Minggu, 03 Mei 2015

GOA LANGSE, PADEPOKAN SPIRITUAL PAGUYUBAN PENGHAYAT PURNOMOSIDI


Jumat Kliwon, 1 Mei 2015, rombongan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah beserta tim perekaman melakukan perjalanan menuju Yogyakarta, tepatnya di Parangtritis. Kali ini tujuan utamanya adalah ke Goa Langse, dimana goa ini menjadi tempat ritual Paguyuban Penghayat "Purnomosidi" Pusat Surakarta. Sesampai di Parangritis rombongan diterima langsung oleh Ketua Paguyuban KRAT. H. Ach. Khaelani Jaelani beserta keluarga dan para anggotanya. 
Malam harinya rombongan dinas beserta Paguyuban Purnomosidi melakukan pembekalan perjalanan menuju Goa Langse. Perjalanan dan proses perekaman tata ritual Purnomosidi rencana akan dilaksanakan keesokan harinya.

Sabtu Legi 2 Mei 2015, perjalananpun dimulai. Perjalanan dari Hotel Mini Paris menggunakan 4 (empat) mobil menuju lokasi hanya bisa sampai di tempat parkir. Setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil selama 30 menit sampilah di tempat parkir yang dimaksud. Perjalananpun dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 400 meter menuju "Pelawangan" (pintu masuk menuruni tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat).

Laku spiritual pertama pun dimulai. Menuruni tebing dengan berpegangan akar-akar tumbuhan yang berada ditebing yang sangat curam itu. Badan menghadap ke dalam (sisi tebing), sangat tidak disarankan untuk menghadap ke luar karena sekian centimeter adalah arena terjun bebas dengan bebatuan karang di bawah. Ketinggian tebing mencapai kurang lebih 120 meter dengan pemandangan hamparan samudera Indonesia yang sangat luas nan indah.


Medan untuk menuruni tebing sekarang sudah lebih dipermudah karena sudah ada beberapa tangga yang dibuat oleh Paguyuban Purnomosidi. Tetapi tidak semua jalur tebing ini dibuat tangga karena sulitnya medan dan kemiringan tebing.

Dengan meniti anak tangga dan berpijak pada bebatuan serta bergelantungan dengan akar pepohonan sampailah rombongan di dasar tebing. Perjalanan ini menempuh waktu hampir 2 jam karena banyak dari rombongan Dinbudpar Jateng yang baru pertama kali ini ikut turun tebing menuju goa langse.


Sesampai di dasar tebing, disuguhkan pemandangan lautan luas menjadi anugerah keindahan alam yang sangat luar biasa untuk dinikmati. Disini terdapat beberapa tempat yang sudah dibangun oleh Paguyuban Purnomosidi, lengkap dengan bangunan toilet dan air bersihnya. Terdapat pula "Paseban" sebagai tempat istirahat sekaligus bisa dijadikan sebagai tempat sarasehan.

Di batu terpisah, menjadi lokasi terluar terdekat dengan lautan terdapat "Sasana Adhiroso" sebagai tempat sujudan/manembah kepada Gusti Kang Maha Agung. Menuju tempat ini kita harus melewati Jembatan beton yang sempit tanpa pegangan dengan panjang 10 meter. Sekali lagi merupakan ujian untuk menuju Sasana Adhiroso karena betapa ngeri jika mata kita melihat kebawah jembatan yang terpampang bebatuan karang yang tinggi dan terjal.

Sebelum ritual dimulai, semua anggota Paguyuban melaksanakan persiapan diataranya pembuatan dan penyusuan sesaji/ubo rampe ritual yang terdiri dari tumpeng krobyong, jajan pasar dan buah-buahan. Setelah selesai mereka bersih diri/mandi dan berganti busana jawa lengkap (beskap untuk lelaki dan kebaya untuk perempuan). Kemudian dilanjutkan dengan sarasehan sebagai pengantar pembukaan ritual yang bertempat di paseban.  Sarasehan ini dipimpin langsung oleh ketua Paguyuban Purnonosidi KRAT. H. Ach. Khaelani Jaelan.

Kemudian kirab sesajipun dilaksanakan menuju goa langse yang berjarak kurang lebih 100 meter dari paseban. setelh mamasuki pintu goa terdapat anak tangga turun yang licin karena bekas hujan. Sesampai di dalam goa pembawa sesajipun diambil alih oleh para lelaki, karena para perempuan hanya sampai di hall tengah goa. Kirabpun berlanjut menuju ke dalam tepatnya di sebuah batu besar. Disitulah sesaji diletakkan tepat diatas batu punden, dan dilanjutkan dengan ritual semedi/sujudan.

Setelah melakukan sujudan, sesajipun dibawa kembali keluar goa menuju paseban. Sesaji selanjutnya dikirab menuju Sasana Adhiroso. Dengan melewati jembatan yang sempit dengan penuh keyakinan, para anggota paguyuban satu demi satu melaksanan hatur sungkem terlebih dahulu.

Sesaji tadi ditempatkan pada tempat yang telah disediakan dalam sasana adhirasa. Sesaat kemudian para anggota melaksanakan sujudan. Sujudan dengan membawaa ubo rampe/sesaji ini merupakan bentuk wujud rasa syukur kepada sang pencipta alam Gusti Kang Maha Agung atas semua anugerah dan karuniaNya yang telah diberikan melalui para Leluhur nusantara.

Selesai melaksanakan sujudan di sasana adhiroso, sesajipun dibawa kembali ke Paseban. Ritual selanjutnya adalah kungkum, atau berendam dilaut. Pada kesempatan ini para anggota diberi kesempatan untuk menempa diri. Hantaman ombak yang besar dari pantai selatan menjadi ujian yang tidak ringan.

Sesekali ombak besar datang menghampiri para anggota dan mereka harus bisa menahannya agar tidak benturan dengan batu karang yang ada disekeliling mereka. Selama kurang labih 30 menit kungkum pun selesai dan para anggota malakukan bersih diri. Kemudian semua peserta berkumpul di paseban untuk beristirahat dan dilanjutkan makan bersama.

Sesaji yang menjadi ubo rampe dalam ritual tadi dibagi rata kepada semua yang ikut dalam upacara ritual ini. Dengan memakan sesaji yang telah didoakan tadi diharapkan menambah kekuatan dan kemampuan dalam menjalani kehidupan dimasa yang akan datang.
















 








 




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar