Minggu, 12 April 2015

TRADISI GREBEG GETHUK DI KOTA MAGELANG

Minggu (12/04/15), ribuan manusia memenuhi alun - alun kota Magelang untuk menyaksikan dan ikut serta dalam acara tradisi Grebeg Gethuk. Acara ini diadakan untuk memeriahkan hari jadi kota Magelang dimana 11 April kemarin genap berusia ke 1.109. Angka ini dijadikan jumlah gethuk dalam dua buah gunungan Gethuk yang akan menjadi rebutan oleh masyarakat. Gethuk adalah makanan khas Kota Magelang yang terbuat dari singkong. 

Gethuk sudah lama menjadi ikon kuliner kota ini. Tampak hadir Wali Kota Magelang Bp.Sigit Widyonindito berserta jajarannya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Bp. Heru Sudjatmiko, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Bp. Prasetyo Ariwibowo, pimpinan daerah sejumlah Kota dan kabupetan di Jawa Tengah, dan 16 delegasi dari negara-negara sahabat antara lain dari Jerman, Arab Saudi, Sri Lanka, Mongolia, Hongaria, Kazakhztan, Ekuador, Zimbabwe, Inggris, Amerika Serikat, Libya, India, China, Kuba, Portugal dan Republik Armenia.

Selain gunungan Gethuk, ikut juga dalam grebeg ini 17 gunungan yang terbuat dari hasil bumi yang terdiri dari beragam sayur-mayur dan kerajinan tangan. 17 Gunungan tersebut merupakan simbol potensi alam yang ada di 17 kelurahan di Kota Magelang yang akan diperebutkan bersama gunungan gethuk.

Wali Kota Magelang menjelaskan, Grebeg Gethuk merupakan salah satu tradisi untuk mengangkat budaya dan kuliner khas Kota Magelang. Tradisi ini diselenggarakan setiap tahun dengan harapan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Sejuta Bunga ini dimana tahun 2015 ini bersemboyan " Ayo ke Magelang". Dua gunungan gethuk setinggi sekitar satu meter itu masing-masing berbentuk lancip yang merupakan simbol jaler (laki-laki) dan satu lagi berbentuk bulat, simbol setri (perempuan). "Gethuk itu makanan tradisional yang perlu dibanggakan. Prosesi ini sebagai upaya untuk nguri-uri (melestarikan) tradisi yang ada", tambah beliau.

Prosesi Grebeg Gethuk dimulai dengan kirab rombongan Wali Kota berserta jajaran yang menaiki kereta kecana dari Masjid Agung menuju panggung kehormatan di sisi selatan alun-alun yang berjarak sekitar 300 meter. Rombongan Wali Kota tampak mengenakan pakaian adat Jawa Tengah lengkap. Mereka kemudian duduk di panggung kehormatan disaksikan 16 duta besar dan delegasi dari negara-negara sahabat yang sudah berada dipanggung dan ikut menyaksikan prosesi tersebut.

Sebelum Grebeg Gethuk digelar dan diperebutkan, didahului dengan kirab gunungan hasil bumi dari masing-masing kelurahan yang ada di Kota Magelang. Setelah itu dilaksanakan upacara dimana sebagai inspektur upacara adalah wakil Gubernur Jateng Bp. Heru Sudjatmiko. dalam upacara ini baik petugas dan inspektur upacara semua mengenakan pakaian adat jawa tengah. Bahasa pun yang dipakai baik yang dibacakan pembawa acara  maupun aba-aba oleh pemimpin upacara, semuanya menggunakan bahasa jawa.

Setelah upacara selesai, di lanjutkan dengan tampilan kesenian tari kuntulan dan soreng khas kota Magelang yang ditampilkan secara kolosal oleh ratusan penari remaja. Setelah itu baru gunungan gethuk maupun hasil bumi diperebutkan oleh masyarakat. Sebagai pemberi aba-aba dalam rebutan gunungan ini adalah Wali Kota Magelang Bp. Sigit Widyonindito. 

Bp. Heru Sudjatmiko sangat menyambut baik kegiatan Grebeg Gethuk ini. Menurut Heru, tradisi ini sebagai wujud perhatian pemerintah daerah dan warga dalam melestarikan budaya bangsa. “Kita punya kekayaan budaya yang beragam dan luar biasa. Jadi Bhineka Tunggal Ika tidak dimaknai bahwa budaya dan seni bangsa harus seragam, akan tetapi justru keragaman ini menjadi pemersatu bangsa,“ papar Wakil Gubernur Jawa Tengah ini.


Menurut Kepala Dinbudpar Jateng Bp. Prasetyo Aribowo, dengan acara tradisi Grebeg Gethuk yang diadakan setiap tahunnya ini diharapkan akan mampu meningkatkan jumlah wisatawan untuk berkunjung di Kota Magelang, baik wisatawan domestik maupun mancanergara.

Grebeg Gethuk mmenjadi salah satu dari 103 acara yang digelar dalam program Ayo ke Magelang tahun 2015. Selain Grebeg, Pemerintah Kota Magelang juga menggelar sedikitnya lima acara yang berskala internasional, yaitu sendaratari Bumi Magelang, Festival Tidar, Magelang Tempo Doloe, Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika, dan Magelang Arts Event (MAE) 2015.