Sabtu, 30 Agustus 2014

PENINGKATAN PENANAMAN WATAK DAN PEKERTI BANGSA

Usaha untuk melestarikan keanekaragaman budaya dan kearifan lokal bukanlah perkara mudah, terutama di tengah derasnya fenomena globalisasi budaya. Tugas itu menjadi strategis untuk diemban oleh kaum muda, yang justru secara perlahan kian dijauhkan dari akar budaya masyarakat dan bangsanya.

Permasalahan ini mencuat dalam kegiatan Peningkatan Penanaman Watak dan Pekerti Bangsa se eks Karesidenan Pekalongan, yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Tengah, Senin (25/8) sampai Rabu (27/8), di Hotel Dewi Ratih Kabupaten Batang . Kegiatan itu melibatkan peserta dari 7 kabupaten/kota, dengan sasaran generasi muda, organisasi kepemudaan, tokoh seni dan budaya, serta pelajar.

Sejumlah narasumber kompeten pun dihadirkan, seperti Kabid Nilai Budaya, Seni, dan Film Disbudpar Jateng, Drs Budiyanto, S.H. M.Hum, Sekretarias Disbudpar Batang Suprayitno S.Kar, Peneliti Utama Balai Pelestarian Nilai dan Budaya Yogyakarta Suyami, S.S. M.Hum, Drs Sutopo MPd dari Dinas Pendidikan Jateng, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Unnes Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum, serta Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip Dr. Agus Maladi Irianto, MA.

Diawal sessi, Kabid Nilai Budaya, Seni, dan Film Disbudpar Jateng, Drs Budiyanto, S.H. M.Hum. menegaskan bahwa kearifan lokal yang behubungan dengan adat dan tradisi tidak boleh dirubah bahkan dimodifikasi, karena bersifat ritual dimana telah diciptakan dan dibakukan oleh para Leluhur nusantara dengan melewati beberapa tata laku spiritual yang bernilai adi luhung.sebagai contoh adalah upacara pernikahan adat, mitoni, larungan, grebeg suro, tradisi nyadran, upacara pemakaman adat/kepercayaan, dan lain sebagainya.

“Indonesia dikenal karena kekayaan seni tradisinya, yang sebagian di antaranya hidup dan berkembang di Jawa Tengah. Sebut saja seni pertunjukan semacam kuda lumping, wayang, campur sari, ketoprak, calung, rebana, dan lainnya. Tetapi kekayaan itu lambat laun terancam eksistensinya, terutama karena gerusan globalisasi,” kata Prof Agus Nuryatin.

Untuk itu, lanjut dia, pengenalan berbagai macam seni tradisi perlu dilakukan melalui upaya nyata, misalnya melalui kegiatan pertunjukan rutin, festival, dan lomba. Seiring itu, proses penggalian nilai atas ragam seni tradisi tersebut pun wajib dilakukan, justru untuk memperkuat karakter bangsa. “Tak hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Generasi muda harus terlibat dan melibatkan diri dalam aktivitas penguatan seni tradisi ini, agar mereka mengenal kekayaan budaya bangsanya” tandasnya.

Peneliti Balai Peestarian Nilai Budaya Yogyakarta, pun menilai Budaya Jawa sangatlah kaya dengan khasanah kearifan lokal yang dibutuhkan dalam pembangunan karakter bangsa. Sayangnya, kekayaan itu kini mulai ditinggalkan masyarakat. “Maka perlu upaya serius untuk merevitalisasi dan mengkampanyekan nilai-nilai kearifan lokal, terutama terhadap generasi penerus bangsa,” ucapnya.
Di sektor pendidikan, upaya tersebut sejatinya mendapatkan ruang, terutama seiring pemberlakuan kurikulum 2013. Sutopo mengatakan, kurikulum baru itu memberikan penekanan yang kuat terhadap aspek pembangunan karakter peserta didik. “Harapannya, output pendidikan kita menjadi kian berwatak dan memiliki kepribadian bangsa yang tangguh,” ujarnya.


 







 










Tidak ada komentar:

Posting Komentar