Kamis, 29 Oktober 2015

TATA CARA PERNIKAHAN PENGANUT KEPERCAYAAN KEKADANGAN WRINGIN SETO SANGAT KENTAL DENGAN SEMANGAT KEBANGSAAN

Sepasang mempelai menerima bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila dari pemuka penganut Kepercayaan Kekadangan Wringin Seto dengan tulus hati. Kemudian "Indonesia Raya" berkumandang, kedua mempelai tersebut memegang sang Merah Putih. Begitu pula ketika Pancasila dibacakan, pasangan tersebut berdiri tegap sembari memandangi lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Setelah itu, mereka mendapat pesan agar menyimpan dua pusaka Indonesia itu.

Bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila merupakan semangat dan tuntunan hidup manusia. Merah Putih melambangkan keseimbangan antara kerja keras dan relasi dengan Tuhan. Garuda Pancasila mengayomi dan menuntun manusia ke jalan yang benar.

Upacara pernikahan terbagi menjadi empat tahap, yaitu serah-serahan, jamasan dan siraman, penyerahan pusaka, dan larungan. Jamasan merupakan upacara penyucian kedua mempelai dengan air kendi. Setelah itu, kendi dipecahkan sebagai simbol menyirnakan kegelapan. Siraman merupakan pembersihan hati menggunakan air bunga tujuh rupa. Setelah itu, rambut kedua mempelai dipotong sedikit dan diletakkan di daun sirih bernama Suruh Wulung Temu Rose.

Ketika ritual selesai, hadirin berebut janur kembar mayang yang dirangkai dari aneka hasil bumi. Mereka percaya, jika memperoleh aneka hasil bumi itu pasti mendapat berkah. Upacara dilanjutkan di Sasana Hangudi Sembah Raosing Gesang. Di tempat yang berarti ucapan rasa syukur atas hidup, kedua pasangan memperoleh pusaka berupa keris, bendera Merah Putih, dan Garuda Pancasila.
Mempelai juga mendapat pusaka piyandel (kepercayaan kepada Tuhan), pangucap (perkataan), dan pakarti (budi pekerti). Pusaka merupakan inti hidup relasi manusia, khususnya suami-istri. Kedua mempelai harus merampungkan upacara pernikahan di Pantai Parangkusumo, DI Yogyakarta. Mereka harus melarung tumpeng krobyong atau nasi kuning berisi kuluban dan lauk-pauk, serta suruh wulung temu rose yang berisi potongan rambut mereka.

Demikian rangkaian pernikahan penganut Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa Kekadangan Wringin Seto yang digelar di Wisma Pratama Kabupaten Blora, pada acara Pembinaan Generasi Muda Penghayat se eks Karesidenan Pati.  Prosesi Pernikahan Penghayat Kepercayaan ini merupakan sebuah tampilan adat dan tradisi pada acara yang difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Kabupaten Blora.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 28 s/d 30 Oktober 2015 ini mengadirkan beberapa pembicara dari berbagai instansi. Diantaranya Dra, Sri Surami, M.Si. dari Badan Kesbangpol & Linmas Provinsi Jawa Tengah, Supriyono, MM. dari Dinakertransduk Provinsi Jawa Tengah, Dony Eko Cahyono, SH dari Kejaksaan Tinggi Provinsi Jawa Tengah, Yulianingsih, SH. MH. dari Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Widodo, S. Pd. M.Pd. dari Dinas Pendidikan dan Olah Raga Kab. Blora, dan Fathul Himam, S.Ag. M.Pd. dari Kementerian Agama Kab. Blora. Secara resmi acara ini dibuka oleh Kepala DPPKKI Kabupaten Blora Slamet Pamuji,SH. M.Hum. 

Dilindungi Undang-Undang

Pemerintah Kabupaten Blora dan paguyuban penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkomitmen melestarikan pernikahan adat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain telah diatur dalam undang-undang dan peraturan pemerintah, pernikahan itu merupakan salah satu tradisi unik bangsa Indonesia yang melestarikan semangat kebangsaan.

Pencatatan pernikahan dan status penganut kepercayaan tersebut diatur dalam Pasal 61 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 (UU 23/2006) tentang Administrasi Kependudukan. Kemudian diperjelas lagi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 (PP 37/2007) tentang Pedoman Pelaksanaan UU Nomor 23/2006 Pasal 81, 82, dan 83.

Peraturan tersebut hanya berlaku pada paguyuban penganut kepercayaan yang telah terdaftar di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Di Blora, dari puluhan paguyuban penganut kepercayaan, yang terdaftar hanya 10 paguyuban. Selain itu, untuk melaksanakan pernikahan, paguyuban itu harus mempunyai pemuka penganut kepercayaan. Pemuka tersebut harus memiliki sertifikasi atau Surat Keputusan (SK) yang diterbitkan oleh Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kepala Bidang Kebudayaan DPPKKI Kabupaten Blora Suntoyo mengemukakan bahwa pemerintah berkomitmen melestarikan pernikahan adat penganut kepercayaan. Adat pernikahan tersebut sangat unik dan kental dengan semangat kebangsaan.















Jumat, 23 Oktober 2015

TANPA KOMAT KAMIT, TUMPENG SUDAH BERBICARA


Tidak perlu berkomat-kamit, Tumpeng sudah berbicara karena Tumpeng merupakan wujud nyata dari doa dan rasa syukur kepada sang pencipta, apapun latar belakang agama dan kepercayaannya. Dalam masyarakat jawa, Tumpeng yang merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sudah menjadi tradisi turun temurun, dimana mempunyai filosofi dan laku spiritual yang sangat tinggi.

Hal ini disampaikan oleh Widodo Brotosejati, S.Sn. M.Sn. Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNNES sekaligus Budayawan Jawa Tengah yang menjadi salah satu nara sumber dalam sebuah gelar "Dialog Budaya dan Tradisi Tahun 2015"  yang bertempat di Monumen PKK Provinsi Jawa Tengah, Ungaran, Kabupaten Semarang. Dengan mengambil tema "Makna Tumpeng dalam Budaya Jawa" beliau menjelaskan tentang betapa pentingnya sebuah tradisi tumpengan dalam kehidupan manusia khususnya masyarakat jawa.

Pada kesempatan sebelumnya "Nilai - nilai Seni Tradisi Jawa Tengah bagi Generasi Muda" menjadi tema yang diangkat oleh Dr. Agus Maladi Irianto MA. Beliau adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNDIP Semarang. Seni tradisi yang disikapi sebagai kearifan lokal tidak bisa dihindari untuk bersentuhan dengan globalisasi. Seni tradisi idealnya direvitalisasi dan bukan sebaliknya, mengisolasinya dari perkembangan zaman karena sama saja mendorong ekspresi kebudayaan tersebut ke arah kehancuran, jelas beliau.

Dialog yang berlangsung pada hari Kamis Wage 22 Oktober 2015 ini diikuti 100 peserta se eks karesidenan Semarang yang difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Acara yang dilaksanakan selama satu hari penuh ini mengambil tema "Pemanfaatan Warisan Budaya sebagai Modal Pembentukkan Karakter Generasi Muda". Secara resmi acara ini dibuka oleh Kepala Bidang Nilai Budaya Seni dan Film, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Drs. Mulyono, M.Pd.

Acara ini juga dimeriahkan dengan pentas seni tari dan gelar adat dan tradisi  yang diperankan sejumlah penari dari Sanggar Satria Wonosobo pimpinan seniman muda Waket Prasudi Puger.

Kamis, 08 Oktober 2015

PERSOALAN BANGSA BISA DISELESAIKAN SECARA DAMAI

SEREN TAUN 18-22 RAYAGUNG 1948


Warga adat penghayat Sunda Wiwitan di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, merayakan puncak upacara adat Seren Taun 1948 Saka Sunda dalam persembahan doa yang disampaikan perwakilan umat berbagai agama, Selasa (6/10). Melalui upacara Seren Taun kali ini, warga adat Sunda Wiwitan berharap, segala persoalan kebangsaan diselesaikan dalam suasana damai, dan senantiasa mengutamakan keutuhan negara.

Hal itu terungkap dalam rangkaian upacara adat Seren Taun pada 1-6 Oktober, di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur. Sejumlah acara mengisi upacara adat itu, antara lain pembuangan hama, tarian tradisional yang menggambarkan kearifan warga Sunda yang agraris, penumbukan padi bersama-sama, dan permainan tradisional anak-anak Sunda.

Segala perbedaan melebur menyatu padu dalam keragaman. Balita, remaja tua, muda, pria dan juga wanita, menjadi satu. Tak melihat latar belakang agama ataupun suku, warga Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dengan sukacita, merayakan tradisi Seren Taun ini.

Beberapa saat setelah matahari terbit, warga sudah bergegas dan beramai-ramai menuju Gedung Paseban. Dengan barisan indah dan pakaian adat yang rapi, mereka membawa berbagai macam hasil alam, terdiri dari padi, palawija, sayur-mayur, serta buah-buahan, yang dihasilkan dalam kurun satu tahun. Tak sedikit pula, warga yang membawa makanan ringan yang dibungkus dan dihias.

Sebelum menyerahkan hasil kekayaan alam, warga bersukacita dengan menyaksikan penampilan berbagai tarian dan kesenian tradisi setempat, yaitu tari jamparing apsari, tari buyung, puraga baya, angklung baduy, angklung buncis, rengkong, kaulinan barudak lembur.

Setelah bersukacita dalam tarian kolosal, seluruh hasil kekayaan alam, dikumpulkan untuk dinikmati bersama-sama oleh warga yang hadir. Sebagian makanan akan dibagikan pada pihak yang membutuhkan.



Sesepuh adat masyarakat Sunda Wiwitan di Cigugur yang juga pemimpin Ajaran Karuhun Urang (Akur), Pangeran Djatikusumah, Senin malam, mengatakan, upacara Seren Taun akan terus diadakan untuk menyuarakan semangat ajaran leluhur yang mengutamakan jiwa "sepengertian" meski tidak "sepengakuan." Artinya, walaupun pengakuan agama dan kepercayaan warga berbeda-beda, mereka memiliki kesadaran bahwa mereka adalah satu saudara, sebangsa, dan setanah air yang satu pengertian.

"Sebagai orang Sunda, misalnya, meskipun berbeda-beda agamanya, masih tetap orang Sunda yang harus saling mengasihi dan menghormati satu sama lain. Sikap gotong royong juga disemaikan antarwarga tanpa melihat agama atau kepercayaannya, tetapi dengan mempertimbangkan bahwa mereka adalah satu saudara," kata Pangeran Djatikusumah.

Upacara adat Seren Taun juga menggaungkan perjuangan untuk kesetaraan hak-hak sipil, antara warga negara yang memeluk enam agama yang diakui dan warga negara yang memeluk ajaran karuhun (leluhur). Hingga saat ini, pencatatan atas tiga hal yang seharusnya berdampak hukum bagi setiap warga negara, yakni menyangkut kelahiran, perkawinan, dan kematian, belum dirasakan setara oleh warga adat, tidak hanya di Cigugur, tetapi juga di Cireundeu di Cimahi, dan Baduy di Banten.

Selain soal kesetaraan, Seren Taun juga memperjuangkan pengelolaan alam dan pertanian yang ramah lingkungan. Pada upacara adat itu, warga Sunda Wiwitan mempraktikkan lagi pembuangan hama, bukan pembasmian hama.

Dirmah (77), petani di Cigugur, mengatakan, selama ini dirinya belum mempraktikkan pertanian organik dan ramah lingkungan sebagaimana diajarkan leluhurnya. Namun, dengan upacara ini, ia merasa diingatkan kembali bahaya obat-obatan kimia terhadap manusia dan makhluk lain.

Pangeran Djatikusumah menambahkan, Seren Taun akan terus dilakukan sebagai sumbangsih warga adat Sunda Wiwitan pada kelestarian bumi Indonesia.
 

Keragaman
Seren artinya menyerahkan, dan taun artinya tahun. Seren Taun dinilai sebagai bentuk ungkapan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki dan keberkahan yang melipah selama satu tahun. warga meyakini, Seren Taun bukan sekadar perayaan, sebagai permenungan. Mereka berdoa agar tahun mendatang, Tuhan senantiasa memberikan keberkahan yang melimpah bagi umat manusia.

Seluruh rangkaian yang sudah berlangsung sejak tanggal 01 Oktober lalu, berjalan kidmat dan sakral. Seren Taun kali ini bertema “Pakena Gawe Rahayu Pakeun Ngertakeun Bumi Lamba” yang berarti melakukan perbuatan yang baik untuk kesejahteraan dunia.

Selain itu, ada nilai yang luar biasa dalam tradisi ini, yakni soal kedamaian dan kerukunan antar umat beragama. Warga yang hadir berasal dari berbagai unsur agama dan kepercayaan, antara lain Sunda Wiwitan, Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan juga Tionghoa.











Sumber : kompas.com

PERAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN DALAM MENSUKSESKAN NAWA CITA

DALAM SARASEHAN PENGAHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA KABUPATEN SEMARANG



Bertempat di Hotel Sari Marin, Bandungan, sekurang – kurangnya 60 penghayat kepercayaan berkumpul untuk melaksanakan Sarasehan Daerah se Kabupaten Semarang.
Acara yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari ini mulai Rabu Wage (7/10) sampai dengan Kamis Kliwon (8/10) merupakan acara yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang.
Sarasehan ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, Drs. Mukadi.  Hadir dalam acara pembukaan Kepala Seksi Nilai Budaya, Bidang Nilai Budaya, Seni dan Film Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Selain itu juga hadir sekaligus sebagai pembicara adalah Ki Adi Samidi, paranporo HPK Jawa Tengah, Dr. Ganang Trikora Waluya, SH yang merupakan ketua organisasi kepercayaan Prana Jati.










Sabtu, 03 Oktober 2015

DEKLARASI GENERASI MUDA PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

DARI CIANJUR UNTUK NUSANTARA

Cianjur, 4 Oktober 2015, merupakan torehan sejarah, sebuah semangat berkobar menyongsong datangnya Hari Pemuda dan sekaligus menjadi tonggak baru peran generasi muda pelaku budaya spiritual warisan nenek moyang nusantara. Dengan kesepakatan bersama oleh 79 pemuda dan pemudi Indonesia yang berasal dari beberapa penjuru nusantara bagian barat ini, telah mendeklarasikan suatu wadah dengan nama Generasi Muda Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (GMPK).

Deklarasi ini terwujud pada puncak kegiatan yang difasilitasi oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan yang bertajuk "Pembinaan Generasi Muda Pengahayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa" ini dilaksanakan di Hotel Ciloto Indah Permai Kabupaten Cianjur dan berlangsung selama 4 (empat) hari yaitu mulai hari Kamis (1/10) sampai dengan hari Minggu (4/10).

Acara pembukaan terlihat sangat indah dan penuh keharmonian karena semua peserta kegiatan ini memakai pakaian adat dari masing-masing daerah/organisasi kepercayaan. Kemeriahan pun berlanjut saat tiga penari menunjukkan kepiawaiannya dalam membawakan tari tradisional yang sebelumnya didahului sambutan sekaligus membuka kegiatan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Kacung Marijan. Ph. D. 

Hadir dalam acara pembukaan, Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Dra. Sri Hartini, M. Si., Kasubdit. Kelembagaan Kepercayaan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi Dra. Wigati, dan beberapa pejabat dinas kebudayaan kabupaten Cianjur serta pejabat dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung.

Pemuda Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelestari kebudayaan dibidang budaya spiritual juga harus berjuang untuk dapat mengikuti perkembangan jaman yang semain pesat agar tidak tertinggal, serta dapat mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. 

Ketika ditinjau dari segi usia, pendidikan dan sosial ekonomi dan sebagainya, kondisi dan keberadaan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bervariasi. Dari segi usia, separuhnya rata-rata memasuki usia tua. Karena itu perlu adanya persiapan dan penataan, serta regenerasi untuk kelangsungan keberadaan organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Disamping itu, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat akan berpengaruh terjadinya pergeseran nilai-nilai, sehingga dikawatirkan nilai-nilai luhur yang tertanam pada generasi muda lambat laun mulai berubah dan dapat berpengaruh terhadap ketahanan nasional. 

Atas dasar pemikiran tersebut maka perlu adanya upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, wawasan, dan pengetahuan generasi muda penghayat kepercayaan dibidang manajemen organisasi dan pengembangan sumber daya serta bisa mengembangkan sikap kritis para generasi muda penghayat kepercayaan sehingga dapat memposisikan diri dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Keterkaitan dengan generasi muda maka kegiatan ini menghadirkan beberapa pembicara diantaranya dari DPR RI Komisi X Ir. H.M. Ridwan Hisjam, Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dra. Sri Hartini, M.Si., sejarawan dan budayawan DR. Hilmar Farid, Akademisi dari Universitas Negeri Malang Dr. Abdul Latif Bustami, M.Si., Kepala BPNB Bandung Drs. Toto Sucipto, Lembaga Trainer dan motivasi Zea Hanan, dan Tokoh Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Romo Panji Etiko Kusjatmiko, SH./ RG. KRA. Suryaningrat II (Pembina Perguruan Trijaya - Pusat Tegal).

Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk klasikal, seminar, dan dialog interakatif. Selain itu juga diisi dengan acara senam bersama, ice breaking dan outbond. Diharapkan dengan kegiatan outdoor yang bervariatif ini para peserta dapat menjaga kesehatan dan bisa mengembangkan kemampuan intelektualnya serta mampu meningkatkan rasa gotong royong dan saling menghargai antara sesama peserta.

Dengan terbentuknya deklarasi GMPK, Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Tradisi Dra. Sri Hartini, M.Si. mendukung sepenuhnya. Dalam sambutan acara penutupan kegiatan, beliau menantikan aksi nyata dan program kerja GMPK pada masa yang akan datang. Dengan terbentuknya GMPK ini diharapkan menjadi rekan direktorat dalam rangka meningkatkan peran penghayat kepercayaan dalam kancah pembangunan nasional maupun di dunia internasional. "Dalam hal diplomasi budaya, tidak hanya dalam lingkup seni yang merupakan budaya lahiriah tetapi juga nilai budaya khususnya budaya spiritual, untuk itu jangan ragu untuk menyampaikan dan memperkenalkan bahwa kita adalah penghayat kepercayaan, pelaku budaya spiritual asli nusantara" imbuh beliau.



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DEKLARASI DUKUNGAN PEMBENTUKAN ORGANISASI GENERASI MUDA PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA
Cianjur, 4 Oktober 2015


Kami, Generasi Muda Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa peserta Pembinaan Generasi Muda Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan menyatakan bahwa:


1. Penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa telah berperan dalam memperjuangkan 4 (empat) konsensus dasar bangsa dan Negara Indonesia, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

2.  Generasi Muda Penghayat sebagai bagian Bangsa Indonesia siap memperjuangkan, mempertahankan dan menegakkan 4 (empat ) konsensus dasar Indonesia dan pembangunan nasional.

3. Generasi Muda mendeklarasikan dukungan pembentukan organisasi Generasi Muda Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

4.   Hal-hal yang berhubungan dengan tahapan pembentukan dilakukan sesuai dengan perundang-undangan tentang organisasi kemasyarakatan dan dilaksanakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Cianjur, 04 Oktober 2015 
Perwakilan Peserta


1.   Manto Sirait 
      (Parmalim Provinsi Sumatera Utara)
2.    Retno Budi A, SS
(Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan YME Provinsi Lampung)
3.    Demmamala, S.IP

(Mapporondo Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat)
4.    Fatma Rarasmara, A.Md

(Organisasi Suatmoyo Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah)
5.    Deni Lazuardi, A.Md

(Perguruan  Trijaya Kabupaten Tegal Provinsi Jawa Tengah)
6.    Parno
(Paguyuban Kerukunan Sedulur Sikep Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah)
7.    Putut Sugiarto
       (Organisasi Purnomo Sidi Provinsi Jawa Tengah)
8.    Sulistyo Harjo    

(Organisasi Sukoreno Daerah Istimewa Yogyakarta)
9.   Vindy Ariswiendar Pratama ,STP.

(Organisasi Prana Jati Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah)
10. Hari Soelistyo Adi

(PERSADA Sapta Darma Kotamadia Surabaya Provinsi Jawa Timur)
11. Dian Rahadian 
      (Organisasi Aji Dipa Kotamadia Bandung Provinsi Jawa Barat)

12. Triani Yuliastuti,SE
(Organisasi Trisoka DI Yogyakarta)

 13. Suyut Pamuji                                                                   
(Organisasi Paguyuban Ehlasing Budi Murko DI Yogyakarta)

 14. Agus Sutanto
      (Paguyuban Budaya Bangsa Provinsi Lampung)

 15. Suminah
       (Paguyuban Resik Kubur Jero Tengah Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------