Selasa, 29 September 2015

LEBIH PANTAS MANA, PENGHAYAT KEPERCAYAAN ATAU PENGANUT KEPERCAYAAN ?

Setidaknya kalimat tersebut terungkap oleh Margono, anggota Kerohanian Sapta Darma (KSD) Semarang. Hal ini sering terjadi pada beberapa acara baik yang bertajuk dialog budaya maupun sarasehan yang melibatkan para pelaku budaya spiritual, yaitu penggunaan istilah yang lebih bijak untuk penyebutan para penganut kepercayaan. Stigma negatif dan anggapan miring serta sarat dengan diskriminasi seolah menyertai dalam sebutan "Penghayat".

Dalam pembahasan di dunia pendidikan, selain mengulas tentang usulan kebijakan kurikulum pendidikan untuk penganut kepercayaan,  kembali keberadaan tempat beribadah yang berada dalam sekolah-sekolah -pun mendapat sorotan, apakah tidak sebaikaya "Mushola" diganti label nya sebagai "Tempat Berdoa" yang peruntukkanya bersifat lebih umum dan bisa digunakan oleh pemeluk agama apapun dan penganut kepercayaan.

Beberapa permasalahan ini kembali mencuat dalam sebuah acara Dialog Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Balai Kota Semarang, Selasa Legi 29 September 2015. Acara yang bertemakan Sosialisasi Pengelolaan Kekayaan Budaya Lokal ini difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

Secara resmi acara ini dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan Drs. Kasturi, MM, mewakili Kepala Disbudpar Kota Semarang yang berhalangan hadir. Dialog ini diikuti sebanyak 60 peserta yang rata-rata adalah pengurus harian dari berbagai organisasi/paguyuban Kepercayan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang ada dikota Semarang yang diantaranya dari Kerohanian Sapta Darma (KSD), Aliran Kebatinan Perjalanan (AKP), Kapribaden, Perguruan Trijaya, Sumarah, Tri Tunggal Bayu, Normanto, dan lain-lain. 

Acara yang digelar selama sehari penuh ini menghadirkan pembicara dari Kesbangpol Kota Semarang, Ragil Widodo,S.H., Dinas Pendidikan Kota Semarang Drs. Sutarta, MM. dan Presidium MLKI Kota Semarang, Suwahyo.







Senin, 28 September 2015

DENGAN 15.466 SERABI, FESTIVAL SERABI KEBUMEN 2015 PECAHKAN REKOR MURI

Minggu Wage, 27 September 2015, Kabupaten Kebumen kembali mendapatkan penghargaan dari Rekor Muri. penghargaan ini diberikan atas terselenggaranya Festifal Serabi Kebumen, yang menghidangkan serabi terbanyak, sebanyak 15.466 buah.

Kabupaten Kebumen merupakan salah satu Kabupaten yang aktif mendapatkan Rekor MURI pada tiap tahunnya. Antara lain sepeda santai dengan jumlah terbanyak, kudang kepang terbesar, lanting terbesar, jalan sehat membawa bibit tanaman. Kali ini pada tahun 2015, Kabupaten Kebumen kembali mendapatkan penghargaan dari Muri pada acara Festifal Serabi Kebumen 2015.

Dalam Festifal yang digelar di Alun-Alun Kebumen, Kebumen memecahkan Rekor Muri. Serabi Kebumen merupakan makanan tradisional Kebupaten Kebumen dari olahan tepung dan santan. 

Sebelum rekor serabi terbanyak jatuh pada Mall Ciputra Jakarta yang dapat membuat serabi sebanyak 10 ribu buah. Kali ini Kabupaten Kebumen memecahkan rekor baru dengan 15.466 serabi yang dibuat 150 pengrajin. Rencananya, serabi yang dihidangkan hanya 15 ribu buah namun, pada pelaksanaannya terkumpul sebanyak 15.466 buah.

Pemecahan rekor tersebut tercatat dan disahkan oleh MURI Nomor.7101/R.MURI/IX/2015. Adapun penghargaan MURI diserahkan oleh Teti Indrayati yang mewakili Ketua Umum MURI Jaya Supranayang diterima langsung oleh Penjabat (Pj) Bupati Kebumen Drs.H.M. Arif Irwanto M.Si. Kemudian diberikan juga kepada Panitia Festifal Serabi Kebumen 2015 diterima oleh Ketua Panitia Abdul Karnaen Marjuned, dan yang terakhir kepada Alumni SMP Negeri 2 Kebumen sebagai pencetus ide.

Selain itu juga dilakukan penilaian oleh dewan juri serabi terenak, dilanjutkan pemilihan duta serabi Kebumen dan lomba fotografi.



Kamis, 24 September 2015

PENETAPAN WARISAN BUDAYA TAKBENDA INDONESIA 2015

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI menggelar Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 20-23 September 2015 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta.

Sidang ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dari 34 Provinsi bersama stakholder masing-masing, dan 11 BPNB (Balai Pelestari Nilai Budaya) di seluruh Indonesia .

Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Tim Ahli I di hotel Millenium pada tanggal 6-8 Mei 2015, Rapat Koordinasi Tim Ahli II di Hotel Millenium, Jakarta pada tanggal 3-5 Juni 2015, Rapat Koordinasi Tim Ahli III di Hotel Millenium, Jakarta pada tanggal 20-22 Agustus 2015 yang kemudian dilanjutkan dengan Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2015 di hotel Millenium, Jakarta pada tanggal 20-23 September 2015, ditetapkan sejumlah 121 karya budaya dari 339 usulan karya budaya yang diterima oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.

Selain karya budaya yang telah ditetapkan, terdapat 218 karya budaya yang ditangguhkan, dengan penjelasan bahwa karya budaya yang ditangguhkan dikarenakan data belum lengkap (formulir, foto, video, kajian).

Penetapan karya budaya tersebut juga didasarkan atas kehadiran dari dinas terkait di 34 provinsi serta 11 BPNB di wilayah kerjanya masing-masing, sehingga karya budaya yang diajukan bisa ditetapkan secara sah oleh Tim Ahli.

Rabu, 23 September 2015

ANUGERAH KEBUDAYAAN 2015

 Jakarta, Selasa Wage (22/9) – Sebanyak 55 Nominator Kebudayaan RI dengan berbagai macam kategori menerima Anugerah Kebudayaan 2015 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Malam Penganugerahan Kebudayaan tersebut dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan didampingi oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kacung Marijan dan Plt. Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Harri Widianto di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. 

Malam Penganugerahan Kebudayaan 2015 ini dihadiri oleh 55 nominator yang menerima tanda Bintang Mahaputra Utama, Bintang Budaya Paramadharma 2015, dan Satyalencana Kebudayaan 2015 dari berbagai kategori, yaitu Perorangan, Anak dan Remaja, Maesro Seni Budaya, Pelestari Budaya, Pemerintah Daerah, serta Media.

Ditemani oleh Kasubdit Direktorat Internalisasi Nilai Diplomasi Budaya, Dewi Citra Ria, Kacung Marijan menyampaikan bahwa tahun ini ada 3 orang Warga Negara Asing yang akan diberikan penghargaan Anugerah Kebudayaan 2015, salah satunya adalah Franz Magnis-Suseno yang akan mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera Utama 2015. Selain itu, Beliau juga mengatakan bahwa para penerima penghargaan tidak hanya yang berperan dalam mewariskan kebudayaan, namun juga yang turut melestarikan kebudayaan tersebut.

“Kita jangan hanya sibuk mewariskan kebudayaan, tapi luput mewarisi kebudayaan tersebut ke generasi penerus kita. Kebudayaan akan menjadi luar biasa jika dilaksanakan secara bersama-sama. Kali ini, para penerima penghargaan kebudayaan tidak hanya yang berperan aktif mewariskan kebudayaan, namun juga diberikan kepada yang aktif mewarisi kebudayaan tersebut,” tukas Kacung Marijan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan secara langsung memberikan lencana emas Anugerah Kebudayaan kepada 55 pelestari kebudayaan tahun 2015. Pemberian lencana Kebudayaan ini dilaksanakan pada Malam Penganugerahan Kebudayaan 2015 di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (22/9).

Dalam pesannya, Anies Baswedan menyampaikan bahwa Anugerah Kebudayaan 2015 merupakan apresiasi atas nama Pemerintah Indonesia kepada para tokoh dan pelestari kebudayaan Indonesia. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada para penerima penghargaan dan berpesan untuk jangan segan meneruskan kebudayaan lama yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

“Para tokoh yang menerima kebudayaan ini merupakan tokoh yang tidak rela kebudayaan Indonesia dalam posisi stagnan. Mereka adalah para tokoh yang menjadikan kebudayaan sebagai kehidupan, bukan penghidupan, dan memiliki latar belakang yang sama : memajukan kebudayaan Indonesia,” tukas Anies Baswedan.

Dalam acara tersebut, beberapa nominator menampilkan kebolehan mereka dalam bidang seni budaya, seperti penampilan Sastra Lisan oleh Agus Nur Amal, atau biasa dikenal dengan Agus PM Toh, Jan Malibela dari Papua Barat, Wa Ode Siti Marwiyah Sipala, pemerhati Tari Pakarena, Suprapto Suryodarmo, pendiri Padepokan Lemah Putih - Karanganyar dan para nominator cilik dan remaja salah satunya adalah Vicky Wahyu Hermawan Ramadhan, seorang Dalang Cilik asal Jawa Tengah. Kacung Marijan pun turut satu panggung bersama dengan Agus PM Toh dalam malam penganugerahan tersebut.


Mudji Sutrisno, salah satu Tim Penilai bersama Ida Wayan Oka Granoka Gong berserta istri, pendiri Maha Bajra Sandhi - Bali, Penerima Anugerah Kebudayaan 2015 Kategori Komunitas, sebagai Penerap Budaya Tradisi Teks Sotasoma dalam Bersikap dan Berperilaku



 Bersama Suprapto Suryodarmo, pendiri Pedepokan Lemah Putih - Karanganyar Jateng,
Penerima Anugerah Kebudayaan 2015 Kategori Komunitas, sebagai Pengembang Seni dan Budaya Berbasis Studi Budaya dan Kemanusiaan

Minggu, 13 September 2015

RIBUAN BATU AKIK MENJADI SOUVENIR PERNIKAHAN

Minggu Kliwon  (13/09/15). Kurang lebih 2.400 batu akik dengan berbagai model dan jenisnya menjadi souvenir pada sebuah acara pernikahan di kota Semarang, siang tadi.

Ini menjadi hal yang pertama kali terjadi, bahwa souvenir dalam sebuah pesta pernikahan merupakan sepasang batu akik (satu untuk bapak dan satunya untuk ibu) yang berjumlah tidak kurang 2.400 biji. Mungkin jika pihak keluarga ataupun panitia bisa saja mencatatkannya di Museum Rekor Indonesia (MURI) bahkan  Guinness Book of World Record sekalipun.

Selain menjadikan batu akik sebagai souvenir, acara pernikahan ini menjadi ajang pentas kesenian tradisional yang berada di Jawa Tengah. Diantaranya ada Seni karawitan, Tari Serimpi, Tari Topeng Purbalingga, Tek-tek Magelang, Keroncong/langgam Jazz - Bossanova, edan-edanan, dan punakawan Gareng.

Acara Resepsi ini juga menjadi ajang reuni bagi para seniman dan budayawan Se Indonesia. Alumni ISI Surakarta nampak berkumpul membentuk sebuah kelompok besar. Tak heran karena pemangku hajat pernikahan ini adalah seorang Seniman, sekaligus menjabat sebagai Kepala Seksi Nilai Budaya Bidang Nilai Budaya Seni dan Film Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, yakni Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd yang bersuamikan Bambang Setyobudi, SH, MM. yang juga pernah menjabat di BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah.

Beliau menikahkan anak semata wayangnya yang bernama dr. Risatya Pramadanis (Risa) dengan Yuda Prasetya, SH. Tampak hadir dalam resepsi ini para pejabat teras di provinsi Jawa Tengah dan beberapa eselon 3 tingkat pusat. Diantaranya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wagub Jateng Heru Sujadmiko, Sekda Provinsi Jateng Sri Puryono, Pj.Walikota Semarang Tavip Supriyanto, dan beberapa kepala SKPD dijajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kepala Daerah Kota/Kab se Jawa Tengah.

Hadir Pula Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Dra. Sri Hartini, M.Si. yang didampingi Kasubid Kelembagaan Kepercayaaan Dra. Wigati.

NEBUS KEMBAR MAYANG
Acara pernikahan Risa dan Yuda ini dilangsungkan selama 3 hari berturut-turut. Diawali hari Jumat sore  (11/09/15) doa dan pengajian ibu-ibu RW. 1 kelurahan Tlogosari - Semarang dan dilanjutkan pengajian bapak-bapak.

Dihari Sabtu siang (12/09/15) ada upacara Siraman, dan dilanjukan dengan malam midodaren. acara ini dilengkapi dengan upacara tradisi Nebus Kembar Mayang yang merupakan adat dan tradisi masyarakat jawa.

Minggu Kliwon (13/09/15) yang merupakan hari ke 3 menjadi puncak acara yaitu akad nikah, dilanjutkan upacara adat pernikahan dan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Acara ini bertempat di Gedung Dewaruci kampus biru STIMART-AMNI Semarang.

EVALUASI PBM NO. 43 DAN NO. 41 TAHUN 2009 TENTANG PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YME

Bertempat di Hotel Santika Semarang, Direktorat Ketahanan Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri mengadakan acara bagi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME.

Acara ini dilaksanakan selama dua hari yaitu mulai hari kamis (10/09/15) sampai dengan hari Jumat (11/09/15). Dengan bertajuk Fasilitasi Organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Dan Evaluasi PBM No. 43 dan No. 41 Tahun 2009, acara ini diikuti sebanyak 30 peserta dari Penghayat di seluruh provinsi Jawa Tengah.  


Senin, 07 September 2015

TAYUB PURWODADI RAMAIKAN UPACARA TRADISI SEDEKAH BUMI

Minggu Pon, 6 September 2015. Rumah Kepala Desa Penawangan sontak ramai oleh para warga desa yang tumpah ruah berkumpul memenuhi halaman. Panggung besarpun digelar untuk pagelaran seni tayub, pentas dangdut dan congdut (keroncong dangdut). Acara ini meramaikan sebuah rangkaian upacara tradisi sedekah bumi yang diadakan di halaman rumah kepala desa Penawangan kecamatan Penawangan kabupaten Grobogan.
Acara yang dimulai pukul 10 pagi ini juga diisi dengan tampilan drumband, barongan, dan dilanjutkan dengan kirab gunungan hasil bumi yang diikuti 4 (empat) dusun yang ada di desa Penawangan. Kirab gunungan ini dimulai dari masing-masing dusun menuju halaman rumah kepala desa.

Kepala Desa Tri Joko Purnomo, Amd. menuturkan dengan diadakan sedekah bumi ini berharap akan dapat melestarikan upacara yang menjadi tradisi turun temurun peninggalan nenek moyang dan telah menjadi budaya daerah. Acara ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kerukunan antar warga di desa itu, imbuhnya.

Upacara tradisi sedekah bumi ini ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Yuli Nuryanto dari Sragen.

Arti dari Sedekah Bumi sendiri adalah suatu upacara adat yang melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui Tanah/Bumi berupa segala bentuk hasil bumi. Upacara ini biasanya ditandai dengan pesta rakyat yang diadakan di balai desa atau pendopo/rumah kepala desa atau di lahan pertanian maupun tempat-tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat. Upacara ini sudah menjadi tradisi dan berlangsung turun termurun dari nenek moyang kita, dan berkembang di Pulau Jawa, terutama di wilayah yang kuat akan budaya agraris.