Minggu, 18 Agustus 2019

9 Karya Budaya Jawa Tengah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2019

Sebanyak 9 (sembilan) Karya Budaya dari Provinsi Jawa Tengah akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia tahun 2019 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta (16/8).

Provinsi Jawa Tengah mendapatkan undian paparan diakhir acara tepatnya 3 provinsi terakhir. Delegasi Jawa Tengah terdiri 7 orang diantaranya Agung Kristianto (Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Dikbud Jateng), Sulistyono (Kasi Nilai Sejarah, Dinas Dikbud Jateng), Dwi Ratna Nurhajarini (Kepala BPNB Yogyakarta), Gunawan Sudharsono (Kabag Dikbud Kesosnakertrans, Biro Kesra Setda Prov Jateng), Eny Haryanti (Kasubbag Dikbud dan Perpus Biro Kesra Setda Prov  Jateng), Mispan (Kasi Sejarah dan Tradisi Dinas Dikbud Banyumas), Iwuk Tri Kiswarsiki (Staf Dinas Dikbud Jateng) dan Bambang Permadi (Budayawan Perguruan Trijaya Pusat Tegal).

Berikut ini 9 karya budaya Jawa Tengah yang lolos seleksi sidang WBTB 2019.

1. Dolalak,
2. Suran Tutup Ngisor, Kab. Magelang,
3. Lengger Banyumas,
4. Jaranan Margowati Temanggung,
5. Tari Prajuritan,
6. Ngasa Kabupaten Brebes,
7. Jamu Jawa Tengah,
8. Sintren Kab. Pekalongan
9. Dakon

Paparan disampaikan ketua delegasi Agung Kristianto, didepan tim ahli yang berjumlah 15 orang dan disaksikan semua peserta sidang dari perwakilan provinsi se Indonesia.
Beberapa pertanyaan dari Tim Ahli dijawab dengan baik, berikut juga dengan beberapa masukkan diantaranya tentang salah satu karya budaya, yaitu Jamu. Tim ahli menyarankan agar Jawa Tengah memperkuat data-data pendukung mengenai Jamu untuk diusulkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (World Intangible Cultural Heritage).

Dalam pembacaan hasil sidang, ke 9 karya budaya tersebut seluruhnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Tahun 2019. Dengan demikian, sampai saat ini, sebanyak 37 Karya Budaya Jawa Tengah yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Dari 272 karya budaya seluruh Indonesia yang lolos seleksi dan disidangkan, hanya 267 karya budaya saja yang ditetapkan sebagai WBTB Indonesia tahun 2019, lima karya budaya sisanya ditangguhkan, namun masih bisa diajukan pada tahun 2020 dengan memperbaiki beberapa persyaratan.

Sidang Penetapan WBTB yang digelar selama (3) tiga hari mulai Selasa (13/8) sampai dengan Jumat (16/8) ini, merupakan kegiatan tahunan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya (Direktorat WDB), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI. Acara ini ditutup secara resmi oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid. (BP)

Minggu, 11 Agustus 2019

Banyak Unsur terlibat pada Dialog Budaya Spiritual DIY

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yoyakarta selama 2 (dua) hari kemarin menggelar sebuah acara Dialog Budaya Spiritual D.I Yogyakarta di Burza Hotel, Yogyakarta, 6 - 7 Agustus 2019.

Rabu, 07 Agustus 2019

Berdayakan Perempuan Penghayat, PUANHAYATI Jawa Tengah gelar pelatihan membatik


Goresan canting dan malam pada untaian kain putih menjadi pusat daya tarik dokumentasi siang itu, saat puluhan wanita penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME yang mengatasnamakan diri Puanhayati memainkan jemari, menggoreskan canting dan malam di atas rerumputan hijau beratap langit di halaman tengah klub Merby demi merampungkan syal batik buatannya sendiri.

Pelatihan Membatik dan Kewirausahaan yang bertajuk “Pecinta Warisan Budaya Nusantara,” diselenggarakan oleh Puanhayati Jawa Tengah selama 2 hari mulai tanggal 3 s/d 4 Agustus 2019, diikuti oleh 38 Perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME dari 10 kota/kabupaten se Jawa Tengah. Pesertanya antara lain dari kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Sukoharjo, Surakarta, Kabupaten Klaten, Kabupaten Pati, Kabupaten Cilacap,  dan Kabupaten Banyumas.
    |
    Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan perempuan penghayat dalam rangka pemberdayaan perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME demi kemandirian sosial,  ekonomi dan budaya. Menambah ketrampilan dan wawasan serta menumbuhkan kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya nusantara. “Kami mencoba menggali minat dan potensi perempuan penghayat demi kemandirian ekonomi agar bisa turut berkontribusi dalam pengembangan perekonomian daerah”,  jelas Dwi Setiyani Utami, ketua Puanhayati Jawa Tengah.

    “Rencananya pelatihan ini akan diselenggarakan beberapa tahap agar ada upaya serius yang berkesinambungan demi kemajuan perempuan penghayat dalam memberikan andil dan sumbangsih nyata untuk bangsa dan negara”, tambahnya.

    Sebagai warisan budaya asli nusantara yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, perlu upaya kontinyu untuk merawat dan melestarikan hasil karya batik tulis ini. Diperlukan langkah strategis agar batik tulis bisa lebih lestari, lebih eksis di hati penggemar dan semakin dikenal berbagai kalangan lintas usia baik manca maupun domestik.. Batik tulis Kekuatan budaya bangsa ini perlu dilestarikan dan terus dikembangkan agar tetap lestari dan menjadi nilai lebih bagi bangsa Indonesia.

    Selain berkunjung ke Merby Center Kota Semarang, Puanhayati Jawa Tengah juga melakukan kunjungan kewirausahaan ke kampung batik Bubakan, untuk meninjau langsung dapur batik tulis sekaligus menimba ilmu dari salah seorang pakar batik di Semarang Bpk Eko Haryanto. Praktisi, asesor, sekaligus pendiri kampung batik.

    Hadir pula dalam acara itu Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Ibu Eny Haryanti, S. Pd, M. Pd, Sdr. Setyawan Budi selaku koordinator PELITA (Persaudaraan Lintas Agama), Sdri Vanda dan Sdr Addo, pemilik dan pengelola Merby Center. (DSU)

    Jumat, 28 Juni 2019

    Permainan tradisional ramaikan alun alun Purwodadi

    Jumat pagi (28/6) Sekelompok anak anak dengan riang gembira dan leluasa bermain di alun alun kota Purwodadi, Grobogan.

    Mereka sangat antusias memainan dolanan anak, yang merupakan permainan tradisional yang dulu sempat ngetrend diera generasi terdahulu.

    Acara yang dikemas dalam bentuk Festival Permainan Tradisional ini digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah.


    Sabtu, 22 Juni 2019

    3 Tahun Pelita terangi Semarang dengan cahaya toleransi

    Pada hari Kamis, 20 Juni 2019 Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) mengadakan acara halalbihalal dan syukuran ultah ke-3 Pelita di aula Gereja Katolik Keluarga Kudus Atmodirono, Semarang. Tokoh-tokoh lintas agama dan kepercayaan turut hadir dan menyampaikan testimoni tentang kiprah Pelita selama ini.

    Dilanjutkan dengan potong #tumpeng "Lintas Agama" untuk rasa syukur Pelita 3 tahun terakhir, diakhiri dengan ramah tamah dan juga bernyanyi bersama diiringi musik keroncong dari Tim keroncong "Irama Surgawi" GIA dr. Cipto Semarang.

    Minggu, 02 Juni 2019

    Hari Pancasila 2019, Bangkit dan teguhkan kembali semangat persatuan pasca Pemilu


    Sabtu Pahing (1/6), Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal, kembali menggelar upacara bendera dalam rangka peringatan Hari Pancasila 2019 di Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal. Peringatan Hari Pancasila ke 74 ini mengukuhkan kembali bahwa Perguruan Trijaya telah melaksanakan peringatan Hari Pancasila yang ke 19, tepatnya mulai tahun 2000 silam.

    "Di tahun ke 16 kami (PerguruanTrijaya) melaksanakan peringatan Hari Pancasila, tepatnya tahun 2016 pemerintah baru menetapkan 1 Juni menjadi hari libur nasional dan kami apresiasi meskipun ada yang kurang pas karena menggunakan kata "lahir"pada Hari Lahir Pancasila", jelas Romo Guru KRA Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya dalam amanat pembina upacara.


    "Karena lahir itu akan ada satu batas seperti orang berkehidupan, yaitu mati. Dengan mengambil analog atau persamaan 21 April adalah sebuah peristiwa pribadi Ibu Kartini, pemerintah Republik Indonesia menetapkan sebagai Hari Kartini, bukan Hari Lahir Kartini. Untuk itu Trijaya tetap bersepakat 1 Juni adalah Hari Pancasila, hari dimana rumusan 5 dasar negara kita dibacakan oleh Ir. Soekarno dihadapan BPUPKI", tambah Romo Guru.

    Pada kesempatan ini Romo Guru juga menyampaikan selamat berpuasa bagi peserta upacara yang menunaikan ibadah puasa dan sebentar lagi akan berakhir dan menyambut hari raya idul fitri.

    Dalam kesempatan ini juga beliau menyampaikan puji sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa bangsa Indonesia telah selesai melaksanakan hajat terbesar didunia yaitu pesta demokrasi Pemilu. Untuk itu beliau menyerukan kembali akan pentingnya semangat untuk bangkit kembali, meneguhkan rasa persatuan Indonesia, dengan mewujudkan sebuah keharmonisan, sinergi antara sesama anak bangsa yang berbhinneka Tunggal Ika.

    Meskipun diadakan dibulan Ramadhan, tidak menyurutkan semangat para Putera, simpatisan, tamu dan keluarga untuk mengikuti upacara bendera. Terlebih upacara kali ini juga diikuti oleh barisan Saka Bayangkara Kabupaten Tegal dan BANSER Bojong, Kabupaten Tegal.

    Malam sebelumnya, diadakan sukuran berupa tumpengan sebagai tradisi di Perguruan Trijaya. Dalam acara tersebut terdapat 9 (sembilan) Putera dan keluarga yang ikut sukuran ulang tahun.


    sumber : www.perguruantrijaya.org


    Minggu, 28 April 2019

    Menebar toleransi melalui Pondok Damai 2019

    Selama 3 (tiga) hari sebuah komunitas pemuda lintas agama Semarang yang bernama Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) mengadakan sebuah acara yang bernama Pondok Damai 2019 yang diadakan di Vihara Buddhagaya Watugong Semarang, Jumat s/d Minggu 26 - 28 April 2019.

    Kegiatan yang bertema Merajut Harmoni, Memupus Prasangka ini diikuti 29 peserta yang mewakili dari semua agama dan kepercayaan yang ada di tanah air.

    Kegiatan ini merupakan Pondok Damai yang ke 10 dilaksanakan beberapa komunitas pemuda di Semarang dan 2 tahun terakhir ini dilaksanakan oleh Pelita.

    Yang istimewa di Pondok Damai kali ini, peserta tak hanya dari kota Semarang saja, tetapi dari kota lain di antaranya Surabaya, Jakarta dan bahkan dari luar negeri yaitu, Laos.

    Koordinator Pelita, Setyawan Budi menjelaskan bahwa target awal adalah 30 peserta, karena tidak hadir 1 total peserta menjadi 29. Menurut Wawan (panggilan akrab) dibatasinya jumlah peserta karena yang dicari dalam kegiatan ini adalah kualitas, karena semua peserta diharapkan bisa aktif. Di setiap sessi, para peserta diberi kesempatan yang sama untuk sharing, berbicara satu per satu tentang alasan beragama tertentu dan pengalaman baik ataupun buruk dengan orang lain yang berbeda keyakinan.

    Yang unik juga kegiatan ini tidak adanya seorang narasumber tetapi fasilitator yang memandu jalannya diskusi disetiap sessi. Disessi pertama hadir sebagai fasilitator adalah Ellen Kristi, Koordinator Nasional PHI (Persatuan Homeschooller Indonesia). Beliau hadir untuk memandu sessi perkenalan dan alasan peserta untuk beragama yang diyakini saat ini.

    Dimalam kedua hadir sebagai fasilitator adalah Dr. Tedi Kholiludin. Direktur eLSA Semarang ini memandu jalannya sessi pengalaman buruk peserta dengan pemeluk agama/kepercayaan lain. Sessi ini cukup menarik karena permasalahan dan gesekan umat beragama sering kali ditimbulkan oleh kurang baiknya komunikasi di masyarakat yang heterogen.

    Dibantu dari perwakilan panitia yaitu Dwie Utami Setyani yang juga Ketua Puan Hayati (Perempuan Penghayat Indonesia) Jateng, sessi ini pun memiliki aturan khusus yaitu setiap peserta dilarang untuk tersinggung dengan peserta lainnya. Disinilah sebuah pengertian dan kedewasaan beragama dalam bermasyarakat dibangun, sesuai dengan tema Pondok Damai, yaitu merajut harmoni, memupus prasangka.

    Dihari terakhir, hadir rohaniawan muda dari Konghucu, Andi Gunawan sebagai fasilitator. Beliau memandu jalannya sessi bercerita pengalaman baik dengan pemeluk agama lain. Pengalaman baik ini yang harus dijaga agar selalu terpupuk rasa toleransi antar umat beragama dalam kehidupan sehari-hari.

    Selain sessi indoor, kegiatan ini juga diisi dengan sessi trouring. Hari ke 2 (dua), Sabtu (27/4) para peserta Pondok Damai 2019 diajak kelilling kota Semarang untuk berkunjung 3 (tiga) ibadah, diantaranya Gereje Isa Almasih Pringgading, Klenteng Sinar Samudera (Tek Hay Bio) Gang Pinggir dan Pura Agung Giri Natha Gajahmungkur. Disetiap kunjungan mereka diterima oleh pengasuh masing-masing tempat ibadah dan diajak diskusi tentang semua hal yang berhubungan dengan agama

    Kegiatan ini dibuka pada Jumat Sore (26/4) oleh Romo Narto, rohaniawan Vihara Buddhagaya Watugong. Sedangkan acara penutupan pada Minggu siang (28/4) dilakukan oleh Kepala Kesbangpol Kota Semarang Abdul Haris, SH, MM, mewakili Walikota Semarang yang tadinya direncakan akan hadir menutup kegiatan.