Senin, 26 November 2018

Pemkot Semarang gelar Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa di Hutan Tinjomoyo

Minggu (25/11) lalu, Pemkot Semarang menggelar acara yang bertajuk Festival Cinta Pusa dan Satwa. Acara ini sebagai bentuk peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa yang dilaksanakan di Hutan Wisata Tinjomoyo.

Tujuan diselenggarakannya acara ini agar kita dapat bergerak bersama menjaga dan mencintai keaneka ragaman hayati puspa dan satwa dibumi ini. Dalam acara ini terdapat banyak event pendukung diantaranya pameran holticultura, lomba tari, lomba mewarnai, lomba menggambar, kontes kicau burung, beauty contest lovebird dan showing pet & reptil.

Aksi GO Green juga melengkapi acara ini dengan penanaman 400 pohon yang dilakukan oleh para Mahasiswa Jurusan Gizi POLTEKKES SEMARANG​. Pasar Semarangan yang menjadi ikon hutan Tinjomoyo juga mensupport dengan sajian kuliner khas Semarang.

Minggu, 25 November 2018

Pengarusutamaan Budaya Pilihan Tepat

Semarang, 22 November 2018 -- Pengarusutamaan kebudayaan dalam pembangunan merupakan pilihan tepat apabila Indonesia ingin menjadi sebuah Negara dan bangsa yang ‘unggul.  Upaya menjadi Negara maju bidang teknologi bukan tidak  mungkin dilakukan, namun pada kenyataannya Indonesia sudah tertinggal terlalu jauh dibandingkan Negara-negara Eropa, China,  Jepang dan yang lainnya.
 “Apabila kita memilih untuk berpacu di bidang teknologi setidaknya butuh waktu 50 tahun, atau lebih, ini dengan anggapan pihak yang maju tidak lebih maju lagi,” tutur Dirjen  Kebudayaan Hilmar Farid di depan peserta ratusan peserta Pra Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 Provinsi Jawa Tengah di Wisma Perdanaian Semarang, November 22, 2018.
 Melihat kenyataan itu, pillihan untuk  maju dengan pijakan kekuatan budaya merupakan  cara yang paling realistis. Kebudayaan Indonesia amat kaya demikian pula keanekaragaman hayati. Dengan pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur banyak hal yang bisa dikerjakan untuk membuat Indonesia maju.
 Sayang kekayaan itu kerap diabaikan, sementara pihak lain datang dan melihatnya dan kemudian dengan keunggulan naluri bisnisnya, pengetahuan   nenek moyang kita dan kekayaan alam kita diolah menjadi produk-produk tertentu. Dalam hal itu kita kemudian malah menjadi konsumennya karena memang tak bisa memanfaatkan warisan itu.
Strategi Kebudayaan
 Dalam hal ini bukan berarti bangsa Indonesia saat ini sama sekali belum memanfaatkan kekayaan budaya itu.  Secara terpisah atau sporadic hal itu sudah dilakukan. Tentu saja tak cukup untuk bisa membawa Indonesia kea rah kemajuan. Apa yang diperlukan adalah sebuah Grand Strategi agar upaya pemajuan kebudayaan  berjalan ke arah yang benar. Di sinilah sebuah strategi kebudayaan menjadi amat penting.
 Negara lain seperti Korea merupakan sebuah contoh bagaimana kebudayaan menjadi modal penting dalam pembangunan. Tentu saja hal itu tidak bisa ditiru mengingat Korea adalah Negara yang tidak terlalu majemuk ketimbang  Indonesia. Untuk dapat menjadi bangsa yang berkepribadian bidang kebudayaan, Indonesia harus menemukan jalannya sendiri.
 Pemajuan kebudayaan sendiri mencakup pemeliharaan, pemanfaatan, pembinaan dan pengembangan.  Pengelolaan budaya telah dilakukan oleh berbagai pihak misalnya pengembangan ekonomi kreatif oleh Bekraf dan juga pemanfaatan oleh Kementerian Pariwisata. Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana budaya Indonesia menjadi kekuatan besar karena setidaknya 60% wisatawan berkunjung dengan tujuan menikmati kebudayaan Indonesia.
Rumah Kebudayaan
 Perkembangan teknologi membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia sehingga sendi-sendi kebudayaan bergeser. Hal itu seharusnya membuat kita berpikir apakah sebuah produk teknologi bermanfaat atau malah menciptakan kesulitan hidup. Sikap yang bijak amat dibutuhkan dalam pemanfaatannya.
 Untuk itulah sebuah rumah kebudayaan perlu dibangun di Provinsi Jawa Tengah sebagai wadah pemajuan kebudayaan yang menjadi prioritas dalam program pemerintahan Gubernur Gandjar Pranowo ;periode 2018-2023.
 Rumah kebudayaan yang dimaksud tidak berwujud sebuah bangunan kasat mata. Namun sebuah institusi budaya yang terbuka untuk mewadahi kreatifitas warga.
 “Saya kerap merasa heran setiap kali mendengar ada orang tua member hadiah telepon pintar kepada anaknya yang masih balita,” ujar Gubernur Jawa Tengah, Gandjar Pranowo.
 Menghadapi tantangan seperti itu, pihak pemerintah provinsi Jawa Tengah selalu berusaha untuk peka dan mencoba membuat upaya-upaya  mengatasinya.  Dalam hal itu, Gandjar menyatakan pendapatnya agar kepemilikan  telepon pintar dibatasi dalam hal usia.
 “Saya juga menantang kepada pemilik akun media social untuk secara terang-terangan mencantumkan identitasnya,” tambah Gandjar.
 Menurut dia, hal itu merupakan  sebuah bentuk pertanggungjawaban sebagai salah satu ciri dari budaya kita. Sayang demokrasi yang berkembang saat ini kerap diartikan  kurang tepat oleh pengelola media massa. Mereka hanya meliput apabila terjadi kontroversi, kritik keras kepada penguasa bahkan bila muncul kekacauan.
 “Bukankah ada pesan dari leluhur bahwa bila kita ingin mengkritik penguasa, sebaiknya kita sampaikan tanpa diketahui orang  lain,” tambah Gandjar. (***)

Kamis, 15 November 2018

Prajurit Ki Ageng Gringsing bawa Jawa Tengah menjadi Juara Umum

Ki Ageng Gringsing dengan ratusan prajuritnya, Minggu lalu menggegerkan Ibu Kota Jakarta. Kemampuan olah keprajuritannya memang tidak bisa dianggap enteng. Gerak keperkasaan dalam balutan seni gerak tari seolah membius para penonton di kawasan Tugu Api, TMII, Minggu (11/11).

Prajurit Ki Ageng Gringsing, menjadi tema tim kesenian dari Jawa Tengah dalam adegan Karnaval Keprajuritan Nusantara tahun 2018 yang di selenggarakan pihak Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Berdasar penilaian tim juri, akhirnya kontingen Jawa Tengah ini dinobatkan sebagai Juara Umum pada ajang bergengsi tingkat nasional yang digelar setiap tahun ini.

Senin, 29 Oktober 2018

Peningkatan SDM Penghayat Kerohanian Sapta Darma

Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia selalu merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan secara berkesinambungan oleh semua kelembagaan dan organisasi. Tak Lepas PERSADA (Persatuan Warga Sapta Darma) Jawa Tengah, selama tiga hari (19-21/10/2018) menyelenggarakan kegiatan “Pendidikan dan Pelatihan Lembaga Kerokhanian Sapta Darma” tingkat Jateng dan DIY yang bertajuk  “Dengan Sumber Daya Manusia Sapta Darma yang Berkualitas, Kita Tingkatkan Kemampuan Berbangsa dan Bernegara”.

Lembaga Tuntunan merupakan kelembagaan tertinggi  di Kerokhanian Sapta Darma dari tingkat Pusat, Provinsi, Wilayah, Kota/Kabupaten, Kecamatan, hingga tingkat sanggar. Selain itu ada  Organisasi Persada dan Yasrad yang berada di bawah koordinasi dan pembinaan dari Tuntunan. 

Masing-masing lembaga memiliki tugas dan perannya sendiri dalam mengabdi kepada warga kerokhanian Sapta Darma. Ajaran Sapta Darma mempunyai tujuan luhur yaitu hendak memayu hayu bahagianya buana. Antara lain membimbing manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan alam langgeng. 

Untuk menjalankan tugas-tugas kelembagaan Kerokhanian Sapta Darma diperlukan bekal kemampuan Sumber Daya Manusia sesuai bidang tugasnya masing-masing. Tuntunan bertugas melayani, membina warga kerokhanian Sapta Darma dan bertanggung jawab menjaga kemurnian ajaran Sapta Darma. Yasrad (Yayasan Srati Darma) merupakan bokor kencono yang bertugas menyrateni ajaran dengan menghimpun sumbangan warga Kerokhanian Sapta Darma dan sumber lain yang sah yang bersifat non komersial dan tidak mengikat. Sedangkan Persada (Persatuan Warga Sapta Darma) bertugas membantu tugas tuntunan untuk melaksanakan tugasnya, yang kaitannya dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan pemerintah dan organisasi masyarakat lainnya serta menjaga eksistensi Persada sebagai organisasi massa yang bersifat kerokhanian dan non politik.

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Dra. Christriyati Ariani, M.Hum, di S.E.A.T (Stiper Agro and Edu Tourism) Kabupaten Semarang, yang diikuti oleh 96 peserta dari 22 kota dan kabupaten se Jateng dan DIY. Peserta kegiatan adalah pengurus lembaga-lembaga yang ada di kerokhanian Sapta Darma. 

Hadir pula pada acara pembukaan, Dra Atiek Surniyati, Kepala bidang Ketahanan Bangsa Kesbangpolinmas Jateng, yang sekaligus membacakan sambutan gubernur Jateng,  H. Ganjar Pranowo , SH, M.IP yang berhalangan hadir. Ir. Gunadi, camat  Bawen, Setyawan Budy , Koordinator Persaudaraan Lintas Agama Semarang, Yunantyo Adi S, Ketua Gusdurian Jateng,  Presidium dan pengurus MLKI Jateng, Puanhayati Jawa Tengah, dan Pengurus Lembaga Pusat KSD.   

Adapun narasumber dan materi yang disajikan antara lain, Peran Ormas berbasis agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME dalam kerukunan NKRI oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Tengah. Realisasi Pendidikan bagi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME oleh Dra Hermawati, Kepala Seksi Sejarah dan Tradisi bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Peran Polri menjaga keutuhan NKRI dalam Keberagaman Budaya, Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan YME oleh Direktur Bimas POLDA Jateng,  KBP Drs Budi Utomo,  MH. Kebijakan Administrasi Kependudukan bagi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Jawa Tengah, Motivation Training oleh Dr Moh Chairul Alim dan materi-materi kompetensi internal lainnya di bidang kerohanian, sumber daya manusia, organisasi dan budaya. 

Dwi Utami

Saat Anak Alam Nusantara menyatu dengan Alam di Hari Pemuda

Generasi Muda Lintas Agama bersatu dalam Srawung Persaudaraan Sejati