Jumat, 21 Agustus 2015

SARASEHAN BUDAYA SPIRITUAL 2015

"Nilai-Nilai Ajaran Budaya Spiritual Sebagai Aset Menuju Revolusi Mental" menjadi sebuah tema dalam Sarasehan Budaya Spiritual yang dilaksanakan di Hotel Pandanaran Yogyakarta. Sarasehan yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari ini (19-20/8) difasilitasi oleh BPNB (Balai Pelestarian Nilai Budaya) Yogyakarta. 

Sarasehan Budaya Spiritual ini diikuti oleh 100 orang peserta dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (4 kabupaten dan 1 kota), yang meliputi : Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta. Peserta terdiri dari berbagai kalangan, meliputi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Budayawan, Tokoh Masyarakat, Dinas terkait, Guru SMA/sederajat, Mahasiswa/siswa, SMA/sederajat, Organisasi Sosial dan perwakilan Pers.

Tujuan dilaksanakan sarasehan ini antaralain untuk meningkatkan peran serta organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui berfungsinya nilai-nilai ajaran budaya spiritual dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, pengembangan nilai-nilai ajaran budaya spiritual menuju revolusi mental, dan meningkatkan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai ajaran budaya spiritual oleh para Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME.

Dalam sarasehan budaya ini membahas berbagai subtema yang dipaparkan oleh beberapa pembicara. Tema yang dipaparkan di hari pertama antara lain "Membangun Mentalitas Bangsa Untuk Menghadapi Tantangan Zaman" oleh Prof. Dr. Supriyoko/ Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa Yogyakarta. "Menggagas Strategi Membangun Mentalitas Bangsa Melalui Ajaran Budaya Spiritual" oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA/ Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. "Ajaran Budaya Spiritual Sebagai Aset Menuju Revolusi Mental" oleh Dr. J. Haryatmoko, SJ/ Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. "Fungsionalisasi Ajaran Budaya Spiritual Dalam Membangun Kehidupan Yang Berkepribadian (Positif) Dalam Masyarakat" oleh Prof. Dr. Suwardi Endraswara/ Universitas Negeri Yogyakarta.

Dihari kedua disampaikan beberapa tema diantaranya "Menggali Nilai-Nilai Ajaran Budaya Spiritual Untuk Ikut Berperan Dalam Membangun Masyarakat Yang Beretika" oleh M. Hardjo Soedarjono, SH., M.Kn/ Presidium Dewan Musyawarah Wilayah Majelis Luhur DIY/ Presidium Dewan Musyawarah Daerah Majelis Luhur Kabupaten Sleman/ Sekretaris Umum Paguyuban “Sukoreno” Yogyakarta. "Strategi Pengayaan Nilai-Nilai Ajaran Budaya Spiritual Untuk Membangun Masyarakat Yang Sehat, Berkepribadian, dan Bermoral" oleh Naen Suryono, SH., MM/ Presidium Majelis Luhur Pusat/”Persatuan Sapta Darma” Yogyakarta. "Nilai-Nilai Ajaran Budaya Spiritual Sebagai Modal Membentuk Perilaku Positif Di Lingkungan Keluarga Dan Masyarakat" oleh Dra. Endang Sulistyawati/Wakil Sekretaris Umum Majelis Luhur DIY/Paguyuban “Angesti Sampurnaning Kautamen” Yogyakarta. "Internalisasi Nilai-Nilai Ajaran Budaya Spiritual Dalam Pendidikan Formal dan Informal oleh Rr. Retno Prasetyowati, S.Pd, Departemen Perenan Wanita Majelis Luhur DIY.

Setelah isirahat siang dan menjadi sessi terakhir, disampaikan tema "Implementasi Ajaran Budaya Spiritual Dalam Membangun Mental GenerasiMuda" oleh Bambang Permadi, AAN, S.Kom/ Intelektual Muda Anak Alam Nusantara/ Perguruan Trijaya Pusat Tegal. Dilanjutkan dengan materi "Aktualisasi Ajaran Budaya Spiritual Dalam Membangun Perilaku Masyarakat" oleh Kuswijoyo Mulyo, ST/Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME DIY, Ketua DPD Paguyuban Sumarah DIY.  

