Senin, 29 Agustus 2016

GREBEG AGUSTUSAN, PERTAMA KALI DI KOTA SEMARANG MENYATUKAN SEDEKAH BUMI DAN PERINGATAN HUT RI


Minggu Kliwon (28/8), ratusan warga RW. 21 Kelurahan Tologosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang memenuhi lapangan RW. 21 untuk mengikuti Grebeg Agustusan.

Mereka datang dan berbaris sesuai RT masing-masing dengan menggunakan beberapa pakaian adat. Selain itu banyak juga yang tampil dengan kostum sesuai profesi dan kebisaannya masing-masing, misalnya dengan menggunakan kostum dokter, guru, pejuang, tokoh agama, tokoh pewayangan, tokoh punakawan, seniman, badut, dll.

Event ini adalah yang pertama kalinya di Kota Semarang, dimana menggabungkan peringatan HUT RI yang ke 71 dengan upacara tradisi budaya jawa Sedekah Bumi. Grebeg ini merupakan upacara adat dan tradisi masyarakat jawa dengan melakukan kirab budaya berupa tumpeng robyong, gunungan hasil bumi dan gunungan nasi bungkus daun jati.

Acara diselenggarakan oleh warga RW.21 Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Grebeg ini diramaikan beberapa kesenian lokal, diantaranya Barongsay, Seni Reog Ponorogo Kota Atlas, dan Gamelan Jawa.

Ketua RW.21 Bambang Setyabudi, SH. MM menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atars limpahan rahmat dan berkah baik kesehatan, rejeki dan nikmat lainnya yang diwujudkan dalam bentuk sedekah bumi dengan nama "Grebeg Agustusan" yang sekaligus menjadi ikon di RW. 21 ini.

Ditambahkannya, bahwa ada tiga hal yang merupakan tujuan dilaksanakan Grebeg ini. Yang pertama yaitu untuk melestarikan adat dan tradisi budaya jawa, yang kedua untuk meningkatkan watak dan pekerti bangsa, serta untuk meningkatkan kerukunan antar sesama warga.

Dalam suasana mendung tebal, tepat pukul 16.00 dan disaksikan Lurah Tlogosari Kulon beserta perangkatnya, grebeg ini dilepas oleh Camat Pedurungan Drs. Wijoyo Trikoranto, mewakili Walikota Semarang yang berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, Camat Pedurungan ini sangat terkesan dengan acara yang baru pertama kali ini digelar diwilayahnya. Berharap kegiatan seperti ini bisa diagendakan setiap tahun dan semakin baik pelaksanaannya.

Sebagai permulaan, grebeg ini dilakukan dengan jarak yang tidak telalu panjang, yaitu kurang dari 2 km. Rute-nya pun cukup melalui jalan-jalan kecil di kampung, yaitu Jl. Wahyu Temurun - Jl. Ratu Ratih -  Jl. Graha Mukti dan kembali lagi ke lapangan RW. 21. Diiringi rintik gerimis yang lembut seolah menjadi berkah tersendiri bagi semua peserta grebeg. Mereka menikmati perjalanan selama kirab karena suasana yang tidak panas, namun juga tidak hujan, yang mana dibeberapa daerah lain secara bersamaan turun hujan lebat.

Setelah di-grebeg, gunungan hasil bumi dan nasi bungkus pun menjadi rebutan seluruh peserta grebeg dan ludes tak tersisa. Karena jumlah gunungan yang masing-masing hanya satu, banyak peserta yang tidak kebagian dan mereka harus bersabar untuk mendapatkannya ditahun depan.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar