Sabtu, 30 Agustus 2014

JELAJAH BUDAYA 2014, WONOGIRI - PURWOREJO - MAGELANG



Sebanyak 120 peserta generasi muda se Bakorwil II Jawa Tengah telah mengikuti kegiatan Jelajah Budaya 2014 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan Perarturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 6 th. 2008 dan diatur dalam Peraturan Gubernur Jateng No. 66 Th. 2008 pasal 20, dimana mengamanatkan kepada Disbudpar Jateng dalam upaya penyelenggaraan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya, penanaman nilai-nilai tradisi serta pembinaan watak dan pekerti bangsa. Dalam hal ini warisan budaya di Jateng ada yang berbentuk candi, kesenian daerah, upacara tradisional, kepercayaan masyarakat, dan sebagainya. Namun demikian kekayaan budaya tersebut belum semuanya dapat dinikmati atau diketahui oleh masyarakat luas, terutama dikalangan generasi muda.


Pewarisan berbagai unsur budaya, dapat diawali dengan pengenalan budaya lokal, melalui penyelenggaraan kegiatan jelajah budaya sekaligus merupakan manifestasi pelaksanaan amanat Peraturan Gubernur Jateng. kegiatan ini diharapkan untuk dapat lebih menumbuhkan kesadaran generasi muda akan keanekaragaman budaya sehingga mampu menumbuhkan kebanggan dan  kecintaan terhadap budaya bangsa. salain itu juga mampu membuka wawasan generasi muda akan pentingnya saling menghormati dan menghargai antara budaya daerah yang satu dengan yang lain. Kegiatan ini juga mempunyai tujuan yang lebih mendasar yaitu mengenalkan keunikan/kekhasan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus mampu mamahami konsep Bhineka Tunggal Ika.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari Kamis s/d Jumat 28 s/d 30 Agustus 2014 dan dikuti sebanyak 100 peserta generasi muda dari  10 Kabupaten dan Kota se Barkowil II Provinsi Jawa Tengah, antara lain Kab. Wonogiri, Kab. Sukoharjo, Kota Surakarta, Kab.Sragen, Kab. Karanganyar, Kab. Boyolali, Kota Magelang, Kab. Magelang, Kab. Purworejo, dan Kab. Kebumen. 

 

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kab. Wonogiri Sentot Sujarwoko, SH dengan membacakan sambutan tertulis Kepala Disbudpar Jateng. Dalam kesempatan ini beliau juga memberikan sambutan pribadinya yaitu ajakan kepada para generasi muda khususnya para pelajar peserta jelajah budaya untuk bisa mengenal, menguri-uri, melestarikan dan mengembangkan budaya nusantara yang meliputi seni adat dan tradisi jawa, karena mempunyai makna dan filosofi yang adi luhung. Beliau juga menjelaskan bahwa di kabupaten Wonogiri mempunyai kekayaaan akan seni budaya dan adat tradisi dimana terdapat asal muasal pembuatan wayang kulit yang telah ada turun termurun sejak jaman dahulu.

Jelajah Budaya kali ini mempunyai 3 tujuan lokasi/tempat bersejarah sebagai kekayaan budaya di Jawa Tengah. Objek pertama yang dikunjungi adalah pusat kerajinan wayang kulit yang berada di Kec. Manyaran Kab.Wonogiri. Objek kedua adalah Museum Tosan Aji di Kab. Purworejo. Dan objek terakhir di Museum Pangeran Diponegoro yang berlokasi di Kab. Magelang.

Objek I - Kabupaten Wonogiri 



Desa Kepuhsari terkenal dengan sebutan desa wayang. Desa tersebut berada di atas perbukitan kars Kecamatan Manyaran, berjarak 41 kilometer dari pusat Kabupaten Wonogiri.

Dilingkupi tatar perbukitan cadas, Kepuhsari dihiasi tumbuhan-tumbuhan khas macam pohon sawo dan pohon jati. Tak hanya itu, sawah juga menghampar berundak-undak. Sayangnya, saat kemarau tiba, hamparan sawah yang menghijau berubah wujud. Kuning kecoklatan, kering. Bukan bulir padi yang tampak melainkan tanah yang tak tertanam.


Beruntung, Desa Kepuhsari dihuni manusia-manusia kreatif yang tak hanya berkutat di sawah atau ladang. Mereka seakan punya dunia lain yang membuat hidupnya penuh warna. Dunia penuh kebijaksanaan, dunia wayang. Wayang kulit seolah mendarah daging di tubuh warga Desa Kepuhsari. Wayang bukan cuma dipentaskan, wayang menjadi identitas yang tak bisa lepas dari jalan cerita hidup warga Kepuhsari.


Bagi mereka, wayang juga bukan cuma pelajaran hidup. Wayang dikomodifikasi agar bisa diandalkan untuk menyambung hidup sehari-sehari selain bercocok tanam yang selama ini menjadi tumpuan. Maka tak bisa dipungkiri lagi, wayang bagi Desa Kepuhsari adalah sumber penghidupan.


Hasil kerajinan wayang dari Desa Kepuhsari sudah diakui kualitasnya, mulai dari pemilihan kulit, tatahan, serta pewarnaan wayang. Hasil kreavitas warga Kepuhsari pun sudah dikenal sampai ke luar daerah seperti Jakarta, Solo, Yogyakarta, Surabaya bahkan luar negeri.


Para pembelinya juga tersebar di berbagai kota. Maka tak heran, jika dalang-dalang wayang kulit terkenal Indonesia mempercayakan wayang Kepuhsari dalam setiap pementasan.


kreatif melestarikan wayang kulit juga tidak terlepas dari peran beberapa sanggar wayang yang ada di Kepuhsari, sebut saja Sanggar Nimas, Sanggar Sukma, dan Sanggar Wayang Wagimin.


Selain melestarikan, ketiga sanggar wayang itu mempunyai fungsi penting sebagai tempat untuk mementaskan wayang kulit baik di dalam mau pun luar desa. Lebih penting lagi, sanggar-sanggar wayang menjadi tempat bagi penduduk desa untuk belajar mendalang, menjadi niyaga (penabuh gamelan), dan sinden (penyanyi yang mengiringi pementasan wayang dan posisi lain yang terkait).


Tak ayal, Kepuhsari menjadi sebuah desa yang cukup penting untuk menjaga, melestasikan, dan mengenalkan dunia perwayangan di Jawa Tengah maupun Indonesia. Kepuhsari bisa dibilang 'Desa Wayang' karena proses kreatif perwayangan di Kepuhsari dimulai dari hulu hingga hilir, dari tatah sungging (pembuatan) sampai pada pementasannya (dalang)

Desa Wayang Manyaran, Wonogiri sebagai wilayah sentra kerajinan wayang kulit, kini sudah cukup populer di Indonesia. Bukannya tanpa sebab, konon menurut mitos turun temurun yang berkembang disana, Manyaran sendiri merupakan tempat asal-usul para empu wayang kulit sejak dulu kala.

Keberadaan Manyaran tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kesenian wayang kulit di Jawa. Karena di tempat itulah konon dulu kala merupakan tempat kelahiran Ki Panjangmas dan Nyi Anjangmas, pasangan suami istri yang menjadi dalang kebanggaan Kerajaan Mataram Islam di pertengahan abad 16 M.

Dari keduanya inilah, akhirnya terlahir pakem pedalangan yang masih dianut hingga sekarang, baik di Surakarta maupun Yogyakarta yang merupakan dua wilayah peninggalan Mataram.

Selain itu, mereka juga melahirkan banyak garapan gending karawitan sebagai pengiring pergelaran wayang. Dan hingga kini kita masih bisa menemukan keberadaan para keturunan Ki Panjangmas di Manyaran

Tak hanya itu, ada sumber pula yang menyebutkan di akhir abad 18 M terdapat para empu wayang era SISKS Paku Buwana (PB) X, Raja Keraton Kasunanan Surakarta, dan KGPAA Mangkunegara (MN) VII di Manyaran.

Dari situlah, para empu tersebut melahirkan banyak keturunan pembuat wayang yang tersebar di Manyaran, Klaten, Sukoharjo, Sragen, bahkan Yogyakarta. Hal itu menjadi masuk akal, karena di zaman dulu dalang dan keturunannya diharuskan pula untuk bisa membuat dan memperbaiki wayang.

“Konon empu Cerma Penatas, empu Bagus Rowang, dan beberapa empu pembuat wayang pusaka Keraton Surakarta yang sangat terkenal, berasal dari wilayah sekitar  sana (Manyaran). Bahkan Ki Brastho, dalang terkenal dari Pura Mangkunegaran juga berasal dari Manyaran,” papar Randyo.

Untuk itu, tak aneh meski secara geografis Manyaran lebih dekat dengan Yogyakarta, namun gaya garapan wayang Manyaran cenderung mengiblat kepada gaya Surakarta.

Dalam kesempatan ini rombongan Jelajah Budaya disambut dengan pagelaran wayang kulit. Pagelaran ini terasa lebih unik karena menampilkan dalang kecil bernama Pandam Aji Anggoro Putra yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Dan biasanya dalam pagelaran wayang yang menjadi sinden adalah para kaum hawa, tetapi pada pagelaran ini menampilkan sinden lelaki. Kualitas suaranyapun tak mau kalah dengan sinden perempuan seperti biasanya.

 
Objek II - Kabupaten Purworejo
Museum Tosan Aji . Diresmikan pada tanggal 13 April 1987 oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa tengah Bapak Ismail. Lokasi museum pada waktu itu terletak di Pendopo Kawedanan Kutoarjo. Pada tanggal 10 Juni 2001 oleh Pemerintah Kabupaten dipindah dari Kutoarjo ke kota Purworejo menempati bangunan bekas Pengadilan Negeri pada zaman Belanda, yaitu di jalan Mayjend Sutoyo No. 10 atau sebelah selatan alun-alun Purworejo. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mewujudkan lokasi terpadu beberapa bangunan bersejarah, seperti Masjid Agung Darul Mutaqin di sebelah barat alun-alun dengan Bedug Pendowonya terbesar di Indonesia mungkin di dunia, dan Museum di sebelah selatan.
 
Tosan aji merupakan salah satu hasil budaya bangsa pada masa perundagian sebagai warisan nenek moyang yang menunjukkan salah satu identitas budaya bangsa yang sampai kepada kita sekarang. Yang dimaksud Tosan Aji adalah sejenis senjata pusaka dari logam besi yang mendapat tempat terhormat (yang dihargai) di mata masyarakat terutama pada masa lampau, diantaranya berupa keris, tombak, pedang,kudi dan menur. Dalam alam pemikiran masyarakat lebih-lebih pada masa lampau Tosan Aji dianggap memiliki kekuatan gaib/kesaktian yang dapat mempengaruhi dalam kehidupan masyarakat. 
Alam pemikiran demikian berproses seirama dengan religi kemasyarakatan dan perkembangan jaman. Menurut D.G Stibe dan Letkol Uhlenbech dalam Encyclopedie-nya dinyatakan bahwa pada musium Antrhropologi /Ethnografi di Leiden telah disimpan keris yang berasal dan ditemukan di tengah-tengah stupa besar candi Borobudur. Yang diperkirakan keris tersebut sudah tua ketika dimasukkan ke dalam stupa yang kemungkinan sekali bersamaan dengan saat didirikan Candi Borobudur kurang lebih abad VIII. Dengan demikian pada waktu itu Tosan Aji telah mendapatkan tempat tinggi pada dalam kehidupan religi kemasyarakatan sehingga ditempatkan dalam bangunan monumental - religius – Borobudur. Nilai-nilai itulah yang kemungkinan melatar belakangi tingginya harga sebuah Tosan Aji

Museum Tosan Aji merupakan museum khusus yang menyajikan satu jenis koleksi yaitu Tosan Aji (keris). Tosan Aji merupakan salah satu hasil budaya bangsa sebagai warisan nenek moyang yang menunjukan salah satu identitas budaya bangsa. Suasana di museum ternyata didesain sedemikian rupa agar seakan-akan menikmati alam bersejarah kota Purworejo. Alat, bahan, dan keris yang sudah ada disajikan tepat di ruang paling depan, kita dapat pertama kali menikmati dan mengetahui proses pembuatan keris budaya leluhur bangsa.
Seiring perkembangannya, Museum Tosan Aji tidak hanya menyajikan koleksi Tosan Aji saja, namun juga menampilkan berbagai koleksi benda cagar budaya yang banyak ditemukan di wilayah purworejo, baik pada masa prasejarah maupun masa klasik. Koleksi cagar budaya menambah daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Disamping pengetahuan yang diperoleh ternyata ketakjuban juga dengan kekayaan alam yang dimiliki kota Purworejo.

Koleksi pusaka yang dimiliki lebih dari 1000 bilah terdiri dari keris, pedang, tombak, kujang/kudi, Cundrik Granggang yang berasal dari masa Kerajaan Pajajaran, Majapahit hingga sekarang, dan tersimpan pula benda-benda cagar budaya lainnya seperti Gamelan Kuno Kiyai Cokronegoro, hadiah dari Sri Susuhan Paku Bowono VI kepada Bupati Purworejo Pertama Cokronegoro serta arca, prasati, lingga, yoni, fragmen lumping, guci, beliung, batu gong, gerabah menhir, dan fosil.

Objek III - Kota Magelang
Museum Pangeran Diponegoro Magelang. Museum ini memiliki luas 2.552 meter persegi, berjarak sekitar 0,5 kilometer ke arah barat dari pusat Kota Magelang. Museum Pangeran Diponegoro berlokasi di Jalan Diponegoro No. 1, berada dalam satu kompleks dengan Badan Koordinasi Lintas Wilayah II.

Museum ini merupakan kamar petilasan Pangeran Diponegoro, terletak di sayap kiri Pendapa Keresidenan Kedu yang dibangun tahun 1810. Objek wisata sejarah ini menyimpan peninggalan Pangeran Diponegoro yang ditangkap secara licik dalam suatu perundingan dengan Belanda.
 
Benda koleksi museum ini, antara lain meja dan kursi bekas tempat berunding yang salah satu lengan kursinya menyimpan bekas kemarahan Pangeran Diponegoro berupa guratan kuku.
 
Museum ini juga menyimpan salah satu jubah Pangeran Diponegoro berukuran panjang 1,57 meter, lebar 1,35 meter terbuat dari kain shantung, kitab tahrib, balai-balai tempat sembahyang, dan tujuh buah cangkir tempat tujuh macam minuman kegemaran Pangeran Diponegoro. 




Pada penghujung acara diisi dengan diskusi kelompok dengan materi  bahasan tentang informasi dan masukkan atas beberapa objek jelajah budaya yang telah dikunjungi. 

Kegiatan Jelajah Budaya ini ditutup oleh Kasi Nilai Budaya Disbudpar Prov. Jateng  Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd dengan memberikan apresiasi kepada para peserta yang sangat antusias dalam mengikuti kegiatan jelajah budaya dalam bertanya dan menggali informasi tetang budaya lokal untuk memperkaya dan mempertebal rasa cinta terhadap budaya bangsa.