Jumat, 07 Oktober 2016

SELAMATKAN IBU BUMI, DENGAN JAMASAN KENDENG

Bulan Sura (Bahasa Jawa = Suro) merupakan bulan yang disakralkan oleh masyarakat Jawa. Beberapa ritual sebagai tata cara adat sudah menjadi tradisi di setiap daerah sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta. Mulai dari laku tirakat, wungon (melek/tidak tidur hingga pagi), semedi/meditasi/sujudan, kungkum (berendam), siraman, kirab/grebeg, wayangan, jamasan, dan lainnya.

Tak terkecuali dengan masyarakat di Pegunungan Kendeng. Deretan pegunungan yang membentang panjang meliputi wilayah Pati, Rembang, Blora dan Grobogan. Masyarakat pegunungan yang mayoritas menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam itu sangat tergantung pada kondisi alam, baik hutan, tanaman dan air berlimpah yang terkandung di pegunugan kendeng tersebut. Kali ini mereka menggelar sebuah upacara tradisi dengan nama Jamasan Kendeng. 

Acara yang digelar pada malam Jumat Kliwon (6/10) ini bertempat di Omah Sonokeling, Desa Gadudero, Sukolilo, Pati. Dihadiri ratusan warga yang berasal dari Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo, serta Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) yang berasal dari Pati, Rembang, Grobogan dan Blora. Acara ini juga dihadiri para aktivis dan pemerhati lingkungan hidup serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Tampak pula 9 Kartini Kendeng yang pada tanggal 12 April lalu melakukan aksi mengecor kaki mereka dengan semen di depan istana negara.

Istilah jamasan identik dengan keris, tombak dan lainnya, namun kali ini bukan itu maksudnya. Pegunungan Kendeng telah melahirkan peradaban sejarah tua, budaya Jawa, bahasa Jawa, dan aksara Jawa. Pegunungan purba ini telah mengalami banyak ancaman, baik oleh pabrik semen ataupun masyarakat yang tidak mengetahui dan tidak mengerti tentang fungsi, kegunaan dan cara pengelolaan Kendeng bagi masyarakat sekitar. Untuk itu perlu sekali Kendeng dijamasi, dimandikan, dibersihkan, baik Kendeng sendiri, isinya, maupun manusia-manusia sebagai penghuninya. Jamasan ini wajib dilaksanakan sebagai upaya untuk menyelamatkan ibu bumi, jelas Gunretno, pemrakarsa acara tersebut.

Dalam upacara jamasan tersebut, selain diisi dengan sarasehan juga diisi dengan gelar wayang yang dimiliki oleh Omah Kendeng, sebuah pendapa sederhana sebagai tempat rembugan warga dan komunitas Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. Pengrawit atau penabuh gamelan kebanyakan adalah anak-anak dari warga sedulur sikep yang terbentuk dengan nama grup bernama Wiji Kendeng. Dalangnya pun juga tidak jauh-jauh dan berasal dari Kayen yaitu Ki Wiwin Nusantara (Tri Luwih). Jamasan itu artinya membersihkan,  membersihkan hati, Setelah pegelaran wayang singkat, dilanjutkan dengan Lamporan.

Lamporan pada jaman dahulu sering ditemui di desa-desa, yaitu berkumpulnya seluruh warga dalam upaya mengusir, membersihkan, musibah/pagebluk/hama/penyakit/wabah dengan cara menggunakan obor atau blarak (daun kelapa kering) dan berkeliling kampung. Untuk saat sekarang ini, yang menjadi hama yang menjadi keresahan utama bukanlah tikus, babi, atau wereng, malainkan pabrik semen, tukas Gunretno.

Jamasan menjadi acara terakhir. Ubo rampe yang dikelilingi pada saat lamporan tadi terdiri atas tumpeng, dan air dalam gentong yang merupakan campuran air yang diambil dari berbagai sumber mata air di pegunungan Kendeng. Satu persatu para warga dijamasi/disiram dengan air tersebut oleh Gunretno. Dengan bercahayakan obor dan diiringi sebuah kekidungan menjadikan suasana semakin kental dengan kesakralan.

Selesai jamasan, tumpeng dan sayur mayur hasil bumi tadi segera dibagi kepada semua peserta. Brokohan istilahnya, dengan beralaskan daun jati sebagai piring, makan bersama ini menjadi penutup acara dimalam itu, dan dilanjutkan dengan wungon oleh beberapa peserta yang masih bertahan.

Saya mohon maaf akan keikutsertaan perusahaan di negara saya yang ikut andil dalam pembangunan pabrik semen disini dan dengan datang sendiri, saya tahu langsung kondisi yang ada disini, berikutnya akan saya bawa pulang pengalaman dari sini dengan segala keunikanya, untuk berbagi pada teman-teman kami di Jerman, tutur Ivone turis asing dari Jerman yang datang diacara ini bersama suami dan anaknya.

Ditambahkan Gunretno, bahwa pihaknya telah beraudiensi dengan kedutaan Jerman yang merupakan salah satu negara yang peduli terhadap lingkungan hidup. Melalui sebuah LSM yang ada di Jerman telah dibuat petisi penolakan pabrik semen di Pati dan sebanyak 82 ribu warga Jerman telah ikut menandatangani petisi tersebut. Nah bagaimana dengan masyarakat kita sendiri ? kami kembalikan kepada hati nurani masing-masing.


 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar