas oleh Sutrimo Puspoyudo selaku Kabid PPM (Paguyuban Penghayat Murni) Pengurus Pusat Perguruan Trijaya. Para santri pun menyambut baik sarasehan ini dengan peran aktif mereka untuk bertanya saat sessi diskusi dibuka oleh Kyai Qodir.

Diakhir sarasehan sekaligus sebagai penghujung kunjungan ini, Perguruan Trijaya menyerahkan cinderamata berupa pigura foto kegiatan saat rombongan Ponpes berkunjung di Padepokan Wulan Tumanggal, yang diserahkan oleh Trubus ES kepada Kyai Qodir.

Haul Gus Dur merupakan hadiah terbesar bagi keluarga besar Gus Dur, melebihi kehormatan apapun

Alissa Wahid mengungkapkan, momen Haul Gus Dur merupakan hadiah terbesar bagi keluarga besar Gus Dur, melebihi kehormatan apapun.
“Momen ini bukan untuk mengelu-elukan atau mengkultuskan Gus Dur. Namun untuk meneladani nilai-nilai perjuangan yang dilakukan oleh Gus Dur semasa hidupnya,” ungkapnya.
Hal itu diungkapkan pada acara Haul Dasa Warsa Gus Dur yang berlangsung di Kampus USM, Senin malam lalu (12/2).
Acara tersebut diselenggarakan Gus Durian Semarang, Pelita, generasi muda NU, dan Ormas se Kota Semarang. Turut hadir antara lain, Rektor USM, kalangan pejabat Pemprov Jateng dan Pemkot Semarang, anggota DPRD Prov Jateng dan anggota DPRD Kota Semarang.
Putri pertama Gus Dur ini lebih lanjut menceritakan sosok ayahnya yang adil gender, salah satunya terhadap istirinya. Ia tak segan memberi dukungan terhadap Sinta Nuriyah Wahid untuk tampil di ruang publik.
Kepada hadirin yang hadir, Alissa juga meminta agar tak  berkecil hati dalam menghadapi kpndisi kesulitan ekonomi. Ia teringat saat Gus Dur datang ke rumahnya di Yogja. Bapaknya, ingin meminjam uang. Sontak Alissa sedih, lalu ia menelpon adik-adiknya.
“Seorang mantan presiden tidak punya uang lima juta,” ujar Mbak Alissa.
Padahal adiknya, Yenny Wahid  pernah bercerita kepadanya, kebiasaan Gus Dur memberi uang kepada siapapun yang meminta. “Bahkan saya iri sama anak-anak IAIN Yogja yg sering dapat uang saku dari Gus Dur, sementara saya sebagai anaknya sangat jarang,” tuturnya.
Alissa Wahid juga mengakui, adanya kebiasan Gus Dur yang suka humor. Hal itu justru menjadi sesuatu yang ditunggu oleh pendengarnya saat berbicara di berbagai acara. Alissa Wahid menceritakan satu jokes yang diceritakan bapaknya kepada Presiden Kuba, Fidel Castro.
“Presiden di Indonesia itu bermacam-macam. Presiden pertama negarawan, presiden kedua hartawan, presiden ketiga ilmuwan. Sementara presiden keempat wisatawan,” ucapnya yang membuat seisi ruangan tertawa.

sumber : asatu.id

Senin, 17 Februari 2020

Penghijauan di kaki Gunung Slamet, menjadi agena rutin ulang tahun Perguruan Trijaya

Kegiatan penghijauan dalam rangka HUT ke 54th Perguruan Trijaya di Kaki lereng Gn. Slamet, diatas Padepokan Wulan Tumanggal, Kab. Tegal.

Sabtu, 23 November 2019

Pertama kalinya, Pemprov Jateng Gelar Tradisi Ritual Penghayat

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, S.TP, M.Si (beskap hitam),
saat mengunjungi stand pameran Perguruan Trijaya
Untuk pertama kalinya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan event besar yang bertajuk "Gelar Tradisi Ritual" Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tahun 2019.

Kegiatan yang melibatkan beberapa organisasi Penghayat Kepercayaan ini digelar selama 5 hari, yang dibuka pada Senin malam (18/11) sampai dengan Jumat siang (22/11) di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Kegiatan yang sarat dengan tradisi budaya spiritual ini, meliputi Gelar Tradisi Ritual, Pameran, dan Seminar Penghayat Kepercayaan.

Organisasi Penghayat Kepercayaan yang terlibat dalam kegiatan tahun ini meliputi Cahya Buwana, Sedulur Sikep, AK Perjalanan, Sapta Darma (Persada), Kapribaden, Tunggul Sabdo Jati, MLKI, Perguruan Trijaya, Puanhayati, Ngudi Utomo dan Kejawen Maneges.

Kegiatan ini juga diisi dengan penampilan karya seni oleh beberapa Sekolah di Kota Semarang, dan pagelaran Wayang Kulit. Di hari terkahir Jumat (22/11) sebelum penutupan digelar Seminar Penghayat yang menghadirkan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dra. Christriyati Ariani, M.Hum.

Sebuah ritus dalam bentuk gerak tari dari Perguruan Trijaya, yaitu Tari Kalang, membuka acara ini dengan spektakuler.

Selasa, 22 Oktober 2019

Semangat Gotong Royong, Karakter Bangsa Indonesia


Semangat Gotong Royong dan Persatuan antar organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa menjadi ruh Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi yang diselenggarakan di Hotel Grand Pasundan, Bandung (22-25 Okt 2019).

Secara resmi tema Sarasehan Nasional tahun 2019 ini yaitu Ekosistem Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME yang berkepribadian Gotong Royong Berkontribusi dalam Pembangunan Karakter Bangsa.

Sarnas yang diselenggarakan setiap 5 (lima) tahun sekali ini sangat semarak karena dihadiri 1000 (seribu) tamu undangan yang memadati ruang ballroom Grand Pasundan di acara pembukaan. Tamu undangan terdiri dari 225 undangan sarasehan tingkat nasional dan 760 undangan invite via call dari komunitas budaya, dinas-dinas terkait, Penghayat Kepercayaan dari Bandung dan sekitarnya, narasumber dan akademisi.

Acara dibuka dengan tari Rampak Kendang, Lagu Indonesia Raya tiga stansa, Pembacaan Pancasila, Doa  dan dilanjutkan sambutan. Pembukaan acara secara resmi dengan pemukulan kendang serempak oleh Dra. Christriyati Ariani, M.Hum selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Hentoro Cahyono, S.H,M.H Kasubdit Sosial dan Ketentraman Kejaksaan Agung, Ir Ananto Kesuha, Msc, Staf Ahli Kementrian Inovasi dan Daya Saing, Andreas Wijayanto, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat serta Arnold Panahal, Ketua Presidium MLKI Pusat.

Eksistensi penghayat kepercayaan saat ini semakin kuat jaminan hukumnya pasca terbitnya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 yang kemudian ditindak lanjuti dengan Permendagri No 118 tahun 2017 tentang Blangko KK, Register dan Kutipan Akta Pencatatan Sipil. Selain itu tidak kalah pentingnya dengan terbitnya Undang- undang no 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pada “Azas Keberagaman” bahwa pemajuan kebudayaan mengakui dan memelihara perbedaan suku, agama, ras dan kepercayaan.

Berdasarkan hal tersebut peran nyata penghayat kepercayaan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam membentuk karakter dan jati diri Bangsa Indonesia.  Dengan Sarasehan Nasional 2019 ini dapat menyusun rumusan dan langkah-langkah konkrit sebagai upaya meningkatkan peran Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kerangka pelestarian nilai-nilai luhur, dan membangun budi pekerti dan karakter bangsa.

Adapun tujuan acara ini antara lain Menguatkan persatuan dan kesatuan yang berlandaskan gotong royong di antara penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME dalam upaya pelestarian nilai-nilai budaya Budi luhur bangsa, meningkatkan partisipasi dan kapasitas organisasi penghayat dan pengamalan nilai ajaran kepercayaan terhadap Tuhan YME, dan meningkatkan pelayanan Negara terhadap pemenuhan hak-hak penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Hadir pula dalam acara ini, mantan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, Drs. KRT Sulistyo Tirto Kusumo, MM, Kasubdit Kelembagaan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Dra. Wigati, Presidium MLKI Pusat,  Engkus Ruswana dan Andri Hernandi, dan Ketua Puanhayati Pusat, Dian Jennie Cahyawati, Ssos . (DSU)

Sabtu, 19 Oktober 2019

Untaian Doa untuk Nusantara, melalui Nyelameti Ibu Pertiwi

Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang, pada Jumat malam 18 Oktober 2019 menggelar acara dengan tema "Nyelameti Ibu Pertiwi : Untaian Doa Bagi Nusantara" di halaman Gereja St. Theresia. Acara ini dihadiri lebih kurang 200 orang dari berbagai agama dan kepercayaan, serta juga diikuti beberapa organisasi/komunitas.

Vocal group dari SD Kanisius Kurmosari membuka acara dengan beberapa lagu nasional. Kemudian ada pembacaan puisi dari Gusdurian Semarang, PC Hikmahbudhi Semarang, dan HMJ SAA UIN Walisongo Semarang. Komunitas Sahabat Difabel juga turut berpartisipasi.

Penampilan tim rebana Al-Harokah dari PMII Rayon Abdurrahman Wahid UIN Walisongo semakin menyemarakkan suasana. Tidak mau ketinggalan musik akustik dari Forum Perantara (Persaudaran Antar Etnis Nusantara) Jateng juga ikut ambil bagian dalam acara solidaritas dan spontanitas ini.

Dipenghujung acara, sekaligus inti dari acara tersebut yaitu pengucapan doa dari para tokoh  lintas agama dan kepercayaan yang disampaikan secara bergantian.

Suasana sakral pun menghiasi malam itu disertai penyalaan lilin oleh masing-masng peserta dan dilanjutkan dengan lantunan lagu "Ibu Pertiwi" yang dinyanyikan bersama-sama.

Semoga bangsa Indonesia tetap bersatu sekalipun berbeda suku, agama, maupun kepercayaan.
Damai Indonesia, jayalah Nusantara!