Rabu, 30 April 2014

DARI JOGJA UNTUK BANGSA

Mengangkat salah satu acara di MetroTV, yaitu talkshow Mata Najwa on Stage yang ditayangkan pada hari Rabu (30/04) pkl. 20.05. - Sejarah Indonesia tak bisa lepas dari kota Jogjakarta, tempat yang kerap menjadi kawah untuk menempa kepemimpinan. Dan dari sebuah kampus tertua, Universitas Gadjah Mada, Mata Najwa hadir bersama sejumlah tokoh inspiratif diantaranya Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Mantan Ketua MK, Mahfud MD, salah satu orang terkaya di Indonesia, Chairul Tanjung, penggagas Gerakan Indonesia Mengajar Anies Baswedan, serta Wali Kota Bandung Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Talkshow ini merupakan serangkaian acara Metro TV on Campus (MOC) yang diselenggarakan tiga hari berturut- turut. Dimulai dengan Stand UP Comedy pada hari Rabu, 23 April 2014. Open Mic with Kopiko 78 C bersama comic Anang Batas, Wisben, Sigit. Pelatihan jurnalistik pada hari Kamis, 24 April 2014 bersama Indra Maulana, Aviani Malik, Rory Asyari, Yohana Margaretha dan Eagle Doc Clinic by Abduh Aziz. Hari terakhir Jumat 25 April 2014 ditutup dengan talkshow Mata Najwa on Stage. Semua acara digelar di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri  Universitas Gajah Mada dan di gedung Graha Sabha Pramana. Yang lebih menarik lagi acara ini diselenggarakan gratis untuk umum.

“Selamat malam - Selamat datang di ‘Mata Najwa’ / Saya Najwa Shihab / Tuan rumah ‘Mata Najwa”. Kalimat khas dari Najwa Shihab lalu disambut dengan tepuk tangan meriah para peserta Talkshow sebagai pembuka Mata Najwa on Stage. Awal acara ditampilkan CV dari masing- masing narasumber, selanjutnya dialog dengan narasumber berlangsung. Dialog yang intinya pemimpin seperti apakah yang diperlukan Bangsa Indonesia ini serta penyelesaian dari berbagai masalah di Negeri ini.

Seperti biasa Mbak “Nana” (panggilan sayang Najwa Shihab) menutup acara dengan catatan najwa nya. Kurang lebih seperti ini :

Jika memang benar Jogja itu istimewa, maka akan banyak calon sarjana yang diwisuda.

Banyak yang sukses dan kaya raya, juga yang merasa siap memimpin bangsa.

Pendidikan memang membuka banyak kesempatan, tapi pendidikan tak otomatis melahirkan. kepemimpinan.

Pemimpin tak lahir karena ijazah, tetapi oleh kerja keras dan kepedulian yang terus diasah.

Apa arti ijazah yang tertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk.

Apa gunanya sekolah tinggi- tinggi, jika hanya percaya diri sendiri dan sanak family.

Bagaimana akan bersikap anti korupsi, jika sedang mudah hanya sibuk dengan urusan sendiri.

Tidak ada yang tiba- tiba bagi calon pemimpin bangsa, kecakapan bukan salinan genetika.

Inspirasi datang dari hidup yang tahan benci, pemimpin muncul dari tempaan yang tiada henti.


Jangan mencari perbedaan dalam persamaan, carilah persamaan dalam perbedaan, indonesia itu bhinneka.”

GELAR ADAT DAN TRADISI DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL - LERENG GUNUNG SLAMET

Bertempat di Padepokan Wulan Tumanggal Ds. Dukuh Tengah, Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal dilaksanakan Gelar Adat dan Tradisi yang difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal. Acara yang berlangsung selama 3 hari (28-30/4) ini, diikuti sebanyak 70 peserta dari wilayah eks Karisidenan Pekalongan meliputi Kab. Batang, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan, Kab. Pemalang, Kab. Tegal, Kota Tegal dan Kab. Brebes.

Acara ini terdiri atas paparan materi dan pagelaran adat diantaranya sebagai berikut.
 
  1. “Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam Pelestarian Adat dan Tradisi, dengan penyaji Drs. Budiyanto, S.H. M. Hum. Mewakilii Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah
  
  2. “Pemanfaan Adat dan Tradisi dalam Gelar Budaya sebagai Upaya Pelestarian Kebudayaan”, dengan penyaji : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal

3. “Adat dan Tradisi dalam Perawatan Benda Pusaka”, dengan  penyaji : Drs. Sunyoto, MM. Tokoh Masyarakat/Pelaku Adat dan Tradisi di Kabupaten Tegal
  
  4.“Adat dan Tradisi Jawa dalam Pertunjukan Kesenian Tradisional”, dengan penyaji : F. Hari Mulyatno S.Kar. M.Hum. dari Institut Seni Indonesia Surakarta
    



  5. “Adat dan Tradisi dalam Ke – Pranatacara – an di Jawa Tengah”, dengan penyaji :  Suyitno Yogo Pamungkas, dari Permadani Provinsi Jawa Tengah
  
  6."Pemanfaatan Peristiwa Adat dan Tradisi di Jawa Tengah untuk Menumbuhkan Kebersamaan dan Sikap Saling Menghargai”, dengan penyaji Theresiana Ani Larasati, S.Psi.M.Psi. Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta

  7.“Pemanfaatan Nilai-nilai Adat dan Tradisi dalam Pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti”, dengan penyaji : Drs. Sutopo, M. Pd. , mewakili Kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

Pelaksanaan Gelar Adat dan Tradisi
Siraman dari Kota Tegal, Dodol Dawet dari Kab.Pemalang dan Srakalan dari Kab.Brebes. Sebelum penutupan acara dibacakan saran, masukan, dan hasil tanya jawab antara peserta dengan narasumber, dapat disimpulkan :
  1. Pelaksaaan Gelar Adat dan Tradisi dapat dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Eks Karesidenan Pekalongan untuk melakukan penggalian nilai-nilai budaya dan pelestarian Budaya.
  2. Pelaksaaan Gelar Adat dan Tradisi  dapat dimanfaatkan untuk saling tukar informasi berbagai pelaksana adat dan tradisi, terutama penggunaan istilah, kosakata bahasa yang tepat, sehingga penggunaan bahasa yang salah kaprah dapat diminimalkan.
3. Pelaksanaan Gelar Adat dan Tradisi memberi manfaat bagi generasi muda untuk membuka wawasan akan kekayaan budaya yang dimiliki, sebagai modal pembentukan karakter dan jati diri bangsa Indonesia.
4. Gelar Adat dan Tradisi dapat ditindaklanjuti di masing-masing Kabupaten/Kota dan untuk Provinsi perlu melanjutkan kegiatan yang sama di wilayah eks-Karesidenan lain serta melibatkan Generasi Muda sebanyak mungkin.
5. Guna pelestarian adat dan tradisi, Pemerintah diharapkan memfasilitasi di bidang sarana dan prasarana.







































Sabtu, 26 April 2014

TATA RITUAL PAGUYUBAN BUDAYA BANGSA (PBB) PUSAT KEBUMEN

Paguyuban Budaya Bangsa (PBB) di Kabupaten Kebumen merupakan sebuah organisasi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Penganut Kepercayaan yang tergabung dalam Paguyuban ini tidak hanya warga masyarakat Kebumen, melainkan juga ada yang berasal dari daerah Banjarnengara, Banyumas, Cilacap, Purworejo, bahkan dari luar jawa yaitu Lampung.  Sekretariat PBB Pusat berlokasi di Jl. Sumatra No.9 Rt.02- Rw 09 Kelurahan Wonokriyo – Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen, sebagai Ketua Umum adalah Bp. Adji Tjaroko.

Pada hari Sabtu Kliwon malam Minggu Legi (26/04), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah mengadakan acara perekaman tata ritual warga penghayat di Paguyuban Budaya Bangsa ini. diikuti kurang lebih 200 anggota paguyuban dan dihadiri pejabat setempat acara perekaman ini meliputi tata cara meditasi/sembahyang dan pernikahan adat/penghayat. 
Acara dibuka dengan upacara pembukaan di gedung pertemuan PBB Kebumen. Acara ini dihadiri Kepala Seksi Nilai Budaya Disbudpar Jateng Ibu Eny Haryanti, S.Pd. M.pd, Kepala Disbudpar Kabupaten Kebumen Drs H Hery Setyanto.

Ritual Meditasi dilaksanakan di tempat ibadah/sujudan yang dinamakan sebagai Sanggar Meditasi Wonomarto yang berlokasi di area rumah Bp. Adji Tjaroko.

Sejarah Singkat Sanggar Meditasi Wonomarto

Sejarah keberadaan Sanggar Meditasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari tokoh historis yang merupakan kakek dari Bapak Adji Tjaroko yang bernama Ki Bagus Hadi Kusumo. Sejak tahun 1917 beliau telah menyebarluaskan ajaran dan kawruh Jawa yang dinamakan Kawruh Naluri (KWN. Istilah ini sempat menerima labeling negatif dan dipersoalkan secara hukum oleh pihak-pihak tertentu di era Orde Baru pada tahun 1970-an sehingga menimbulkan traumatik komunitas pengguna istilah ini). Komunitas yang dipimpin Ki Bagus Hadi Kusumo bukan bagian aliran agama baik Kristen, Islam, Hindu serta Budha.
 
Ajaran ini merupakan bagian dari konsep Kejawen yang lahir dan dipercaya serta disebarluaskan melalui konsep hubungan “Guru Murid” sebagaimana lazimnya kawruh-kawruh Jawa yang berkembang di zamannya. Ki Bagus Hadi Kusumo tidak hanya menyebarluaskan kepercayaannya sehingga memiliki ribuan pengikut, namun beliau juga terlibat dalam menentang arogansi pemerintahan Belanda di wilayah Gombong pada zamannya. Menurut pemaparan Bpk Adji Tjaroko, pada tahun 1920-an Belanda menuntut pajak per kepala penduduk pribumi. Namun Ki Bagus Hadi Kusumo menentang dan melawan dengan menolak pembayaran pajak bahkan dengan berani mengatakan, “Ini bumi kami. Mestinya kamilah yang menarik pajak pada kalian yang pendatang!”. Dalam usahanya menentang kebijakkan pemerintahan kolonial, beliau tidak pernah membawa pengikut atau mengerahkan kekuatan fisik namun melakukannya secara individual. Dikarenakan Ki Bagus Hadi Kusumo kerap melakukan berbagai tindakan yang menimbulkan kemarahan Belanda, maka beliau sering berurusan dengan polisi Belanda dan di penjara berulang kali.

Setelah Ki Bagus Hadi Kusuwo wafat, maka Kawruh Naluri diteruskan oleh putranya yang bernama Nurhadi (ayah dari Bapak Adji Tjaroko). Melalui usaha Bapak Nurhadi dan pengikutnya, maka terbentuklah bangunan Sanggar Meditasi pada tahun 1959. Bentuk bangunan menyerupai candi dikarenakan ada sejumlah relief di sekeliling bangunan luar tersebut. Dibangun dengan batu gunung dan dibuat bertingkat menyerupai sejumlah candi di Jawa. Ruang dalam dibiarkan kosong sebagai ruang meditasi atau samadhi para pengikut ajaran ini. Bapak Nurhadi adalah konseptor Sanggar Meditasi sementara pelaksanaan pembangunan di kerjakan oleh Seniman Indonesia Muda (logo dan nama pelaksana disematkan di bagian bawah tangga masuk Sanggar Meditasi). 

Dalam perkembangannya, komunitas penganut kepercayaan terhadap Tuhan YME ini mendaftarkan kegiatannya dan di badan hukumkan dengan nama Yayasan Setyaki (Setia Marang Kaki: Setia Pada Leluhur)). Pengaruh Kawruh Naluri yang diturunkan Ki Bagus Hadi Kusumo dan yang diteruskan oleh Bapak Nurhadi mengalami pasang surut. Khususnya pada sekitar tahun 1965 di saat kondisi negara dan politik sedang mengalami turbulensi dan chaos dikarenakan peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan reaksi tentara di bawah kepemimpinan Suharto yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia menggantikan Sukarno.  “Seluruh anggota paguyuban dipaksa masuk agama tertentu baik dengan cara halus dan keras. Kebanyakan menyerah dan berpindah agama sehingga anggota menjadi menurun”, jelas Bp. Adji Tjaroko. Tahun 1980 Bp. Nurhadi meninggal. Sepeninggal beliau, pengikutnya terbagi menjadi dua. Ada yang tetap setia di organisasi melalui Yayasan Setyaki namun sebagian lainnya memilih untuk menganut kepercayaan di luar organisasi sehingga mereka boleh dikatakan sebagai anggota non formal penganut kepercayaan.

Pada tahun 1986 Bapak Adji Tjaroko mengundurkan diri dari PNS dan menekuni keyakinan yang dianut kakek dan ayahnya serta mulai belajar melalui para sepuh di Yayasan Setyaki. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa sepeningal Bapak Nurhadi, komunitas penganut Kawruh Naluri ini terbagi menjadi dua yaitu anggota formal dan anggota non formal. Anggota non formal banyak berinteraksi dan bertukar pikiran dengan Bapak Adji dan dikoordinir oleh Bapak Adji dalam memperjuangkan berbagai aktifitas dan kepentingannya. Berdasarkan UU no 23 Tahun 2006 dan PP no 37 Tahun 2007 (setiap paguyuban bisa menunjuk petugas perkawinan dan menerima SK dari Dep Kebudayaan/Kementerian Kebudayaan), maka pada tahun 2008 dibentuklah Paguyuban Budaya Bangsa (PBB) dengan Bapak  Adji Tjaroko sebagai Ketua Umum.