Senin, 10 Agustus 2015

HARMONI DALAM KERAGAMAN BUDAYA INDONESIA

Selama kurang lebih satu pekan, Kota Semarang, Jawa Tengah, dimeriahkan dengan penyelenggaraan Pekan Budaya Indonesia 2015. Berbagai kegiatan kebudayaan berlangsung di 11 titik di Kota Semarang, sejak 5 s.d 10 Agustus 2015. Semarak Pekan Budaya Indonesia 2015 disambut antusiasme tinggi dari masyarakat Semarang dan sekitarnya. Kota Semarang pun menjadi satu harmoni dalam keragaman budaya Indonesia.
 
Ada 11 titik lokasi penyelenggaraan, yaitu Lapangan Simpang Lima, Lawang Sewu, Museum Rangga Warsita, Taman Budaya Raden Saleh, GOR Tri Lomba Juang, Semarang Kota, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Hotel Horison, Hotel Pandanaran, dan Hotel Noormans. Lapangan Simpang Lima dan Lawang Sewu menjadi lokasi yang paling banyak menyelenggarakan kegiatan.

Lawang Sewu, misalnya, setidaknya menjadi lokasi bagi empat pameran, yaitu Pameran Kesejarahan dan Nilai Budaya, Pameran Permainan Tradisional Nusantara, Pameran Cagar Budaya Warisan Dunia, dan Pameran Seni Rupa. Sedangkan Lapangan Simpang Lima selain menjadi lokasi pembukaan dan penutupan Pekan Budaya Indonesia, juga merupakan lokasi pemutaran mobil Bioskop Keliling, Pameran dan Bazar dari Komunitas Adat, Perlombaan Permainan Tradisional dan Gelar Tradisi dan Seni Budaya.

Pekan Budaya Indonesia juga menghadirkan berbagai dialog, seperti Temu Redaktur Kebudayaan 2015, Dialog Cagar Budaya, Focus Group Discussion World Culture Forum (WCF) 2016, dan Workshop Permainan Tradisional untuk Guru. Acara ini melibatkan semua pihak, mulai dari pelajar sekolah, guru, mahasiswa, akademisi, hingga kerja sama antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Saat membuka Pekan Budaya Indonesia pada Jumat lalu ((7/8/2015), Mendikbud Anies Baswedan memberikan apresiasi atas dukungan dan kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang. Ia mengatakan, dalam dunia pendidikan, anak-anak juga harus dididik untuk bisa ikut mengembangkan kebudayaan Indonesia yang beragam, seperti halnya semangat kebhinekaan.

Sementara Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, acara Pekan Budaya Indonesia merupakan bukti bahwa Kemendikbud telah melakukan pendekatan yang dimulai dari akar, yaitu masyarakat “Tidak cukup pendekatan hitam putih, pendekatan budaya memainkan perasaan, memainkan hati, menggandengkan emosi,” katanya saat memberikan sambutan di pembukaan Pekan Budaya Indonesia, di Lapangan Simpang Lima Semarang, Jumat (7/8/2015).

Meskipun masih ada acara di hari Senin (10/8/2015), Pekan Budaya Indonesia secara resmi ditutup pada Minggu malam (9/8/2015) oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Prasetyo Aribowo di lapangan simpang lima Semarang. Hadir dalam acara penutupan ini Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi Kemendikbud, Sri Hartini. Dalam sambutannya ia menegaskan kembali agar masyarakat selalu melestarikan adat dan tradisi sebagai peninggalan leluhur kita serta tidak boleh menilainya sebagai perbuatan musyrik. Kebudayaan adalah benteng kita semua, kalau tanpa kebudayaan, mau jadi apa bangsa kita ke depannya?” tambahnya.

Menutup acara Pekan Budaya Indonesia 2015, masyarakat Kota Semarang disuguhi Wayang Kulit semalam suntuk dengan kisah TRIPOMO, yang dibawakan oleh Ki Dalang Purbo Asmoro.



























Tidak ada komentar:

Posting Komentar