Selasa, 17 Maret 2015

NGASA, UPACARA TRADISI DI KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU SEBAGAI SALAH SATU ASET BUDAYA DI KABUPATEN BREBES

Selasa Kliwon 25 Februari 2014, sejak pukul 05.00 wib, puluhan ibu-ibu menggendong cepon dengan tangan kanannya menjinjing rantang seng, menyusuri bebukitan gunung kumbang Brebes. Mereka adalah warga Dukuh Jalawastu Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes yang akan melaksanakan upacara tradisi "Ngasa". Upacara ini digelar setiap Selasa Kliwon mangsa kasanga setiap tahunnya.

Dengan wajah berseri, mereka melewati Jembatan Zubaedah bergegas menuju Pesarean Gedong. Sesampainya di sana, beberapa lelaki menggelar tikar. Dan ibu-ibu itupun menaruh makanan di atas tikar secara berjajar. Lelaki tua yang disebut juru kunci Pesarean Gedong Makmur, beserta tetua lainnya dengan berpakaian putih-putih menyusul dibelakang rombongan ibu-ibu pembawa makanan.
Menurut penuturan Pemangku adat setempat Dastam menjelaskan, masyarakat Jalawastu pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan. Makanan pokoknya adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai lauk dan lalapan adalah dedaunan, umbi-umbian, pete, terong, sambal dan dedaunan terutama daun reundeu yang diyakini hanya tumbuh di gunung kumbang ini.  

Begitupun dengan piring dan sendok yang digunakan tidak menggunakan alat yang terbuat dari bahan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang digunakan mereka terbuat dari seng atau dedaunan. Dalam hal rumahpun mereka masih menggunakan kayu dan atap seng, mereka berpantang untuk menggunakan semen.

Upacara adat Ngasa ini telah dilaksanakan oleh warga secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Upacara ini sebagai simbol tanda terimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa atas segala nikmat yang telah dikaruniakan. “Seperti di daerah pantai ada sedekah laut, di tengah-tengah ada sedekah bumi. Kami yang disini boleh dikata sebagai sedekah gunung,” ujar Dastam.

Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon pada Mangsa Kesanga. Gelaran Ngasa ini diadakan dalam kurun satu tahun sekali. Kali pertama, Ngasta digelar sejak masa pemerintahan Bupati Brebes IX Raden Arya Candra Negara.

Ngasa berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Batara sendiri mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa. “Semua itu, sebagai kebaktian kepada Batara,” imbuh Dastam.

Yang unik di Dukuh Jalawastu, seluruh rumah yang dibangun semua berdinding kayu dan beratap seng. Rumahnya tidak boleh menggunakan atap genting dan tidak bersemen atau keramik. Selain itu berpantang menanam bawang merah meski Brebes merupakan komoditas utama penghasil bawang merah. Juga tidak boleh menanam kedelai serta memelihara kerbau, domba dan angsa. “Bila yang melanggar maka ada bencana yang menimpa pula,” ungkapnya.

Secara geografis Desa Ciseureuh ini merupakan desa paling selatan dan salah satu dari 3 desa di kecamatan Ketanggungan yang kebanyakan warganya menggunakan bahasa sunda brebes. Dukuh Jalawastu sendiri berupa pegunungan terjal, dimana saat ini akses menuju Jalawastu masih berupa jalan bebatuan,  meski ada bekas jalan beraspal namun sudah rusak berat. Jalan yang berkelok dan sempit ini sehingga jika ada mobil yang berpapasan maka keduanya harus mengalah ban mobil disebelah kiri untuk turun jalan agar bisa saling melewati.

Upacara Tradisi Ngasa kali ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Kasi Nilai Budaya bidang Nilai Budaya Seni dan Film Eny Haryanti S.Pd, M.Pd, Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti SE beserta Bapak Kompol Drs. H. Warsidin, Kepala Bagian Humas dan Protokol Drs Atmo Tan Sidik, Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes, Ir Gatot Rudianto, Camat Ketanggungan, Kepala Desa Cisereuh, Para kepala desa tetangga dan perangkatnya, serta beberapa awak media baik media cetak maupun elektronik.


 








Sabtu, 14 Maret 2015

PENGAMALAN PENGHAYATAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL


Berlokasi di Sasana Pamiwahan Putera Padepokan Wulan Tumanggal Kabupaten Tegal, kegiatan Pengamalan Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal berlangsung selama 3 (tiga) hari 13 - 15 Maret  2015. Kegiatan ini diikuti sebanyak 60 peserta yang terdiri atas penghayat kepercayaan dan pegawai dinas kebudayaan se eks karesidenan Pekalongan. 

Sebagai pengisi upacara pembukaan kegiatan, setelah laporan ketua panitia oleh Ibu Eny Haryanti S.Pd, M.Pd, ditampilkan sebuah atraksi seni budaya yaitu Tari Kalang oleh 3(tiga) Putera Perguruan Trijaya. Tari ini merupakan tari beladiri yang diciptakan oleh Pembina Perguruan Trijaya Pusat Tegal RG. KPA. EK Giripati Suryaningrat yang sudah berpulang kehadirat Gusti Ingkang Maha Agung. 

Dalam sambutan selamat datang yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Dra. Suspriyanti, MM. mengajak para peserta kegiatan ini untuk bisa mengunjungi beberapa lokasi wisata di kabupaten Tegal, khususnya obyek wisata air panas Guci, yang jaraknya sangat dekat kurang lebih 10 menit perjalanan menggunakan kendaraan dari Padepokan Wulan Tumanggal. 

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang Nilai Budaya  Seni dan Film Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Bp. Drs. Budiyanto, MM. Dalam sambutannya beliau mengajak para Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Jawa Tengah untuk memajukan dan melestarikan semua upacara adat dan tradisi yang bersifat spiritual di organisasi/paguyuban masing-masing karena hal ini sesuai dengan visi dan misi pemerintah provinsi Jawa Tengah yaitu memajukan kebudayaan di Jawa Tengah baik budaya lahiriah maupun budaya spiritual yang merupakan identitas jati diri masyarakat Jawa Tengah itu sendiri. 

Setelah upacara pembukaan selesai dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh beberapa nara sumber. Berikut beberapa paparan materi yang terdiri dari :
  1. “Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap Pelayanan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”, dengan penyaji Drs. Budiyanto, S.H. M. Hum. – Kepala Bidang Nilai Budaya, Seni dan Film mewakilii Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
  2. “Pelaksanaan Ajaran Nilai-nilai Luhur dalam Kehidupan Bermasyarakat”, dengan penyaji : Romo Guru KRA. Suryaningrat II - Pembina Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal - Organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kabupaten Tegal.
  3. “Toleransi Keberagaman Suku, Adat, Ras, Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”, dengan penyaji : Dra. Suyamni,M.Hum. – Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta
  4. “Kontribusi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pembangunan Bangsa”, dengan penyaji :  Widodo Brotosejati,S.Sn. M.Sn  - Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang
  5.  “Partisipasi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pembangunan Mental Spiritual Bangsa”, dengan penyaji : Dra. Suspriyanti, M.M. - Kepala dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Tegal.
  6. “Pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah”, dengan penyaji : Drs. Sutopo, M. Pd. – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
Dari beberapa materi yang disampaikan oleh para nara sumber, ada hal menarik yang perlu menjadi perhatian oleh kita semua. Apa yang disampaikan oleh Romo Guru KRA Suryaningrat II bahwa dari sekian banyaknya pitutur luhur yang ada di bumi nusantara sebagai peninggalan nenek moyang, dapat dirumuskan menjadi 7(tujuh) pitutur luhur yang dinamakan sebagai "Jiwa Nusantara", diantaranya sebagai berikut :
  1. Bersujud Kepada Tuhan Yang Maha Esa. 
  2. Berbudi pekerti luhur. 
  3. Saling menghormati 
  4. Rela berkorban. 
  5. Gotong Royong. 
  6. Bangga sebagai bangsa Indonesia. 
  7. Bersatu. 
Beliau menambahkan, ke tujuh semangat jiwa nusantara tersebut diharapkan tidak hanya sebagai pitutur luhur namun bisa diwujudkan menjadi sebuah "perilaku luhur" bagi seluruh komponen warga negara Indonesia khususnya di kalangan generasi muda.
  
Dengan mendengarkan beberapa saran, masukan, dan hasil tanya jawab antara peserta dengan narasumber, menghasilkan beberapa rumusan sebagai berikut :
  1. Pengamalan Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat dimanfaatkan/diberdayakan Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Eks Karesidenan Pekalongan untuk mengingatkan kembali peran serta Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam pembangunan mental spiritual bangsa.
  2. Pelaksaaan Pengamalan Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa  dapat dimanfaatkan untuk saling tukar informasi antar organisasi penghayat mengenai dinamika kehidupan beroganisasi dan bermasyarakat.
  3. Pelaksanaan Pengamalan Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa memberi manfaat bagi organisasi penghayat untuk membuka wawasan akan dampak globalisasi dan bersikap arif dalam pelestarian nilai-nilai luhur budaya bangsa
  4. Pengamalan Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat ditindaklanjuti di masing-masing Kabupaten/Kota dan untuk Provinsi perlu melanjutkan kegiatan yang sama di wilayah eks-Karesidenan lain.
  5. Pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti Luhur agar ditingkatkan lagi dari pendidikan dasar sampai ketingkat lanjut baik peserta didik maupun tenaga pendidik.
  6. Mengimplementasikan nilai budaya luhur bangsa secara sadar dan terus menerus dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara oleh segenap warga penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME dan pemerintah dari tingkat pusat sampai tingkat desa sebagai suri tauladan bagi segenap warga negara Indonesia.
  7. Pemerintah agar kiranya memfasilitasi kepada organisasi kepercayaan baik organisasi kepercayaan ditingkat pusat sampai tingkat kabupaten/kota untuk pengadaan alat-alat musik tradisional sebagai sarana organisasi kepercayaan dalam upaya melestarikan seni dan budaya yang bersumber dari hasil karya para leluhur atau nenek moyang.