Kamis, 08 Oktober 2015

PERSOALAN BANGSA BISA DISELESAIKAN SECARA DAMAI

SEREN TAUN 18-22 RAYAGUNG 1948


Warga adat penghayat Sunda Wiwitan di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, merayakan puncak upacara adat Seren Taun 1948 Saka Sunda dalam persembahan doa yang disampaikan perwakilan umat berbagai agama, Selasa (6/10). Melalui upacara Seren Taun kali ini, warga adat Sunda Wiwitan berharap, segala persoalan kebangsaan diselesaikan dalam suasana damai, dan senantiasa mengutamakan keutuhan negara.

Hal itu terungkap dalam rangkaian upacara adat Seren Taun pada 1-6 Oktober, di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur. Sejumlah acara mengisi upacara adat itu, antara lain pembuangan hama, tarian tradisional yang menggambarkan kearifan warga Sunda yang agraris, penumbukan padi bersama-sama, dan permainan tradisional anak-anak Sunda.

Segala perbedaan melebur menyatu padu dalam keragaman. Balita, remaja tua, muda, pria dan juga wanita, menjadi satu. Tak melihat latar belakang agama ataupun suku, warga Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dengan sukacita, merayakan tradisi Seren Taun ini.

Beberapa saat setelah matahari terbit, warga sudah bergegas dan beramai-ramai menuju Gedung Paseban. Dengan barisan indah dan pakaian adat yang rapi, mereka membawa berbagai macam hasil alam, terdiri dari padi, palawija, sayur-mayur, serta buah-buahan, yang dihasilkan dalam kurun satu tahun. Tak sedikit pula, warga yang membawa makanan ringan yang dibungkus dan dihias.

Sebelum menyerahkan hasil kekayaan alam, warga bersukacita dengan menyaksikan penampilan berbagai tarian dan kesenian tradisi setempat, yaitu tari jamparing apsari, tari buyung, puraga baya, angklung baduy, angklung buncis, rengkong, kaulinan barudak lembur.

Setelah bersukacita dalam tarian kolosal, seluruh hasil kekayaan alam, dikumpulkan untuk dinikmati bersama-sama oleh warga yang hadir. Sebagian makanan akan dibagikan pada pihak yang membutuhkan.



Sesepuh adat masyarakat Sunda Wiwitan di Cigugur yang juga pemimpin Ajaran Karuhun Urang (Akur), Pangeran Djatikusumah, Senin malam, mengatakan, upacara Seren Taun akan terus diadakan untuk menyuarakan semangat ajaran leluhur yang mengutamakan jiwa "sepengertian" meski tidak "sepengakuan." Artinya, walaupun pengakuan agama dan kepercayaan warga berbeda-beda, mereka memiliki kesadaran bahwa mereka adalah satu saudara, sebangsa, dan setanah air yang satu pengertian.

"Sebagai orang Sunda, misalnya, meskipun berbeda-beda agamanya, masih tetap orang Sunda yang harus saling mengasihi dan menghormati satu sama lain. Sikap gotong royong juga disemaikan antarwarga tanpa melihat agama atau kepercayaannya, tetapi dengan mempertimbangkan bahwa mereka adalah satu saudara," kata Pangeran Djatikusumah.

Upacara adat Seren Taun juga menggaungkan perjuangan untuk kesetaraan hak-hak sipil, antara warga negara yang memeluk enam agama yang diakui dan warga negara yang memeluk ajaran karuhun (leluhur). Hingga saat ini, pencatatan atas tiga hal yang seharusnya berdampak hukum bagi setiap warga negara, yakni menyangkut kelahiran, perkawinan, dan kematian, belum dirasakan setara oleh warga adat, tidak hanya di Cigugur, tetapi juga di Cireundeu di Cimahi, dan Baduy di Banten.

Selain soal kesetaraan, Seren Taun juga memperjuangkan pengelolaan alam dan pertanian yang ramah lingkungan. Pada upacara adat itu, warga Sunda Wiwitan mempraktikkan lagi pembuangan hama, bukan pembasmian hama.

Dirmah (77), petani di Cigugur, mengatakan, selama ini dirinya belum mempraktikkan pertanian organik dan ramah lingkungan sebagaimana diajarkan leluhurnya. Namun, dengan upacara ini, ia merasa diingatkan kembali bahaya obat-obatan kimia terhadap manusia dan makhluk lain.

Pangeran Djatikusumah menambahkan, Seren Taun akan terus dilakukan sebagai sumbangsih warga adat Sunda Wiwitan pada kelestarian bumi Indonesia.
 

Keragaman
Seren artinya menyerahkan, dan taun artinya tahun. Seren Taun dinilai sebagai bentuk ungkapan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki dan keberkahan yang melipah selama satu tahun. warga meyakini, Seren Taun bukan sekadar perayaan, sebagai permenungan. Mereka berdoa agar tahun mendatang, Tuhan senantiasa memberikan keberkahan yang melimpah bagi umat manusia.

Seluruh rangkaian yang sudah berlangsung sejak tanggal 01 Oktober lalu, berjalan kidmat dan sakral. Seren Taun kali ini bertema “Pakena Gawe Rahayu Pakeun Ngertakeun Bumi Lamba” yang berarti melakukan perbuatan yang baik untuk kesejahteraan dunia.

Selain itu, ada nilai yang luar biasa dalam tradisi ini, yakni soal kedamaian dan kerukunan antar umat beragama. Warga yang hadir berasal dari berbagai unsur agama dan kepercayaan, antara lain Sunda Wiwitan, Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan juga Tionghoa.











Sumber : kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar