Kamis, 21 April 2016

MEMBANGUN ETIKA DAN MORAL GENERASI MUDA MELALUI PENANAMAN NILAI BUDAYA

 Bagaimana sikap kita sebagai generasi muda dalam menyikapi budaya selamatan orang meniggal dari 3 hari, 7 hari dan seterusnya yang hal itu tidak ada dalam ajaran Islam ? Pertanyaan menarik dari salah satu peserta kepada nara sumber seminar.






Sabtu, 16 April 2016

GERAK GESIT PARA TURANGGA MUDA

Gesit dan lincah beberapa kelompok turonggo mudo (kuda remaja) asyik beraksi menari meskipun terik matahari membawa suana di teras kantor Camat Mijen bertemperatur cukup tinggi. Keringat bercucuran terlihat di punggung mereka saat menari kuda lumping dengan durasi plus minus 10 menit.

Pagi itu Sabtu Legi 16 April 2016, tepatnya di halaman depan Kantor Kecamatan Mijen Kota Semarang, menjadi ajang festival kuda lumping. Ada 19 group kesenian kuda lumping yang ikut pada ajang tersebut. Selain berasal dari kota Semarang, event ini juga diikuti dari kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal.

Mulai meredupnya kesenian kuda lumping membuat camat Mijen, Ali Muhtar beserta tokoh masyarakat sekitar mencari cara untuk semarakkan lagi kesenian tersebut. Kali ini, pihak Kecamatan Mijen mengadakan Festival Kuda Lumping dan Pagelaran Wayang Kulit.

"Kuda lumping mulai terlupakan lagi. Kalau engga diangkat bisa hilang," katanya. Idenya muncul saat pergelaran Festival Durian Mijen. Ketika itu, pihaknya mengundang lima grup kuda lumping. Saat diperhatikan, ternyata satu grup kuda lumping bisa menampung kreatifitas mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Dari situ, Ali tergugah untuk membuat even yang lebih besar. Paling tidak tujuan dasarnya nguri-uri budaya agar kuda lumping tidak musnah. Setahu saya ini baru pertama kalinya di kota Semarang," ujarnya.

Peserta Festival Kuda Lumping ini ada 19 grup dari Kota Semarang, Kendal hingga Kabupaten Semarang. Festival ini dibuka secara resmi dengan pemukulan gong oleh Wakil Wali Kota Semarang Ir. Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu yang akrab disapa dengan Mbak Ita. Upacara pembukaan termasuk unik dimana pemimpin upacara adalah Kepala Desa Tambangan yang sangat terlatih dan fasih memimpin jalannya upacara dengan berbahasa Jawa.

Wakil Wali Kota Semarang tersebut menyambut baik Festival Kuda Lumping ini. "Kegiatan yang behubungan dengan budaya lokal dan pemberdayaan perempuan saya dukung sepenuhnya, monggo kedepan untuk selalu ditingkatkan" sambutan mbak Ita dalam amanat pembina upacara.

Dalam Festival ini diperoleh Juara 1,2,3 dan Harapan 1,2 dan 3. Juara 1 di raih oleh Turonggo Sidodadi, Kedungboto, Limbangan, Kendal. Juara 2 diraih oleh Turonggo Argo Raras, Ketro, Peron, Mijen. Dan Juara 3 diraih oleh Singo Wijoyo Mudo, Banyumanik.

Juara Harapan 1 diraih oleh Satriyo Budoyo Mudo, Tambangan, Mijen, Juara Harapan 2 oleh Turonggo Tri Madyo Utomo, Kalipuru dan Juara Harapan 3 oleh Turonggo Kiskendo Putro, Kertosari. Masing masing Juara selain mendapatkan Trophy dan Piagam juga mendapatkan uang pembinaan dari Camat Mijen.

Selain lomba kuda lumping, pihaknya juga menggelar lomba lain yaitu lomba membuat replika kuda lumping, lomba mewarnai untuk murid TK san SD bertema Kuda Lumping dan lomba menyanyi dangdut live yang diiringi OM Syailendra untuk memeriahkan acara.

"Kami sengaja membuat lomba mewarnai agar anak-anak juga kenal kesenian kuda lumping sejak kecil," jelas Ali. Adapun unsur penilaian lomba kuda lumping antara lain Kekompakan, keserasian dan sebagainya. Pihaknya hanya menilai dari sisi seni, tidak sampai 'jadi'/kerasukan. Murni seni.

"Karena baru pertama kali, nanti apakah bisa tahunan atau tidak melihat perkembangan ke depan," ucapnya Ia juga mengadakan Pagelaran Wayang Kulit dengan Dalang Tri Agus -Lawak Yati Pesek dan Marwoto yang dilaksanakan pada sabtu malam minggu 16-17 April 2016 di Halaman Kantor kecamatan Mijen Jl R.M Subeno Jatisari - Mijen.