Minggu, 16 Oktober 2016

SEMAR GUGAH, RAMAIKAN TRADISI SURAN DI KEKADANGAN WRINGIN SETO

Tepat pada malam purnomo suro, Kekadangan Wringin Seto yang mempunyai padepokan di Bukit Sayuran Desa Soko Kecamatan Jepon pada hari Sabtu (15/10) kemarin melaksanakan tradisi tahunan Suran Pertapan Wringin Seto, yaitu memperingati tahun baru jawa 1950. Berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dilakukan sejak Sabtu sore hingga tengah malam.

Ribuan anggota Kekadangan Wringin Seto dari berbagai daerah di Pulau Jawa hadir secara langsung untuk mengikuti serangkaian kegiatan untuk menghormati para leluhur tanah jawa tersebut. Padepokan yang berada di atas Bukit Sayuran dengan puncak Suroyudannya ini pun dipenuhi pengunjung dari berbagai kota yang tidak ingin melewatkan event tahunan tersebut.

Suntoyo S.Kar Kepala Bidang Kebudayaan DPPKKI Blora menyatakan bahwa tradisi suran yang dilaksanakan di padepokan Kekadangan Wringin Seto merupakan agenda tahunan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus melestarikan budaya leluhur yang secara turun temurun diajarkan kepada anak cucu.

“Disini semua etnis dan agama boleh bergabung, tidak ada pembeda diantara kita. Semua bersatu melestarikan kebudayaan leluhur jawa tepat di bulan pertama tahun jawa yang disebut Suro,” jelasnya.

Acara dimulai tepat setelah matahari tenggelam yaitu pukul 18.00 beberapa saat setelah kehadiran Bupati Blora Djoko Nugroho dan Kasi Nilai Budaya Dinbudpar Jawa Tengah Eny Haryanti. Didampingi Penuntun Agus Tijana Budi dan para pengurus, doa dengan tata cara kekadangan Wringin Seto pun dimulai dengan duduk mengelilingi tumpeng, ambeng dan buah buahan.

Usai didoakan, anak-anak dipersilahkan mengambil buah-buahan secara berebut. Sedangkan tumpeng dan ambeng lainnya dikirab dari padepokan menuju sanggar agung, tempat meditasi yang berada di dalam goa. Ikut dikirab beberapa pusaka dengan diterangi cahaya obor. Kental dengan tradisi jawa, para punggawa kirab pun mengenakan pakaian adat jawa beskap lengkap dengan blangkonnya.

Sampai di Sanggar Agung, dilaksanakan doa lintas agama dan kepercayaan. Dimulai dengan doa yang dipimpin tokoh agama islam, dilanjut dengan agama kristen, hindu, budha, konghucu dan terakhir dengan cara kepercayaan dari kekadangan Wringin Seto. Setelah doa bersama acara dilanjutkan dengan rebut gunungan hasil bumi, tepat didepan pagelaran wayang kulit.

Pukul 9 malam acara dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Nuryanto dari sanggar seni Cahyo Sumirat Dukuh Pangkat Desa Purwosari Kecamatan Blora Kota. Dengan membawakan lakon Semar Gugah, dalang muda ini berhasil menghibur para pengunjung dan warga sekitar.

Bupati Blora Djoko Nugroho yang ikut menyaksikan pagelaran wayang kulit ini pun didaulat untuk naik panggung. Dengan kepiawaianya, beliau mengisi dagelan limbuk cangik saat pementasan wayang kulit berkolaborasi dengan 5 pesinden asli Blora.



























Tidak ada komentar:

Posting Komentar