Selasa, 11 Oktober 2016

PAGELARAN WAYANG KULIT RAMAIKAN PERAYAAN GORO SURO

Senin Pon malam Selasa Wage (10/10) terasa menjadi milik warga Desa Sinprendeng, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Jika dihampir semua tempat turun hujan, namun tidak di wilayah itu. Karena akan tampak beda kondisinya jika hujan turun disaat ada pagelaran wayang kulit yang ditonton oleh ratusan warga Kajen dan sekitarnya.

Dengan dalang Ki Tantut Sutanto dari Klaten, wayang kulit ini mengambil lakon Wiroto Parwo. Sindennya pun tak main-main, ada 6  sinden yang berunjuk kemampuan dimalam itu. Wayang kulit ini digelar oleh Paguyuban Kapribaden Kabupaten Pekalongan untuk menghibur warga setempat dalam rangka Perayaan Goro Suro 1950 Jw.

Acara yang dimulai pukul 20.30 ini diawali dengan sambutan ketua Paguyuban Kapribaden Kabupaten Pekalongan Soenarjo, dan dilanjutkan dengan sambutan ketua Paguyuban Kapribaden Provinsi Jawa Tengah Daniel Riyanto. Sambutan berikutnya dari Bupati Pekalongan Asip Kholbihi. Dalam sambutannya, beliau menyambut baik acara ini, sebagai wujud pelestarian budaya jawa dan sekaligus menjadi sarana untuk menyatukan warga.

Tiba saatnya acara inti malam itu, yaitu acara ritual yang dilaksanakan tepat pada pukul 12 malam. Gelar wayang kulit pun diskors beberapa menit untuk ritual ini. Didahului dengan pembacaan sejarah 1 Suro oleh Paranporo Paguyuban Kapribaden Kabupaten Pekalongan, Sabdono. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Kasi Nilai Budaya, Eny Haryanti.

Dilanjutkan dengan Hastungkara (berdoa) bersama, disusul dengan rebutan tumpeng dan gunungan hasil bumi oleh para warga. Diyakini hasil rebutan tumpeng dan hasil bumi ini akan memberikan berkah serta manfaat untuk mengawali tahun baru jawa ini dengan harapan berkelanjutan di hari-hari yang akan datang.

Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari paguyuban atau organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di wilayah Pekalongan, diantaranya dari Kawruh Jawa Jawata, Budi Luhur, Tri Tunggal Bayu, Pambuka Jiwa, dan Sapta Darma.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar