Rabu, 16 Juli 2014

BUBUR MERAH PUTIH UNTUK SELAMATAN WETON


Kepercayaan Jawa mengatakan “bancakan” - weton dilakukan pada malam hari weton. Weton merupakan kombinasi hari penanggalan masehi dan hari penanggalan Jawa. Kalau penanggalan masehi punya hari Minggu – Sabtu, penanggalan Jawa mengenal istilah “pasaran” yang terdiri dari: Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing.

Misalkan seseorang yg terlahir pada tanggal 19 Desember 2013, maka, menurut penanggalan Jawa, ia memiliki weton Kamis Pahing. Jadi setiap malam hari Kamis Pahing disarankan untuk melakukan bancakan. Mengapa dilakukan bancakan bubur merah putih? Hal ini untuk mengingatkan akan proses kelahiran kita yaitu menyatunya bapak dan ibu yang dilambangkan dalam bentuk bubur merah (perlambang ibu) dan putih (perlambang bapak). Kemudian bubur tadi dibagikan ke para tetangga dan saudara terdekat. Terkadang bagi-bagi bancaan ini bisa dibarengi dengan nasi gudangan, nasi ayam, nasi kotak ataupun dalam bentuk lain.

Manfaat dan tujuan bancakan weton adalah untuk “ngopahi sing momong”, karena masyarakat Jawa percaya dan memahami jika setiap orang ada yang momong (pamomong) atau “pengasuh dan pembimbing” secara metafisik. Pamomong bertugas selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah, agar supaya lakune selalu pener, dan pas. Pamomong sebisanya selalu menjaga agar kita  bisa terhindar dari perilaku yang keliru, tidak tepat, ceroboh, merugikan. Antara pamomong dengan yang diemong seringkali terjadi kekuatan tarik-menarik. 

Pamomong menggerakkan ke arah kareping rahsa, atau mengajak kepada hal-hal baik dan positif,  sementara yang diemong cenderung menuruti rahsaning karep, ingin melakukan hal-hal semaunya sendiri, menuruti keinginan negative,  dengan mengabaikan kaidah-kaidah hidup dan melawan tatanan yang akan mencelakai diri pribadi, bahkan merusak ketenangan dan ketentraman masyarakat. Antara pamomong dengan yang diemong terjadi tarik menarik, Dalam rangka tarik-menarik ini,  pamomong tidak selalu memenangkan “pertarungan” alias kalah dengan yang diemong

Dalam situasi demikian yang diemong lebih condong untuk selalu mengikuti rahsaning karep (nafsu). Bahkan tak jarang apabila seseorang kelakuannya sudah tak terkendali atau mengalami disorder, sing momong biasanya sudah enggan untuk memberikan bimbingan dan asuhan. Termasuk juga bila yang diemong mengidap penyakit jiwa.

Wetonan itu mirip dengan ulang tahun, tetapi bisa terjadi 9 sampai 10 kali setahun. Tradisi wetonan didasarkan oleh kalender Jawa, dan siklus hari-hari di penanggalan Jawa terjadi setiap 36 hari. Kelima hari di kalender Jawa terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Misalnya, akan ada Senin Wage, Selasa Wage, Selas Legi dan seterusnya.. Jika Anda lahir pada hari Kamis Pahing, Anda merayakan wetonan Anda setiap Kamis Pahing, yang akan ada setiap 36 hari.

Orang Jawa percaya tiap weton memiliki karakteristik yang berbeda, mirip seperti zodiak Cina. Tradisi ini sudah ada sejak masa-masa sangat lampau dan didasarkan oleh kepercayaan masyarakat Jawa.

Apa sajakah yang dilakukan pada saat perayaan wetonan? Ya.. setiap orang berbeda-beda. Ada yang merayakannya sendiri dengan cara meditasi, mengheningkan diri dan berdoa kepada Tuhan. Ada yang mengundang beberapa teman dekatnya, berdoa bersama dan menyantap makanan bersama. Kadang perayaan wetonan yang lebih besar adalah sebuah acara sosial di mana orang-orang berbagi cerita, saran, saling mendengarkan dan saling tertawa. Pada saat mereka berdoa, mereka mendoakan kelancaran hidup, kesehatan, rejeki, dan kebahagiaan untuk orang yang sedang merayakan wetonannya.

Membuat bubur merah putih
Bagaimana membuat bubur merah putih. Bubur ini sebagian besar bahannya didominasi oleh beras. Daun pandan sebagai penyedap dan penambah aroma harum, garam, santan kental, gula merah, dan tentu saja air untuk memasaknya.

Sekarang cara pembuatannya. Beras dicuci terlebih dulu, rendam dalam air selama 15 menit, lalu tiriskan. Masak beras, garam, daun pandan dan air hingga seperti kata pepatah “Nasi terlanjur jadi bubur”. Karena maunya memang bikin bubur, tambahkan santan kental, aduk rata, masak sampai kental. tambahkan air secara berkala sambil diaduk agar tidak memadat dan semakin matang.

Setelah dirasa cukup matang ambil bubur putih tadi dan dituang ke beberapa piring kecil secara merata dan menyisakan sedikit untuk dibuat bubur merahnya. Bubur merah dibuat dengan memasukkan gula merah yang telah dihancurkan agar mempercepat pewarnaan merah ke bubur tadi. tambahkan sedikit air agar tidak mengeras dan tetap lembek layaknya bubur. Setelah warna merah merata kemudian tuang bubur merah kedalam piring yang sudah ada bubur putih tadi. Diusahakan bulat menyesuaikan bentuk piring dan tidak melebihi luas bubur putih yang dibawahnya.

Ternyata di dalam bubur merah ini terdapat sesuatu yang istimewa. Gula Jawa alias gula merah yang digunakan untuk pembuatan bubur ini memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan gula pasir biasa. Gula jawa memiliki rasa manis dan lebih lezat, mengandung garam mineral, kandungan gula yang jauh lebih kecil, mengandung nutrisi seperti: Thiamine, Riboflavin, Nicotinic Acid, Ascorbic Acid, protein dan vitamin C, dapat digunakan untuk terapi asma, kurang darah/anemia, lepra/kusta, dan mempercepat pertumbuhan anak, bagus untuk mengobati batuk demam, bagus utuk makanan awal bagi orang yang terkena penyakit typhus, mengurangi panas pankreas, menguatkan jantung, membantu pertumbuhan gigi kuat, serta mempunyai khasiat seperti madu.

Rabu, 02 Juli 2014

JANGAN RUSAK GARUDA PANCASILA

Pemilu 2014 kali ini merupakan Pemilu yang mempunyai catatan khusus dan mengukir sejarah demokrasi bagi bangsa Indonesia. Pemilu tahap pertama yaitu Pemilihan Legeslatif telah dilalui  pada 9 April 2014 lalu dan pada 9 Juli mendatang akan diadakan Pemilihan Presiden ke 7 perioede 2014-2019.

Kenyataan politik saat ini telah menentukan 2(dua) calon pasangan presiden dan wakil presiden. melalui brbagai proses KPU telah menentukan capres dan cawapres nomor 1 adalah Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, capres dan cawapres nomor 2 adalah Joko Widodo dan Yusuf Kala. Dalam upaya kampanye untuk menarik perhatian dan suara masyarakat setiap calon mempunyai cara masing-masing dan terkadang ada yang menggunakan cara-cara yang tidak etis secara hukum, norma dan etika. kampanye negatif dan kampanye hitam semakin hari seolah-olah menjadi tren khusus dan teragendakan dalam pesta demokrasi setiap 5 tahun ini. Bahkan mendekati 9 Juli kondisi ini sungguh memperihatinkan dan meresahkan di akar rumput, tanpa ada penyelesaian dari pihak-pihak yang berwenang baik Bawaslu maupun Kepolisian.

Yang sangat disayangkan adalah penggunaan Garuda Merah yang dijadikan lambang oleh pasangan calon presiden nomor urut 1 yang menuai banyak kontroversi. Hal ini lantaran, lambang itu dinilai menyerupai lambang negara Garuda Pancasila.

Ketentuan mengenai masalah ini terkandung dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. Namun UU ini dinilai masih memiliki kelemahan sehingga Forum Kajian Hukum dan Konstitutsi (FKHK) menggugatnya kembali ke Mahmakah Kosntitusi (MK). Padahal mereka pernah menggugatnya pada 2012 lalu.

Pasal yang mereka permasalahkan adalah pasal 57 huruf c UU itu. Di sana ditegaskan melarang tiap orang membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi, dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara.

Sanksi pasal 57 huruf c itu pun diatur pada 69 huruf b. yang menyatakan "Dipidana dengan pidana penjara palng lama 1 (satu) atau denda paling banyak Rp.100.000.000 (seratus juta rupiah) setiap orang yang : b. membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara."

Persoalan yang timbul saat masuknya frasa "membuat lambang untuk perorangan" serta frasa "menyerupai lambang negara." Sebab, seseorang dapat dijatuhi hukuman jika membuat lambang yang menyerupai lambang negara. Namun UU itu tidak menjelaskan setara detil bentuk yang dianggap menyerupai lambang negara. larangan yang ada pada pasal 69 huruf b pun dinilai tidak tepat. Hal ini karena ancaman pidana harusnya memenuhi rumusan yang bersifat jelas dan tegas (lex certa), tertulis (lex scripta), dan ketat (lex stricta).
 
Tetapi, lepas dari pelanggaran terhadap undang-undang, karena hal ini sudah digugat di Mahkamah Konstitusi dan kita berikan kewenangan mereka untuk memutuskan. Jauh dari itu, saya justru tercengang memperhatikan Garuda Merah ini. Karena saya justru melihat bahwa Garuda Merah ini bukan hanya ’siluet’ dari Sang Garuda. Tapi ini justru menyimbolkan Sang Garuda itu sendiri yang tak lagi tergantung tameng dengan simbol Pancasila di dadanya. Dan telah memburamkan kalimat kebhinekaan pada pita yang dicengkramnya. Saya membacanya bahwa simbol Garuda Merah ini adalah Garuda yang telah dicelup dengan sesuatu yang berwarna merah. Dan saya tak bisa menemukan asosiasi "merah" pada kondisi ini selain dengan "warna darah".

Garuda Pancasila sebagai lambang negara Republik Indonesia ini dibuat oleh para pendahulu bangsa, para founding father kita dengan segala daya upaya, penuh rasa nasionalisme sehingga bisa menghasilkan lambang negara yang sakral dan mempunyai makna filosofi yang sangat tinggi. Sudah menjadi keharusan kita sebagai generasi selanjutnya untuk berperan serta menjaga dan merawat Lambang Negara ini dengan rasa sayang dan penghayatan tinggi sehingga keutuhan dan kesakralannya benar-benar terjaga. Bukan malah sebaliknya dengan secara gampang merubah bahkan mengoyaknya menjadi sesuatu yang tak bermakna
 
Mungkinkah ketidaksengajaan ?

Bahkan peletakan gambar hasil modifikasi Garuda (lambang negara) tidak diletakkan di dada kiri (agar jantung berdetak bersama garuda). Lalu, jika benar bahwa ini adalah Garuda yang sudah dilepaskan tameng Pancasilanya telah dicebur dengan warna darah sampai membuat kebhinekaan itu menjadi hilang tak terbaca. Maka bagi saya ini adalah simbol ditanggalkannya Pancasila, dan dihilangkannya makna ke-bhineka tunggal ika-an. Lalu Sang Garuda yang harus jadi pengayom bagi negara yang berdaulat menjadi beringas lantaran telah bermandikan darah akibat ditanggalkannya Pancasila dan diburamkannya kebhinekaan. Ini sungguh begitu menyakitkan. Apalagi kalau kita sadari bahwa yang namanya ’siluet’ adalah bayangan. Jadi tak mungkin bayangan itu berwarna merah, kecuali bahwa bayangan itu juga telah ditetesi darah Garuda itu sendiri. Artinya Sang garuda benar-benar dikebiri.

Semoga Sang Garuda yang kita yakini sebagai Lambang Negara tidak pernah melepaskan Tameng simbol Pancasila dan tetap mencengkram erat pita persatuan  bangsa kita tercinta, INDONESIA.

Mohon Maaf jika tulisan ini menyinggung capres & cawapres nomor 1, karena yang saya tulis ini merupakan murni ungkapan keprihatinan saya sebagai ANAK ALAM NUSANTARA sekaligus merupakan Keprihatinan Nasional bagi seluruh rakyat Indonesia yang masih mencintai GARUDA PANCASILA.