Rabu, 25 Juni 2014

SUJUDAN DI KAWASAN WISATA GOA KREO SEMARANG

Melaksanakan sujudan/meditasi (manembah kepada Gusti Ingkang Maha Agung) akan sangat terasa lain jika dilaksanakan di alam bebas. Elemen yang berasal dari alam memberikan energi terbaik dalam meningkatkan kualitas sebuah sujudan. Kali ini penulis beserta rekan-rekan melaksanakan sujudan tanam (matahari terbenam) di lokasi wisata Goa Kreo Semarang. Goa Kreo merupakan sebuah goa yang dipercaya sebagai petilasan semedi (meditasi) Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Mesjid Agung Demak.

Ketika itu Sunan Kalijaga dan pengikutnya mengalami kendala bahwa kayu jati yang akan dibawa ke Demak terjepit diantara dua tebing. Kemudian beliau beristirahat di puncak bukit, dan saat beristirahat beliau menemukan sebuah goa dan melaksanakan meditasi di goa tersebut. Disaat Sunan Kalijaga melaksanakan meditasi para pengikutnya menyiapkan bekal untuk selamatan. Saat makan datang empat ekor kera yang warnanya merah, kuning, hitam dan putih dengan tujuan akan membantu apa menjadi kesulitan Sunan Kalijaga dan pengikutnya.

Setelah makan mereka bersama-sama berangkat ke tempat kayu jati yang terjepit tebing tadi. setelah berhasil, kera-kera tersebut ingin ikut Sunan Kalijaga ke Demak, namun tidak diperbolehkan beliau dan diminta untuk tinggal dan menjaga tempat tersebut. Kata “Kreo” berasal dari kata Mangreho yang berarti peliharalah atau jagalah. Kata inilah yang kemudian menjadikan goa ini disebut Goa Kreo dan sejak itu kawanan kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai penunggu.
Kawasan Wisata Goa Kreo Semarang ini berada di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Monyet monyet yang ada di Goa Kreo ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), monyet yang ada di sini termasuk monyet yang cukup jinak, dan bisa bergaul dengan warga di sekitar Goa Kreo.
Di kawasan Goa Kreo sekarang telah dibangun Waduk Jatibarang, yang pembangunannya dimulai pada Oktober 2009 dengan waktu pelaksanaan selama 1.520 Hari dengan Sumber Dana dari Japan International Corporation Agency (JICA IP-534), berdasarkan data pada papan di lokasi pembangunan Waduk. Waduk Jatibarang ini berfungsi sebagai pengendali banjir di Kota Semarang, menjaga ketersediaan air minum, dan sebagai pembangkit tenaga listrik. Waduk Jatibarang ini memiliki luas 46,56 hektar.























Tidak ada komentar:

Posting Komentar