Senin, 24 Oktober 2016

PERBEDAAN TAK HARUS BERSENGGOLAN


Hidup berdampingan dengan segala perbedaan ras, suku, agama dan juga bahasa itu sangatlah tidak mudah, tapi bukan berarti itu tidak mungkin bukan?  Tergantung bagaimana kita memandang  “perbedaan” itu sendiri. 

Jika kami saja yang berasal dari agama, keyakinan, suku dan ras yang berbeda, bisa duduk bersama dengan penuh kehangatan dan keakraban, lalu kenapa diluar sana banyak yang meributkan hal yang terkait dengan perbedaan? 

Tak hanya itu, bahkan sesama agama ataupun kelompok tertentu saja saling membuat jurang pemisah dan berujung dengan tindakan anarkis, yang akhirnya justru merugikan banyak orang bahkan diri sendiri. Lalu, apa artinya "Bhinneka Tunggal Ika?"

Masih ingatkah dengan kasus-kasus beberapa tahun yang lalu atau pun beberapa bulan yang lalu di Indonesia terkait dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu kepada kelompok agama yang lainnya. Seperti pembakaran rumah warga eks Gafatar, pembongkaran paksa gereja di berbagai daerah, seperti yang terjadi di Aceh Singkil misalnya, yang menyebabkan mereka harus mengungsi dari rumah mereka sendiri karena terancam keamanannya. 

Bukan hanya itu saja, bahkan para wanita ikut berada di barisan paling depan untuk mempertahankan tempat ibadah mereka untuk melawan kelompok agama mayoritas di daerah tersebut yang hendak menyerang tempat peribadatan mereka.  Atau kasus lainnya dengan penolakan pemakaman untuk keluarga Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan alasan mereka adalah aliran sesat.

Masih banyak lagi kasus tentang ketidakadilan yang dialami oleh para korban pelanggaran kebebasan beragama danberkeyakinan di berbagaidaerah di Indonesia. Parahnya lagi, banyak dari mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan juga jaringan. Lalu, siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini? Apakah pemerintah sepenuhnya ataukah justru media yang harus bertanggungjawab untuk segala pemberitaannya? 

Ya, Media memang memiliki peranan yang sangat penting sebagai penyampai informasi ke masyarakat luas. Baik media cetak maupun media elektronik. Tapi apakah segala pemberitaan yang ada di media massa selama ini selalu benar? Tidaksemua ! Terlalu banyak kepentingan didalamnya yang menjadikan media itu sendiri terkadang cacat atau timpang dalam memberikan informasi. 

Dilatar belakangi hal tersebut diatas, team SEJUK (Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman) dan SOBAT KBB (Solidaritas korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan) mengadakan workshop tentang advokasi media untuk korban pelanggaran kebebasan dan berkeyakinan di hotel Amaris Bogor selama 2 hari, Jumat dan Sabtu (21-22/10). 

Workshop ini dihadiri 26 peserta dari berbagai kelompok agama dan keyakinan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti, FORCIDAS (Forum CintaDamai Aceh singkil), Komunitas Ahmadiyah, Komunitas HKBP Filadelfia, Komunitas Eks Gafatar, Pelita Perdamaian Cirebon (Syiah), Perguruan Trijaya dan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. 

Tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memberikan pelatihan kepada para korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang awalnya hanya menjadi objek, kini harus bisa menjadi subjek dalam menyampaikan berita dan informasi melalui media massa, Jelas Ahmad Junaedi, Direktur SEJUK, dalam sambutannya saat membuka workshop tersebut. 

Selain memberikan pemahaman dan pelatihan bagaimana cara mengadvokasi media, peserta juga dilatih untuk dapat membuat dokumentasi atas segala peristiwa atau kejadian yang dialami sehari-hari, sehingga kedepannya tidak ada lagi ketakutan akan penyampaian informasi yang tidak benar oleh beberapa media nasional di Indonesia atau juga ancaman yang dialami karena tidak memiliki perlindungan sebagai kelompok minoritas. Tekhnik-tekhnik penulisan dan pendokumentasian dalam bentuk video serta tekhnik wawancara juga diajarkan oleh Yerry Niko Borang dari team Engage Media dengan sangat jelas dan menarik. Terlihat dari keakraban yang terjalin dari setiap peserta saat terjun langsung untuk praktek membuat video documenter sebagai bentuk pelatihan. 

Walau waktu yang diberikan untuk workshop advokasi media tidaklah panjang, namun ikatan emosional antar peserta dan pengisi materi sangat jelas terasa. Selain mendapatkan ilmu dan pengalaman, yang terpenting adalah mendapatkan saudara baru dari berbagai daerah. Mulai dari Aceh, Makasar, Palembang, Surabaya, Sukabumi, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan Bogor tentunya sebagai tuan rumahnya. Jadi, dengan adanya keberagaman dan perbedaan seperti ini, apakah kalian yakin akan bisa membuat perpecahan diantara perbedaan??? Kalau Bhinneka Tunggal Ika saja begitu indah dan penuh makna, kenapa harus dirusak dengan penindasan dan ketidakadilan?

Editor : Dwi Kurnia Rahma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar