Minggu, 07 Juni 2015

DHANYANG SETYOWATI SUKODOK MEMBANGUN RUMAH


 
Suatu kabar menggembirakan tentunya dalam sebuah perkawinan apalagi setelahnya dilahirkan keturunan hasil buah hati kedua insan. Kabar tersebut memang lazim didengar dan dilihat secara kasat mata namun kali ini lain, justru kabar kebahagian itu datang dari alam lain atau biasa disebut alam ghoib. Seperti diketahui perkawinan dua alam pada Oktober 2014 tahun lalu antara Bagus Sukodok Ibnu Sokodok yang biasa dipanggil Mbah Kodok dengan Roro Peri Setyowati kini telah dikaruniai anak kembar dampit. ( baca : Bagus Kodok Ibnu Sukodok Daup Peri Roro Setyowati)

Sebelumnya Roro Peri Setyowati yang tidak lain Dhanyang Alas Margo masuk wilayah Desa Begal, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, diyakini hamil tua buah hati dengan Mbah Kodok (63) seorang pria kelahiran Solo, Jawa Tengah. Kabar kebahagian Mbah Kodok tersebut datang dari Bramantyo Prijosusilo melalui siaran pers yang dikeluarkan sekitar 19.00 WIB pada Minggu malam (31/05). Dalam siaranya pukul 16.45 WIB tadi atau Minggu sore (31/05), menurut hitungan waktu manusia, Setyowati melahirkan bayi kembar dampit yakni laki-laki dan perempuan. Kedua jabang bayi sehat kuat dan tidak kekurangan sesuatu apapun.

Puncak acara sepasaran bayi plus mbangun rumah memang sudah jamak atau hal biasa ditengah masyarakat. Tapi yang satu ini lain dari hal jamak itu tadi, inilah karya besar Bramantyo Prijosusilo mampu mengemas sesuatu yang tidak mungkin menjadi nyata untuk dinikmati khalayak umum hasilpun bisa memotifasi pihak lainya.

Karya tersebut tersaji pada puncak acara sepasaran bayi buah hati hasil dari perkawinan Sukodok Ibnu Sukodok biasa dipanggil Mbah Kodok dengan Peri Roro Setyowati. Seperti ditulis sebelumnya Peri Roro Setyowati yang tidak lain Dhanyang Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom di Alas Begal, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, telah melahirkan bayi kembar dampit seminggu lalu.

Kini, kedua bayi tersebut oleh Mbah Kodok diberi ‘tetenger’ atau nama Joko Samudro dan Sri Parwati. Seminggu lebih kemudian dalam istilah Jawa ‘sepasaran’ atau syukuran akan lahirnya si jabang bayi dilangsungkan selama dua hari dan tepatnya pada Minggu, (07/06), dilangsungkan puncak acaranya.

Sesuai pantauan wartawan, puncak acara sepasaran bayi tersebut cukup meriah terbukti ribuan warga dari berbagai daerah hadir. Tidak terkecuali Bupati Ngawi Budi Sulistyono (Kanang) menyempatkan hadir berbaur ditengah para pengunjung lainya. Dalam sepasaran bayi seperti lazimnya terlihat komplit ‘ubo rampenya’ seperti buceng atau nasi gunungan, urap dan lauk pauk melengkapi hajatan Mbah Kodok.

“Hari ini cukup luar biasa acara milik Mbah Kodok mampu menyedot animo masyarakat. ungguh luar biasa. Mereka yang jagong bayi sungguh lengkap para wisatawan, para seniman, wartawan. Saya berharap nanti kalau pas ulang tahun bahkan khitanan anak Mbak Kodok dimeriahkan lagi seperti ini,” ujar Kanang.

Dia mengaku dengan mata bathinya bisa merasakan kehadiran Peri Roro Setyowati serta kedua anaknya, Joko Samudro dan Sri Parwati. Ia juga mengaku merasakan kehadiran sejumlah tamu dari alam khayangan yang turut mengundang acara itu. “Saya kira yang bisa lihat ya bisa dan yang tidak melihat tentunya memang tidak diperkenankan melihat,” tandasnya lagi.

Sementara Bramantyo Prijosusilo si pembesut seni kejadian (happening art) sepasaran bayi anak Mbah Kodok plus mbangun rumah tidak lebih sebuah inspirasi terhadap lingkungan. Namun persiapanyapun membutuhkan waktu panjang hampir tiga bulan. Dengan melakukan penggalangan dukungan dari rakyat dan seluruh elemen di Pemkab Ngawi. “Persiapan kita membuat rumah Peri Setyowati sekitar tiga bulan tanpa ada kendala yang berati,” ungkap Bramantyo Prijosusilo.

Sambungnya, rumah bagi Peri Roro Setyowati sebuah perwujudan kraton ghoib. Kasatmatanya kelihatan dalam bentuk hutan konservasi ditambah kebun hutan (agroforest) secara tradisional tercipta kokoh baik ekologis, kultural dan estetis. Lebih detailnya kupas Bramantyo, seni kejadian Mbah Kodok mbangun rumah sekaligus syukuran sepasaran bayinya tidak lain sebuah pengharapan untuk peduli pada alam.

Alasan tersebut didasari rusaknya ekosistem hutan akibat ulah manusia seperti di Alas Begal. Sehingga perlu reboisasi terhadap kawasan hutan sebagai satu kesatuan terhadap pelestarian sumber mata air baik di Sendhang Margo maupun Sendhang Ngiyom. Sesuai scedul yang telah dibuat Bramantyo, rumah atau kawasan hutan di Alas Begal akan dibangun secara bertahap.

Diawali pada Oktober 2015 nanti dengan melakukan penanaman pohon di area 6 hektar yang melibatkan langsung warga masyarakat sekitar hutan. Dimana estimasi luasan penanaman pohon tersebut sebagai daerah penyangga mata air. Diakhir acara Mbah Kodok membenarkan mbangun rumah untuk Peri Roro Setyowati sebuah jawaban akan kecintaan terhadap alam sebuah anugerah dari Tuhan yang wajib disyukuri.

Kemudian seperti terlihat penyajian karya cipta Bramantyo Prijosusilo dikemas cukup apik dan natural. Didukung para pelaku seni antara lain dari Paguyuban Angkringan Silat dari Yogjakarta, sajian tarian dari Paguyuban Kartiko Jati asal Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ditambah para penari Tejokusuman dari Yogjakarta.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar