Rabu, 17 Februari 2016

JILBAB MERUSAK ORIGINALITAS TARI TRADISI

Prof. Dr. Sri Rochana W, S.Kar., M.Hum (paling kanan)
Meski sudah berusia tidak muda lagi, namun gerak dan aura seorang penari tradisional terlihat memancar dari Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutieningrum, S.Kar., M.hum. 

Prof Anna, panggilan akrab beliau, membawakan sebuah tari tradisi yaitu tari Bedhaya Tolu. Bersama 6 penari lainnya, yang juga para dosen di ISI Surakarta menari bersama pada Gelar Karya Empu yang dilaksanakan pada hari Senin, 15 Pebruari 2016 pukul 19.30 di Pendapa ISI Surakarta. Gelar budaya ini dihadiri sejumlah tamu undangan dan dibuka untuk umum, sehingga dipadati banyak penonton baik dari akademisi ISI Surakarta, warga kota Solo, hingga turis mancanegara.

Malam itu, Prof Anna yang seorang muslimah dan kesehariannya mengenakan busana berjilbab, membawakan tari Bedhaya Tolu dengan kostum tari asli tanpa mengenakan jilbab. Hal ini sungguh menunjukkan sebuah keteladanan akan profesonalisme seorang Rektor ISI Surakarta yang mampu menjaga originalitas sebuah tari tradisi. Ditengah pro kontra pemakaian jilbab dalam sebuah tarian tradisi, beliau mampu menjaga karakter sebagai seorang wanita yang religius namun tetap menjaga budaya warisan leluhur nusantara, khususnya dalam membawakan sebuah tari tradisional khas Surakarta itu.

"Jarang sekali kami melihat beliau menari, apalagi beliau menari tanpa memakai jilbab, sungguh indah dan berkarakter" kata Nurul seorang penonton yang juga mahasiswi ISI Surakarta.

Hal senada juga disampaikan M.Taufik, pengamat budaya asal Jogja itu menambahkan bahwa membawakan sebuah tari tradisi dari jaman dulu tidak ada tambahan busana jilbab, jadi jika ditambahkan akan merusak tatanan dan originalitas sebuah tari tradisi. 

Kehadiran sebuah ajaran agama/keyakinan memang sering diikuti masuknya budaya asal dari agama tersebut. Terkadang salah mengartikan ajaran atau akidah mengakibatkan terjadinya pemaksaan pada sistem akulturasi budaya setempat. Kenyamanan seseroang meyakini suatu agama tidak ditentukan dengan kakunya sebuah ajaran yang dogmatis, tetapi menyesuaikan dengan tempat dan wilayah masing-masing, dimana setiap tempat mempunyai adat dan budaya masing-masing.

Selain Tari Bedhaya Tolu Karya: Agus Tasman Rono Atmojo, S.Kar; ditmpilkan pula beberapa tari yang lain diantaranya Tari Mahesa Jenar Karya: (Alm.) S. Maridi; Tari Bedhaya Welasih Karya: Agus Tasman Rono Atmojo S.Kar; Tari Fragmen Pandji Sekartaji Karya: S. Ngaliman; Konser Karawitan Karya: Wakidjo Warsapangrawit, Suyadi Tejopangrawit, dan Suwitoradya; dan Pagelaran Wayang Kulit Lakon: Bedhah’e Lokapala Dalang: Ki H. Manteb Soedharsono

Prof. Anna mengatakan, “karya para empu kita bisa belajar banyak, bagaimana karya-karya itu merupakan yang sangat bernilai dan harus dipelajari oleh kita semua khususnya mahasiswa ISI Surakarta.  Semoga para mahasiswa terinspirasi untuk membuat karya yang tetap berakhlak kepada budaya. Kami ingin melestarikan budaya nusantara terutama kesenian Tari Gaya Surakarta, karena kami yakin Tarian Gaya Surakarta terkandung nilai-nilai luhur yang memang harus dilestarikan sampai saat ini".

113 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Judulnya merusak Kedamaian... kalo pemikiran seperti di atas di benarkan berarti yang botak merusak, yang rambut pendek Merusak, dan Banci yang bergaya perempuan pun merusak budaya... terlalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebablasen.. baiknya jauhi dunia tari jika anda seorang muslimah. Menari saja di depan suamimu, mahrommu.. merinding aku membacanya..ngeriii

      Hapus
    2. pakaian Arab dilarang dalam kebudayaan tradisi Indonesia .. sudah bagus punya kebudayaan yg indah, eh kebudayaan Arab dibawa masuk kesini !

      Hapus
    3. saya wanita islam, saya kok malah lebih merinding lagi baca komen anda. Memangnya apa yg salah kalau wanita/muslimah menari didepan yg bukan suaminya?.

      Hapus
    4. Iya, saya jg merinding baca komen @saya wanita islam. Mungkin dia ini org arab ya, bkn org Indonesia.

      Hapus
    5. Berjilbab untuk wanita islam bukan budaya arab tapi perintah Allah untuk para muslimah menutup auratny,saya jadi ikut merinding baca komentar wanita seperti itu, sekedar saran buat para wanita muslim pelajari dulu soal berjilbab dlm agamamu sebelum bicara untuk membela dirimu sendiri

      Hapus
  3. Bagus...begitulah seharusnya...berhijab jd trend mode di saat sekarang...tingkat kekhusukan bkn cuma d lihat dr jilbab...ya sudut pandang agama...sulit mencapai titik temu dg adat istiadat dan tradisi..mmasing masing punya kaiadah...tinggal kebijakan pemakainya atau yg bersangkutan

    BalasHapus
  4. itu karena iman dan akal budi tidak berjalan bersama. over fanatisme agama mengakibatkan orang tidak berpikir sehat. tidak heran kalau origialitas suatu budaya bisa rusak oleh jilbab yang kenakan tidak pada tempatnya.
    beriman boleh, tapi juga harus pintar dong....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gabriel Alberto,anda atheis ??

      Hapus
    2. Apa hubungannya dgn atheis ya? :) :)

      Hapus
    3. Mungkin maksudnya si Tubenga Noor kalo g pake jilbab berarti atheis.(Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan.-Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.)
      Dengan kata lain Agamanya si beng noor itu adalah Tuhannya.

      Hapus
  5. Hudup adalah piihan,,stiap manusia punya cara tersendiri dalam nngambil sikap,,tapi bukan berarti bahwa jilbab merusak adat/tradisi,,mngkin lbih bgusnya tdk di lihat dari sisi yg lain dan mengumbar pertentangan bagi para pembaca,,apalagi dengan judul yang seolah-olah kontras memperlihatkan perbedaan,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saja kita mau berpikir dengan pikiran yg jernih, tidak perlu ada pertentangan akan adanya suatu fakta

      Hapus
    2. Jilbab memang merusak originalitas tari tradisional
      karena itu kalau berjilbab jangan menari.. kalau sampai melepas jilbab karena menari berarti masih perlu belajar lagi.

      berjilbab bukan lah sesuatu yang negatif. namun jika tidak pada tempatnya pasti jadi masalah.

      dan ketika seorang wanita melepas jilbab karena ingin menari melenggak lenggok didepan khalayak umum agar dikatakan profesional.. itu juga tidak dibenarkan oleh agama./

      Hapus
    3. betul itu,mestinya jangan menyalahkan jilbab dan berjilbab..

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    5. Komunitas b1system, dg kata lain anda mengakui bhwa jilbab memang merusak originalitas tari2an tradisi Nusantara, karena gara2 jilbab seorg wanita yg ingin melestarikan budaya bangsanya yg merupakan jatidiri tidak punya pilihan lain yaitu: "dipaksa" utk merusak budayanya klu dia ingin dianggap sbg seorg yg "patuh" trhdap agama, atau dia tampil seutuhnya tpi dianggap sbg pelanggar aturan agama!
      Rupanya suatu tindakan yg profesional adalah terlarang menurut ajaran agama, miris ....

      Hapus
    6. Pancasila NKRI
      sering syariat agama islam tidak sejalan dengan tradisi di suatu negara.
      Profesional menurut kita belum tentu baik bagi agamanya.

      Hapus
    7. endroliandanu, itu sebabnya diperlukan AKAL BUDI dalam beragama, jangan hanya jdi org yg beragama tapi buta iman

      Hapus
  6. Kadang asimilasi budaya akan menghasilkan yang lebih indah. Originalitas oke tapi siapa yang akan bisa menahan sebuah proses asimilasi dan perpaduan budaya. Out of the box thinking kadang itu yang kurang disadari oleh para pemuja originalitas sehingga suatu saat akan ditinggalkan khalayak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya rasa anda terbalik, org2 yg beragama justru lebih banyak terjebak dlm kerangka berpikir yg sangat sempit. Sesuatu yg merusak tidak akan pernah bisa menghasilkan yg lbh indah.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Asimilasi/perpaduan budaya akan menciptakan keindahan jika terjadi harmonisasi, seperti yg telah terjadi ribuan tahun lamanya antar berbagai jenis budaya yang ada di Nusantara khusunya dan asia tenggara umumnya. Tapi konteks disini membicarakan suatu budaya dari daerah gersang dan keras gurun pasir yang sejujurnya terlihat dipaksakan untuk diadopsi kedalam budaya asli Nusantara yang subur dan ramah, hasilnya? Buka mata buka hati lebar2 lihat sendiri hasilnya...Di jalan2, di sekolah2, di TV, di perkantoran dll. Kalo wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pasti jadi bingung dan tidak akan tertarik,kecewa karena tidak menemukan budaya asli Nusantara ini lagi...

      Hapus
    4. Tepat sekali, Sandhi Yudha.

      Hapus
  7. tari dan nyanyi dapat melengahkan para prajurit
    bisa bikin lari terbirit birit
    saat diserbu karena tidak siap arit
    (senjata)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh pak Cahyanto tri, sebegitu rendahnyakah akhlak para prajurit kita hanya gara2 melihat wanita menari dan menyanyi sampai membuat lengah dalam bertugas?
      Saya rasa itu laki2 yg tidak normal pak

      Hapus
  8. Seharusnya bikin judul itu tdk memposisikan ato memojokkan keyakinan seseorang dlm beribadah,karena berjilbab itu bukan tradisi ato budaya suatu bangsa krn berjilbab adalah perintah agama dan itu dijelaskan dgn nyata,dlm alquran Q.S al azab :59.
    Karn aturan agama yang haq sdh ada sejak manusia blm ada,manusialah yg hrs mengikuti dan menyesuaikan aturan aturan/pedoman agama..peraturan ada utk ditaati.bukan peraturan yg mengikuti.

    BalasHapus
  9. Seharusnya bikin judul itu tdk memposisikan ato memojokkan keyakinan seseorang dlm beribadah,karena berjilbab itu bukan tradisi ato budaya suatu bangsa krn berjilbab adalah perintah agama dan itu dijelaskan dgn nyata,dlm alquran Q.S al azab :59.
    Karn aturan agama yang haq sdh ada sejak manusia blm ada,manusialah yg hrs mengikuti dan menyesuaikan aturan aturan/pedoman agama..peraturan ada utk ditaati.bukan peraturan yg mengikuti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita berefleksi bersama, kalau memang aturan agama sudah ada sejak sebelum manusia. lalu bagaimana agama itu tercipta? rasa-rasanya, agama menjadi media manusia untuk memahami kuasa yang ada di luar dirinya, hal yang misteri sekaligus tampak terasa dekat dengan manusia itu sendiri.

      Hapus
    2. Suwardi Saja ini adalah salah satu contoh manusia yg sudah kena brainwashed dengan propaganda Arabisme. Sebentar lagi jangan2 ikut2an bom bunuh diri di tempat umum dlm rangka ibadah. Dunia juga tahu kalo islam itu BUKAN sekedar sebatas agama tapi syariat! aturan yg mengatur semua segi hidup, dari makan,tidur,kawin,perang,ibadah agama,dagang dll sampe pake baju! jadi dimanapun keberdaannya PASTI akan MEMAKSAKAN aturan2nya terhadap tradisi dan budaya setempat. Dengan kata lain dunia juga mau di rubah persis seperti gaya arab. Silahkan riset sendiri suwardi udah d google kan?

      Hapus
    3. Dan sejarah membuktikan faktanya memang seperti yg anda katakan, Sandhi Yudha.
      Hanya mereka yg sudah tercuci otaknya yg tdk bisa melihat fakta2 itu.

      Hapus
    4. Anda sebenarnya yg tercuci otak @pancasila nkri

      ngomong2..kok pede bgt nyebut siri pancasila nkri?.claim kosong?..

      Pake nama asli bro..penakut
      πŸ˜‚

      Hapus
  10. Judulnya gak pas. Terlalu mengada-ada. Tari dan pakaian itu dua hal yang berbeda.
    Menurut KBBI, Tari= gerakan badan (tangan dsb) yg berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian (musik, gamelan, dsb). Jil·bab= kerudung lebar yg dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tarian tradisional Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kostumnya.
      Itu sudah merupakan suatu kesatuan

      Hapus
    2. Kalo mau nari pake jilbab yang paling cocok memang harus menari jenis tarian yang juga berasal dari budaya dimana jilbab itu berasal. Namanya TARI PERUT!

      Hapus
    3. Yup, belly dancing!, heheheheheeh.....

      Hapus
  11. Judul artikel yg tidak bijak, membawa kandungan potensi provokasi, hanya sisi tonjolan yg angkat, derap melonggarkan kebersamaan.semoga yg menulis lebih arif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, saya rasa kita perlu belajar utk bersikap dewasa dan arif utk menerima suatu fakta.

      Hapus
  12. Bagus kembali ke asal bukan tradisi impor...

    BalasHapus
  13. sudah bisa diduga pasti ada orang2 fanatik berkomentar di sini. mungkin judulnya provokatif, tidak bijak dsb, tapi judul dan isi tulisannya nyambung dan sejalan, kan?

    tari tradisi dgn kostumnya sudah punya pakem sendiri, punya filosofi sendiri tiap gerak tari maupun tiap bagian kostumnya. jilbab jg demikian. saling menghormati ajalah. hargai tari tradisi dgn menampilkannya sesuai pakem. pelaku kesenian jg menghargai jilbab kok. di sanggar tari yg saya ikuti, banyak murid yg latihan tari dgn tetap memakai jilbab dan busana yg longgar.
    jilbab itu baik: menutup tubuh, bersahaja atas segala kelebihan atau kekurangan pd tubuh.
    tidak berjilbab juga baik: jujur dgn kondisi tubuh yg entah bagus atau buruk.

    BalasHapus
  14. Bagus kembali ke asal bukan tradisi impor...

    BalasHapus
  15. Bagus kembali ke asal bukan tradisi impor...

    BalasHapus
  16. Kalo emang beragama yg kaffah, tentunya lebih mengutamakan jilbab, karena berjilbab itu perintah Tuhan. Berbudaya dan beradat lokal itu baik, tetapi itu semua mesti dibawah aturan syariat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agama yg baik adalah agama yg bisa berasimilasi dengan kebudayaan/kearifan lokal dan bukan malah menggusurnya karena kebudayaan adalah jati diri suatu bangsa.

      Hapus
    2. Pancasila NKRI,sepertinya anda beragama PANCA SILA ?
      hehehehehe...

      Hapus
    3. Adakah yg salah kalau saya non muslim?

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    5. Tubagus Noorza, justru lbh baik klu kita "beragama" Pancasila krn ideologi Pancasila mampu menembus sekat2 SARA.
      Pancasila bersifat universal, beda dg agama.

      Hapus
    6. Tubagus Noorza agama saya PANCASILA, masalah sama lo? Indonesia BUKAN negara islam noor! dan tidak akan pernah! Biar Indonesia tetap seutuhnya jadi Indonesia, kalo anda keberatan silahkan pindah ke negara islam aja, ke arab mungkin. Disana kan anda bisa lihat perempuan nari pake jilbab dan mukanya pake cadar, namanya TARI PERUT! Silahkan...

      Hapus
  17. Kalau sudah memantapkan untuk berjilbab hendaknya memang diiringi dgn kesadaran akan jilbabnya. Jilbab sbg perlindungan diri hendaknya dipakai untuk melindungi diri setiap saat, bukannya malah bongkar pasang seperti proyek pemerintah. Apalagi ada embel-embel melestarikan sejarah. Asimilasi/akulturasi mutlak diperlukan di negeri yg kaya akan budaya ini. Jadi apabila ada suatu sistem/tradisi yg masih berjalan namun tidak mau menerima perubahan budaya dgn alasan takut merusak tatanan adat itu berarti (maaf) bukan hakekat tujuan dari bangsa ini. Bangsa kita adalah bangsa yg dapat menerima segala budaya dari luar selama tidak menimbulkan paham negatif (radikal, vandalisme, dll). Merusak tradisi itu hanya istilah yg dipakai orang-orang jadul awam saja yg ingin melestarikan kebiasaan nenek moyangnya tanpa mau menerima globalisasi sbg bagian dari peradaban

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekali dengan komentar mas Bintang

      Hapus
    2. Bintang, maaf tapi anda terbalik krn jilbabisasi yg marak terjadi di Indonesia sekarang ini justru berlawanan dg perubahan jaman.
      Jilbab adalah produk pola pikir manusia yg hidup 1400 thn y.l

      Hapus
    3. si bintang pengennya gaya tari perut kayak di arab sana...

      Hapus
  18. mohon maaf jika kurang berkenan dengan pendapat saya....jika merujuk pada judul tersebut, penulis maupun yg mendukungnya perlu dipertanyakan keilmuannya.....jika anda menuntut originalitas silakan anda belajar pada tubuh atau raga anda.....comtoh kecil aja mengapa anda sekarang memakai baju seperti sekarang ini padahal baju nenek moyang kita jelas tidak seperti yg ada saat ini....silakan belajar lagi ya....maaf

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf juga, masalahnya adlh org yg berbusana sprti yg skrng yg pdhal baju nenek moyang kita tdk seperti itu tidak merusak budaya bangsanya sndiri.
      Silahkan belajar lagi juga ya ...

      Hapus
    2. Engga usah muter2 apapun alasan mereka intinya dunia pengen di arabin, bajunya, bahasanya, arah sembahnya, karakternya, hukumnya, tulisannya pokoknya semuanya, syariat islam!

      Hapus
  19. mohon maaf jika kurang berkenan dengan pendapat saya....jika merujuk pada judul tersebut, penulis maupun yg mendukungnya perlu dipertanyakan keilmuannya.....jika anda menuntut originalitas silakan anda belajar pada tubuh atau raga anda.....comtoh kecil aja mengapa anda sekarang memakai baju seperti sekarang ini padahal baju nenek moyang kita jelas tidak seperti yg ada saat ini....silakan belajar lagi ya....maaf

    BalasHapus
    Balasan
    1. Past Production, judul artikel ini adalah : "JILBAB MERUSAK ORIGINALITAS TARI TRADISI", bukan "Baju yang dipakai seperti sekarang merusak originalitas tari tradisi".
      Dalam kalimat itu SUBYEK-nya adalah "JILBAB", jadi menyandingkannya dg busana yg sekarang banyak dipakai/dikenakan oleh org Indonesia tidak relevan krn berarti anda mengubah SUBYEK-nya.

      Kekeliruan berikutnya adalah anda tidak faham bhwa originalitas yang dibicarakan oleh si penulis artikel ini adalah originalitas BUSANA TARI TRADISI Indonesia, bukan originalitas busana yg dikenakan sehari -hari.

      Dengan demikian perlu dipertanyakan logika bahasa anda. Silahkan belajar lagi yΓ  ..., maaf juga! :) :)

      Hapus
  20. apakah yg pintar itu yg sesuka hati membuka jilbab.....?muslim mewajibkan umatnya menutup aurat.budaya memang luhur tp yg menciptakan budaya itu apakah orang muslim?apakah budaya itu harus kita ikuti secara mentah2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebudayaan terbentuk dari banyak unsur yg a.l sistem agama.
      Kebudayaan bangsa Indonesia merupakan buah pikir rakyat Indonesia dan oleh karenanya merupakan JATI DIRI/IDENTITAS bangsa Indonesia.
      Jadi pertanyaan anda "tapi yg menciptakan budaya itu apakah orang muslim" mustinya bisa anda jawab sendiri.

      Saya justru ingin bertanya apakah "aturan" agama harus diikuti secara mentah2? :) :)

      Hapus
    2. Inggo Kurniawan jauh sebelum orang arab tau agama dan ngerti pake jilbab, di Nusantara ini manusianya sudah memiliki kebudayaan yang tinggi, indah dan luhur. Malah sekarang jadi mundur ikut2an budaya gurun pasir. Coba belajar sejarah dunia dulu deh sebelum ngomong.

      Hapus
    3. Tetap saja utk mereka budaya Arab paling wahid deh...
      Nanti di surga saja katanya hanya akan ada 1 bahasa yaitu bahasa Arab!
      Ternyata allah kalah cerdas dg manusia yg mamou menguasai beberapa bahasa 😁😁😁😁😁😁

      Hapus
  21. Bikin judul tidak usah yg mengandung kontroversi. Berjilbab itu wajib perintah Alloh. Yg tidak menjalankan ya dosa. Masalah lepas pakai jilbab memang urusan individu dg Alloh. Itu saja. Tidak perlu merangkainya dan membuat tulisan kalau jilbab merusak tatanan. Agama bukan tradisi/budaya. Ingat kalau dunia seisinya ciptaan Alloh. Jangan sembarangan kalau nulis.

    BalasHapus
  22. Bikin judul tidak usah yg mengandung kontroversi. Berjilbab itu wajib perintah Alloh. Yg tidak menjalankan ya dosa. Masalah lepas pakai jilbab memang urusan individu dg Alloh. Itu saja. Tidak perlu merangkainya dan membuat tulisan kalau jilbab merusak tatanan. Agama bukan tradisi/budaya. Ingat kalau dunia seisinya ciptaan Alloh. Jangan sembarangan kalau nulis.

    BalasHapus
  23. JANGAN MELIHAT BUKU HANYA DARI SAMPULNYA ! mungkin judulnya tidak sesuai atau mengandung kontroversi menurut anda, namun ini kan judul menurut penulis, pendapat penulis, di Indonesia setiap ora bebas berpendapat mbak mas pak buk.. maaf ya kalu menurut anda TULISAN SAYA juga mengandung KONTROVERSI atau sebagainya lah, tapi ini pendapat saya ... terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang lain juga berhak menilai Anda sbg orang yg kurang belajar,karena anda memandang seolah budaya itu LBH tinggi dari agama

      Hapus
    2. Loh???, budaya memang lbh tinggi dari agama.
      Manusia yg berbudaya itu berarti manusia yg berakal budi, beradab, sedangkan manusia yg beragama belum tentu berakal budi.
      Agama justru sering membuat org kehilangan akal budi dan tidak beradab alias biadab! :) :) :) :)

      Hapus
  24. yg haus yg haus yg hauuss....

    BalasHapus
  25. Yang nulis ini siapa? Ayo ketemu mas, pak, buk, mbak, dek. Saya geram sama anda. Ini saya serius.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf,kenapa anda harus geram?

      Hapus
    2. Pancasila.. Anda pasti non muslim. Jk anda muslim pasti akan menentang judul artikel di atas... Karna apa fungsinya jilbab dan apa hukumnya dlm islam trimakasih

      Hapus
    3. dia agamanya PANCA SILA,mari di maklumi...

      Hapus
    4. Chikal Pello, anda faham tidak dg artikel ini? :)

      Hapus
    5. Tubagus Noorza, agama Pancasila itu malah lbh baik dari agama2 yg lain, bersifat universal, tdk seperti agama yg sifatnya eksklusif.

      Hapus
  26. jilbab itu perintah ALLAH TA'ALA..!!!! Setiap muslimah memang diharuskan berhijab..!!
    Jangan jadikan JILBAB penghambat segala aktifitas..!!!!! dan jangan jadikan JILBAB sebagai SASARAN MERUSAK ORIGINALITAS BUDAYA..!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, kalau kenyataannya memang begitu kenapa anda harus marah?

      Hapus
    2. JANGAN SALAHKAN HIJABNYA..!!!
      SALAHKAN MANUSIANYA SENDIRI..!!!
      anda paham..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
      apa yang anda lakukan jika anda beragama MUSLIM,dan HIJAB dijadikan alasan untuk JUDUL TULISAN INI..????

      Hapus
    3. Wooooow ......!
      Enggar Aprillya, memangnya siapa sih yg menyalahkan jilbab?. silahkan anda baca lagi dgn seksama artikelnya dan tidak perlu emosional seperti itu, faham?? :) :) :)

      Hapus
    4. Kamu teh nggak bisa baca JUDULnya ya...
      Coba kamu eja itu JUDULnya..
      Aneh deh anda,saya kan nulis JUDUL bukan ARTIKEL....makanya di BACA yang bener,kalau nggak bisa baca,di eja aja tulisannya..!!!!!!!!!!
      Kenapa harus ANDA yang muncul terus,!!!!!!memangnya ANDA yang bikin JUDUL tsb,????????????????????????

      Hapus
    5. Salah sendiri kalau anda hanya baca judulnya saja sehingga salah menyimpulkannya.
      Artikel ini sama sekali tidak menyalahkan jilbab melainkan PEMAHAMAN tentang mengenakan jilbab yg dinilai keliru oleh si penulis :)

      Hapus
    6. Ternyata SUSAH berbicara dengan ANDA..!!!! Hahahaha

      Hapus
    7. Ya, karena tingkat kecerdasan anda masih terbatas :)

      Hapus
    8. Mungkin anda berfikir anda cerdas..maka dari itu anda tidak bisa mentelaah nya...
      Amat sangat tidak penting sebenarnya anda ada di komenan saya..!!! Pergi sana...!!!!! Hus hus

      Hapus
    9. Apa yg anda ungkapkan disini mencerminkan kualitas diri anda. Mengusir saya menunjukkan anda memang sangat tidak mampu mengcounter balik dg baik semua argumen2 saya, dan menunjukan sikap yg tdk dewasa alias seperti anak TK! :) :)

      Lain kali jangan ikut berkomentar kalau blm mampu berargumentasi dg cerdas dan intelek! :) :) :)

      Hapus
    10. Padahal udah diusir HUS SANA tapi masih muncul juga ��
      yang bersikap seperti anak kecil itu saya atau anda,? saya kan udah ngusir anda,kenapa masih ada dikomentar ini..
      Rehat deh biar fresh kaya buah sama sayur...
      Ohh ya satu lagi,cuma mau mengingatkan aja bahwa "JILBAB TIDAK PERNAH MENGGANGGU AKTIFITAS APAPUN ITU,DAN WANITA MUSLIMAH MEMANG DIHARUSKAN BERHIJAB" bacalah al-qur'an,kalau tidak bisa membacanya,baca aja artinya..anda akan tau perintah2 Allah ta'ala...
      Selamat malam,selamat beristirahat pancasila nkri..semoga besok anda diberi pemifikiran yang cerah sama Allah ta'ala..
      Wassalamu'alaikum wr wb...

      Hapus
    11. Wah, ternyata komen saya penting sehingga anda tdk konsisten dg ucapan anda dan kegatalan utk menanggapinya. 😊😊

      Enggar, semakin anda berkomentar semakin terlihat kualitas berpikir anda memang dibawah rata2.
      Hak apa anda usir2 saya?, anda faham tidak bhwa kita sedang berada di ranah publik & anda tidak berhak mengusir saya?.
      Apa anda tidak malu anda hanya mengumbar kebodohan anda disini?.

      Saya tdk perlu baca quran, andalah yg harus meningkatkan tingkat kecerdasan anda.
      Bisa2nya anda mengatakan berjilbab adlh perintah Allah sementara islam masuk ke Nusantara sdh lbh dri 1000 tahun y.l tapi fenomena jilbab baru terjadi belakangan ini saja.
      HelooΓ²o ......., pada kemana selama 1000 tahun itu?, Dri dulu muslimah Indonesia tidak ada yg berjilbab (kalau pun ada sangat bisa dihitung dg jari) dan tdk ada ulama yg berkoar-koar mengatakan jilbab adlh perintah allah, kok lucu ya tiba2 saja sekarang meng-claim bhwa itu adlh perintah allah!?.
      Hmm ....., rupanya allah mendadak sontak setelah 1000 tahun lebih teringat lgi dgn perintah jadoelnya ya? 😁😁😁

      Maaf, utk selanjutnya saya tdk merasa perlu utk menanggapi lgi komen2 anda yg sangat tdk penting krn saya tdk ingin buang2 waktu dan menjatuhkan martabat saya dg meladeni anda yg tdk selevel dg saya.

      Selamat beraktifitas dan semoga anda mendapatkan hidayah agar tdk terus berada di level syariat yg berkutat mempersoalkan hal2 picisan seperti haram halal, dosa & pahala, surga & neraka. 😁😁😁
      Gbu.

      Hapus
  27. saya cinta NKRI tapi publikasi yg menjelaskan jilbab merusak tatanan adat saya kurang setuju.,kan NKRI jadi jangan saling sudutkan ke adat hak2 mereka..

    BalasHapus
  28. Jilbab memang merusak originalitas tari tradisional
    karena itu kalau berjilbab jangan menari.. kalau sampai melepas jilbab karena menari berarti masih perlu belajar lagi.

    berjilbab bukan lah sesuatu yang negatif. namun jika tidak pada tempatnya pasti jadi masalah.

    dan ketika seorang wanita melepas jilbab karena ingin menari melenggak lenggok didepan khalayak umum agar dikatakan profesional.. itu juga tidak dibenarkan oleh agama./

    BalasHapus
  29. Artikel yang sangat mencerahkan.
    Semoga kita semua bisa mengimplementasikan ajaran agama dlm kehidupan sehari-hari dg cara yg cerdas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerdas berarti bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Dan cerdas berarti bisa saling menghormati kepercayaan orang lain.

      Hapus
    2. Cerdas berarti bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Dan cerdas berarti bisa saling menghormati kepercayaan orang lain.

      Hapus
    3. Setuju, dan org yg menjalankan kepercayaannya tanpa merusak jati diri bangsa adlh org yg CERDAS! :)

      Hapus
  30. Paling penulisnya non muslim

    BalasHapus
  31. Penggunaan kata kerja di judulnya mengundang kontroversi, hehehe

    BalasHapus
  32. Hijab dalam agama mempunyai makna tersendiri, kesenian budaya tari juga mempunyai makna tersendiri dalam setiap gerakannya. Inget mas/mis tolong dipetakan antara keduanya. Ada yg mengenal ato sudah belajar akulturasi budaya? Bagaimana agama dan budaya bisa menyatu tanpa harus menghilangkan eksistensi ataupun esensi dari keduanya?
    Pertanyaannya saya sederhana. Berdosakah seorang muslimah yg tak berkhijab?
    Menurut saya sih sederhana saja, dulu kan masih jamannya agama hindu, jadi wajar dong kalo gak pakek jilbab, nah sekarang kan udah dari semua golongan agama yg bisa mempraktekannya akab tetapi satu, jangan menghilangkan nilai esensi (makna) dari setiap gerakan tersebut. Kenapa kesenian (tari) mempunyai judul? Karena setiap gerakan mempunyai makna. Yg saya sedikit mengerti pemaknaan dari gerakan tari yg judulnya "muang sangkal" asli sumenep madura. Ada juga tari "kretek" asal kudus. Mungkin cuma itu sih yg aku tau. Maaf ya kalo ada salah, kalo bisa mohon untuk dikritik ato diapain lah komentku heheheee

    BalasHapus
  33. Kalo suatu keyakinan dianggap merusak originalitas tradisi dan kita harus tunduk pada tradisi, apa jadinya.

    Seorang muslim tidak bisa makan daging babi atau daging yang tidak halal karena tidak disembelih atas nama Allah. Apabila ada tradisi atau budaya makan babi atau barang haram lainnya, apakah seorang muslim demi menjaga originalitas budaya, seorang muslim harus makan babi atau barang haram lainnya....tidak bisa lah yaw

    BalasHapus
  34. sodara-sodara ku semua pernyataan diatas adalah tentang adat dan tradisi jadi jangan dikait2kan dengan agama, biar kerukunan tetap terjaga nusantara ini mengijinkan di injak oleh siapa pun dengan catatan org yg bersangkutan bertuhan, agama apa apa terserah atau keprcayaan nya apa monggo...sesuai dengan panca sila sila pertama KETUHANAN YANG MAHA ESA, kita adalah bangsa yang majemuk yg menrima perbedaan sesuai bhineka tunghgal ika, walau beda kita tetap satu jua.....panca sila jaya, pancasila lestari pancasila kita bela selamanya....adat dan tradisi kita junjung tinggi karena itu identitas negri ini....

    BalasHapus
  35. Rame yo,,, tapi memang orang yang mendalami agama dengan sebaik - baiknya akan terasing di tengah2 masyarakat. namun yang stengah2 ya bisa dilihat. Jilbab bagi muslimah merupakan kewajiban, jika melepaskannya ya sudah itu urusan yang bersangkutan di hadapan Allah SWT. termasuk yang membuat tulisan ini juga akan mempertanggungjawabkannya kelak di akherat. Kalaupun yang membuat tulisan ini seorang muslim, maka ingatlah bahwa tulisan anda akan menjadi dosa jariyah selamanya, kecuali anda menghapusnya. Allahuyahdik...

    BalasHapus
  36. Kenapa sejak dulu di Indonesia, para ulama dan kiai besar yang sangat alim dan mumpuni keilmuannya tidak pernah meributkan soal jilbab atau hijab atau "busana syar'i" dlsb? Jawabannya sepele: karena beliau-beliau menganggap masalah ini bukan masalah fundamental dan substantial dalam Islam. Mereka berargumen sepanjang busana yang dikenakan itu menutup aurat dan sesuai dengan ukuran kepantasan dan norma yang berlaku di masyarakat setempat, maka itu sudah sangat Islami dan sangat Qur'ani.

    Karena itu dulu para istri, putri kiai-kiai besar, dan santriwati cukup mengenakan pakaian jarik dan kerudung. Bahkan sebelum "teknologi kerudung" diperkenalkan ke masyarakat, mereka cukup memakai kemben. Setelah "teknologi" celana panjang dan aneka jenis baju diperkenalkan, gaya berbusana para putri kiai pun mengikuti dan menyesuaikan perkembangan zaman. Jadi, kaum Muslimah di Indonesia, tidak perlu repot-repot mencontoh gaya berbusana masyarakat Arab dengan abaya gelombor, misalnya. Busana "kebaya Indonesia" itu sama derajat "islaminya" dengan model "abaya Arab".

    Hanya belakangan saja orang-orang pada ramai hiruk-pikuk membahas soal "hijab syar'i" lah, "jilbab islami" lah. Saya amati hal ini terjadi setelah munculnya berbagai "ustad karbitan" yang "unyu-unyu"--para ustad yang hanya bermodal cekak satu-dua dalil dari Al-Qur'an atau Hadis tapi miskin wawasan kesejarahan, nol besar dalam pengetahuan pluralitas kebudayaan manusia, dan tidak paham dengan aneka metode akademik dan perangkat ilmu-ilmu sosial guna membahas sebuah wawasan keagamaan.

    Para ustad yang hanya bisa menghafal sejumlah ayat, Hadis, dan "aqwal" (perkataan para ulama klasik) tetapi tidak menguasai metodologi keilmuan. Akibatnya, mereka hanya bisa mengartikan ayat, hadis, dan "aqwal" tentang "hijab" tadi secara leterlek dan tekstual sehingga kehilangan konteks, sejarah, spirit atau ruh tentang tradisi hijab tadi dalam sejarah keislaman, keagamaan, dan masyarakat Arab dan Timur Tengah pada umumnya--baik masyarakat agama maupun masyarakat non-agama.

    Teks apapun kalau dibaca secara "leterlek" menjadi kaku: harus begini, tidak boleh begitu. Jadi bukan teksnya yang keliru karena setiap teks selalu memiliki konteks kesejarahan tertentu. Yang keliru dan perlu dibenahi adalah wawasan dan pemahaman umat beragama terhadap teks-teks itu.

    sumber : Prof Sumanto Al Qurtuby, Dosen di King Fahd University, Arab Saudi

    BalasHapus
  37. Yg bikin judul nya bangsaddddd

    BalasHapus
  38. Yg bikin judul nya bangsaddddd

    BalasHapus
  39. Setuju dengan judulnya, kalau memang tarian tradisional dianggap mengumbar aurat ... JANGAN DITARIKAN !
    Atau memang gak mampu membuat tari kreasi sampai-sampai harus menggunakan tari tradisional ?

    BalasHapus