Minggu, 30 Oktober 2016

TUTUP SURO DENGAN GREBEG SURAN DAN FESTIVAL TENONGAN


Grebeg Suran dan Festival tenong yang dilaksanakan Minggu Pon (30/10) sebagai upacara tradisi tutup suro berlangsung sangat meriah. Ribuan peserta dari 12 desa penyangga Pariwisata Baturraden Banyumas, pelaku wisata Baturraden, menampilkan berbagai kreatifitas tenong.

Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Banyumas, Muntorichin mengatakan route festival grebeg suran dan lomba tenong tahun ini, jaraknya lebih pendek.

Tahun sebelumnya peserta diharuskan menempuh jarak 2 Km yang dimulai dari Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturaden, menuju parkir atas Lokawisata Baturraden. Tahun ini diberangkatkan dari depan Rumah Makan Pringsewu atau perempatan terminal bawah menuju lapangan dalam Lokawisata Baturraden.

Dengan route grebeg yang lebih pendek kerumunan penonton begitu menumpuk disepanjang route yang dilewati. Prosesi grebeg diawali dengan iring-iringan rombongan pembawa rontek dari Pramuka Kwarcab Banyumas diikuti sarana grebeg sura yang terdiri Ancak Gunung yang berisi hasil bumi beserta tumpeng tiga warna dan kambing kendit.

Kemudian rombongan dari Paguyuban Kerabat Mataraman (PAKEM) dan rombongan 12 desa penyangga wisata dan pelaku wisata menampilkan berbagai kreasi tenong. “Kelompok tenong dari Polres Banyumas juga turut memeriahkan kegiatan ini,” kata Muntorichin

Diantara rombongan yang paling menarik adalah ketika rombongan yang terdiri dari ratusan perempuan membawa Tenong (tempat makan terbuat bambu berbentuk bulat yang berisikan nasi dan lauk), juga 2 gunungan hasil bumi berukuran besar dan tumpeng tiga warna yang membuat orang penasaran ingin melihat dari dekat.
Biasanya pembawa tenong pada tahun sebelumnya didominasi oleh ibu-ibu, namun kali ini remaja putri tampil lebih banyak.

Sebelum mengikuti upacara larungan dan penyerahan sesajen dari Kerabat Mataram kepada Bupati, para peserta melakukan prosesi kirab dihadapan Bupati Banyumas Ir Achmad Husein berserta Ny Erna Husein, Wakil Bupati dr. Budhi Setiawan, Ketua DPRD Juli Krisdianto, Kepala Dinbudpar Jawa Tengah yang diwakili Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, perwakilan Forkompinda, kepala SKPD dan segenap tamu undangan lainnya.


Bupati mengaku bangga, bahwa kegiatan tahun ini, lebih meriah dan lebih tertib. Bupati juga memberi ucapan khusus kepada pembawa tenong dan paraga grebeg suran.

“Terima kasih kepada paraga grebeg suran khususnya pembawa tenong, kegiatan tahun ini lebih meriah dan tertib. Inilah kebersamaan kita, sambil melestarikan tradisi yang hampir punah dan penampilan kreasi baru untuk tenong yang akan menjadikan Wisata Budaya Banyumas lebih maju,” katanya.

Usai Bupati menyampaikan sambutan, ribuan masyarakat merangsek dua Gunungan dan berebut untuk mendapatkan hasil bumi itu. Kemudian dilanjutkan larungan tumpeng di kali Gumawang oleh Bupati Banyumas dan para tamu undangan.

Ada acara tambahan yang cukup unik, setelah larungan Bupati dan Wakil Bupati diminta untuk melakukan ritual adat “nyuwuk” (mengusap kepala anak kecil dan mendokan).

Sontak ini membuat pengunjung yang ada di Lokawisata membawa anak balitanya kepada bupati dan wakil bupati. Ada yang sekedar berjabat tangan, namun tidak sedikit yang meminta kepala anaknya diusap oleh bupati dan mohon didoakan agar kelak menjadi manusia yang berguna.

Bupati dan segenap jajarananya beserta tamu undangan selanjutnya makan tumpeng bersama di kompleks petilasan baturaden. Acara ini kemudian diakhiri dengan penyembilihan kambing kendit.


Selasa, 25 Oktober 2016

LAYANI HAK SEMUA WARGA NEGARA, TERMASUK PARA PENGANUT KEPERCAYAAN

Sebagai pengelola kebudaayaan, banyak sekali ditemui para pegawai di lingkungan SKPD yang membidangi kebudayaan, tidak mengetahui tentang Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga banyak kasus yang terjadi dimana warga penganut kepercayaan menjadi korban diskriminasi dalam hal pemenuhan hak - hak sipil yang melekat pada mereka sebagai sesama warga negara dengan pemeluk agama-agama lain yang diakui oleh negara.

Meskipun ada beberapa daerah yang telah melaksanakan pengelolaan kepercayaan dengan baik, namun lebih banyak daerah yang masih kurang dalam pelayanan. Ini dikarenakan masih adanya pola pikir dan cara pandang tentang kebudayaan kususnya tentang Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa menjadi sesutu hal tidak terlalu penting.

Untuk itu Derektorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kemendikbud RI menggelar kegiatan Peningkatan Kompetensi Pengelola Bidang Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi. Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 hari mulai hari Selasa (25/10) sampai dengan Sabtu (26/10) di Hotel Horison Semarang.

Peserta bintek ini berasal dari dinas yang membidangi kebudayaan, khususnya bidang Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, dari 4 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.

Bintek ini juga dalam upaya mensosialisai payung hukum yang terbaru bagi penganut kepercayaan, yaitu Permendikbud No. 27 Tahun 2016 tentang pelayanan pendidikan untuk warga kepercayaan. Sehingga dinas terkait yang ada di daerah bisa lebih mengerti dan mampu melaksanakan pelayanan terhadap penganut kepercayaan dalam hal pendidikan.

Seumur hidup menjadi pegawai, maka kita semua adalah pelayan. Pelayan sama dengan pembantu, maka bagaimana kita bisa menjadi pelayan yang baik. Sehingga ada istilah negara harus hadir dalam melakukan pelayanan, perlindungan dan advokasi bagi warga kepercayaan dan komunitas adat yang mengalami diskriminasi, jelas Dra. Sri Hartini, M.Si. Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi.

"Suka tidak suka kita harus hadir, negara harus hadir. Ah.. Itu tidak sesuai dengan agama kita, apa sih untungnya ngurus itu. Pikiran seperti ini harus disingkirkan jauh-jauh, yang kita dekatkan adalah rasa tanggung jawab dalam melayani masyarakat. Ini juga berkaitan dengan Nawa Cita Presiden Jokowi dimana tidak boleh ada diskriminasi. Ketidakadilan dan intoleransi kita berantas bersama-sama", lanjut Sri Hartini.


Di akhir materinya, Sri Hartini juga mengajak semua dinas yang ada di kabupaten dan kota untuk intensif melakukan kerjasama dalam upaya sosialisasi dan pelayanan bagi penganut kepercayaan. "Semua harus menterjemahkan nawa cita dan menariknya dalam RPJMN, Renstra dan Visi Misi serta berkoordinasi secara terus menerus", pungkasnya.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinbudapar Jateng Dr. Prasetyo Aribowo, SH, M.Soc. Sc. Selain diisi oleh beberapa Kasubdit di Direktorat KT (Kepercayaan dan Tradisi), kegiatan ini juga menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten dalam hal Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tradis.

Senin, 24 Oktober 2016

PERBEDAAN TAK HARUS BERSENGGOLAN


Hidup berdampingan dengan segala perbedaan ras, suku, agama dan juga bahasa itu sangatlah tidak mudah, tapi bukan berarti itu tidak mungkin bukan?  Tergantung bagaimana kita memandang  “perbedaan” itu sendiri. 

Jika kami saja yang berasal dari agama, keyakinan, suku dan ras yang berbeda, bisa duduk bersama dengan penuh kehangatan dan keakraban, lalu kenapa diluar sana banyak yang meributkan hal yang terkait dengan perbedaan? 

Tak hanya itu, bahkan sesama agama ataupun kelompok tertentu saja saling membuat jurang pemisah dan berujung dengan tindakan anarkis, yang akhirnya justru merugikan banyak orang bahkan diri sendiri. Lalu, apa artinya "Bhinneka Tunggal Ika?"

Masih ingatkah dengan kasus-kasus beberapa tahun yang lalu atau pun beberapa bulan yang lalu di Indonesia terkait dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu kepada kelompok agama yang lainnya. Seperti pembakaran rumah warga eks Gafatar, pembongkaran paksa gereja di berbagai daerah, seperti yang terjadi di Aceh Singkil misalnya, yang menyebabkan mereka harus mengungsi dari rumah mereka sendiri karena terancam keamanannya. 

Bukan hanya itu saja, bahkan para wanita ikut berada di barisan paling depan untuk mempertahankan tempat ibadah mereka untuk melawan kelompok agama mayoritas di daerah tersebut yang hendak menyerang tempat peribadatan mereka.  Atau kasus lainnya dengan penolakan pemakaman untuk keluarga Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan alasan mereka adalah aliran sesat.

Masih banyak lagi kasus tentang ketidakadilan yang dialami oleh para korban pelanggaran kebebasan beragama danberkeyakinan di berbagaidaerah di Indonesia. Parahnya lagi, banyak dari mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan juga jaringan. Lalu, siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini? Apakah pemerintah sepenuhnya ataukah justru media yang harus bertanggungjawab untuk segala pemberitaannya? 

Ya, Media memang memiliki peranan yang sangat penting sebagai penyampai informasi ke masyarakat luas. Baik media cetak maupun media elektronik. Tapi apakah segala pemberitaan yang ada di media massa selama ini selalu benar? Tidaksemua ! Terlalu banyak kepentingan didalamnya yang menjadikan media itu sendiri terkadang cacat atau timpang dalam memberikan informasi. 

Dilatar belakangi hal tersebut diatas, team SEJUK (Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman) dan SOBAT KBB (Solidaritas korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan) mengadakan workshop tentang advokasi media untuk korban pelanggaran kebebasan dan berkeyakinan di hotel Amaris Bogor selama 2 hari, Jumat dan Sabtu (21-22/10). 

Workshop ini dihadiri 26 peserta dari berbagai kelompok agama dan keyakinan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti, FORCIDAS (Forum CintaDamai Aceh singkil), Komunitas Ahmadiyah, Komunitas HKBP Filadelfia, Komunitas Eks Gafatar, Pelita Perdamaian Cirebon (Syiah), Perguruan Trijaya dan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. 

Tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memberikan pelatihan kepada para korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang awalnya hanya menjadi objek, kini harus bisa menjadi subjek dalam menyampaikan berita dan informasi melalui media massa, Jelas Ahmad Junaedi, Direktur SEJUK, dalam sambutannya saat membuka workshop tersebut. 

Selain memberikan pemahaman dan pelatihan bagaimana cara mengadvokasi media, peserta juga dilatih untuk dapat membuat dokumentasi atas segala peristiwa atau kejadian yang dialami sehari-hari, sehingga kedepannya tidak ada lagi ketakutan akan penyampaian informasi yang tidak benar oleh beberapa media nasional di Indonesia atau juga ancaman yang dialami karena tidak memiliki perlindungan sebagai kelompok minoritas. Tekhnik-tekhnik penulisan dan pendokumentasian dalam bentuk video serta tekhnik wawancara juga diajarkan oleh Yerry Niko Borang dari team Engage Media dengan sangat jelas dan menarik. Terlihat dari keakraban yang terjalin dari setiap peserta saat terjun langsung untuk praktek membuat video documenter sebagai bentuk pelatihan. 

Walau waktu yang diberikan untuk workshop advokasi media tidaklah panjang, namun ikatan emosional antar peserta dan pengisi materi sangat jelas terasa. Selain mendapatkan ilmu dan pengalaman, yang terpenting adalah mendapatkan saudara baru dari berbagai daerah. Mulai dari Aceh, Makasar, Palembang, Surabaya, Sukabumi, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan Bogor tentunya sebagai tuan rumahnya. Jadi, dengan adanya keberagaman dan perbedaan seperti ini, apakah kalian yakin akan bisa membuat perpecahan diantara perbedaan??? Kalau Bhinneka Tunggal Ika saja begitu indah dan penuh makna, kenapa harus dirusak dengan penindasan dan ketidakadilan?

Editor : Dwi Kurnia Rahma

Minggu, 16 Oktober 2016

SEMAR GUGAH, RAMAIKAN TRADISI SURAN DI KEKADANGAN WRINGIN SETO

Tepat pada malam purnomo suro, Kekadangan Wringin Seto yang mempunyai padepokan di Bukit Sayuran Desa Soko Kecamatan Jepon pada hari Sabtu (15/10) kemarin melaksanakan tradisi tahunan Suran Pertapan Wringin Seto, yaitu memperingati tahun baru jawa 1950. Berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dilakukan sejak Sabtu sore hingga tengah malam.

Ribuan anggota Kekadangan Wringin Seto dari berbagai daerah di Pulau Jawa hadir secara langsung untuk mengikuti serangkaian kegiatan untuk menghormati para leluhur tanah jawa tersebut. Padepokan yang berada di atas Bukit Sayuran dengan puncak Suroyudannya ini pun dipenuhi pengunjung dari berbagai kota yang tidak ingin melewatkan event tahunan tersebut.

Suntoyo S.Kar Kepala Bidang Kebudayaan DPPKKI Blora menyatakan bahwa tradisi suran yang dilaksanakan di padepokan Kekadangan Wringin Seto merupakan agenda tahunan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus melestarikan budaya leluhur yang secara turun temurun diajarkan kepada anak cucu.

“Disini semua etnis dan agama boleh bergabung, tidak ada pembeda diantara kita. Semua bersatu melestarikan kebudayaan leluhur jawa tepat di bulan pertama tahun jawa yang disebut Suro,” jelasnya.

Acara dimulai tepat setelah matahari tenggelam yaitu pukul 18.00 beberapa saat setelah kehadiran Bupati Blora Djoko Nugroho dan Kasi Nilai Budaya Dinbudpar Jawa Tengah Eny Haryanti. Didampingi Penuntun Agus Tijana Budi dan para pengurus, doa dengan tata cara kekadangan Wringin Seto pun dimulai dengan duduk mengelilingi tumpeng, ambeng dan buah buahan.

Usai didoakan, anak-anak dipersilahkan mengambil buah-buahan secara berebut. Sedangkan tumpeng dan ambeng lainnya dikirab dari padepokan menuju sanggar agung, tempat meditasi yang berada di dalam goa. Ikut dikirab beberapa pusaka dengan diterangi cahaya obor. Kental dengan tradisi jawa, para punggawa kirab pun mengenakan pakaian adat jawa beskap lengkap dengan blangkonnya.

Sampai di Sanggar Agung, dilaksanakan doa lintas agama dan kepercayaan. Dimulai dengan doa yang dipimpin tokoh agama islam, dilanjut dengan agama kristen, hindu, budha, konghucu dan terakhir dengan cara kepercayaan dari kekadangan Wringin Seto. Setelah doa bersama acara dilanjutkan dengan rebut gunungan hasil bumi, tepat didepan pagelaran wayang kulit.

Pukul 9 malam acara dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Nuryanto dari sanggar seni Cahyo Sumirat Dukuh Pangkat Desa Purwosari Kecamatan Blora Kota. Dengan membawakan lakon Semar Gugah, dalang muda ini berhasil menghibur para pengunjung dan warga sekitar.

Bupati Blora Djoko Nugroho yang ikut menyaksikan pagelaran wayang kulit ini pun didaulat untuk naik panggung. Dengan kepiawaianya, beliau mengisi dagelan limbuk cangik saat pementasan wayang kulit berkolaborasi dengan 5 pesinden asli Blora.



























Kamis, 13 Oktober 2016

777 LODHONG DI LERENG GUNUNG SLAMET, CIPTAKAN REKOR MURI


Di lereng gunung Slamet sebelah timur terdapat sebuah desa dengan nama desa Serang. Desa ini merupakan desa terujung di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga yang paling berdekatan dengan puncak gunung Slamet.

Ada sebuah tradisi unik di daerah ini, yaitu tradisi pengambilan air di sumber mata air yang oleh masyarakat setempat dinamakan dengan Tuk Sikopyah, dimana letaknya berada di atas perbukitan dengan medan yang cukup ekstrim. Tuk sendiri artinya sumber mata air dalam bahasa jawa. Tradisi pengambilan air ini dilakukan setahun sekali dibulan Suro.

Proses pengambilan air di tuk Sikopyah dulunya dilakukan secara sederhana dengan alat yang sederhana pula dan didahului dengan selamatan kecil-kecilan. Kali ini Pemkab Purbalingga mengemas proses ini dalam sebuah rangkaian acara yang bernama Festival Gunung Slamet yang dilaksanakan mulai tanggal 13 hingga 15 Oktober 2016.
  
Ada 777 buah lodhong tercatat sebagai pemecahan rekor Muri, yakni Pengambilan Air Menggunakan Lodhong Terbanyak. Ariyani Siregar, Deputi Manager Muri mengatakan banyaknya lodhong yang dikirab telah memecahkan rekor muri dan tercatat yang ke 7.638

"MURI memberikan penghargaan kepada Bupati Purbalingga sebagai pemrakarsa dan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Purbalingga sebagai penyelenggara," ujar Ariyani.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinbudparpora Purbalingga, Subeno mengatakan pemecahan rekor dalam pembukaan FGS ditujukan untuk menunjukkan ciri khas lokalitas budaya setempat yang telah ada. Sekaligus, untuk menarik wisatawan berkunjung ke Desa Serang Kecamatan Karangreja.

"Jumlah 777 yang dalam bahasa jawa pitungatus pitungpuluh pitu, memiliki arti pitulungan atau pertolongan. Secara umum, ini merupakan bentuk meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para pemimpin dan masyarakatnya bisa diberi kekuatan untuk bisa membangun Purbalingga," jelas Subeno.

Sedangkan Bupati Purbalingga, Tasdi mengatakan kegiatan ini mempunyai 3 arti penting pertama membangun mental spiritual, karena dengan adanya kegiatan ini merupakan wujud syukur terhadap Tuhan YME. Kedua membangun rasa sosial, dengan berkumpulnya masyarakat bukan hanya dari Serang saja namun dari berbagai daerah dapat menumbuhkan semangat kegotong royongan.

“Ketiga membangun budaya yakni dengan adanya acara ini bisa nguri-nguri budaya/adat-istiadat kepada generasi muda. Selain itu juga dengan nguri-nguri Budaya juga bisa menjadi ajang promosi wisata khususnya di Purbalingga,” kata Tasdi.

Lodhong yang berisi air sebelumnya diambil dari Tuk Sikopyah. Setelah proses pengambilan air, lodhong kemudian dikirab menuju balai desa dipimpin oleh Kepala Desa Serang, Sugito dan juru kunci tuk Sikopyah, Syamsuri dengan berjalan kaki sejauh 2 km. 777 lodhong tadi kemudian disemayamkan di Balai Desa Serang selama tiga malam.

Sesampainya rombongan di Balai Desa Serang, peserta kirab dijamu nasi penggel dan sayur gandul (pepaya) dengan lauk ikan asin yang berada dalam satu bakul. Tiap bakul yang dibawa, terdapat tiga buntel atau bungkus daun pisang nasi penggel, tiga buntel sayur gandul dan tiga buntel ikan asin. Secara kepercayaan masyarakat setempat, nasi penggel dan sayur gandul merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain dihadiri Bupati, Wakil bupati dan jajaran Forkopimda Purbalingga, acara ini juga dihadiri Drs. Mula Sinaga, MM. Kasubdit Program, Evaluasi, dan Dokumentasi, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kemendikbud RI, dan Drs. Mulyono, M.Pd. Kabid. Nilai Budaya, Seni dan Film, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Kegiatan FGS hari kedua (14/10) akan dilaksanakan perang strowbery dan festival ebeg di rest area Serang. Kemudian di alun-alun Purbalingga juga akan dilakukan lomba lukis dan mewarnai gambar serta parade seni 8 kabupaten (Bralingmascakeb Pekalongan).

Kemudian hari ketiga (15/10) akan dilaksanakan kirab hasil bumi, ruwatan agung, rebutan tumpeng hasil bumi. dan pada malam harinya jazz diatas gunung dengan bintang Tamu Isyana Saraswati. Kegiatan hari ke tiga dipusatkan di Rest Area Desa Serang







Selasa, 11 Oktober 2016

PAGELARAN WAYANG KULIT RAMAIKAN PERAYAAN GORO SURO

Senin Pon malam Selasa Wage (10/10) terasa menjadi milik warga Desa Sinprendeng, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Jika dihampir semua tempat turun hujan, namun tidak di wilayah itu. Karena akan tampak beda kondisinya jika hujan turun disaat ada pagelaran wayang kulit yang ditonton oleh ratusan warga Kajen dan sekitarnya.

Dengan dalang Ki Tantut Sutanto dari Klaten, wayang kulit ini mengambil lakon Wiroto Parwo. Sindennya pun tak main-main, ada 6  sinden yang berunjuk kemampuan dimalam itu. Wayang kulit ini digelar oleh Paguyuban Kapribaden Kabupaten Pekalongan untuk menghibur warga setempat dalam rangka Perayaan Goro Suro 1950 Jw.

Acara yang dimulai pukul 20.30 ini diawali dengan sambutan ketua Paguyuban Kapribaden Kabupaten Pekalongan Soenarjo, dan dilanjutkan dengan sambutan ketua Paguyuban Kapribaden Provinsi Jawa Tengah Daniel Riyanto. Sambutan berikutnya dari Bupati Pekalongan Asip Kholbihi. Dalam sambutannya, beliau menyambut baik acara ini, sebagai wujud pelestarian budaya jawa dan sekaligus menjadi sarana untuk menyatukan warga.

Tiba saatnya acara inti malam itu, yaitu acara ritual yang dilaksanakan tepat pada pukul 12 malam. Gelar wayang kulit pun diskors beberapa menit untuk ritual ini. Didahului dengan pembacaan sejarah 1 Suro oleh Paranporo Paguyuban Kapribaden Kabupaten Pekalongan, Sabdono. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Kasi Nilai Budaya, Eny Haryanti.

Dilanjutkan dengan Hastungkara (berdoa) bersama, disusul dengan rebutan tumpeng dan gunungan hasil bumi oleh para warga. Diyakini hasil rebutan tumpeng dan hasil bumi ini akan memberikan berkah serta manfaat untuk mengawali tahun baru jawa ini dengan harapan berkelanjutan di hari-hari yang akan datang.

Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari paguyuban atau organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di wilayah Pekalongan, diantaranya dari Kawruh Jawa Jawata, Budi Luhur, Tri Tunggal Bayu, Pambuka Jiwa, dan Sapta Darma.