Selasa, 20 Desember 2016

SINDEN IDOL, MEDIA AJANG BAKAT GENERASI MUDA PELESTARI TRADISI JAWA

10 sinden remaja secara bergantian mendendangkan tembang jawa dengan apik, memecah sunyinya malam dan dinginnya udara di Pendopo Kampung Jawa, komplek UNNES Semarang. Hujan turun saat peserta undi ke 2 dengan sukses menyelesaikan tembang pilihan yaitu langgam Ruwat Punagi, karya Ki Widodo Brotosejati.

Ajang bakat tersebut dinamakan sebagai Sinden Idol 2016, yang merupakan satu-satunya ajang bakat di Indonesia dalam menelorkan para pesinden muda yang berbakat dan berdedikasi tinggi. Sinden Idol ini merupakan yang ke tiga kalinya digelar oleh UNNES Semarang dengan jangka waktu 2 tahun sekali sejak tahun 2012.

Mambaul Khasanah dari Trenggalek, Jatim, menjadi juara I dalam kompetisi sinden muda berbakat, final Sinden Idol III 2016, Minggu (18/12) malam, di Kampung Budaya Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Ulul panggilan akrabnya,  menyisihkan 10 pesaingnya diantaranya Eka Prihatiningsih (Sragen), Sri Sekar Rabulla (Jombang), Tri Utari (Ponorogo), Dita Intawati (Banyuwangi), dan Nugraha Pawesti (Semarang).
Kemudian, Mayang Anjarsari dari Blora, Riris Kumalasari juga berasal dari Blora, Maya Yuanita (Kudus), Surati (Rembang).

Ia memyampaikan, tidak menyangka bisa bisa memenangkan kompetisi yang terselenggara atas hasil kerja sama IKA UNNES, Setda Jawa Yengah dengan UNNES ini. Sebab, dia menilai puluhan pesaingnya saat audisi yang diselenggarakan Minggu (18/12), memiliki suara yang bagus dan mumpuni dalam jagat sinden.

Menurutnya, kompetisi Sinden Idol memberi dampak positif terhadap jagat seni tembang Jawa. Terlebih lagi, dia mengatakan, acara ini bisa menjadi pemicu bagi generasi muda untuk lebih giat dalam mempelajari kesenian.

Rektor UNNES, Prof Dr Fathur Rokhman MHum, menyatakan UNNES mendukung setiap kegiatan pelestarian dan pengembangan terkait kebudayaan. Sinden Idol merupakan bagian dari visi Unnes menjadi Universitas Konservasi.









Sabtu, 10 Desember 2016

KONSER KARAWITAN TERLAMA

Sebanyak 13 sanggar seni karawitan berunjuk kemampuan dalam sebuah konser karawitan terlama, yakni 36 jam non stop. Acara yang bertajuk Gema Karawitan Nusantara (GATRA) 2016, ini dilaksanakan di halaman RRI Semarang, Jl. A. Yani 144-146 Semarang.

Ke 13 sanggar karawitan tersebut antara lain Pujangga Laras dari Surakarta, ISI Surakarta, Pandhan Sari dari Karanganyar, Manunggal Rasa dari Amerika, Mayangkara dari Surakarta, Wilis Prabowo dari Wonogiri, Sukoraras dari Semarang, Junggiri Laras dari Kartosuro, Mustika Laras dari Boyolali, Ngripta Laras dari Purwodadi, Sekar Domas dari UNNESS Semarang, dan Cakraningrat dari Rembang.

Acara ini digelar dalam rangka memperingati jasa para pahlawan bangsa, khususnya para pahlawan di dunia karawitan. "Kami menggelar acara ini untuk memperingati jasa para leluhur yang telah menciptakan, menggagas dan melestarikan seni karawitan jawa", jelas Ki Mulyono, Pimpinan Sanggar Karawitan Sukoraras Semarang yang sekaligus ketua penyelenggara acara ini.

GATRA 2016 dibuka Sabtu pagi (10/12) jam 9 oleh Dr. Sudarto, MA, mewakili Sekda Provinsi Jawa Tengah yang waktu itu berhalangan hadir. Sebelumnya ditampilkan sebuah tari Bedaya yang diperagakan secara apik oleh 9 penari cantik, mahasiswi Jurusan Tari Fakultas Bahasa dan Seni UNNES Semarang.

Dalam acara ini juga digelar doa bersama lintas agama dan kepercayaan, yang dipimpin oleh Widodo Brotosejati dan beberapa perwakilan tokoh agama dan kepercayaan kota Semarang. Doa tersebut diiringi pula dengan mendendangkan tembang macapat Dandanggula.


 
 

Minggu, 27 November 2016

FESTIVAL BARONGAN NUSANTARA III, BUKTI BLORA LAYAK DISEBUT SEBAGAI KOTA BARONGAN

Sebanyak 26 kelompok barongan mengikuti pawai dalam rangka Festival Barongan Nusantara ketiga di Blora, Sabtu (26/11). Pawai yang diberangkatkan Bupati Djoko Nugroho dari Alun-alun itu menarik perhatian warga.

Tak hanya dari Blora, warga yang menyaksikan pawai di kawasan Alun-alun, jalan Pemuda dan jalan Ahmad Yani itu berasal pula dari sejumlah daerah di Jateng dan Jatim, termasuk turis mancanegara.

Mereka ingin tahu kreasi terbaru dari setiap grup peserta pawai.”Dari brosur festival ada penyebutan pawai barongan brai dan ampyak-ampyak barongan. Kami penasaran barongan yang ditampilkan itu seperti apa. Sebab kata brai dan ampyak belum begitu familiar di telinga kami warga Jawa Timur,” ujar Susilowati warga Bojonegoro yang menyaksikan pawai di Blora.

Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora Slamet Pamuji mengemukakan, ampyak-ampyak barongan merupakan barongan hura-hura. Sedangkan barongan brai kata lain dari barongan yang telah dimodifikasi. Tak mengherankan dalam pawai itu 13 grup yang masuk kategori brai menyuguhkan kreasinya masing-masing.

“Ornamen barongan, tari-tarian dan tetabuhan yang mengiringinya menunjukan bahwa Blora layak disebut Kota Barongan. Karena memang sangat menarik,” kata Reni warga Grobogan.

Pawai barongan dimeriahkan pula penampilan tiga tim dari tamu dari Jepara yang menampilkan barongan godong (Bardong), grup barongan Glagahwangi Demak, serta barongan Topeng Ireg dari Selo Boyolali.

Grup barongan Risang Guntur Seto (RGS) dari Blora membuka pawai.”Saya mengapresiasi, bagus sekali untuk membumikan barongan asli Blora menjadi ikon. Terimakasih atas peran serta dari Kabupaten Boyolali, Demak dan Jepara,” kata Bupati Blora Djoko Nugroho.


Rabu, 09 November 2016

AMANAT KONSTITUSI : MELINDUNGI SEGENAP BANGSA, DENGAN MEMBERIKAN LAYANAN PENDIDIKAN

"Meskipun sekarang telah muncul Peraturan Menteri, tetapi jauh dari itu kerangka berpikir kita bisa lebih mendasar yaitu mengacu pada amanat konsitutusi UUD 1945, yang menjelaskan bahwa negara mempunyai tugas dan kewajiban melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa" jelas Dirjen Kebudyaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid, P.hD pada acara Sosialisasi Permendikbud No. 27 Tahun 2016, tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Pada Satuan Pendidikan di Hotel Horison Semarang, Selasa (8/11).

Pelaksanaan pendidikan untuk warga negara, dia juga meminta untuk tidak membeda-bedakan bentuk layanan baik secara suku, ras bahkan agama yang dianut, termasuk juga kepercayaan dimana punya hak dan perlakuan yang sama dimata hukum dan pemerintahan sebagai warga negara Republik Indonesia.

Namun dengan terbitnya Permendikbud ini diharap bisa lebih menguatkan dalam hal pelayanan dan perlindungan sebagai payung hukum bagi para penganut kepercayaan yang notabene mereka adalah penganut agama lokal nusantara.

Sosialisasi ini diikuti seluruh Kepala Dinas Pendidikan se Jawa Tengah dan beberapa dari provinsi Jawa Barat, DIY dan Jawa Timur. Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari mulai Senin (7/11) sampai dengan Rabu (9/11) ini juga diikuti beberapa Kepala Sekolah yang mempunyai peserta didik penganut kepercayaan, dinas yang membidangi Kebudayaan, dan perwakilan organisasi Kepercayaan yang ada di Provinsi Jawa Tengah.

Acara ini dihadiri juga Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Dra. Sri Hartini, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Jateng Drs. Nurhadi Amiyanto, M.Ed, Kabid Nilai Budaya Seni dan Film Dinbudpar Jateng Drs. Mulyono, M.Pd, Kepala BKSP Jateng Ir. Hertoto Basuki, dan Presidium MLKI Suprih Suhartono.






 











Sabtu, 05 November 2016

DIALOG PEREMPUAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN


Bertempat di Harris Hotel & Convention, Jl. Bangka 8-18, Gubeng, Surabaya, digelar sebuah acara  "Dialog Perempuan Penghayat Kepercayaan terhadapTuhan Yang Maha Esa". Acara ini diadakan oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan  Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (2 s/d 4 November 2016) ini diikuti oleh sekitar 200 orang peserta yang berasal dari perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari 12 Provinsi di Indonesia, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Provinsi Jawa Timur, Balai Pelestarian Nilai Budaya, dan Akademisi. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh pameran karya budaya hasil dari kerajinan organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran perempuan penghayat dalam pembentukan karakter bangsa, meningkatkan peran perempuan dalam pengelolaan organisasi penghayat kepercayaan, dan meningkatkan partisipasi perempuan penghayat dalam menjalankan peran regenerasi roda organisasi penghayat kepercayaan.

Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Asisten Pemerintahan Sekretariat Kota Surabaya, Yayuk Eko Agustin Wahyuni menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Surabaya baru – baru ini juga melakukan kegiatan yang mengusung isu kesetaraan gender. Beliau menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Surabaya juga menggalakkan kegiatan yang dapat menumbuhkembangkan sikap dan sifat nasionalisme kepada anak – anak. Setelah pembukaan secara resmi dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Bedoyo Sukma Agung dari pelajar SMK 1 Surabaya.

Setelah Pemaparan materi, akan diadakan sidang komisi yang membahas 3 (tiga) hal, yaitu: 1. Komisi Perempuan dan Tata Kelola Organisasi; 2. Komisi Perempuan dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat; 3. Komisi Perempuan dan Pembangunan Karakter Bangsa. Hasil dari sidang komisi ini akan dijadikan rumusan sebagai pedoman dan perencanaan kegiatan pembinaan perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada waktu mendatang.

Kamis, 03 November 2016

4 WARISAN BUDAYA INDONESIA, SIAP TAMPIL DI UNNESCO

4 (empat) Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia siap diajukan kepada UNESCO untuk dicatatatkan sebagai warisan budaya dunia (World Intangible Herritage). Diantaranya adalah Pencak Silat, Pawukon, Pantun dan Lariangi.

Keempat WBTB tersebut telah memenuhi syarat dan lewat tahap seleksi oleh Kemendikbud melalui Direktorat Warisan Budaya dan Diplomasi, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Hal ini ditindaklanjuti dengan diadakannya rapat penyusunan dan pemaparan Kajian Akademis dari ke 4 WBTB tersebut yang diselenggarakan di Swiss-bell hotel Pondok Indah Hotel, 2 - 4 November 2016.

  

Minggu, 30 Oktober 2016

TUTUP SURO DENGAN GREBEG SURAN DAN FESTIVAL TENONGAN


Grebeg Suran dan Festival tenong yang dilaksanakan Minggu Pon (30/10) sebagai upacara tradisi tutup suro berlangsung sangat meriah. Ribuan peserta dari 12 desa penyangga Pariwisata Baturraden Banyumas, pelaku wisata Baturraden, menampilkan berbagai kreatifitas tenong.

Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Banyumas, Muntorichin mengatakan route festival grebeg suran dan lomba tenong tahun ini, jaraknya lebih pendek.

Tahun sebelumnya peserta diharuskan menempuh jarak 2 Km yang dimulai dari Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturaden, menuju parkir atas Lokawisata Baturraden. Tahun ini diberangkatkan dari depan Rumah Makan Pringsewu atau perempatan terminal bawah menuju lapangan dalam Lokawisata Baturraden.

Dengan route grebeg yang lebih pendek kerumunan penonton begitu menumpuk disepanjang route yang dilewati. Prosesi grebeg diawali dengan iring-iringan rombongan pembawa rontek dari Pramuka Kwarcab Banyumas diikuti sarana grebeg sura yang terdiri Ancak Gunung yang berisi hasil bumi beserta tumpeng tiga warna dan kambing kendit.

Kemudian rombongan dari Paguyuban Kerabat Mataraman (PAKEM) dan rombongan 12 desa penyangga wisata dan pelaku wisata menampilkan berbagai kreasi tenong. “Kelompok tenong dari Polres Banyumas juga turut memeriahkan kegiatan ini,” kata Muntorichin

Diantara rombongan yang paling menarik adalah ketika rombongan yang terdiri dari ratusan perempuan membawa Tenong (tempat makan terbuat bambu berbentuk bulat yang berisikan nasi dan lauk), juga 2 gunungan hasil bumi berukuran besar dan tumpeng tiga warna yang membuat orang penasaran ingin melihat dari dekat.
Biasanya pembawa tenong pada tahun sebelumnya didominasi oleh ibu-ibu, namun kali ini remaja putri tampil lebih banyak.

Sebelum mengikuti upacara larungan dan penyerahan sesajen dari Kerabat Mataram kepada Bupati, para peserta melakukan prosesi kirab dihadapan Bupati Banyumas Ir Achmad Husein berserta Ny Erna Husein, Wakil Bupati dr. Budhi Setiawan, Ketua DPRD Juli Krisdianto, Kepala Dinbudpar Jawa Tengah yang diwakili Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, perwakilan Forkompinda, kepala SKPD dan segenap tamu undangan lainnya.


Bupati mengaku bangga, bahwa kegiatan tahun ini, lebih meriah dan lebih tertib. Bupati juga memberi ucapan khusus kepada pembawa tenong dan paraga grebeg suran.

“Terima kasih kepada paraga grebeg suran khususnya pembawa tenong, kegiatan tahun ini lebih meriah dan tertib. Inilah kebersamaan kita, sambil melestarikan tradisi yang hampir punah dan penampilan kreasi baru untuk tenong yang akan menjadikan Wisata Budaya Banyumas lebih maju,” katanya.

Usai Bupati menyampaikan sambutan, ribuan masyarakat merangsek dua Gunungan dan berebut untuk mendapatkan hasil bumi itu. Kemudian dilanjutkan larungan tumpeng di kali Gumawang oleh Bupati Banyumas dan para tamu undangan.

Ada acara tambahan yang cukup unik, setelah larungan Bupati dan Wakil Bupati diminta untuk melakukan ritual adat “nyuwuk” (mengusap kepala anak kecil dan mendokan).

Sontak ini membuat pengunjung yang ada di Lokawisata membawa anak balitanya kepada bupati dan wakil bupati. Ada yang sekedar berjabat tangan, namun tidak sedikit yang meminta kepala anaknya diusap oleh bupati dan mohon didoakan agar kelak menjadi manusia yang berguna.

Bupati dan segenap jajarananya beserta tamu undangan selanjutnya makan tumpeng bersama di kompleks petilasan baturaden. Acara ini kemudian diakhiri dengan penyembilihan kambing kendit.


Selasa, 25 Oktober 2016

LAYANI HAK SEMUA WARGA NEGARA, TERMASUK PARA PENGANUT KEPERCAYAAN

Sebagai pengelola kebudaayaan, banyak sekali ditemui para pegawai di lingkungan SKPD yang membidangi kebudayaan, tidak mengetahui tentang Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga banyak kasus yang terjadi dimana warga penganut kepercayaan menjadi korban diskriminasi dalam hal pemenuhan hak - hak sipil yang melekat pada mereka sebagai sesama warga negara dengan pemeluk agama-agama lain yang diakui oleh negara.

Meskipun ada beberapa daerah yang telah melaksanakan pengelolaan kepercayaan dengan baik, namun lebih banyak daerah yang masih kurang dalam pelayanan. Ini dikarenakan masih adanya pola pikir dan cara pandang tentang kebudayaan kususnya tentang Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa menjadi sesutu hal tidak terlalu penting.

Untuk itu Derektorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kemendikbud RI menggelar kegiatan Peningkatan Kompetensi Pengelola Bidang Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi. Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 hari mulai hari Selasa (25/10) sampai dengan Sabtu (26/10) di Hotel Horison Semarang.

Peserta bintek ini berasal dari dinas yang membidangi kebudayaan, khususnya bidang Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, dari 4 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.

Bintek ini juga dalam upaya mensosialisai payung hukum yang terbaru bagi penganut kepercayaan, yaitu Permendikbud No. 27 Tahun 2016 tentang pelayanan pendidikan untuk warga kepercayaan. Sehingga dinas terkait yang ada di daerah bisa lebih mengerti dan mampu melaksanakan pelayanan terhadap penganut kepercayaan dalam hal pendidikan.

Seumur hidup menjadi pegawai, maka kita semua adalah pelayan. Pelayan sama dengan pembantu, maka bagaimana kita bisa menjadi pelayan yang baik. Sehingga ada istilah negara harus hadir dalam melakukan pelayanan, perlindungan dan advokasi bagi warga kepercayaan dan komunitas adat yang mengalami diskriminasi, jelas Dra. Sri Hartini, M.Si. Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi.

"Suka tidak suka kita harus hadir, negara harus hadir. Ah.. Itu tidak sesuai dengan agama kita, apa sih untungnya ngurus itu. Pikiran seperti ini harus disingkirkan jauh-jauh, yang kita dekatkan adalah rasa tanggung jawab dalam melayani masyarakat. Ini juga berkaitan dengan Nawa Cita Presiden Jokowi dimana tidak boleh ada diskriminasi. Ketidakadilan dan intoleransi kita berantas bersama-sama", lanjut Sri Hartini.


Di akhir materinya, Sri Hartini juga mengajak semua dinas yang ada di kabupaten dan kota untuk intensif melakukan kerjasama dalam upaya sosialisasi dan pelayanan bagi penganut kepercayaan. "Semua harus menterjemahkan nawa cita dan menariknya dalam RPJMN, Renstra dan Visi Misi serta berkoordinasi secara terus menerus", pungkasnya.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinbudapar Jateng Dr. Prasetyo Aribowo, SH, M.Soc. Sc. Selain diisi oleh beberapa Kasubdit di Direktorat KT (Kepercayaan dan Tradisi), kegiatan ini juga menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten dalam hal Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tradis.

Senin, 24 Oktober 2016

PERBEDAAN TAK HARUS BERSENGGOLAN


Hidup berdampingan dengan segala perbedaan ras, suku, agama dan juga bahasa itu sangatlah tidak mudah, tapi bukan berarti itu tidak mungkin bukan?  Tergantung bagaimana kita memandang  “perbedaan” itu sendiri. 

Jika kami saja yang berasal dari agama, keyakinan, suku dan ras yang berbeda, bisa duduk bersama dengan penuh kehangatan dan keakraban, lalu kenapa diluar sana banyak yang meributkan hal yang terkait dengan perbedaan? 

Tak hanya itu, bahkan sesama agama ataupun kelompok tertentu saja saling membuat jurang pemisah dan berujung dengan tindakan anarkis, yang akhirnya justru merugikan banyak orang bahkan diri sendiri. Lalu, apa artinya "Bhinneka Tunggal Ika?"

Masih ingatkah dengan kasus-kasus beberapa tahun yang lalu atau pun beberapa bulan yang lalu di Indonesia terkait dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu kepada kelompok agama yang lainnya. Seperti pembakaran rumah warga eks Gafatar, pembongkaran paksa gereja di berbagai daerah, seperti yang terjadi di Aceh Singkil misalnya, yang menyebabkan mereka harus mengungsi dari rumah mereka sendiri karena terancam keamanannya. 

Bukan hanya itu saja, bahkan para wanita ikut berada di barisan paling depan untuk mempertahankan tempat ibadah mereka untuk melawan kelompok agama mayoritas di daerah tersebut yang hendak menyerang tempat peribadatan mereka.  Atau kasus lainnya dengan penolakan pemakaman untuk keluarga Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan alasan mereka adalah aliran sesat.

Masih banyak lagi kasus tentang ketidakadilan yang dialami oleh para korban pelanggaran kebebasan beragama danberkeyakinan di berbagaidaerah di Indonesia. Parahnya lagi, banyak dari mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan juga jaringan. Lalu, siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini? Apakah pemerintah sepenuhnya ataukah justru media yang harus bertanggungjawab untuk segala pemberitaannya? 

Ya, Media memang memiliki peranan yang sangat penting sebagai penyampai informasi ke masyarakat luas. Baik media cetak maupun media elektronik. Tapi apakah segala pemberitaan yang ada di media massa selama ini selalu benar? Tidaksemua ! Terlalu banyak kepentingan didalamnya yang menjadikan media itu sendiri terkadang cacat atau timpang dalam memberikan informasi. 

Dilatar belakangi hal tersebut diatas, team SEJUK (Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman) dan SOBAT KBB (Solidaritas korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan) mengadakan workshop tentang advokasi media untuk korban pelanggaran kebebasan dan berkeyakinan di hotel Amaris Bogor selama 2 hari, Jumat dan Sabtu (21-22/10). 

Workshop ini dihadiri 26 peserta dari berbagai kelompok agama dan keyakinan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti, FORCIDAS (Forum CintaDamai Aceh singkil), Komunitas Ahmadiyah, Komunitas HKBP Filadelfia, Komunitas Eks Gafatar, Pelita Perdamaian Cirebon (Syiah), Perguruan Trijaya dan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. 

Tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memberikan pelatihan kepada para korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang awalnya hanya menjadi objek, kini harus bisa menjadi subjek dalam menyampaikan berita dan informasi melalui media massa, Jelas Ahmad Junaedi, Direktur SEJUK, dalam sambutannya saat membuka workshop tersebut. 

Selain memberikan pemahaman dan pelatihan bagaimana cara mengadvokasi media, peserta juga dilatih untuk dapat membuat dokumentasi atas segala peristiwa atau kejadian yang dialami sehari-hari, sehingga kedepannya tidak ada lagi ketakutan akan penyampaian informasi yang tidak benar oleh beberapa media nasional di Indonesia atau juga ancaman yang dialami karena tidak memiliki perlindungan sebagai kelompok minoritas. Tekhnik-tekhnik penulisan dan pendokumentasian dalam bentuk video serta tekhnik wawancara juga diajarkan oleh Yerry Niko Borang dari team Engage Media dengan sangat jelas dan menarik. Terlihat dari keakraban yang terjalin dari setiap peserta saat terjun langsung untuk praktek membuat video documenter sebagai bentuk pelatihan. 

Walau waktu yang diberikan untuk workshop advokasi media tidaklah panjang, namun ikatan emosional antar peserta dan pengisi materi sangat jelas terasa. Selain mendapatkan ilmu dan pengalaman, yang terpenting adalah mendapatkan saudara baru dari berbagai daerah. Mulai dari Aceh, Makasar, Palembang, Surabaya, Sukabumi, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan Bogor tentunya sebagai tuan rumahnya. Jadi, dengan adanya keberagaman dan perbedaan seperti ini, apakah kalian yakin akan bisa membuat perpecahan diantara perbedaan??? Kalau Bhinneka Tunggal Ika saja begitu indah dan penuh makna, kenapa harus dirusak dengan penindasan dan ketidakadilan?

Editor : Dwi Kurnia Rahma

Minggu, 16 Oktober 2016

SEMAR GUGAH, RAMAIKAN TRADISI SURAN DI KEKADANGAN WRINGIN SETO

Tepat pada malam purnomo suro, Kekadangan Wringin Seto yang mempunyai padepokan di Bukit Sayuran Desa Soko Kecamatan Jepon pada hari Sabtu (15/10) kemarin melaksanakan tradisi tahunan Suran Pertapan Wringin Seto, yaitu memperingati tahun baru jawa 1950. Berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dilakukan sejak Sabtu sore hingga tengah malam.

Ribuan anggota Kekadangan Wringin Seto dari berbagai daerah di Pulau Jawa hadir secara langsung untuk mengikuti serangkaian kegiatan untuk menghormati para leluhur tanah jawa tersebut. Padepokan yang berada di atas Bukit Sayuran dengan puncak Suroyudannya ini pun dipenuhi pengunjung dari berbagai kota yang tidak ingin melewatkan event tahunan tersebut.

Suntoyo S.Kar Kepala Bidang Kebudayaan DPPKKI Blora menyatakan bahwa tradisi suran yang dilaksanakan di padepokan Kekadangan Wringin Seto merupakan agenda tahunan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus melestarikan budaya leluhur yang secara turun temurun diajarkan kepada anak cucu.

“Disini semua etnis dan agama boleh bergabung, tidak ada pembeda diantara kita. Semua bersatu melestarikan kebudayaan leluhur jawa tepat di bulan pertama tahun jawa yang disebut Suro,” jelasnya.

Acara dimulai tepat setelah matahari tenggelam yaitu pukul 18.00 beberapa saat setelah kehadiran Bupati Blora Djoko Nugroho dan Kasi Nilai Budaya Dinbudpar Jawa Tengah Eny Haryanti. Didampingi Penuntun Agus Tijana Budi dan para pengurus, doa dengan tata cara kekadangan Wringin Seto pun dimulai dengan duduk mengelilingi tumpeng, ambeng dan buah buahan.

Usai didoakan, anak-anak dipersilahkan mengambil buah-buahan secara berebut. Sedangkan tumpeng dan ambeng lainnya dikirab dari padepokan menuju sanggar agung, tempat meditasi yang berada di dalam goa. Ikut dikirab beberapa pusaka dengan diterangi cahaya obor. Kental dengan tradisi jawa, para punggawa kirab pun mengenakan pakaian adat jawa beskap lengkap dengan blangkonnya.

Sampai di Sanggar Agung, dilaksanakan doa lintas agama dan kepercayaan. Dimulai dengan doa yang dipimpin tokoh agama islam, dilanjut dengan agama kristen, hindu, budha, konghucu dan terakhir dengan cara kepercayaan dari kekadangan Wringin Seto. Setelah doa bersama acara dilanjutkan dengan rebut gunungan hasil bumi, tepat didepan pagelaran wayang kulit.

Pukul 9 malam acara dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Nuryanto dari sanggar seni Cahyo Sumirat Dukuh Pangkat Desa Purwosari Kecamatan Blora Kota. Dengan membawakan lakon Semar Gugah, dalang muda ini berhasil menghibur para pengunjung dan warga sekitar.

Bupati Blora Djoko Nugroho yang ikut menyaksikan pagelaran wayang kulit ini pun didaulat untuk naik panggung. Dengan kepiawaianya, beliau mengisi dagelan limbuk cangik saat pementasan wayang kulit berkolaborasi dengan 5 pesinden asli Blora.