Senin, 21 Desember 2015

KETIDAKADILAN ADALAH MUSUH SEMUA GOLONGAN AGAMA DAN KEPERCAYAAN

Bentuk perjuangan Pangeran Madrais dalam melestarikan dan mengembangkan ajaran leluhur harus kita koalisi untuk tidak boleh menyerah pada ketiakadilan. Ketidakadilan itu adalah musuh semua golongan agama dan kepercayaan. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA Ketua Umum ICRP ( Indonesia Conference on Religian and Peace) dalam acara peringatan hari lahir sesepuh Sunda Wiwitan Pangeran Madarais, Minggu Pon 20 Desember 2015  di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

Pangeran Madrais, adalah keturunan dari Kesultanan Gebang, sebuah kesultanan di wilayah Cirebon Timur. Ketika pemerintah Hindia Belanda menyerang kesultanan ini, Madrais diungsikan ke daerah Cigugur. Sang pangeran yang juga dikenal sebagai Pangeran Sadewa Alibasa,  mengembangkan pemahaman yang digalinya dari tradisi pra-Islam masyarakat Sunda yang agraris. Ia mengajarkan pentingnya menghargai cara dan ciri kebangsaan sendiri, yaitu Sunda.

Madrais menetapkan tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda sebagai hari raya Seren Taun yang diperingati secara besar-besaran. Upacara ini dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Pangeran Madrais yang didirikan pada 1860, dan yang kini lanjutkan oleh Pangeran Djatikusuma yang merupakan cucu dari Pangeran Madrais. Dalam upacara seren taun ini, berbagai rombongan dari masyarakat datang membawa bermacam-macam hasil bumi. Padi-padian yang dibawa, kemudian ditumbuk beramai-ramai dalam lesung sambil bernyanyi (ngagondang).

Dalam acara peringatan hari lahir ini, dilaksanakan pula pengukuhan kepada delapan putera puteri Pangeran Jatikusumah dalam melestarikan ajaran Sunda Wiwitan. Pengukuhan para pengurus adat yang teridiri atas 10 wilayah di Jawa Barat. "Kami Para Putera diberikan tugas sebagai Girang Pangaping, yang bertugas mendampingi beberapa komunitas yg tersebar di beberapa wilayah", jelas Ratu Dewi Kanti Setianingsih yang merupakan salah satu puteri Pangeran Jatikusumah.

Acara ini juga untuk menegaskan kembali pada struktur lama yaitu fungsi Tritangtu yang terdiri dari Rama, Resi, Ratu. Rama lebih bertugas pada nilai spiritual, Resi lebih bertugas pada implementasi nilai etika moral dalam aplikasi kreatifitas. Kemudian Ratu atau Prabu bertugas untuk hubungan diplomatik dengan pihak luar, baik dengan negara maupun sosial masyarakat, tambah salah satu buyut dari Pangeran Madrais ini.

Selain dihadiri Prof. Dr. Musdah Mulia, acara ini juga dihadiri oleh Ketua Umum Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Nia Sjarifudin dan Kasi Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, S.Pd M.Pd, serta Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Rana Suparman S.sos.
 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar