Rabu, 27 Mei 2015

SOSIALISASI UNDANG UNDANG NO. 24 TAHUN 2013 BAGI PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

Rabu Legi, 27 Mei 2015. Sebanyak 100 Penghayat dari berbagai organisasi/paguyuban Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah menjadi peserta dalam acara yang bertajuk Sosialisasi Undang Undang No. 24 Tahun 2013. Acara yang digelar di Hotel Aston Semarang ini difasilitasi oleh Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah.

Acara ini dilaksanakan secara panel dengan menghadirkan 2 pembicara. Pembicara pertama adalah  Direktur Penyerasian Kebijakan dan Perencanaan Kependudukan (PKPK), Direktorat Jenderal dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Joko Moersito. Materi yang disampaikan adalah "Pokok-pokok Substansi Undang Undang No. 24 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Undang Undang No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan"

Pembicara kedua adalah Kepala Dinas Kependudukan dan Catatn Sipil Kota Surakarta Drs. Suwarta, SH. MM. Materi yang disampaikan adalah "Daftarkan Keluarga dan Diri Anda, Ikuti Petunjuk Petugas". Sebagai moderator panel ini adalah Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Temanggung Agus Wahyudi.












Selasa, 26 Mei 2015

LOMBA TARI TOPENG TINGKAT SMP SE JAWA TENGAH

FLS2N SMP TINGKAT PROVINSI JAWA TENGAH

Selasa Kliwon 26 Mei 2015 bertempat di Gedung Jeddah Islamic Centre, lomba tari dalam rangka FLS2N SMP tingkat provinsi Jawa Tengah tahun 2015 dilaksanakan secara meriah. Lomba yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah ini diikuti sebanyak 35 tim tari siswa siswi SMP  dari 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah.

Lomba tari kali ini mengusung tema tari topeng. Topeng sebagai sumber inspirasi dalam menggali ide/gagasan siswa dalam mengembangkan budaya bangsa khususnya seni tari. Topeng sebagai kedok penutup wajah bisa terbuat dari kayu, kertas, atau rias wajah (make up).

Topeng sebagai salah satu kelengkapan seni tari bisa muncul di berbagai bentuk karya seni tari, baik yang tradisi maupun kreasi baru ataupun kontemporer. Berbekal kreativitas dibidang seni tari diharapkan mampu mengangkat serta menampilkan nilai-nilai budaya topeng sebagai pijakan/titik tolak menuu ke arah karya seni yang baru dan inovatif.

Penilaian lomba berdasarkan 3 aspek, yaitu original, kerativitas group dan kesatuan. Aspek Original mengutamakan kebaruan ide dan konep tema yang mengacu kepada kesesuaian jiwa anak SMP. Kreativitas group meliputi kreativitas garap ruang, gerak, dan waktu (dinamika). Sedangkan Kesatuan merupakan harmonisasi secara keseluruhan meliputi kesatuan ujud, rias/busana, iringan, ekspresi dan penyajian.

Juara lomba ditentukan oleh dewan juri yang terdiri dari Drs. Bintang Hanggoro Putra M.Hum, Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd dan Bambang Permadi, AAN, S.Kom. Dari perolehan jumlah nilai oleh dewan juri ditentukan 3 penampil terbaik menurut urutan penampilan yaitu dari Kabupaten Wonogiri (4), Kota Surakarta (16), dan Kabupaten Purworejo (28).

UPAYA PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA

SARASEHAN MALAM SELASA KLIWON DI KERATON SURAKARTA HADININGRAT

Senin Wage 25 Mei 2015, bertempat di  bangsal Semarakatha Kraton Surakarta Hadiningrat, para Penghayat Kepercayaan berkumpul bersama untuk melaksanakan sarasehan rutin malam selasa kliwon (anggoro kasih). Sarasehan yang dimulai pukul 20.30 ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin KRAT. H. Ach. Khailani Jaelani sebagai Ketua HPK Surakarta sekaligus Ketua Umum dan Sesepuh Purnomosidi Pusat Surakarta.
   
Kemudian diisi sambutan-sambutan secara berurutan dari Kepala Kejaksaan Negeri Surakarta, Kepala Bakor Pakem Surakarta, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, dan Ketua HPK Surakarta.

Setelah sambutan selesai dilanjutkan pemaparan materi yang dalam kesempatan ini Paguyuban Purnomosidi mendapat giliran sebagai pengisi materi sarasehan. Paparan selain dibagikan dalam bentuk hardcopy juga dibacakan juga menggunakan projector layar lebar oleh  Ketua Paguyuban Purnomosidi Cabang Surakarta R.M. Iskandar Asngadi.

Paparan yang mengambil tema "Upaya Pendekatan Diri Kepada Tuhan Yang Maha Esa" ini menjadi sebuah panduan yang positif dan mudah dimengerti bagi para pembaca khususnya yang masih awam dengan laku spiritual jawa. Diharapkan dengan disampaikan materi tersebut bisa menjadi sarana untuk menambah khasanah budaya spiritual jawa yang bersumber pada ajaran nenek moyang asli nusantara.













Kamis, 14 Mei 2015

SELEKSI LOMBA SENI TARI PADA FLS2N KOTA SEMARANG TAHUN 2015

Rabu Pahing 13 Mei 2015, Dinas Pendidikan Kota Semarang mengadakan Lomba Seni Tari Kreasi Baru dalam rangka FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) Tingkat SD (Sekolah Dasar). Lomba yang dimulai pukul 09.00 ini diikuti 16 regu yang berasal dari 16 Kecamatan yang ada di Kota Semarang.

Bermacam cara dalam menyajikan musik/gamelan sebagai pengiring dalam masing-masing tarian, baik dari media CD, DVD, Flashdisk, laptop, sampai dengan iringingan langsung atau biasa disebut live music. Yaitu dari kecamatan Tembalang dimana menampilkan tarian dengan nama tari Gugur Gunung sebagai pengiring tarian berupa gamelang langsung oleh tim karawitan dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Lomba tari ini mempunyai beberapa kriteria penilaian diantaranya, koreografi, keserasian tema dan performance. Penetuan juara lomba ditentukan oleh tim juri yang terdiri dari Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd, Dra. Malarsih, M,Sn dan Bambang Permadi, AAN, S.Kom. Dari jumlah penilaian 3 juri tersebut menghasilkan 3 penampil terbaik diantaranya, kec. Semarang Selatan sebagai penampil terbaik 1 dengan nilai  790, disusul Kec. Tembalang sebagai penampil terbaik 2 dengan nilai 780, dan Kec. Semarang Barat sebagai penampil terbaik 3 dengan nilai 755.

Dari hasil tersebut tim tari dari kecamatan Semarang Selatan akan mewakili Kota Semarang dalam Lomba Tari FLS2N tingkat provinsi Jawa Tengah.










Minggu, 03 Mei 2015

GOA LANGSE, PADEPOKAN SPIRITUAL PAGUYUBAN PENGHAYAT PURNOMOSIDI


Jumat Kliwon, 1 Mei 2015, rombongan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah beserta tim perekaman melakukan perjalanan menuju Yogyakarta, tepatnya di Parangtritis. Kali ini tujuan utamanya adalah ke Goa Langse, dimana goa ini menjadi tempat ritual Paguyuban Penghayat "Purnomosidi" Pusat Surakarta. Sesampai di Parangritis rombongan diterima langsung oleh Ketua Paguyuban KRAT. H. Ach. Khaelani Jaelani beserta keluarga dan para anggotanya. 
Malam harinya rombongan dinas beserta Paguyuban Purnomosidi melakukan pembekalan perjalanan menuju Goa Langse. Perjalanan dan proses perekaman tata ritual Purnomosidi rencana akan dilaksanakan keesokan harinya.

Sabtu Legi 2 Mei 2015, perjalananpun dimulai. Perjalanan dari Hotel Mini Paris menggunakan 4 (empat) mobil menuju lokasi hanya bisa sampai di tempat parkir. Setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil selama 30 menit sampilah di tempat parkir yang dimaksud. Perjalananpun dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 400 meter menuju "Pelawangan" (pintu masuk menuruni tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat).

Laku spiritual pertama pun dimulai. Menuruni tebing dengan berpegangan akar-akar tumbuhan yang berada ditebing yang sangat curam itu. Badan menghadap ke dalam (sisi tebing), sangat tidak disarankan untuk menghadap ke luar karena sekian centimeter adalah arena terjun bebas dengan bebatuan karang di bawah. Ketinggian tebing mencapai kurang lebih 120 meter dengan pemandangan hamparan samudera Indonesia yang sangat luas nan indah.


Medan untuk menuruni tebing sekarang sudah lebih dipermudah karena sudah ada beberapa tangga yang dibuat oleh Paguyuban Purnomosidi. Tetapi tidak semua jalur tebing ini dibuat tangga karena sulitnya medan dan kemiringan tebing.

Dengan meniti anak tangga dan berpijak pada bebatuan serta bergelantungan dengan akar pepohonan sampailah rombongan di dasar tebing. Perjalanan ini menempuh waktu hampir 2 jam karena banyak dari rombongan Dinbudpar Jateng yang baru pertama kali ini ikut turun tebing menuju goa langse.


Sesampai di dasar tebing, disuguhkan pemandangan lautan luas menjadi anugerah keindahan alam yang sangat luar biasa untuk dinikmati. Disini terdapat beberapa tempat yang sudah dibangun oleh Paguyuban Purnomosidi, lengkap dengan bangunan toilet dan air bersihnya. Terdapat pula "Paseban" sebagai tempat istirahat sekaligus bisa dijadikan sebagai tempat sarasehan.

Di batu terpisah, menjadi lokasi terluar terdekat dengan lautan terdapat "Sasana Adhiroso" sebagai tempat sujudan/manembah kepada Gusti Kang Maha Agung. Menuju tempat ini kita harus melewati Jembatan beton yang sempit tanpa pegangan dengan panjang 10 meter. Sekali lagi merupakan ujian untuk menuju Sasana Adhiroso karena betapa ngeri jika mata kita melihat kebawah jembatan yang terpampang bebatuan karang yang tinggi dan terjal.

Sebelum ritual dimulai, semua anggota Paguyuban melaksanakan persiapan diataranya pembuatan dan penyusuan sesaji/ubo rampe ritual yang terdiri dari tumpeng krobyong, jajan pasar dan buah-buahan. Setelah selesai mereka bersih diri/mandi dan berganti busana jawa lengkap (beskap untuk lelaki dan kebaya untuk perempuan). Kemudian dilanjutkan dengan sarasehan sebagai pengantar pembukaan ritual yang bertempat di paseban.  Sarasehan ini dipimpin langsung oleh ketua Paguyuban Purnonosidi KRAT. H. Ach. Khaelani Jaelan.

Kemudian kirab sesajipun dilaksanakan menuju goa langse yang berjarak kurang lebih 100 meter dari paseban. setelh mamasuki pintu goa terdapat anak tangga turun yang licin karena bekas hujan. Sesampai di dalam goa pembawa sesajipun diambil alih oleh para lelaki, karena para perempuan hanya sampai di hall tengah goa. Kirabpun berlanjut menuju ke dalam tepatnya di sebuah batu besar. Disitulah sesaji diletakkan tepat diatas batu punden, dan dilanjutkan dengan ritual semedi/sujudan.

Setelah melakukan sujudan, sesajipun dibawa kembali keluar goa menuju paseban. Sesaji selanjutnya dikirab menuju Sasana Adhiroso. Dengan melewati jembatan yang sempit dengan penuh keyakinan, para anggota paguyuban satu demi satu melaksanan hatur sungkem terlebih dahulu.

Sesaji tadi ditempatkan pada tempat yang telah disediakan dalam sasana adhirasa. Sesaat kemudian para anggota melaksanakan sujudan. Sujudan dengan membawaa ubo rampe/sesaji ini merupakan bentuk wujud rasa syukur kepada sang pencipta alam Gusti Kang Maha Agung atas semua anugerah dan karuniaNya yang telah diberikan melalui para Leluhur nusantara.

Selesai melaksanakan sujudan di sasana adhiroso, sesajipun dibawa kembali ke Paseban. Ritual selanjutnya adalah kungkum, atau berendam dilaut. Pada kesempatan ini para anggota diberi kesempatan untuk menempa diri. Hantaman ombak yang besar dari pantai selatan menjadi ujian yang tidak ringan.

Sesekali ombak besar datang menghampiri para anggota dan mereka harus bisa menahannya agar tidak benturan dengan batu karang yang ada disekeliling mereka. Selama kurang labih 30 menit kungkum pun selesai dan para anggota malakukan bersih diri. Kemudian semua peserta berkumpul di paseban untuk beristirahat dan dilanjutkan makan bersama.

Sesaji yang menjadi ubo rampe dalam ritual tadi dibagi rata kepada semua yang ikut dalam upacara ritual ini. Dengan memakan sesaji yang telah didoakan tadi diharapkan menambah kekuatan dan kemampuan dalam menjalani kehidupan dimasa yang akan datang.