Kamis, 11 Agustus 2016

SEMOGA KASUS TERSELESAIKAN, MESKI SANG MEDIATOR TELAH BERPULANG


Ahmad Zaid (berpeci hitam) saat mediasi Zulfa dengan SMK N 7 Semarang
Kasus yang menimpa Zulfa siswa SMK 7 Semarang yang tidak naik kelas karena nilai agamanya kosong itu semoga bisa terselesaikan dengan baik sesuai dengan nilai kebenaran dan keadilan, meski sang mediator yaitu kepala Ombudsman Jawa Tengah telah berpulang kepada Sang Pencipta. 
 
Hal tersebut menyingung kejadian tadi siang (Kamis 11/8), dimana telah diberitakan bahwa Kepala Ombudsman RI perwakilan Jawa Tengah, Ahmad Zaid meninggal dunia tertabrak Kereta Api pada pukul 12.45 di perlintasan rel KA Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak seusai melakukan sidak di SDN 6 Brumbung. Dia bersama 3 orang lainnya di dalam mobil Kijang Innova berwarna hitam hendak menyeberang perlintasan tak berpalang dihantam oleh kereta Maharani jurusan Semarang – Surabaya.

Masih segar dalam ingatan kita, Achmad Zaid terkahir menangani masalah Zulfa, siswa SMK N 7 Semarang yang tidak naik kelas karena nilai agamanya kosong, lantaran siswa tersebut berkeyakinan Kepercayaan.  Dalam kasus tersebut, Ombudsman Jawa Tengah menjadi institusi upaya mediasi kedua pihak, yaitu pihak keluarga Zulfa dan SMK N 7 Semarang.

Kasus Zulfa ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak terkait dunia pendidikan nasional tentang masalah-masalah yang terjadi pada seorang pelajar yang berkeyakinan diluar agama-agama yang diakui oleh negara. SMK N 7 Semarang berpegang teguh pada aturan yang berlaku yaitu belum adanya aturan resmi dari pusat tentang kurikulum pendidikan agama bagi penganut kepercayaan. Sehingga dalam upaya mangisi nilai pada mata pelajaran agama dan budi pekerti, terjadi pemaksaan oleh pihak sekolah kepada siswa tersebut untuk masuk dan melaksanakan ujian praktek menurut agama Islam, padahal Zulfa adalah penganut kepercayaan.

Dalam proses mediasi, Zaid melakukan investigasi pada SMK N 7 Semarang, namun tak menemukan adanya bukti dan saksi dimana telah terjadi pemaksaan, dan menutup kasus Zulfa dengan keputusan Zulfa tetap tidak naik kelas.

Investigasi yang dilakukan secara sepihak ini tidaklah adil bagi siswa tersebut. Laporan dan bukti yang disampaikan oleh korban diabaikan oleh pihak Ombudsman. Terkesan institusi negara yang diharapkan sebagai tempat mengadu rakyat ini cenderung berpihak pada pihak SMK 7 Semarang, entah alasan apa. Ungkap Dewi Kanti, salah satu tim advokasi Zulfa. Ini merupakan pembohongan publik, Ombudsman tidak mendengarkan kronologi dari pihak korban, data dari korban dia kubur, tambahnya saat ditanya menanggapi beberapa pemberitaan di media tentang penutupan kasus Zulfa

Bahkan dia pun ikut menyarankan untuk mengikuti pelajaran agama islam agar nilai agamanya terisi dan bisa naik kelas. "Menjalankan ibadah solat bukan berarti menjalankan akidah islam, ndak apa-apa asal tidak di sahadatkan di depan kyai dan saksi" ucap Zaid pada mediasi pekan lalu (3/8),

Sebenarnya masalah tersebut tidak terlalu rumit jika pihak sekolah tidak terlalu kaku dengan alasan belum adanya payung hukum dan ketakutan kalau dikatakan melanggar aturan yang berlaku. Seharusnya pihak terkait dalam hal ini dinas pendidikan dan pemerintah Kota Semarang bisa menyelesaikan masalah ini dengan membuat keputusan atau kebijakkan terkait permasalahan yang mendesak dan bersifat urgent. Jangan hanya karena terbentur aturan yang notabene adalah produk wakil rakyat, masa depan seorang anak bangsa dikorbankan. Lebih-lebih dikarenakan permasalahan agama/keyakinan. 

Seorang abdi negara adalah pelayan masyarakat, menempatkan tugas dan pokok fungsinya sesuai jabatan yang diemban dengan penuh ketulusan dan rasa tanggung jawab. Sungguh tak bijaksana jika terlalu mengedepankan ego dan kepentingan kelompok/ideologi/agama/keyakinannya diatas nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta rasa kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila ini.


   

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Yang penting tetap Semangat... Para Leluhur Pasti membantu.. Ojo wedi kangelan...

    BalasHapus
  3. Yang penting tegal Semangat.. Leluhur kits Pasti membantu... Ojo wedi kangelan

    BalasHapus