Selasa, 09 Juni 2015

FESTIVAL DALANG ANAK, GALI POTENSI ANAK PEWARIS BUDAYA JAWA

Dalam rangka untuk melestarikan budaya tradisional jawa, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Klaten, Jawa Tengah, menggelar festival dalang anak di Joglo Monumen Juang 1945 Klaten Utara, kemarin (8/6)

Sejumlah anak berusia 6- 12 tahun ikuti festival dalang cilik di Monumen juang 45 Klaten yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Klaten, Senin(8/6/). 

Festival dalang anak yang diikuti 10 peserta itu, kata Kepala Disbudparpora Joko Wiyono, juga bertujuan mencari bibit sebagai upaya regenerasi. Sehingga, julukan Klaten sebagai gudang dalang dapat dipertahankan. "Untuk pelestarian seni budaya warisan leluhur ini, kami rutin setiap tahun menggelar festival dalang anak. Bahkan, pernah juga mengadakan festival yang diikuti peserta dari Soloraya dan Daerah Istimewa Yogyakarta," imbuhnya.

Namun, festival kali ini hanya untuk anak-anak lokal Klaten. Jumlah peserta 10 anak dengan usia 9-13 tahun. Para penampil terbaik I, II, III, serta harapan I dan II mendapatkan piala, piagam, dan uang pembinaan. 

Kasie Bahasa Seni dan Budaya Sri Widaryanti mengatakan,festival dalang cilik ini diadakan untuk menggali pontesi kesenian dalang yang menjadi budaya leluhur, serta menggali bakat anak bangsa yang akan mewarisi budaya jawa yang akan datang.“ Ya, tujuan kita adalah mencari bakat pada anak, karena merekalah yang kelak akan mewarisi budaya leluhur kita,”ucapnya

Dewan juri berasal dari ISI Solo, ISI Jogjakarta dan Pepadi (Persatuan Dalang Seluruh Indonesia) yang ada di Klaten. Dari sepuluh dalang cilik diambil 5 (lima) pemenang, masing- peserta akan mendapatkan uang pembinaan total Rp.12 juta yang dianggarkan dari APBD, jelas Sri Widaryanti.

Ada yang menarik dalam festival itu, seorang dalang cilik asal SD Klaten Tengah saat memainkan Punokawan Petruk, Gareng dan Bagong menyinggung Disbubparpora terkait pengadaan pentas seni yang hanya jangan difestival saja. 

"Truk (Petruk) gelar wayang ini jangan hanya digelar dalam festival saja, tapi juga diadakan secara rutin. Agar generasi dalang ini bisa trus mengembangkan bakatnya. Kemudian disaut oleh Gareng, seharusnya begitu masak hanya festival saja," cetusnya dalam memainkan punokawan itu.  

Nomer pentas 7 asal SD Kanisius Benediktus(9) dengan mengambil lakon narantoko, mengutarakan, mengikuti festival wayang merupakan menyalurkan bakat mewayang. Kata dia, menyenangi wayng sejak duduk dibangku TK, dan bakat yang dimilikinya, lamjut dia,  keturunnya dari almarhum kakeknya  dalang kodang diera 70an yakni Narto Sabdo. 

"Saya ingin seperti kakek yang dulu pernah menjadi dalang kondang di Klaten  dan sekitarnya. Saya pernah ikut lomba disejumlah tempat dan juga pernah mendapat juara favorit," terangnya. 


OMAH WAYANG KLATEN

Salah satu penggagas dan mempunyai banyak andil dalam Festival Dalang anak ini adalah Omah Wayang. Di Dusun Jombor, Desa Danguran, Kabupaten Klaten, Jateng, berjarak kurang lebih satu kilometer dari jalan utama (Yogya-Solo), terdapat Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Dewi Fortuna yang kondang karena 'Omah Wayang'-nya.

Saat menyusuri jalan desa disambut hamparan sawah dan jajaran pohon pelindung yang menjadi ciri khas suasana perdesaan ketika akhirnya disambut sebuah gapura kayu menandai pintu masuk ke kompleks PKBM Dewi Fortuna. Kompleks yang dibangun di atas tanah seluas lebih dari 800 meter tersebut memiliki beberapa bangunan sederhana dan panggung pertunjukan seni budaya.

Di atas tanah tersebut, Kristian Apriyanta mendirikan PKBM Dewi Fortuna Sebagai lembaga satuan pendidikan nonformal berbasis seni dan kewirausahaan bersama seniman Ki R Tmg Suwito Dipuro, SKar, dosen Ki Drs Nuryanto, M Hum sekaligus bersama-sama menggagas Omah Wayang, sebuah pusat studi seni tradisional.

PKBM Dewi Fortuna yang beralamat di Jalan Arimbi, Jombor, Danguran, Klaten Selatan, kini berkembang menjadi pusat studi budaya, pendidikan keaksaraan, pembuatan wayang, penjualan cinderamata, pelatihan dalang, pelatihan kesenian Kethopak, dan masih banyak kegiatan pendidikan bagi masyarakat.

Kehadiran Dewi Fortuna lama-kelamaan dikenal masyarakat sekitar karena telah menjadi kebutuhan, Banyak warga belajar yang datang dari kota-kota lain se-Jawa Tengah maupun dari provinsi lain, bahkan ada pula yang berasal dari mancanegara.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar