Selasa, 10 September 2013

MEMBANGUN JAWA TENGAH YANG BERKEPRIBADIAN DI BIDANG KEBUDAYAAN

Bertemakan "Membangun Jawa Tengah Yang Berkepribadian di Bidang Kebudayaan" Setda Provinsi Jawa Tengah  melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwista (Disbudpar) menggelar dialog budaya yang diikuti kurang lebih 150 orang perwakilan anggota legislatif, SKPD di lingkungan pemprov, kabupaten/kota, budayawan, dan akademisi.

Dialog budaya yang dibuka Gubernur Jateng Bp. Ganjar Pranowo di Wisma Perdamaian, Jl Imam Bonjol, Semarang, Selasa 10/09/13 membahas keberagaman kekayaan warisan kebudayaan di Jateng. Selain itu juga menggali pendekatan budaya guna memecahkan persoalan masyarakat.

Gubernur memaparkan secara singkat bagaimana berkepribadian di bidang kebudayaan untuk mengimplementasikan program kerja dan pembangunan birokrasi bersih dalam kepemimpinannya. “Sila Ke 4 Pancasila memberikan tuntunan musyawarah mufakat melalui rembugan menjadi salah satu kekuatan budaya yang harus terus dibangun sehingga lingkungan demokrasi bisa tumbuh, saling mengisi di alam demokrasi,” ujarnya. Budaya Jateng, katanya, juga akan terbentuk ketika wilayah yang potensial dalam hasil bumi dan hortikultura mampu berdaulat pangan dari hasil pertanian yang ada di wilayah ini.
Melalui budaya rembugan juga budaya malu, Bp. Ganjar berharap semua permasalahan di Jateng bisa diselesaikan dengan terbuka sehingga slogan “Mboten Ngapusi Mboten Korupsi” benar-benar memengaruhi lingkungan yang saat ini dinilainya masih korup.
  
Kepala Disbudpar Jateng Dr. Prasetyo Aribowo, SH, M.Soc SC  menyatakan, tujuan dialog untuk mencari masukan terkait pengembangan kebudayaan di Jateng. ''Kami mencoba menggali aspek nilai kebudayaan yang bisa memberikan manfaat dalam akselerasi pembangunan daerah. Hal ini selaras dengan pemikiran trisakti Bung Karno, yakni berkepribadian di bidang kebudayaaan,'' katanya di sela-sela dialog budaya.

Dialog dimoderatori pengamat budaya, Prof. Eko Budihardjo yang juga mantan Rektor Undip Semarang. Adapun, narasumber Prof. Dr. Sri Hastanto, S.Kar, Prof. Dr. Soetomo WE, dan Prof. Dr. Fathurokhman. Sri Hastanto memaparkan kepribadian masyarakat keraton dalam konteks budaya Jawa. Soetomo berbicara kepribadian masyarakat pesisiran, sedangkan Fathurokhman memaparkan masyarakat Banyumasan. Menurut Prasetyo, banyak persoalan muncul di lapangan seperti halnya konflik di Kebumen, PLTU Batang, dan Keraton Solo.

Dialog ini diitutup oleh Kepala Bidang Nilai Budaya Seni dan Film, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs. Budiyanto SH, M.Hum, dengan membacakan beberapa rekomendasi penyelesian masalah-masalah yang diangkat dalam acara tersebut. Konflik di Batang ini bisa diselesaikan lewat pendekatan budaya pesisiran. konflik di Kebumen bisa diselesaikan dengan pendekatan budaya Banyumasan, begitu juga Keraton Solo, konflik internal juga bisa dicarikan solusi lewat pendekatan budayanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar