Selasa, 16 Juni 2015

DUGDERAN, UPACARA TRADISI PEMERSATU MASYARAKAT KOTA SEMARANG

Semarang, Selasa Legi 16 Juni 2015. Upacara berbahasa Jawa di halaaman balai kota Semarang mengawali Karnaval Dugderan yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Kota Semarang dalam menyambut datangnya Bulan Puasa 2015. Para peserta karnaval Dugderan sudah tampak menyemut di Balai Kota Semarang sejak pukul 12 siang, yang menjadi titik rute awal sebelum berkonvoi menuju Masjid Agung Kauman Semarang.


Tampak dalam karnaval Dugderan itu, perwakilan dari kecamatan-kecamatan di Kota Semarang, antara lain Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Barat, Pedurungan, Genuk, dan Banyumanik. Pelajar yang mewakili sekolah juga terlihat. Ikon khas Kota Semarang, yakni Warak Ngendog yang merupakan binatang imajiner perpaduan kambing dan naga ditampilkan dalam bentuk replika oleh masing-masing peserta Dugderan.

Hiasan pendukung yakni kembang manggar yang dibuat dari lidi berbalut kertas minyak berwarna-warni serta kesenian liong dan barongsai yang atraktif juga ikut dalam karnaval tersebut. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan karnaval Dugderan merupakan tradisi yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kota Semarang sebagai penanda segera datangnya Ramadhan.

"Termasuk pada tahun ini. Ini (karnaval Dugderan, red.) sebagai tanda bulan Ramadhan segera tiba. Namun, kami tetap menunggu pemberitahuan pemerintah tentang awal puasa," katanya.

Dugderan, kata Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi itu, mengatakan menjadi pelestarian tradisi turun temurun untuk menghormati para pendahulu dan juga bisa untuk menarik wisatawan.

Pada kesempatan itu, Hendi beserta istri, Krisseptiana Hendrar Prihadi, menaiki bendi menuju Masjid Kauman Semarang untuk pembacaan shuhuf ulama sebagai simbol penentuan awal puasa.Belasan bendi yang dinaiki para pejabat, di antaranya Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi dan jajaran
satuan kerja perangkat daerah (SKPD) mengiringi bendi yang dinaiki wali kota.

Diawali dari halaman Balai Kota berupa pertunjukan seni dan atraksi tari warak ngendhog, prosesi dilanjutkan dengan upacara pembukaan yang dipimpin Wali Kota Hendrar Prihadi. Pembukaan dilaksanakan pukul 13.30, ditandai pemukulan bedug oleh Raden Mas Aryo Purboningrat yakni Bupati Semarang yang pertama kali menggelar tradisi Dugderan pada 1881, yang diperankan Hendrar Prihadi.

Usai upacara, Wali Kota beserta jajaran pejabat Muspida menaiki kereta kencana dikawal pasukan berkuda dan bendi hias menuju Masjid Besar Kauman. Arak-arakan semakin meriah dengan hadirnya maskot dugder, yakni warak ngendhog serta kembang manggar.

Kemeriahan karnaval mengundang antusiasme warga, yang memadati sepanjang rute. Kirab dugderan tiba di Masjid Kauman pukul 15.00. Saat itu, Hendi sapaan akrab wali kota Semarang itu memakai pakaian beskap Jawa berwarna merah dengan corak batik khas semarangan. Rombongan Wali Kota masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat Ashar selama 15 menit.
PRIHATIN
Usai menggelar ritual dan bertemu para sesepuh, Hendi kemudian mengajak ratusan pengunjung dugderan untuk mendoakan korban bencana kebakaran Pasar Johar. Beliau mengatakan, dugderan tahun ini tetap dilaksanakan meski dikemas lebih sederhana dari tahun sebelumnya.

”Kami jalankan prosesi lebih sederhana karena ikut prihatin atas musibah kebakaran Pasar Johar" Tuturnya. Pasar Johar terbakar ludes pada 9 Mei lalu. Usai prosesi di Masjid Kauman, rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Proses pembacaan shuhuf diikuti penabuhan beduk dan bunyi dentuman meriam, pembagian kue ganjel rel, dan air hataman Al Quran, dilanjutkan kirab menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Rombongan Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat (Hendrar Prihadi) tiba di MAJT sekitar pukul 16.30. Kedatangannya sudah ditunggu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua Badan Pengurus MAJT, Noor Achmad.


Memasuki ruangan utama MAJT, Hendi memberikan Suhuf Khalakoh kepada Ganjar dan berharap Ramadan kali ini dapat dijalani dengan penuh keikhlasan. Ganjar yang berperan sebagai Raden Mas Tumenggung Probo Hadikusumo menerima Suhuf Khalakoh dan berterima kasih kepada Hendrar Prihadi.

Sambutan yang dibawakan dalam bahasa jawa baik wali kota Hendi maupun Ganjar semakin memberikan kesan kental akan budaya jawa. “Tradisi ini harus kita pertahankan untuk menanamkan rasa handarbeni, dan cinta terhadap budaya lokal,” ungkapnya yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia.

Sebagai tradisi budaya khas Semarang, lanjutnya, dugderan mengandung makna ungkapan suka cita, khususnya kaum Muslim menyambut Ramadan.

Namun yang lebih penting adalah event ini mengandung makna kebersamaan yang dilambari semangat mengangkat kearifan budaya lokal yang digambarkan dengan ikon warak ngendhog. Ikon ini menyiratkan kebersamaan, kerukunan, dan guyubnya masyarakat tanpa melihat etnis atau latar belakang budaya, agama maupun kepercayaan.






















Kamis, 11 Juni 2015

MEMBANGUN ETIKA DAN MORAL UNTUK JATI DIRI BANGSA

Kamis Legi, 11 Juni 2015 betempat di Jepara, 120 generasi muda se Kabupaten Jepara berkumpul mengikuti Acara yang bertajuk Peningkatan Penanaman Watak dan Pekerti Bangsa. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jepara.

Acara yang dikemas dalam bentuk sarasehan ini dilaksanakan sehari penuh, dibuka pukul 08.30 dan berakhir pukul 16.00. Dalam acara pembukaan kegiatan ini ada tampilan atraksi budaya khas Jepara yaitu geguritan ulang tahun anak, diperankan 12 remaja, dimana salah satu remaja putri berperan menjadi ibu muda dan menggendong anaknya yang berulang tahun. Dengan tembang/nyanyian jawa khas Jepara dialunkan sebagai doa dan harapan untuk si bayi agar kedepan menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Setelah selesai nembang ditutup dengan makan tumpeng bersama.

Acara selanjunya adalah sambutan panitia dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah yang dalam kali ini diwakili oleh Kabid NBSF (Nilai Budaya Seni dan Film) Drs. Mulyono, M.Pd. Setelah acara pembukaan selesai, dilanjutkan pemaparan materi oleh para pembicara/narasumber yang diantaranya Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara Mulyaji, SH. MM. kemudian dilanjutkan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Kabupaten Jepara Amin Yahudi dan dari PGRI Kabupaten Jepara Harmanto, M.Pd. Setelah istirahat dilanjutkan dengan penyampaian materi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jepara yang paparkan oleh Udik Agus DW, S.Pd.










Selasa, 09 Juni 2015

LOMBA TARI WARAK, RAMAIKAN SEMARANG SAMBUT DUGDERAN

Sebanyak 16 peserta dari 16 kecamatan yang ada di kota Semarang, ikut meramaikan lomba tari warak di Hall Balai Kota Semarang, hari ini (9/6).

Lomba yang difasilitasi Dinas Keebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang ini diadakan dalam rangka menyambut Dugderan yang secara rutin dilaksanakan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Tari ini mempunyai ke khas sendiri, diantaranya memnggunakan property "Warak Ngendog" yang diusung minimal 4 penari.

FESTIVAL DALANG ANAK, GALI POTENSI ANAK PEWARIS BUDAYA JAWA

Dalam rangka untuk melestarikan budaya tradisional jawa, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Klaten, Jawa Tengah, menggelar festival dalang anak di Joglo Monumen Juang 1945 Klaten Utara, kemarin (8/6)

Sejumlah anak berusia 6- 12 tahun ikuti festival dalang cilik di Monumen juang 45 Klaten yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Klaten, Senin(8/6/). 

Festival dalang anak yang diikuti 10 peserta itu, kata Kepala Disbudparpora Joko Wiyono, juga bertujuan mencari bibit sebagai upaya regenerasi. Sehingga, julukan Klaten sebagai gudang dalang dapat dipertahankan. "Untuk pelestarian seni budaya warisan leluhur ini, kami rutin setiap tahun menggelar festival dalang anak. Bahkan, pernah juga mengadakan festival yang diikuti peserta dari Soloraya dan Daerah Istimewa Yogyakarta," imbuhnya.

Namun, festival kali ini hanya untuk anak-anak lokal Klaten. Jumlah peserta 10 anak dengan usia 9-13 tahun. Para penampil terbaik I, II, III, serta harapan I dan II mendapatkan piala, piagam, dan uang pembinaan. 

Kasie Bahasa Seni dan Budaya Sri Widaryanti mengatakan,festival dalang cilik ini diadakan untuk menggali pontesi kesenian dalang yang menjadi budaya leluhur, serta menggali bakat anak bangsa yang akan mewarisi budaya jawa yang akan datang.“ Ya, tujuan kita adalah mencari bakat pada anak, karena merekalah yang kelak akan mewarisi budaya leluhur kita,”ucapnya

Dewan juri berasal dari ISI Solo, ISI Jogjakarta dan Pepadi (Persatuan Dalang Seluruh Indonesia) yang ada di Klaten. Dari sepuluh dalang cilik diambil 5 (lima) pemenang, masing- peserta akan mendapatkan uang pembinaan total Rp.12 juta yang dianggarkan dari APBD, jelas Sri Widaryanti.

Ada yang menarik dalam festival itu, seorang dalang cilik asal SD Klaten Tengah saat memainkan Punokawan Petruk, Gareng dan Bagong menyinggung Disbubparpora terkait pengadaan pentas seni yang hanya jangan difestival saja. 

"Truk (Petruk) gelar wayang ini jangan hanya digelar dalam festival saja, tapi juga diadakan secara rutin. Agar generasi dalang ini bisa trus mengembangkan bakatnya. Kemudian disaut oleh Gareng, seharusnya begitu masak hanya festival saja," cetusnya dalam memainkan punokawan itu.  

Nomer pentas 7 asal SD Kanisius Benediktus(9) dengan mengambil lakon narantoko, mengutarakan, mengikuti festival wayang merupakan menyalurkan bakat mewayang. Kata dia, menyenangi wayng sejak duduk dibangku TK, dan bakat yang dimilikinya, lamjut dia,  keturunnya dari almarhum kakeknya  dalang kodang diera 70an yakni Narto Sabdo. 

"Saya ingin seperti kakek yang dulu pernah menjadi dalang kondang di Klaten  dan sekitarnya. Saya pernah ikut lomba disejumlah tempat dan juga pernah mendapat juara favorit," terangnya. 


OMAH WAYANG KLATEN

Salah satu penggagas dan mempunyai banyak andil dalam Festival Dalang anak ini adalah Omah Wayang. Di Dusun Jombor, Desa Danguran, Kabupaten Klaten, Jateng, berjarak kurang lebih satu kilometer dari jalan utama (Yogya-Solo), terdapat Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Dewi Fortuna yang kondang karena 'Omah Wayang'-nya.

Saat menyusuri jalan desa disambut hamparan sawah dan jajaran pohon pelindung yang menjadi ciri khas suasana perdesaan ketika akhirnya disambut sebuah gapura kayu menandai pintu masuk ke kompleks PKBM Dewi Fortuna. Kompleks yang dibangun di atas tanah seluas lebih dari 800 meter tersebut memiliki beberapa bangunan sederhana dan panggung pertunjukan seni budaya.

Di atas tanah tersebut, Kristian Apriyanta mendirikan PKBM Dewi Fortuna Sebagai lembaga satuan pendidikan nonformal berbasis seni dan kewirausahaan bersama seniman Ki R Tmg Suwito Dipuro, SKar, dosen Ki Drs Nuryanto, M Hum sekaligus bersama-sama menggagas Omah Wayang, sebuah pusat studi seni tradisional.

PKBM Dewi Fortuna yang beralamat di Jalan Arimbi, Jombor, Danguran, Klaten Selatan, kini berkembang menjadi pusat studi budaya, pendidikan keaksaraan, pembuatan wayang, penjualan cinderamata, pelatihan dalang, pelatihan kesenian Kethopak, dan masih banyak kegiatan pendidikan bagi masyarakat.

Kehadiran Dewi Fortuna lama-kelamaan dikenal masyarakat sekitar karena telah menjadi kebutuhan, Banyak warga belajar yang datang dari kota-kota lain se-Jawa Tengah maupun dari provinsi lain, bahkan ada pula yang berasal dari mancanegara.





Minggu, 07 Juni 2015

DHANYANG SETYOWATI SUKODOK MEMBANGUN RUMAH


 
Suatu kabar menggembirakan tentunya dalam sebuah perkawinan apalagi setelahnya dilahirkan keturunan hasil buah hati kedua insan. Kabar tersebut memang lazim didengar dan dilihat secara kasat mata namun kali ini lain, justru kabar kebahagian itu datang dari alam lain atau biasa disebut alam ghoib. Seperti diketahui perkawinan dua alam pada Oktober 2014 tahun lalu antara Bagus Sukodok Ibnu Sokodok yang biasa dipanggil Mbah Kodok dengan Roro Peri Setyowati kini telah dikaruniai anak kembar dampit. ( baca : Bagus Kodok Ibnu Sukodok Daup Peri Roro Setyowati)

Sebelumnya Roro Peri Setyowati yang tidak lain Dhanyang Alas Margo masuk wilayah Desa Begal, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, diyakini hamil tua buah hati dengan Mbah Kodok (63) seorang pria kelahiran Solo, Jawa Tengah. Kabar kebahagian Mbah Kodok tersebut datang dari Bramantyo Prijosusilo melalui siaran pers yang dikeluarkan sekitar 19.00 WIB pada Minggu malam (31/05). Dalam siaranya pukul 16.45 WIB tadi atau Minggu sore (31/05), menurut hitungan waktu manusia, Setyowati melahirkan bayi kembar dampit yakni laki-laki dan perempuan. Kedua jabang bayi sehat kuat dan tidak kekurangan sesuatu apapun.

Puncak acara sepasaran bayi plus mbangun rumah memang sudah jamak atau hal biasa ditengah masyarakat. Tapi yang satu ini lain dari hal jamak itu tadi, inilah karya besar Bramantyo Prijosusilo mampu mengemas sesuatu yang tidak mungkin menjadi nyata untuk dinikmati khalayak umum hasilpun bisa memotifasi pihak lainya.

Karya tersebut tersaji pada puncak acara sepasaran bayi buah hati hasil dari perkawinan Sukodok Ibnu Sukodok biasa dipanggil Mbah Kodok dengan Peri Roro Setyowati. Seperti ditulis sebelumnya Peri Roro Setyowati yang tidak lain Dhanyang Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom di Alas Begal, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, telah melahirkan bayi kembar dampit seminggu lalu.

Kini, kedua bayi tersebut oleh Mbah Kodok diberi ‘tetenger’ atau nama Joko Samudro dan Sri Parwati. Seminggu lebih kemudian dalam istilah Jawa ‘sepasaran’ atau syukuran akan lahirnya si jabang bayi dilangsungkan selama dua hari dan tepatnya pada Minggu, (07/06), dilangsungkan puncak acaranya.

Sesuai pantauan wartawan, puncak acara sepasaran bayi tersebut cukup meriah terbukti ribuan warga dari berbagai daerah hadir. Tidak terkecuali Bupati Ngawi Budi Sulistyono (Kanang) menyempatkan hadir berbaur ditengah para pengunjung lainya. Dalam sepasaran bayi seperti lazimnya terlihat komplit ‘ubo rampenya’ seperti buceng atau nasi gunungan, urap dan lauk pauk melengkapi hajatan Mbah Kodok.

“Hari ini cukup luar biasa acara milik Mbah Kodok mampu menyedot animo masyarakat. ungguh luar biasa. Mereka yang jagong bayi sungguh lengkap para wisatawan, para seniman, wartawan. Saya berharap nanti kalau pas ulang tahun bahkan khitanan anak Mbak Kodok dimeriahkan lagi seperti ini,” ujar Kanang.

Dia mengaku dengan mata bathinya bisa merasakan kehadiran Peri Roro Setyowati serta kedua anaknya, Joko Samudro dan Sri Parwati. Ia juga mengaku merasakan kehadiran sejumlah tamu dari alam khayangan yang turut mengundang acara itu. “Saya kira yang bisa lihat ya bisa dan yang tidak melihat tentunya memang tidak diperkenankan melihat,” tandasnya lagi.

Sementara Bramantyo Prijosusilo si pembesut seni kejadian (happening art) sepasaran bayi anak Mbah Kodok plus mbangun rumah tidak lebih sebuah inspirasi terhadap lingkungan. Namun persiapanyapun membutuhkan waktu panjang hampir tiga bulan. Dengan melakukan penggalangan dukungan dari rakyat dan seluruh elemen di Pemkab Ngawi. “Persiapan kita membuat rumah Peri Setyowati sekitar tiga bulan tanpa ada kendala yang berati,” ungkap Bramantyo Prijosusilo.

Sambungnya, rumah bagi Peri Roro Setyowati sebuah perwujudan kraton ghoib. Kasatmatanya kelihatan dalam bentuk hutan konservasi ditambah kebun hutan (agroforest) secara tradisional tercipta kokoh baik ekologis, kultural dan estetis. Lebih detailnya kupas Bramantyo, seni kejadian Mbah Kodok mbangun rumah sekaligus syukuran sepasaran bayinya tidak lain sebuah pengharapan untuk peduli pada alam.

Alasan tersebut didasari rusaknya ekosistem hutan akibat ulah manusia seperti di Alas Begal. Sehingga perlu reboisasi terhadap kawasan hutan sebagai satu kesatuan terhadap pelestarian sumber mata air baik di Sendhang Margo maupun Sendhang Ngiyom. Sesuai scedul yang telah dibuat Bramantyo, rumah atau kawasan hutan di Alas Begal akan dibangun secara bertahap.

Diawali pada Oktober 2015 nanti dengan melakukan penanaman pohon di area 6 hektar yang melibatkan langsung warga masyarakat sekitar hutan. Dimana estimasi luasan penanaman pohon tersebut sebagai daerah penyangga mata air. Diakhir acara Mbah Kodok membenarkan mbangun rumah untuk Peri Roro Setyowati sebuah jawaban akan kecintaan terhadap alam sebuah anugerah dari Tuhan yang wajib disyukuri.

Kemudian seperti terlihat penyajian karya cipta Bramantyo Prijosusilo dikemas cukup apik dan natural. Didukung para pelaku seni antara lain dari Paguyuban Angkringan Silat dari Yogjakarta, sajian tarian dari Paguyuban Kartiko Jati asal Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ditambah para penari Tejokusuman dari Yogjakarta.








Jumat, 05 Juni 2015

MENYAMBUT AMBAL WARSA BUNG KARNO DI PENJARA BANCEUY BANDUNG

Banyak ide yang muncul dalam benak, tatkala dalam sebuah pagelaran yang cukup mengusik nurani di gelap dan senyapnya malam, ditemani tamaran sinar lilin 114 yang mengelilingi patung Bung Karno dalam teduhnya payung kertas.
Jumat Kliwon malam Sabtu Legi (05/06/15) menjadi malam yang kidmat dan menyentuh kalbu. Upacara Renungan Suci ini diadakan oleh Kelompok Anak Rakyat (Lokra) bersama sejumlah komunitas seni dan aktivis dalam rangka memeringati 114 tahun kelahiran Presiden pertama Soekarno di monumen Penjara Banceuy Bandung, Jawa Barat.

Acara ini diadakan sebagai upaya mengenang kembali ajaran dan nilai-nilai kebangsaan yang dilahirkan dari pemikiran seorang Bung Karno.

Peringatan dibuka dengan tari Renungan Suci yang dibawakan oleh dua penari dari Lokra. Acara yang diselenggarakan oleh, dihadiri cucu Soekarno, Tito Asmarahadi yang menjadi inspektur upacara. Malam renungan suci berlangsung dalam keadaan gelap gulita.


Penjara Banceuy ini terletak di Bandung ibu kota provinsi Jawa Barat. Penjara atau Lembaga Pemasyarakatan ini dulunya didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda tepatnya pada tahun 1871, yang dipergunakan sebagai penjara tahanan bagi kaum pribumi yang terkena sanksi hukum kriminal, mau pun bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik yang bersifat menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda saat itu.


Penjara Banceuy kondisinya saat ini sangatlah memprihatinkan dimana berada tepat di pusat bisnis / pertokoan kota Bandung, dan kini hanyalah tersisa sebuah bagunan bekas Menara Pengawas dan bangunan bekas Sel Penahanan Bung Karno sebagai salah seorang Proklamator RI. Di Sebelah Sel Blok F No : 5  tempat dimana dahulu Bung Karno mendekam sebagai tawanan pemerintah kolonial Belanda ini terdapat sebuah tugu peringatan dalam bentuk Bola Batu yang terbelit Rantai yang kokoh. Yang merupakan simbol dari kuatnya belenggu rantai penjajahan saat itu. Dan dari dalam sel yang sempit sekaligus pengap Penjara Banceuy inilah,  Bung Karno dahulu menyusun Pledoi / Naskah Pembelaan dirinya yang kemudian diberi judul Indonesie Klaagt Aan atau Indonesia Menggugat.

KADO ULANG TAHUN
Kini, eks Penjara Banceuy juga menggambarkan ironi Indonesia yang kaya sejarah. Setelah kompleks penjara itu diruntuhkan dan diganti pusat perbelanjaan Banceuy Permai tahun 1986, hanya sel nomor 5 dan satu menara pengawas yang tersisa. Terimpit di antara pertokoan yang menjulang tinggi, salah satu jejak Soekarno itu terasing di antara gedung pertokoan modern.

Baru menjelang Konferensi Asia Afrika pada April 2015, sel nomor 5 kembali menjadi perhatian. Pemerintah Kota Bandung merenovasi kawasan itu. Ada patung perunggu setinggi 1 meter karya seniman Surya Pernawa. Pagar berkarat juga diganti tembok batu andesit dan basalt. Batuan yang sama ikut mempercantik lantai yang dulu ditumbuhi rumput liar.

Salah satu anggota tim revitalisasi, Fatiadi, mengatakan, renovasi eks Penjara Banceuy ini sebenarnya belum rampung 100 persen. Dinding batu di sayap kanan dan kiri sel nomor 5 belum selesai. Saat ditanya kapan akan diselesaikan, ia mengatakan masih menunggu persetujuan lanjutan dari Pemerintah Kota Bandung.

"Meski belum sepenuhnya rampung, semoga bisa menjadi kado ulang tahun bagi Soekarno," harap Fatiadi.

Kado ulang tahun juga diberikan Leli Mei lewat monolog "Inggit Garnasih" yang ditampilkan di antara lilin-lilin yang menyala semakin terang, Jumat malam lalu. Leli seperti mendongeng, mulai dari pertemuan Inggit dengan Soekarno, beragam bantuan bagi Soekarno menyelesaikan naskah pleidoi "Indonesia Menggugat", hingga kisah perpisahan antara Inggit dan Soekarno di Bengkulu.

Tidak jauh dari Leli yang berkisah penuh semangat, Ahmad (49), juru kunci sel nomor 5, justru tengah galau. Pikirannya melayang teringat anaknya, Yudi Suwardi (19), yang kini tinggal di Cigadung, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Nasib Yudi tidak menentu setelah lulus dari salah satu SMK di Kuningan, setahun lalu. Keinginan melanjutkan kuliah mengambil jurusan pertanian sudah terkubur akibat keterbatasan biaya.
"Saya tidak punya uang Rp 1,7 juta untuk menebus ijazah kelulusan Yudi. Uang itu adalah biaya gedung yang seharusnya dibayar saat pertama masuk SMK," katanya.

Ahmad mengatakan, bertanggung jawab memegang kunci sel nomor 5 bukan berarti dia hidup sejahtera. Selama lebih kurang 26 tahun sejak tahun 1986, ia tak dibayar merawat sel itu. Tidak ada upah yang diterima dari pemerintah.

"Saya disewa pengelola di sini untuk menjaga kebersihan dan keamanan kompleks perbelanjaan ini. Karena berada dalam kompleks, sel nomor 5 ini juga menjadi tanggung jawab saya," katanya.

KELUH KESAH
Tahun berganti, peran Ahmad diakui pemerintah daerah pertengahan 2014. Ia mendapat upah Rp 700.000 per bulan. Meski lebih kecil ketimbang upah petugas sapu jalan di Kota Bandung yang dibayar sekitar Rp 1,5 juta per bulan, uang itu diakuinya punya peran menambah penghasilan.

"Selain menjadi juru kunci, saya punya usaha menjaga WC umum tak jauh dari sini. Dari sana, saya bisa mengumpulkan Rp 2 juta per bulan. Semuanya saya kirimkan untuk keluarga di Kuningan. Di Bandung, saya tinggal sendiri di atas WC yang saya jaga. Luas ruangannya lebih kurang sama dengan sel ini," kata Ahmad merendah.

Nasib Ahmad tidak jauh berbeda dengan Redi (50), buruh renovasi eks Penjara Banceuy yang ditemui di depan sel nomor 5 yang tengah diperbaiki awal April lalu.

Terhitung pada Jumat lalu, sudah seminggu Redi meninggalkan rumahnya di Majalaya, Kabupaten Bandung, berjarak 30 kilometer dari Kota Bandung. Dijanjikan bayaran Rp 100.000 per hari, ia tidur bersama 30 pekerja lainnya di salah satu ruko dekat sel nomor 5. Mimpi membawa anaknya kembali ke sekolah menjadi semangat paling besar. Sejak setahun terakhir, anak perempuannya putus sekolah selepas lulus SMP. "Saya butuh uang untuk biaya sekolah anak," ujarnya lirih.

Revitalisasi eks Penjara Banceuy menjadi salah satu hadiah peringatan hari lahir ke-114 Soekarno. Entah apa perasaan Soekarno apabila mendengar keluh kesah anak-anak bangsa di dekat selnya, yang kemerdekaan dan kesejahteraannya pernah ia perjuangkan dari sana.


SEBAB BUNG KARNO DI PENJARA
Pada awalnya, Bung Karno dianggap anak manis dalam Pergerakan Nasional di Indonesia, tapi dengan gagasannya soal Perang Asia Pasifik maka Sukarno dianggap memancing keributan yang lebih berbahaya lagi yaitu “Masuknya kekuatan Internasional dalam menggugat jajahan Belanda” dalam hal ini Jepang. 

Pada tanggal 28 Desember 1929, Sukarno diundang oleh Raden Mas Sujudi dari Yogyakarta untuk berbicara di depan rapat politik kaum kebangsaan di Solo. Sukarno datang dan berpidato di Solo dengan penuh semangat dan gayanya yang dramatik : Imperialis, perhatikanlah! Dalam waktu tidak lama lagi, Perang Pasifik menggeledek menyambar-nyambar membelah angkasa, ”Apabila, Samudera Pasifik merah oleh darah, dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan bom dan dinamit. Di saat itulah rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka”

Disini Sukarno terus menerus menulis tentang kemerdekaan yang akan terjadi, artinya Sukarno memberikan visi agar rakyat Indonesia bersiap. Dan tulisan Sukarno memang dibaca hampir seluruh rakyat Indonesia yang terdidik lewat koran-koran, hal yang menunjukkan betapa tulisan Sukarno bisa menjadikan alam bawah sadarnya adalah ucapan Jenderal Nasution ketika ditawari oleh agen asing untuk memberontak melawan Sukarno tapi Nasution menolak dan menjawab dengan tegas “Sejak saya kecil, sejak saya tak tau apa artinya Nasionalisme, Sukarno-lah yang mengajari saya lewat tulisan-tulisannya di koran-koran tentang Nasionalisme, dialah yang menyadari saya tentang sebuah KeIndonesiaan di masa saya muda”. 

Sukarno sudah melihat Perang Asia Pasifik sebagai alat paling penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Disini Sukarno sudah melakukan sebuah Pemetaan yang jelas dan tahapan-tahapan pasti kepada rakyat Indonesia.
Gara-gara pidato di atas Sukarno kemudian ditangkap oleh Polisi Belanda, Rumah Sujudi digerebek dan seluruh rombongan Sukarno digelandang ke halaman lalu disuruh ganti pakaian di halaman dan kemudian diangkut truk ke Stasiun Tugu Yogyakarta, dimasukkan ke Gerbong Khusus tanpa jendela dibawa ke Bandung untuk diadili. Di depan Landraad (Pengadilan) Sukarno berkata terus menerus tentang sumber daya alam yang dikeruk Belanda.

Bersama rekan – rekannya yang juga merupakan para Tokoh Pendiri PNI (Partai Nasional Indonesia) Gatot Mangku Praja, Maskoen dan Soepriadinata, Bung Karno pun mendekam selama kurang lebih 8 bulan dengan status tahanan politik pemerintah Hindia Belanda. Pledoi (Pidato Pembelaan) yang disusunnya dari dalam ruang sempit sel tahanan berukuran panjang 2.5 meter dan lebar 1.5 meter ini, ternyata menjadi sangat terkenal menggetarkan tembok – tembok keangkuhan belenggu penjajahan. 

Naskah pidato yang di namainya dengan judul INDONESIA MENGGUGAT itu dibacakan Bung Karno pada tanggal 18 Agustus s/d 22 Desember 1930, pada saat sidang pengadilannya di gedung yang kini disebut Gedung Indonesia Menggugat.