Kamis, 06 Maret 2014

JEJAK MAUT DAN KOTOR SANG RAKSASA MINYAK


Chevron (di bursa saham New York tercatat dengan inisial 'CVX') adalah salah satu perusahaan raksasa minyak dunia yang beroperasi di 180 negara, mempekerjakan sekitar 62.000 karyawan. Dengan nilai pendapatan tahunan sampai US$ 253,7 milyar (tahun 2011), Chevron tercatat sebagai salah satu dari lima perusahaan terbesar di Amerika Serikat dan menduduki perigkat 16 terbesar di dunia menurut Forbes Global 2000. Cikal-bakalnya adalah Standard Oil of California --salah satu cabang raksasa Standard Oil yang diharuskan memecah diri oleh pengadilan Amerika Serikat sesuai dengan Undang-undang anti monopoli (Sherman Anti-Trust Act) pada tahun 1911. Bergabung dengan Gulf Oil,  maka secara resmi terbentuklah Chevron pada tahun 1984. Tahun 2001, mereka mengambil-alih Texaco.
Sebagaimana umumnya perusahaan minyak, Chevron juga memiliki rekam-jejak kelam dalam sejarahnya, mulai dari 'Skandal Mobil Terbesar Amerika' (Great American Streetcar Scandal) pada tahun 1950an sampai berbagai kasus pencemaran lingkungan hidup, baik di Amerika Serikat sendiri maupun di berberapa negara lain. Kasus-kasus besar yang tercatat antara lain pencemaran lingkungan di Richmond, California (1998), pencemaran oleh kilang El Segundo, juga di California (2003), perusakan dan kebakaran besar hutan di kawasan Taman Nasional Lawachara, Bangladesh (2008), dan pencemaran laut akibat genangan kebocoran minyak di lepas-pantai Rio de Janeiro, Brazil (2011).Beberapa dari kasus tersebut tidak hanya menyangkut soal lingkungan semata, tetapi juga mengandung unsur pelanggaran berat hak asasi manusia, seperti pada kasus pencemaran lingkungan besar-besaran di kawasan Amazonia di Ekuador (1972-1998) dan di Delta Niger, Nigeria (1998).
Salah satu tempat yang paling tercemar oleh limbah minyak Texaco (Cehvron) di kawasan Lago Agio di Ekuador (ATAS); dan contoh lapisan tanah yang sangat tercemar oleh limbah hidrokarbon dari pengeboran minyak Texaco-Chevron di daerah itu, diperlihatkan oleh salah seorang pegiat Koalisi Mempertahankan Amazon, Donald Moncayo (REPRO: NEW INTERNATIONALIST).
 
Kasus di Ekuador diawali oleh pengeboran minyak oleh Texaco pda tahun 1972 di kawasan Lago Agio. Sejak saat itu, perusahaan yang kemudian diambil-alih oleh Chevron tersebut telah menggelontori kawasan Amazon Ekuador dengan 18 milyar galon limbah beracun (lihat gambar). Menurut data dari Koalisi Mempertahankan Amazon (Amazon Defence Coalition) dan Jaringan Hutan Hujan Sedunia (Rainforest Action Network), sekitar 30.000 warga masyarakat adat lokal di sana menderita oleh pencemaran tersebut dan tercatat sekitar 1.400 orang meninggal dunia sebagai akibatnya. Setelah berjuang sekian lama menggugat Chevron, barulah pada bulan Februari 2011, pengadilan Ekuador memenuhi gugatan para pegiat lingkungan dan masyarakat adat Amazonia dengan menjatuhkan hukuman bersalah kepada Chevron yang diwajibkan membayar denda kerugian sebesar US$ 8,6 milyar.
Tetapi, bukan Chevron jika tak berusaha mengelak dengan segala cara. Para jurubicara perusahaan raksasa itu berdalih apa saja, termasuk yang konyol, seperti "Limbah minyak sama sekali tidak beracun" atau "Tidak berarti hanya karena kami membeli Texaco pada tahun 2001 maka kami harus bertanggungjawab membersihkan kotoran yang mereka tinggalkan di sana". (Mike G dalam New Internationalist, 5 Januari 2012). Para petinggi Chevron terus saja berdalih bahwa setoran bagi-hasil yang pernah mereka bayarkan ke pemerintah Ekuador sudah melebihi jumlah denda tersebut. Walhasil. sampai sekarang pun, Chevron terus berkelit dan tidak menunaikan hukuman denda yang dijatuhkan pengadilan Ekuador itu (Irene Caselli dalam New Internationalist, 21 Februari 2011).
Dengan kekuatan uang dan lobinya, tak mustahil memang Chevron lagi-lagi memainkan kartunya dalam kasus ini. Wajar jika banyak yang mencurigai ada 'permainan kotor' Chevron di belakang layar. Tengok saja kejanggalan yang terjadi dalam kasus Delta Niger. Pada bulan Agustus 2007, Hakim Distrik di California, Susan Y. Illston, mengabulkan gugatan terhadap Chevron atas kasus yang menewaskan dua perempuan pengunjuk rasa, Jola Ogungbeje dan Aroleka Irowaninu, dan melukai puluhan orang lainnya, termasuk anak-anak, yang memprotes pencemaran oleh Chevron Nigeria Limited (CNL) di kawasan ulayat mereka. Hakim Illston menegaskan bukti keterlibatan Chevron menyediakan angkutan keoada tentara Nigeria yang melakukan penembakan. Anehnya, beberapa bulan kemudian, Maret 2008, pengacara Barbara Hadsell malah mengundurkan diri dari proses gugatan lanjut melawan Chevron itu. Pada bulan Desember 2008, Dewan Juri Pengadilan Federal malah membebaskan Chevron dari tuduhan, berdasarkan pembelaan pengacara Chevron bahwa perusahaan raksasa minyak itu terpaksa meminta campur-tangan tentara Nigeria demi membela keselamatan nyawa para karyawannya yang terancam oleh para pengunjuk rasa. (Bob Egelko dalam San Fransisco Chronicle, 15 Agustus 2007; 12 Maret 2008; dan 3 Desember 2008). Padahal, menurut rekaman kejadian oleh Friends of the Earth Nigeria, para pengunjuk rasa itu hanyalah sekitar 15-20 orang ibu, 8 orang anak-anak, dan 25 orang anak muda suku Ilaje yang datang dengan tangan kosong, berkaos oblong, dan hanya membawa poster-poster. (Sokari Ekine dalam New Internationalist, 12 Desember 2008).
Apa yang menarik dari kasus Chevron di Ekuador dan Nigeria ini adalah sekali lagi penampakan kemunafikan Chevron dan juga pemerintah Amerika Serikat. Tengok saja faktanya. Ketika Chevron dinyatakan bersalah oleh pengadilan Amerika Serikat dalam kasus pencemaran di Richmond, California, perusahaan itu menunaikan hukuman denda mereka sebesar US$ 540.000. Demikian pula dalam kasus kilang El Segundo, juga di California, dimana Chevron membayar US$ 7 juta untuk pemulihan lingkungan yang telah mereka cemari serta tambahan biaya US$ 500.000 untuk memasang alat baru di kilang mereka yang bocor. Chevron juga mengeluarkan US$ 275 juta untuk memasang teknologi baru yang mengurangi buangan gas sulfur dioksida dan nitrogen dioksida (NOx) dari kilang-kilang mereka di San Fransisco (Newsroom US EPA, 15 Oktober 1998).
Pertanyaannya adalah: mengapa ada perlakukan berbeda pada kesalahan Chevron di negara lain dengan di Amerika Serikat sendiri?
Mungkin fakta berikut bisa menjelaskannya: Chevron mengeluarkan dana besar untuk membiayai lobi-lobi politik mereka di Washington. Sejak Januari 2011 saja, Chevron sudah mengeluarkan dana sebesar US$ 15 juta untuk membiayai lobi-lobi di ibukota Amerika Serikat itu. Pada tanggal 7 Oktober 2012, Chevron menyumbang US$ 500,000 ke dalam Pundi Kepemimpinan Kongres Partai Republik (Republican Congressional leadership Fund) (laporan Dan Eggen dalam Washington Post, 26 Oktober, 2012). Selain itu, para mantan petinggi Chevron pernah masuk dalam lingkaran inti Gedung Putih. Di masa Presiden George W.Bush, Penasehat Keamanan Nasional (2001-2005) dan kemudian diangkat sebagai Menteri Luar Negeri (2005-2009), Condoleezza Rice, tiada lain adalah salah seorang mantan anggota Dewan Direktur Chevron. Tetapi, kita keliru jika menganggap hanya Partai Republik yang konservatif itu yang menjalin hubungan erat dengan para konglomerat seperti Chevron. Partai Demokrat sama saja. Ketika berkampanye untuk masa jabatan pertamanya dulu, Senator Barrack Obama 'menyindir' pesaingnya, Senator John McCain dari Partai Republik, terlalu dekat dengan konglomerat minyak, termasuk Chevron. Ketika terpilih jadi Presiden, Obama malah juga mengangkat seorang mantan anggota Dewan Direktur Chevron, Jenderal Marinir (Purn) James Jones, sebagai Penasehat Keamanan Nasional (2009-2010). Jadi, "setali tiga uang".
Apapun di baliknya, semua fakta tersebut penting diketahui dan patut dijadikan pelajaran bagi warga masyarakat dimana perusahaan raksasa minyak seperti Chevron sudah dan akan beroperasi, termasuk para warga masayarakat adat lokal Sunda Wiwitan di kawasan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Karena, Chevron bukan tidak pernah punya rekam jejak kelam di negeri ini. Yang paling heboh, tentu saja, adalah kasus penghindaran pajak (tax evasion) senilai US$ 3,25 milyar antara tahun 1970 sampai 2000 melalui permainan harga minyak dengan PERTAMINA, melalui anak perusahaan mereka, Caltex. (CNN Money, 13 September 2002)
Jadi, tak terlalu salah kalau penulis Nigeria tadi, Sokari Ekine, mem-pleset-kan nama dan dan logo Chevron menjadi 'Chewrong' (Chev yang salah, berdosa!)(lihat gambar)

Source :www. insist.or.id.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar