Minggu, 31 Juli 2016

RUWATAN RAMBUT GEMBEL, WARISAN BUDAYA NUSANTARA

Sabtu Legi, 30 Juli 2016. Bertempat di Telaga Menjer, Wonosobo, prosesi Upacara Adat Ruwatan Rambut Gembel dilaksanakan secara sakral dan meriah. Ribuan pengunjung pun datang dari segala penjuru daerah baik sekitar Wonosobo maupun dari luar daerah, bahkan dari mancanegara.

Ritual ini di hadiri oleh menteri BUMN Rini Sumarno, beserta seluruh dirut BUMN se Indonesia.

Jumat, 29 Juli 2016

ELING LAN WASPADA

MEMAKNAI 71 TAHUN REPUBLIK INDONESIA


Menjelang bulan kemerdekaan negara kita, Indonesia. Perlu ada baiknya kita mengenang kembali pengorbanan para pahlawan negeri ini. Sekedar untuk mengingatkan diri sendiri dan semua saudara di seluruh pelosok tanah air. Bahwa masih ada waktu 2 hari lagi untuk menyiapakan sang Merah Putih berikut tiangnya, untuk dikibarkan sebulan penuh sejak tanggal 1 Agustus.

 Siapkan lahir dan batin kita untuk mengenang kembali jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan Indonesia. Dan kita lanjutkan perjuangan mereka dengan bersatu membangun negeri. Membangun dengan segala kemampuan masing-masing, di daerah masing-masing. Pekikkan kembali "MERDEKA" (minimal dalam hati). Merdeka dari segala macam bentuk penjajahan yang dapat memecah belah persatuan bangsa Indonesia. 

Kita semua adalah putera puteri Indonesia. SAUDARA SE BANGSA DAN SE TANAH AIR .Negeri kita adalah negeri terkaya sedunia. Tanah kita adalah tanah surga, pun melebihi tanah suci. Tak sedikit negara diluar sana yang iri dan ingin memiliki tanah subur makmur ini. Kita memang kalah dalam segala hal, baik militer dan teknologi. Tetapi mereka ada satu ketakutan pada bangsa kita. Mereka minder dengan BUDAYA kita yang adi luhung dan sangat kaya raya. Keampuhan dan kesaktian manusia nusantara tak mudah ditembus dengan rudal apapun. Dengan senjata canggihpun takkan mampu menjajah(lagi) bangsa kita. 

Tapi ingat, menghancurkan negara kita tidak perlu menggunakan cara-cara militer, klasik dan akan sia-sia. Dengan olah pikir yang handal mereka masuk dengan membawa ideologi/dogma/hasutan/ajaran yang berkedok agama/keyakinan sebagai penghancur budaya kita, baik budaya lahiriah maupun BUDAYA SPIRITUAL. Ini akan sangat mudah menyulut pertikaian sesama anak bangsa dan dalam sekala besar akan menghancurkan bangsa kita.

Meskipun kita berbeda, namun kita tetap SAUDARA SE BANGSA DAN SE TANAH AIR. Satukan raga, rasa dan jiwa. Buka hati dan pikiran kita, jangan mudah terpancing hasutan untuk menyakiti sesama saudara. Kuatkan jiwa kita, kuatkan Ideologi PANCASILA, kuatkan Jatidiri kita melalui BUDAYA NUSANTARA. Gali dan kembangkan kembali kebudayaan asli yang ada di daerah masing-masing. 

Percaya, Gusti Ingkang Maha Agung melalui para Leluhur akan memberikan kemampuan dan kakuatan untuk kita semua dan senantiasa berikan yang terbaik, di dunia ini maupun di alam kelanggengan. Selamat mengabdi dan berjuang saudaraku semua. MERDEKA !!!.

Sindoro-Sumbing, Sabtu Legi 30/07/16. 01.11. AM

Jumat, 22 Juli 2016

GOA KREO, POTENSI WISATA NO.1 DI KOTA SEMARANG



Semarang yang merupakan Ibu kota Jawa Tengah menjadi barometer dalam segala bidang di Propinsi Jawa Tengah, terutama dalam bidang pariwisata. Semarang mempunyai beberapa destinasi wisata, baik yang bersifat religi, sejarah, maupun panorama alam. Sektor pariwisata menjadi penting untuk dikembangkan karena kedepan akan menjadi pendapatan andalan negara diluar pajak. 
Hal ini disampaikan Abdul Fikri ketua rombongan Komisi X DPR-RI pada FGD (Forum Group discussion) di Bendungan Jatibarang Semarang, Jumat Pon (22/7). Kekayaan yang ada di Indonesia, tak terkecuali Jawa Tengah, menurut Fikri modal awal untuk bisa membuat sebuah sosioentrepreneur. Kebudayaan, alam, lingkungan, bahkan pola hidup masyarakat mampu untuk dijadikan destinasi pariwisata.

Sambil menikmati pemandangan Goa Kreo yang memang satu lokasi dengan Waduk Jatibarang, rombongan komisi X ini berdialog dengan beberapa institusi terkait. Diantaranya Dinbudpar Jateng, Pemkot Semarang, Dinbudpar Kota Semarang, ASITA (Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies) Semarang, BPBD, perwakilan AISEC (Association Internationale des Etidiants en Sciences Economiques et Commerciales), Asosiasi Agrobisnis Semarang, Komunitas Desa Wisata, Media, dll.


Bang Yos, aktifis pariwisata Jawa Tengah menyampaikan bahwa di pemandangan goa kreo yangdisinergikan dengan waduk jatibarang ini dan dilatarbelakangi gunung ungaran,seperti terasa di Bedugul Bali. Jika bisa dikembangkan dan dimanfaatkan mungkinbisa sejajar dengan Bedugul bahkan bisa melebihinya. Menciptakan danmengembangkan Desa wisata sebagai penunjang utama dalam mendongkrak kunjunganwisata, baik wisnu maupun wisman, tambah pelopor desa wisata di Jawa Tengahini.


Salah satu peserta dari Asosiasi Pelaku Pariwisata Semarang, Purnomo, menyampaikan bahwa seharusnya goa kreoyang dikombinasikan dengan waduk jaibarang ini bisa dimaksimalkan tidakhanya sebagai objek wisata di waktu siang, tetapi juga bisa dikembangkansebagai wisata sore, malam dan bahkan untuk wisata pagi hari. Terbuktipada beberapa waktu lalu terjadi lonjakan pengunjung pada saat pagelaranMahakarya Goa Kreo yang disajikan dipanggung terbuka pada saat malam menjelang upacara tradisi Rewanda (13/7).


Menjawab beberapa usulan dari peserta,Ketua Komisi X DPR-RI Tengku Rifki Harsya, telah membentuk sebuah panja pemasaran pariwisata. Ditambahlan bahwa pariwisata merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia sebagai pendapatan negara diluar pajak. Pariwisata tidak menguras sumber energi, seperti minyak, batubara dan sumber energi lainnnya. Upaya pemasaran sangat diutamakan tidak hanya untuk mendatangkan wisatawan tetapi juga untuk mendatangkan investor sebagai pengembang destinasi wisata.

FGD yang bertajuk "Forum konsolidasi dan Komunikasi Daerah" yang mengambil tema "Pelibatan Masyarakat dalam Pengembangan Pasar Wisata di Jawa Tengah ini ditutup dengan berfoto bersama di Bendungan Jatibarang dengan latar belakang objek wisata Goa Kreo.

Dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI ke Semarang, selain berkunjung ke Goa Kreo dan Waduk Jatibarang, rombongan juga berkunjung ke Gedong Songo, Masjid Agung Jawa Tengah, Sam Poo Kong, dan Kota Lama.













      

Rabu, 20 Juli 2016

MENUMBUHKAN KARAKTER YANG BERBUDAYA, SANTUN DAN PENUH KASIH SAYANG DENGAN EKSPRESI SENI


Bertempat di Hotel Best Western, Solo Baru, Sukoharjo, digelar sebuah ajang bergengsi lomba seni pelajar sekolah dengan nama Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Jawa Tengah. Kegiatan tahunan yang dilaksanakan dari Senin (18/7)  sampai dengan Jumat (22/7) ini dibagi dalam 2 kategori sekolah yaitu kategori SMP dan SD. 

Kegiatan semacam ini merupakan salah satu wahana yang efektif untuk mengekspresikan kompetensi estetika, sekaligus menumbuhkan karakter, budi pekerti dan nilai - nilai kasih sayang dan melestarikan kebudayaan bangsa di bidang seni.  Diharapkan budaya bangsa di bidang seni ini bisa dipentaskan ke jenjang internasional

Kegiatan FLS2N ini merupakan upaya untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia Indonesia agar mampu bersaing dalam era globalisasi yang berkarakter dan patriotik. Pemerintah melaui Kementerian Pendidikan menciptakan dan meningkatkan layanan pendidikan kepada seluruh warga negara, khususnya dalam jenjang Pedindikan Dasar dan Menengah.

Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Tingkat SMP meliputi: Lomba Vokal Group, Festival Kreatifitas Seni Tari, Festival Musik Tradisional, Seni Baca Al-Qur’an, Lomba Cipta Cerpen, Lomba Story Telling, Lomba Gitar Solo, Lomba Menyanyi Solo, Debat Bahasa Indonesia, Lomba Seni Karya, Lomba Desain Poster, Lomba Baca Puisi, Lomba Seni Lukis, Lomba Desain Motif Batik, Lomba Cipta Lagu dan Lomba Cipta Puisi. 

Banyak yang menarik dari beberapa cabang lomba diatas. Dalam sebuah acara temu teknis yang dilakukan pada saat pra lomba, ditemukan beberapa kritikan dan masukkan bagi panitia lomba yang berhubungan dengan lokasi lomba. Lomba Musik Tradisional misalnya, cabang ini yang paling banyak propertinya karena menggunakan set gamelan dan alat musik pendukung yang sangat memakan tempat. Sedangkan lokasi lomba berada di hotel berbintang dengan segala keterbatas tempat untuk setting alat musik. 

Berbeda pada tahun sebelumnya yang menggunakan Asrama Haji Donohudan Boyolali yang mempunyai tempat yang luas dengan beberapa free area yang sangat menunjang aktivitas penunjang seperti untuk latihan, setting properti, dan parkir kendaraan. Selain itu juga kendala antrian lift yang lama dan panjang juga banyak dikeluhkan oleh para peserta, crew/official karena jumlah lift yang ada tidak sesuai dengan jumlah kapasitas tamu yang mencapai ratusan pelajar se Jawa Tengah. Mungkin beberapa masalah yang terjadi seperti ini bisa menjadi masukkan bagi penyelenggara agar kedepan bisa lebih memperhatikan faktor tempat sebagai lokasi ajang bergengsi ini. Sehingga tujuan kegiatan yang begitu bagus dan terarah ini bisa diraih melalui pencapaian maksimal.

LOMBA DEBAT
Dalam salah satu bidang lomba yang terbilang baru dalam FLS2N ini adalah Lomba Debat Bahasa Indonesia. Entah apa yang menjadikan Debat dimasukkan sebagai bidang lomba seni. Dari segi kultur bangsa Indonesia yang namanya perdebatan adalah sebuah hal tabu untuk dilakukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penyelesaian masalah yang ada di masyarakat lebih dititikberat pada diskusi dengan musyawarah mufakat. Dan hal ini juga masuk dalam hukum kenegaraan kita yaitu Pancasila.

Pemilihan Debat sebagai lomba banyak diinterprestasikan seolah - olah meniru gaya demokrasi luar negeri, seperti debat calon presiden ataupun pemimpin pemimpin sebuah perusahaan/organisasi. Dimana berhubungan dengan visi dan misi sebagai calon pemimpin yang akan menentukan kebijakan-kebijakan publik. Hal ini juga diungkapkan salah penonton dan juga orang tua dari salah satu peserta lomba cabang lain, pak Harsono. "Kok niru - niru program TV swasta yang menampilkan debat".

Memang tak bisa dipungkiri bahwa sebuah perdebatan tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya emosi. Management pengendalian emosi setiap manusia sangat relatif, karena untuk mempertahankan pendapat atau idenya sering melewati batas - batas kesantunan dan norma kesopanan yang ada dalam masyarakat ketimuran. Untuk itu sekiranya ada pengkajian dan evaluasi kembali pada salah satu bidang lomba seni ini untuk bisa mewujudkan generasi muda yang berkarakter positif dan berbudaya yang didasari dengan pribadi yang santun.













Jumat, 15 Juli 2016

6 ALUMNI MENDAPAT PENGHARGAAN DARI ISI SURAKARTA

Surakarta, Jumat Legi, 15 Juli 2016.  Sebanyak 6 alumni Institute Seni indonesia (ISI) Surakarta mendapat penghargaan dari pihak kampus karena prestasi dan peran serta mereka dalam bidang seni dan budaya sesuai dengan profesinya masing-masing. Penghargaan ini diberikan dalam rangka peringatan Dies Natalis ISI Surakarta yang ke 52 yang bertempat di Pendopo ISI Surakarta

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Rektor ISI surakarta Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutiningrum, S.Kar. M.Hum. Keenam alumni tersebut antaralain adalah Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, sebagai Penggerak Pelestarian Seni Budaya di Jawa Tengah. Ali Marsudi, S.Sen. sebagai Pelestari dan Pengembang Seni Wayang Orang Jawa Tengah. Margono, S.Sn. sebagai Pengembang Kreativitas di bidang Seni Tatah Sungging. Suroyo, S.Sn. sebagai Pelestari Keterampilan Organologi di Bidang Karawitan Jawa. Dwi Nugroho, S.Sn. sebagai Pengembang Kreativitas Seni Kriya di Bidang Instrument Musik Etnik. Dan yang terakhir adalah Heru Prasetyo, Amd. sebagai Dinamisator Kehidupan Seni Budaya di Masyarakat.

"Ini yang pertama kalinya ISI Surakarta memberikan perhargaan bagi Alumni berprestasi", ungkap I Nyoman Putra Adnyana, dosen Seni Tari Bali sekaligus panitia dies natalis. Untuk kedepan penghargaan serupa akan selalu diberikan pada setiap acara dies natalis ISI Surakarta, tambah bapak dosen yang selalu murah senyum ini.

Hadir dalam acara ini Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D (Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti) memberikan sebuah Pidato Ilmiah dengan mengangkat  tema “Kreativitas Menuju Artistic Research University”, Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo, S.H, M.IP

Peringatan Dies Natalis tersebut dengan kegiatan utama berupa Sidang Senat Terbuka Luar Biasa selain memberikan penghargaan terhadap alumni berprestasi juga memberikan penghargaan Doktor Baru dan Purna Tugas.

Memasuki usia 52 tahun ini, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta semakin meneguhkan perannya sebagai pusat unggulan kreativitas seni dan budaya, yang diwujudkannya melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penelitian dan kekaryaan seni menjadi kekuatan utama dan karakteristik ISI Surakarta. “Kreativitas Menuju Artistic Research University” menjadi tema peringatan dan perayaan Dies Natalis kali ini.

Tema yang diambil pada tahun ini dimaksudkan menjadi tonggak bagi positioning ISI Surakarta diantara perguruan tinggi tanah air. Karya seni sebagai bentuk penelitian dan kreasi karya dapat melahirkan pengetahuan (insight). Sesungguhnya kerja imajinatif, kreatif, dan intelektual yang dilakukan dosen/seniman/praktisi seni pada dasarnya adalah sebuah bentuk penelitian, dan daripadanya dapat ditemukan pengetahuan baru dan teori. Kreativitas dosen dan mahasiswa dalam bidang seni yang ditunjukkan baik tingkat nasional maupun internasional menjadi penggerak bagi terwujudnya ISI Surakarta sebagai Artistic Research University.