Beberapa pertanyaan, masukkan, testimoni, dan kritikpun terjadi dalam sessi tanya jawab antara peserta dengan para pembicara sehingga menghidupkan sebuah sarasehan yang sesungguhnya. Saresahan ditutup pada pukul 16.00 oleh Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya, Dra.Christriyati Ariani, M.Hum.

REVOLUSI MENTAL 
Satu dari unsur kebudayaan bangsa Indonesia yang telah lama berakar dalam kehidupan masyarakat Nusantara adalah budaya spiritual. Budaya spiritual mewujud dalam berbagai bentuk sistem kepercayaan, yang kemudian dalam perkembangan selanjutnya dimasukkan dalam kategori Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 

Dalam perjalanan sejarahnya, budaya spiritual warisan budaya Nusantara ini tetap berfungsi menjadi akar jati diri budaya masyarakat  Indonesia pada masa kini. Oleh sebab itu, sudah pada tempatnya apabila budaya spiritual yang merupakan aset bangsa ini, sekaligus sebagai salah satu sumber kekuatan pembangunan moral dan spiritual masyarakat Indonesia. Pembangunan moral dan spiritual  menjadi salah satu tujuan dari revolusi mental. Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional, demikian disampaikan oleh penggagasnya. Bisa dimulai dari masing-masing kita sendiri, dimulai di lingkungan keluarga, tempat tinggal, tempat kerja, dan meluas ke negara.

Revolusi mental  disebutkan sebagai revolusi kesadaran, yaitu perubahan mendasar yang menyangkut kesadaran, cara berfikir dan bertindak sebuah bangsa besar, dari suatu yang negatif menuju positif. Seorang pakar memberikan pemahaman bahwa revolusi mental tidak hanya tersusun dari kemampuan kognisi, tetapi juga endapan sistem kepercayaan dan sistem nilai, hasrat, emosi, kehendak, motivasi, dan sebagainya yang tumbuh dari praktik kebiasaan sehari-hari, dan atau dari tradisi. 

Dari sini dapat diketahui bahwa ada arah kebudayaan dalam revolusi mental. Revolusi mental merupakan perubahan mendasar dalam mentalitas, semangat dan moralitas yang  teraktualisasi dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Revolusi mental  hanya bermakna apabila dilandasi oleh keinginan untuk mengoreksi cara berkebiasaan kita dalam semua bidang kehidupan untuk mencapai kebaikan bersama. 

Berkaca dari hal-hal tersebut di atas, dapatlah kiranya nilai-nilai ajaran dalam budaya spiritual berfungsi sebagai salah satu sumber kekuatan untuk menuju revolusi mental. Oleh karenanya, aktualisasi nilai-nilai ajaran dalam budaya spiritual  hendaknya bisa berfungsi dan bermakna untuk suatu kondisi yang  sedang berkembang dalam masyarakat. Dalam hal ini ajaran nilai-nilai spiritual hendaknya tidak hanya bersifat normatif dan dogmatis, dan tidak hanya sekedar tekstual, melainkan kontekstual. Nilai-nilai ajaran harus diisi dan ditumbuhkembangkan sesuai kondisi masyarakat yang  terus berubah agar berfungsi sebagai alternatif  dalam ikut memberi sumbangan membangun masyarakat  yang sehat, berkepribadian, dan bermoral. 

Atas dasar pemikiran tersebut, maka Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta (BPNB) pada tahun anggaran 2015 ini menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Budaya Spiritual di Kota Yogyakarta dengan tema “ Nilai-Nilai Ajaran Budaya Spiritual  Sebagai Aset Menuju Revolusi Mental”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar