Selasa, 21 Oktober 2014

FESTIVAL TEMBANG DOLANAN JAWA TENGAH

Festival tembang dolanan anak-anak yang berlangsung di gedung Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jl Sriwijaya, Semarang, Rabu (22/10) dipadati pengunjung. Namun, mereka yang hadir sebagian besar merupakan peserta, guru, pelatih, dan orang tua sebagai pendampingnya. 

Festival ini diikuti 14 peserta dari SD dan SMP di Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Pada festival ini muncuk SDN Lamper Kidul 02 sebagai juara pertama. SDN di Kecamatan Semarang Selatan yang meraih nilai tertinggi, yakni 725 itu menampilkan tembang “Soyang”.

Tim dari SDN berani memainkan musik gamelan, berbeda dari peserta SMP yang sebagian di antaranya hanya menampilkan gerak tari dan tembang dolanan. Juara II dan III secara berturut-turut diraih SMPN 1 Limbangan Kendal (718 poin) memainkan tembang “Menthok- Menthok” dan SDN Barusari 02 Semarang yang nembang “Gundhul-Gundhul Pacul” (702 poin).

Adapun, juara harapan I- III yaitu SDN Muktiharjo Kidul 01 Semarang (698 poin), SD St Antonius I Semarang (690 poin), dan SMP 12 Semarang (675 poin).

Ketua Panitia Festival Tembang Dolanan, Eny Haryanti S.Pd M.Pd mengatakan, kegiatan ini untuk memfungsikan kembali tembang dolanan sebagai media dan wahana penanaman pendidikan nilai budaya, serta memperkuat jatidiri dalam rangka pembentukan karakter bangsa.

“Ini bentuk kegiatan positif untuk melestarikan budaya Jawa, khususnya tembang dolanan yang mulai tergeser,” jelas Eny yang juga Kasi Nilai Budaya, Bidang Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Jateng.Festival yang digelar Bidang NBSF, Dinbudpar Jateng itu memperebutkan piala, piagam penghargaan, dan uang tunai sebesar Rp 6,75 juta. Tim juri terdiri atas Irawan, Widodo BS, dan Kuswanto.

Festival ini dibuka dengan penampilan hiburan anak-anak TK Perdana, Kelud, Sampangan. Mereka membawakan tembang “Kidang Talon” dan “Gundhul- Gundhul Pacul” diiringi musik gamelan. Mereka cukup piawai nembang dolanan dan memainkan gamelan, hingga diapresiasi oleh penonton. 

Seorang peserta festival asal SMP30 Semarang, Fitrizki Xena M mengatakan, teknologi yang semakin berkembang dan maju mempengaruhi ketertarikan remaja seusianya untuk melestarikan budaya. “Kemajuan teknologi ini sisi positifnya memudahkan komunikasi antarteman dan saudara, serta memudahkan mengakses informasi untuk meningkatkan pengetahuan. 
Sisi negatifnya, bisa kecanduan mengakses sosial media,’’ungkapnya. Jika sudah kecanduan sosmed, imbasnya remaja bisa malas belajar, termasuk mempelajari atau melestarikan budaya Jawa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar