Jumat, 05 Juni 2015

MENYAMBUT AMBAL WARSA BUNG KARNO DI PENJARA BANCEUY BANDUNG

Banyak ide yang muncul dalam benak, tatkala dalam sebuah pagelaran yang cukup mengusik nurani di gelap dan senyapnya malam, ditemani tamaran sinar lilin 114 yang mengelilingi patung Bung Karno dalam teduhnya payung kertas.
Jumat Kliwon malam Sabtu Legi (05/06/15) menjadi malam yang kidmat dan menyentuh kalbu. Upacara Renungan Suci ini diadakan oleh Kelompok Anak Rakyat (Lokra) bersama sejumlah komunitas seni dan aktivis dalam rangka memeringati 114 tahun kelahiran Presiden pertama Soekarno di monumen Penjara Banceuy Bandung, Jawa Barat.

Acara ini diadakan sebagai upaya mengenang kembali ajaran dan nilai-nilai kebangsaan yang dilahirkan dari pemikiran seorang Bung Karno.

Peringatan dibuka dengan tari Renungan Suci yang dibawakan oleh dua penari dari Lokra. Acara yang diselenggarakan oleh, dihadiri cucu Soekarno, Tito Asmarahadi yang menjadi inspektur upacara. Malam renungan suci berlangsung dalam keadaan gelap gulita.


Penjara Banceuy ini terletak di Bandung ibu kota provinsi Jawa Barat. Penjara atau Lembaga Pemasyarakatan ini dulunya didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda tepatnya pada tahun 1871, yang dipergunakan sebagai penjara tahanan bagi kaum pribumi yang terkena sanksi hukum kriminal, mau pun bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik yang bersifat menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda saat itu.


Penjara Banceuy kondisinya saat ini sangatlah memprihatinkan dimana berada tepat di pusat bisnis / pertokoan kota Bandung, dan kini hanyalah tersisa sebuah bagunan bekas Menara Pengawas dan bangunan bekas Sel Penahanan Bung Karno sebagai salah seorang Proklamator RI. Di Sebelah Sel Blok F No : 5  tempat dimana dahulu Bung Karno mendekam sebagai tawanan pemerintah kolonial Belanda ini terdapat sebuah tugu peringatan dalam bentuk Bola Batu yang terbelit Rantai yang kokoh. Yang merupakan simbol dari kuatnya belenggu rantai penjajahan saat itu. Dan dari dalam sel yang sempit sekaligus pengap Penjara Banceuy inilah,  Bung Karno dahulu menyusun Pledoi / Naskah Pembelaan dirinya yang kemudian diberi judul Indonesie Klaagt Aan atau Indonesia Menggugat.

KADO ULANG TAHUN
Kini, eks Penjara Banceuy juga menggambarkan ironi Indonesia yang kaya sejarah. Setelah kompleks penjara itu diruntuhkan dan diganti pusat perbelanjaan Banceuy Permai tahun 1986, hanya sel nomor 5 dan satu menara pengawas yang tersisa. Terimpit di antara pertokoan yang menjulang tinggi, salah satu jejak Soekarno itu terasing di antara gedung pertokoan modern.

Baru menjelang Konferensi Asia Afrika pada April 2015, sel nomor 5 kembali menjadi perhatian. Pemerintah Kota Bandung merenovasi kawasan itu. Ada patung perunggu setinggi 1 meter karya seniman Surya Pernawa. Pagar berkarat juga diganti tembok batu andesit dan basalt. Batuan yang sama ikut mempercantik lantai yang dulu ditumbuhi rumput liar.

Salah satu anggota tim revitalisasi, Fatiadi, mengatakan, renovasi eks Penjara Banceuy ini sebenarnya belum rampung 100 persen. Dinding batu di sayap kanan dan kiri sel nomor 5 belum selesai. Saat ditanya kapan akan diselesaikan, ia mengatakan masih menunggu persetujuan lanjutan dari Pemerintah Kota Bandung.

"Meski belum sepenuhnya rampung, semoga bisa menjadi kado ulang tahun bagi Soekarno," harap Fatiadi.

Kado ulang tahun juga diberikan Leli Mei lewat monolog "Inggit Garnasih" yang ditampilkan di antara lilin-lilin yang menyala semakin terang, Jumat malam lalu. Leli seperti mendongeng, mulai dari pertemuan Inggit dengan Soekarno, beragam bantuan bagi Soekarno menyelesaikan naskah pleidoi "Indonesia Menggugat", hingga kisah perpisahan antara Inggit dan Soekarno di Bengkulu.

Tidak jauh dari Leli yang berkisah penuh semangat, Ahmad (49), juru kunci sel nomor 5, justru tengah galau. Pikirannya melayang teringat anaknya, Yudi Suwardi (19), yang kini tinggal di Cigadung, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Nasib Yudi tidak menentu setelah lulus dari salah satu SMK di Kuningan, setahun lalu. Keinginan melanjutkan kuliah mengambil jurusan pertanian sudah terkubur akibat keterbatasan biaya.
"Saya tidak punya uang Rp 1,7 juta untuk menebus ijazah kelulusan Yudi. Uang itu adalah biaya gedung yang seharusnya dibayar saat pertama masuk SMK," katanya.

Ahmad mengatakan, bertanggung jawab memegang kunci sel nomor 5 bukan berarti dia hidup sejahtera. Selama lebih kurang 26 tahun sejak tahun 1986, ia tak dibayar merawat sel itu. Tidak ada upah yang diterima dari pemerintah.

"Saya disewa pengelola di sini untuk menjaga kebersihan dan keamanan kompleks perbelanjaan ini. Karena berada dalam kompleks, sel nomor 5 ini juga menjadi tanggung jawab saya," katanya.

KELUH KESAH
Tahun berganti, peran Ahmad diakui pemerintah daerah pertengahan 2014. Ia mendapat upah Rp 700.000 per bulan. Meski lebih kecil ketimbang upah petugas sapu jalan di Kota Bandung yang dibayar sekitar Rp 1,5 juta per bulan, uang itu diakuinya punya peran menambah penghasilan.

"Selain menjadi juru kunci, saya punya usaha menjaga WC umum tak jauh dari sini. Dari sana, saya bisa mengumpulkan Rp 2 juta per bulan. Semuanya saya kirimkan untuk keluarga di Kuningan. Di Bandung, saya tinggal sendiri di atas WC yang saya jaga. Luas ruangannya lebih kurang sama dengan sel ini," kata Ahmad merendah.

Nasib Ahmad tidak jauh berbeda dengan Redi (50), buruh renovasi eks Penjara Banceuy yang ditemui di depan sel nomor 5 yang tengah diperbaiki awal April lalu.

Terhitung pada Jumat lalu, sudah seminggu Redi meninggalkan rumahnya di Majalaya, Kabupaten Bandung, berjarak 30 kilometer dari Kota Bandung. Dijanjikan bayaran Rp 100.000 per hari, ia tidur bersama 30 pekerja lainnya di salah satu ruko dekat sel nomor 5. Mimpi membawa anaknya kembali ke sekolah menjadi semangat paling besar. Sejak setahun terakhir, anak perempuannya putus sekolah selepas lulus SMP. "Saya butuh uang untuk biaya sekolah anak," ujarnya lirih.

Revitalisasi eks Penjara Banceuy menjadi salah satu hadiah peringatan hari lahir ke-114 Soekarno. Entah apa perasaan Soekarno apabila mendengar keluh kesah anak-anak bangsa di dekat selnya, yang kemerdekaan dan kesejahteraannya pernah ia perjuangkan dari sana.


SEBAB BUNG KARNO DI PENJARA
Pada awalnya, Bung Karno dianggap anak manis dalam Pergerakan Nasional di Indonesia, tapi dengan gagasannya soal Perang Asia Pasifik maka Sukarno dianggap memancing keributan yang lebih berbahaya lagi yaitu “Masuknya kekuatan Internasional dalam menggugat jajahan Belanda” dalam hal ini Jepang. 

Pada tanggal 28 Desember 1929, Sukarno diundang oleh Raden Mas Sujudi dari Yogyakarta untuk berbicara di depan rapat politik kaum kebangsaan di Solo. Sukarno datang dan berpidato di Solo dengan penuh semangat dan gayanya yang dramatik : Imperialis, perhatikanlah! Dalam waktu tidak lama lagi, Perang Pasifik menggeledek menyambar-nyambar membelah angkasa, ”Apabila, Samudera Pasifik merah oleh darah, dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan bom dan dinamit. Di saat itulah rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka”

Disini Sukarno terus menerus menulis tentang kemerdekaan yang akan terjadi, artinya Sukarno memberikan visi agar rakyat Indonesia bersiap. Dan tulisan Sukarno memang dibaca hampir seluruh rakyat Indonesia yang terdidik lewat koran-koran, hal yang menunjukkan betapa tulisan Sukarno bisa menjadikan alam bawah sadarnya adalah ucapan Jenderal Nasution ketika ditawari oleh agen asing untuk memberontak melawan Sukarno tapi Nasution menolak dan menjawab dengan tegas “Sejak saya kecil, sejak saya tak tau apa artinya Nasionalisme, Sukarno-lah yang mengajari saya lewat tulisan-tulisannya di koran-koran tentang Nasionalisme, dialah yang menyadari saya tentang sebuah KeIndonesiaan di masa saya muda”. 

Sukarno sudah melihat Perang Asia Pasifik sebagai alat paling penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Disini Sukarno sudah melakukan sebuah Pemetaan yang jelas dan tahapan-tahapan pasti kepada rakyat Indonesia.
Gara-gara pidato di atas Sukarno kemudian ditangkap oleh Polisi Belanda, Rumah Sujudi digerebek dan seluruh rombongan Sukarno digelandang ke halaman lalu disuruh ganti pakaian di halaman dan kemudian diangkut truk ke Stasiun Tugu Yogyakarta, dimasukkan ke Gerbong Khusus tanpa jendela dibawa ke Bandung untuk diadili. Di depan Landraad (Pengadilan) Sukarno berkata terus menerus tentang sumber daya alam yang dikeruk Belanda.

Bersama rekan – rekannya yang juga merupakan para Tokoh Pendiri PNI (Partai Nasional Indonesia) Gatot Mangku Praja, Maskoen dan Soepriadinata, Bung Karno pun mendekam selama kurang lebih 8 bulan dengan status tahanan politik pemerintah Hindia Belanda. Pledoi (Pidato Pembelaan) yang disusunnya dari dalam ruang sempit sel tahanan berukuran panjang 2.5 meter dan lebar 1.5 meter ini, ternyata menjadi sangat terkenal menggetarkan tembok – tembok keangkuhan belenggu penjajahan. 

Naskah pidato yang di namainya dengan judul INDONESIA MENGGUGAT itu dibacakan Bung Karno pada tanggal 18 Agustus s/d 22 Desember 1930, pada saat sidang pengadilannya di gedung yang kini disebut Gedung Indonesia Menggugat.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar