Sabtu, 28 Juni 2014

TRAINING PARALEGAL BAGI PENGHAYAT KEPERCAYAAN

Asfinawati
Bertempat di Simpang Lima Residence Semarang, telah dilaksanakan Training Paralegal Penghayat Kepercayaan di Jawa Tengah. Acara yang diselenggarakan eLSA ( Lembaga Studi Sosial dan Agama) Semarang, dilaksanakan selama dua hari (27-28/6)  diikuti 14 perwakilan generasi muda Penghayat Kepercayaan se Jawa Tengah dan 10 punggawa eLSA Semarang. 

Dari 14 peserta penghayat yang hadir diantaranya berasal dari Paguyuban Tunggul Sabdo Jati Cilacap, Kejawen Maneges Kabupaten Tegal, Sapto Darmo Brebes, Perguruan Trijaya Semarang, HPK Jawa Tengah, MSB Temanggung, HPK Pekalongan, Paguyuban Jowo Jawoto Pekalongan, Sedulur Sikep Kudus, Liman Seto Blora dan Paguyuban Budaya Bangsa (PBB) Kebumen.

Istilah PARALEGAL ditujukan kepada seseorang yang bukan advokat namun memiliki pengetahuan dibidang hukum, baik hukum materiil maupun hukum acara dengan pengawasan advokat atau penorganisasi bantuan hukum yang berperan membantu masyarakat pencari keadilan. Paralegal ini bisa bekerja sendiri di dalam komunitasnya atau bekerja untuk organisasi bantuan hukum atau firma hukum.

Karena sifatnya membantu penanganan kasus atau perkara, maka paralegal sering juga disebut dengan asisten hukum. dalam praktik sehari-hari, peran paralegal sangat penting untuk menjadi jembatan bagi masyarakat pencari keadilan dengan advokat dan aparat penegak hukum lainnya untuk penyelesaian masalah hukum yang dialami individu maupun kelompok masyarakat.

Tedi Kholiludin
Pelatihan paralegal ini ditujukan untuk memperkuat pemahaman bagi para Penghayat terhadap hukum dan hak asasi manusia. Kemampuan dibidang hukum tersebut diharapkan agar para mereka mempunyai kemampuan dibidang hukum dalam upaya mengadvokasi segala bentuk kejadian/masalah yang menimpa pada para penghayat kepercayaan yang berhubungan dengan pelanggaran hak asasi manusia dan pelayanan publik.

Pelatihan ini dirasakan perlu karena timbulnya beberapa kasus dimasyarakat yaitu diskriminasi, perusakan tempat ibadah, dan pelanggaran pemenuhan hak-hak sipil warga negara (kelahiran,pernikahan dan pemakaman) bagi para Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Yayan M Royani
Siti Rofi'ah
Menurut Direktur eLSA Semarang Tedi Kholiludin, pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk mengatasi masalah hukum dan HAM di paguyuban/organisasi Penghayat ditempat para peserta, tetapi lebih luas yaitu untuk mengasah kepekaan dan kepedulian para peserta agar ikut berperan serta dalam membantu masalah-masalah yang timbul pada penghayat/paguyuban/orgasisasi di lain daerah.


Sebagai fasilitator training paralegal ini adalah mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Asfinawati, dibantu dua master hukum dari Universitas Diponegoro Semarang, Yayan M Royani dan Siti Rofi’ah.


  




























Rabu, 25 Juni 2014

SUJUDAN DI KAWASAN WISATA GOA KREO SEMARANG

Melaksanakan sujudan/meditasi (manembah kepada Gusti Ingkang Maha Agung) akan sangat terasa lain jika dilaksanakan di alam bebas. Elemen yang berasal dari alam memberikan energi terbaik dalam meningkatkan kualitas sebuah sujudan. Kali ini penulis beserta rekan-rekan melaksanakan sujudan tanam (matahari terbenam) di lokasi wisata Goa Kreo Semarang. Goa Kreo merupakan sebuah goa yang dipercaya sebagai petilasan semedi (meditasi) Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Mesjid Agung Demak.

Ketika itu Sunan Kalijaga dan pengikutnya mengalami kendala bahwa kayu jati yang akan dibawa ke Demak terjepit diantara dua tebing. Kemudian beliau beristirahat di puncak bukit, dan saat beristirahat beliau menemukan sebuah goa dan melaksanakan meditasi di goa tersebut. Disaat Sunan Kalijaga melaksanakan meditasi para pengikutnya menyiapkan bekal untuk selamatan. Saat makan datang empat ekor kera yang warnanya merah, kuning, hitam dan putih dengan tujuan akan membantu apa menjadi kesulitan Sunan Kalijaga dan pengikutnya.

Setelah makan mereka bersama-sama berangkat ke tempat kayu jati yang terjepit tebing tadi. setelah berhasil, kera-kera tersebut ingin ikut Sunan Kalijaga ke Demak, namun tidak diperbolehkan beliau dan diminta untuk tinggal dan menjaga tempat tersebut. Kata “Kreo” berasal dari kata Mangreho yang berarti peliharalah atau jagalah. Kata inilah yang kemudian menjadikan goa ini disebut Goa Kreo dan sejak itu kawanan kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai penunggu.
Kawasan Wisata Goa Kreo Semarang ini berada di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Monyet monyet yang ada di Goa Kreo ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), monyet yang ada di sini termasuk monyet yang cukup jinak, dan bisa bergaul dengan warga di sekitar Goa Kreo.
Di kawasan Goa Kreo sekarang telah dibangun Waduk Jatibarang, yang pembangunannya dimulai pada Oktober 2009 dengan waktu pelaksanaan selama 1.520 Hari dengan Sumber Dana dari Japan International Corporation Agency (JICA IP-534), berdasarkan data pada papan di lokasi pembangunan Waduk. Waduk Jatibarang ini berfungsi sebagai pengendali banjir di Kota Semarang, menjaga ketersediaan air minum, dan sebagai pembangkit tenaga listrik. Waduk Jatibarang ini memiliki luas 46,56 hektar.