Minggu, 25 Januari 2015

NGEBEG BARENG, PEMECAH REKOR DUNIA MURI

Minggu Wage 25 Januari 2015, seluruh warga Pemalang bertumpah ruah di alun - alun Kota Pemalang. Ngebeg bareng atau memainkan jaran ebeg (kuda lumping) bersama-sama  ini bertujuan untuk memecahkan Rekor Dunia versi Museum Rekor Indonesia (MURI)

Acara ini merupakan puncak dari event Batik Carnival dan Parade seni tradisional Pemalang yang dikemas dalam “Pemalang Amazing Extravaganza”. Dari seluruh peserta yang hadir memadati alun-alun dengan iringan gamelan, bersama dengan Bupati Pemalang H. Junaedi, SH, MM dan para pejabat Kabupaten Pemalang lainnnya, mereka serempak menari layaknya penari jaran ebeg yang sesungguhnya.

Diperoleh Informasi bahwa rekor menari tersebut masih berada di Probolinggo Jawa Timur dengan jumlah peserta  21.712 orang.  Namun rekor tersebut harus terhenti, dikarenakan sudah dilampaui oleh Kabupaten Pemalang. Paulus Pangka, perwakilan dari MURI menyampaikan bahwa dari tim yang diterjunkan dalam penghitungan, mencatat untuk peserta yang mengikuti ngebeg bareng  di Pemalang sebanyak 33.445  orang peserta. Dengan demikian Kabupaten Pemalang memecahkan rekor MURI menari Jaran Ebeg dengan jumlah peserta 33.445 orang.

Jumlah tersebut diperkirakan masih bisa bertambah, sebab menurut informasi dari aparat keamanan yang bertugas di barikade jalan, di sebelah timur masih banyak peserta  yang tidak bisa masuk ke alun-alun karena jalan yang dilaluinya macet total.

Sekda kabupaten Pemalang Drs. Budi Raharjo MM, menyampaikan bahwa keberhasilan acara tersebut adalah keberhasilan masyarakat Pemalang. Kerjasama yang terjalin pada rangkaian kegiatan tersebut merupakan bukti bahwa Pemalang bisa bersatu.

“Ini adalah kerja keras kita semua. Baik Pemda, LSM, rekan-rekan Pers maupun pihak-pihak yang telah mengawal kegiatan ini dari awal. Ini keberhasilan masyarakat Pemalang. Bukan keberhasilan orang atau siapapun yang ingin dianggap paling berjasa,” tegas Budi.
























Jumat, 16 Januari 2015

TRADISI MERTI LELUHUR DI DESA SEMANDING

Sebanyak ratusan warga di dusun Semanding secara khidmat mengikuti upacara tradisi penghormatan dan doa untuk para leluhur dan kerabat.yang sudah berpulang ke Sang Pencipta. Acara ini didilaksanakan 2 kali dalam satu tahun, yaitu dibulan Mulud dan Ruwah tepat di hari Jumat Kliwon.

Tradisi Merti Leluhur ini ada sejak jaman dahulu. Tradisi ini dimulai dengan iring-iringan kirab hasil bumi dari kampung menuju area pemakaman. Setelah melewati jalan setapak dan naik turun layaknya sebuah perbukitan serta melewati sungai kecil bebatuan sampailah rombongan kirab ini dilokasi pemakaman tersebut. Sesampai di pemakaman, para warga beristirahat sambil melakukan bersih-bersih dan berdoa dimasing-masing makam keluarga mereka.

Beberapa saat kemudian acara dimulai dengan beberapa sambutan dari tokoh masyarakat dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah. Setelah itu dimulai doa bersama dengan bacaan tahlil dipimpin sesepuh warga yang diawali dengan membakar kemenyan yang dikumpulkan dari masing-masing warga peserta tradisi ini.

Pemakaman tersebut berada sekitar 1,5 km menuju puncak perbukitan.  Adalah Kyai Wanapati dan Kyai Setro yang merupakan Leluhur yang berada diwilayah terebut, dimana makam Beliau menjadi pusat tempat berdoa dalam tradisi ini. Makam dua leluhur ini berada berdampingan (dalam bahasa jawa : semanding) sehingga tempat ini dinamakan sebagai dusun Semanding.
 
Semanding adalah satu dari tujuh dusun yang terletak di Desa Kedungboto Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Semanding sendiri terletak di antara Dusun Deles dan Dusun Jingkol yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Temanggung. 7 km atau sekitar 15 menit waktu tempuh dari balai desa menuju Dusun Semanding.

Dusun Semanding juga merupakan tempat terpencil dengan keterbatasan sarana infrastruktur. Untuk menjangkau dusun tersebut melewati jalan pegunungan yg terjal dan bebatuan. Sesekali ditemui jalan aspal yang telah rusak berat. 100 meter menjelang dusun ini harus melewati jembatan kali putih yang telah miring dan nyaris putus, rusak karena terjangan banjir yang terjadi akhir-akhir ini. Sampai berita ini ditulis hanya kendaraan roda dua yang bisa mencapai perkampungan tersebut.
 
Semanding terkenal dengan kesenian tadisionalnya yaitu Jaran Kepang. Jaran Kepang Semanding atau lebih di kenal dengan nama Turonggo Mudho sudah melalangbuana ke berbagai daerah yaitu salah satunya Jakarta. Semanding pernah dua kali tampil di TMII yaitu yang pertama dalam rangka kontes Jaran Kepang Nasional yang mewakili Kabupaten Kendal dengan mendapatkan predikat 5 besar dan yang kedua kali dalam rangka Pagelaran Agung Kraton Sedunia mewakili Pura Djojonagoro Sekatul dan banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
 

Dari segi mata Pencarian penduduknya mayoritas bekerja sebagai petani. Beberapa pemuda dusun ini juga banyak yang mencari pekerjaan lain selain bertani yaitu dengan menjadi buruh atau pekerja harian lepas di kota terdekat misalnya Kendal dan Semarang. Saat ini dari segi pertanian mereka lebih banyak memilih untuk menanam tanaman tua seperti sangon laut atau aren yang dapat di manfaatkan buah dan airnya.