Kamis, 13 Oktober 2016

777 LODHONG DI LERENG GUNUNG SLAMET, CIPTAKAN REKOR MURI


Di lereng gunung Slamet sebelah timur terdapat sebuah desa dengan nama desa Serang. Desa ini merupakan desa terujung di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga yang paling berdekatan dengan puncak gunung Slamet.

Ada sebuah tradisi unik di daerah ini, yaitu tradisi pengambilan air di sumber mata air yang oleh masyarakat setempat dinamakan dengan Tuk Sikopyah, dimana letaknya berada di atas perbukitan dengan medan yang cukup ekstrim. Tuk sendiri artinya sumber mata air dalam bahasa jawa. Tradisi pengambilan air ini dilakukan setahun sekali dibulan Suro.

Proses pengambilan air di tuk Sikopyah dulunya dilakukan secara sederhana dengan alat yang sederhana pula dan didahului dengan selamatan kecil-kecilan. Kali ini Pemkab Purbalingga mengemas proses ini dalam sebuah rangkaian acara yang bernama Festival Gunung Slamet yang dilaksanakan mulai tanggal 13 hingga 15 Oktober 2016.
  
Ada 777 buah lodhong tercatat sebagai pemecahan rekor Muri, yakni Pengambilan Air Menggunakan Lodhong Terbanyak. Ariyani Siregar, Deputi Manager Muri mengatakan banyaknya lodhong yang dikirab telah memecahkan rekor muri dan tercatat yang ke 7.638

"MURI memberikan penghargaan kepada Bupati Purbalingga sebagai pemrakarsa dan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Purbalingga sebagai penyelenggara," ujar Ariyani.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinbudparpora Purbalingga, Subeno mengatakan pemecahan rekor dalam pembukaan FGS ditujukan untuk menunjukkan ciri khas lokalitas budaya setempat yang telah ada. Sekaligus, untuk menarik wisatawan berkunjung ke Desa Serang Kecamatan Karangreja.

"Jumlah 777 yang dalam bahasa jawa pitungatus pitungpuluh pitu, memiliki arti pitulungan atau pertolongan. Secara umum, ini merupakan bentuk meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para pemimpin dan masyarakatnya bisa diberi kekuatan untuk bisa membangun Purbalingga," jelas Subeno.

Sedangkan Bupati Purbalingga, Tasdi mengatakan kegiatan ini mempunyai 3 arti penting pertama membangun mental spiritual, karena dengan adanya kegiatan ini merupakan wujud syukur terhadap Tuhan YME. Kedua membangun rasa sosial, dengan berkumpulnya masyarakat bukan hanya dari Serang saja namun dari berbagai daerah dapat menumbuhkan semangat kegotong royongan.

“Ketiga membangun budaya yakni dengan adanya acara ini bisa nguri-nguri budaya/adat-istiadat kepada generasi muda. Selain itu juga dengan nguri-nguri Budaya juga bisa menjadi ajang promosi wisata khususnya di Purbalingga,” kata Tasdi.

Lodhong yang berisi air sebelumnya diambil dari Tuk Sikopyah. Setelah proses pengambilan air, lodhong kemudian dikirab menuju balai desa dipimpin oleh Kepala Desa Serang, Sugito dan juru kunci tuk Sikopyah, Syamsuri dengan berjalan kaki sejauh 2 km. 777 lodhong tadi kemudian disemayamkan di Balai Desa Serang selama tiga malam.

Sesampainya rombongan di Balai Desa Serang, peserta kirab dijamu nasi penggel dan sayur gandul (pepaya) dengan lauk ikan asin yang berada dalam satu bakul. Tiap bakul yang dibawa, terdapat tiga buntel atau bungkus daun pisang nasi penggel, tiga buntel sayur gandul dan tiga buntel ikan asin. Secara kepercayaan masyarakat setempat, nasi penggel dan sayur gandul merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain dihadiri Bupati, Wakil bupati dan jajaran Forkopimda Purbalingga, acara ini juga dihadiri Drs. Mula Sinaga, MM. Kasubdit Program, Evaluasi, dan Dokumentasi, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kemendikbud RI, dan Drs. Mulyono, M.Pd. Kabid. Nilai Budaya, Seni dan Film, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Kegiatan FGS hari kedua (14/10) akan dilaksanakan perang strowbery dan festival ebeg di rest area Serang. Kemudian di alun-alun Purbalingga juga akan dilakukan lomba lukis dan mewarnai gambar serta parade seni 8 kabupaten (Bralingmascakeb Pekalongan).

Kemudian hari ketiga (15/10) akan dilaksanakan kirab hasil bumi, ruwatan agung, rebutan tumpeng hasil bumi. dan pada malam harinya jazz diatas gunung dengan bintang Tamu Isyana Saraswati. Kegiatan hari ke tiga dipusatkan di Rest Area Desa Serang







1 komentar:

  1. Indonesia kaya akan budaya,
    Terutama orang jawa yang paling banyak mengadakan acara tradisional yang sudah turun temurun menurut tradisi setiap daerah masing-masing.

    BalasHapus