Rabu, 02 Juli 2014

JANGAN RUSAK GARUDA PANCASILA

Pemilu 2014 kali ini merupakan Pemilu yang mempunyai catatan khusus dan mengukir sejarah demokrasi bagi bangsa Indonesia. Pemilu tahap pertama yaitu Pemilihan Legeslatif telah dilalui  pada 9 April 2014 lalu dan pada 9 Juli mendatang akan diadakan Pemilihan Presiden ke 7 perioede 2014-2019.

Kenyataan politik saat ini telah menentukan 2(dua) calon pasangan presiden dan wakil presiden. melalui brbagai proses KPU telah menentukan capres dan cawapres nomor 1 adalah Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, capres dan cawapres nomor 2 adalah Joko Widodo dan Yusuf Kala. Dalam upaya kampanye untuk menarik perhatian dan suara masyarakat setiap calon mempunyai cara masing-masing dan terkadang ada yang menggunakan cara-cara yang tidak etis secara hukum, norma dan etika. kampanye negatif dan kampanye hitam semakin hari seolah-olah menjadi tren khusus dan teragendakan dalam pesta demokrasi setiap 5 tahun ini. Bahkan mendekati 9 Juli kondisi ini sungguh memperihatinkan dan meresahkan di akar rumput, tanpa ada penyelesaian dari pihak-pihak yang berwenang baik Bawaslu maupun Kepolisian.

Yang sangat disayangkan adalah penggunaan Garuda Merah yang dijadikan lambang oleh pasangan calon presiden nomor urut 1 yang menuai banyak kontroversi. Hal ini lantaran, lambang itu dinilai menyerupai lambang negara Garuda Pancasila.

Ketentuan mengenai masalah ini terkandung dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. Namun UU ini dinilai masih memiliki kelemahan sehingga Forum Kajian Hukum dan Konstitutsi (FKHK) menggugatnya kembali ke Mahmakah Kosntitusi (MK). Padahal mereka pernah menggugatnya pada 2012 lalu.

Pasal yang mereka permasalahkan adalah pasal 57 huruf c UU itu. Di sana ditegaskan melarang tiap orang membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi, dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara.

Sanksi pasal 57 huruf c itu pun diatur pada 69 huruf b. yang menyatakan "Dipidana dengan pidana penjara palng lama 1 (satu) atau denda paling banyak Rp.100.000.000 (seratus juta rupiah) setiap orang yang : b. membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara."

Persoalan yang timbul saat masuknya frasa "membuat lambang untuk perorangan" serta frasa "menyerupai lambang negara." Sebab, seseorang dapat dijatuhi hukuman jika membuat lambang yang menyerupai lambang negara. Namun UU itu tidak menjelaskan setara detil bentuk yang dianggap menyerupai lambang negara. larangan yang ada pada pasal 69 huruf b pun dinilai tidak tepat. Hal ini karena ancaman pidana harusnya memenuhi rumusan yang bersifat jelas dan tegas (lex certa), tertulis (lex scripta), dan ketat (lex stricta).
 
Tetapi, lepas dari pelanggaran terhadap undang-undang, karena hal ini sudah digugat di Mahkamah Konstitusi dan kita berikan kewenangan mereka untuk memutuskan. Jauh dari itu, saya justru tercengang memperhatikan Garuda Merah ini. Karena saya justru melihat bahwa Garuda Merah ini bukan hanya ’siluet’ dari Sang Garuda. Tapi ini justru menyimbolkan Sang Garuda itu sendiri yang tak lagi tergantung tameng dengan simbol Pancasila di dadanya. Dan telah memburamkan kalimat kebhinekaan pada pita yang dicengkramnya. Saya membacanya bahwa simbol Garuda Merah ini adalah Garuda yang telah dicelup dengan sesuatu yang berwarna merah. Dan saya tak bisa menemukan asosiasi "merah" pada kondisi ini selain dengan "warna darah".

Garuda Pancasila sebagai lambang negara Republik Indonesia ini dibuat oleh para pendahulu bangsa, para founding father kita dengan segala daya upaya, penuh rasa nasionalisme sehingga bisa menghasilkan lambang negara yang sakral dan mempunyai makna filosofi yang sangat tinggi. Sudah menjadi keharusan kita sebagai generasi selanjutnya untuk berperan serta menjaga dan merawat Lambang Negara ini dengan rasa sayang dan penghayatan tinggi sehingga keutuhan dan kesakralannya benar-benar terjaga. Bukan malah sebaliknya dengan secara gampang merubah bahkan mengoyaknya menjadi sesuatu yang tak bermakna
 
Mungkinkah ketidaksengajaan ?

Bahkan peletakan gambar hasil modifikasi Garuda (lambang negara) tidak diletakkan di dada kiri (agar jantung berdetak bersama garuda). Lalu, jika benar bahwa ini adalah Garuda yang sudah dilepaskan tameng Pancasilanya telah dicebur dengan warna darah sampai membuat kebhinekaan itu menjadi hilang tak terbaca. Maka bagi saya ini adalah simbol ditanggalkannya Pancasila, dan dihilangkannya makna ke-bhineka tunggal ika-an. Lalu Sang Garuda yang harus jadi pengayom bagi negara yang berdaulat menjadi beringas lantaran telah bermandikan darah akibat ditanggalkannya Pancasila dan diburamkannya kebhinekaan. Ini sungguh begitu menyakitkan. Apalagi kalau kita sadari bahwa yang namanya ’siluet’ adalah bayangan. Jadi tak mungkin bayangan itu berwarna merah, kecuali bahwa bayangan itu juga telah ditetesi darah Garuda itu sendiri. Artinya Sang garuda benar-benar dikebiri.

Semoga Sang Garuda yang kita yakini sebagai Lambang Negara tidak pernah melepaskan Tameng simbol Pancasila dan tetap mencengkram erat pita persatuan  bangsa kita tercinta, INDONESIA.

Mohon Maaf jika tulisan ini menyinggung capres & cawapres nomor 1, karena yang saya tulis ini merupakan murni ungkapan keprihatinan saya sebagai ANAK ALAM NUSANTARA sekaligus merupakan Keprihatinan Nasional bagi seluruh rakyat Indonesia yang masih mencintai GARUDA PANCASILA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar