Minggu, 27 November 2016

FESTIVAL BARONGAN NUSANTARA III, BUKTI BLORA LAYAK DISEBUT SEBAGAI KOTA BARONGAN

Sebanyak 26 kelompok barongan mengikuti pawai dalam rangka Festival Barongan Nusantara ketiga di Blora, Sabtu (26/11). Pawai yang diberangkatkan Bupati Djoko Nugroho dari Alun-alun itu menarik perhatian warga.

Tak hanya dari Blora, warga yang menyaksikan pawai di kawasan Alun-alun, jalan Pemuda dan jalan Ahmad Yani itu berasal pula dari sejumlah daerah di Jateng dan Jatim, termasuk turis mancanegara.

Mereka ingin tahu kreasi terbaru dari setiap grup peserta pawai.”Dari brosur festival ada penyebutan pawai barongan brai dan ampyak-ampyak barongan. Kami penasaran barongan yang ditampilkan itu seperti apa. Sebab kata brai dan ampyak belum begitu familiar di telinga kami warga Jawa Timur,” ujar Susilowati warga Bojonegoro yang menyaksikan pawai di Blora.

Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora Slamet Pamuji mengemukakan, ampyak-ampyak barongan merupakan barongan hura-hura. Sedangkan barongan brai kata lain dari barongan yang telah dimodifikasi. Tak mengherankan dalam pawai itu 13 grup yang masuk kategori brai menyuguhkan kreasinya masing-masing.

“Ornamen barongan, tari-tarian dan tetabuhan yang mengiringinya menunjukan bahwa Blora layak disebut Kota Barongan. Karena memang sangat menarik,” kata Reni warga Grobogan.

Pawai barongan dimeriahkan pula penampilan tiga tim dari tamu dari Jepara yang menampilkan barongan godong (Bardong), grup barongan Glagahwangi Demak, serta barongan Topeng Ireg dari Selo Boyolali.

Grup barongan Risang Guntur Seto (RGS) dari Blora membuka pawai.”Saya mengapresiasi, bagus sekali untuk membumikan barongan asli Blora menjadi ikon. Terimakasih atas peran serta dari Kabupaten Boyolali, Demak dan Jepara,” kata Bupati Blora Djoko Nugroho.


Rabu, 09 November 2016

AMANAT KONSTITUSI : MELINDUNGI SEGENAP BANGSA, DENGAN MEMBERIKAN LAYANAN PENDIDIKAN

"Meskipun sekarang telah muncul Peraturan Menteri, tetapi jauh dari itu kerangka berpikir kita bisa lebih mendasar yaitu mengacu pada amanat konsitutusi UUD 1945, yang menjelaskan bahwa negara mempunyai tugas dan kewajiban melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa" jelas Dirjen Kebudyaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid, P.hD pada acara Sosialisasi Permendikbud No. 27 Tahun 2016, tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Pada Satuan Pendidikan di Hotel Horison Semarang, Selasa (8/11).

Pelaksanaan pendidikan untuk warga negara, dia juga meminta untuk tidak membeda-bedakan bentuk layanan baik secara suku, ras bahkan agama yang dianut, termasuk juga kepercayaan dimana punya hak dan perlakuan yang sama dimata hukum dan pemerintahan sebagai warga negara Republik Indonesia.

Namun dengan terbitnya Permendikbud ini diharap bisa lebih menguatkan dalam hal pelayanan dan perlindungan sebagai payung hukum bagi para penganut kepercayaan yang notabene mereka adalah penganut agama lokal nusantara.

Sosialisasi ini diikuti seluruh Kepala Dinas Pendidikan se Jawa Tengah dan beberapa dari provinsi Jawa Barat, DIY dan Jawa Timur. Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari mulai Senin (7/11) sampai dengan Rabu (9/11) ini juga diikuti beberapa Kepala Sekolah yang mempunyai peserta didik penganut kepercayaan, dinas yang membidangi Kebudayaan, dan perwakilan organisasi Kepercayaan yang ada di Provinsi Jawa Tengah.

Acara ini dihadiri juga Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Dra. Sri Hartini, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Jateng Drs. Nurhadi Amiyanto, M.Ed, Kabid Nilai Budaya Seni dan Film Dinbudpar Jateng Drs. Mulyono, M.Pd, Kepala BKSP Jateng Ir. Hertoto Basuki, dan Presidium MLKI Suprih Suhartono.






 











Sabtu, 05 November 2016

DIALOG PEREMPUAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN


Bertempat di Harris Hotel & Convention, Jl. Bangka 8-18, Gubeng, Surabaya, digelar sebuah acara  "Dialog Perempuan Penghayat Kepercayaan terhadapTuhan Yang Maha Esa". Acara ini diadakan oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan  Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (2 s/d 4 November 2016) ini diikuti oleh sekitar 200 orang peserta yang berasal dari perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari 12 Provinsi di Indonesia, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Provinsi Jawa Timur, Balai Pelestarian Nilai Budaya, dan Akademisi. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh pameran karya budaya hasil dari kerajinan organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran perempuan penghayat dalam pembentukan karakter bangsa, meningkatkan peran perempuan dalam pengelolaan organisasi penghayat kepercayaan, dan meningkatkan partisipasi perempuan penghayat dalam menjalankan peran regenerasi roda organisasi penghayat kepercayaan.

Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Asisten Pemerintahan Sekretariat Kota Surabaya, Yayuk Eko Agustin Wahyuni menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Surabaya baru – baru ini juga melakukan kegiatan yang mengusung isu kesetaraan gender. Beliau menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Surabaya juga menggalakkan kegiatan yang dapat menumbuhkembangkan sikap dan sifat nasionalisme kepada anak – anak. Setelah pembukaan secara resmi dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Bedoyo Sukma Agung dari pelajar SMK 1 Surabaya.

Setelah Pemaparan materi, akan diadakan sidang komisi yang membahas 3 (tiga) hal, yaitu: 1. Komisi Perempuan dan Tata Kelola Organisasi; 2. Komisi Perempuan dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat; 3. Komisi Perempuan dan Pembangunan Karakter Bangsa. Hasil dari sidang komisi ini akan dijadikan rumusan sebagai pedoman dan perencanaan kegiatan pembinaan perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada waktu mendatang.

Kamis, 03 November 2016

4 WARISAN BUDAYA INDONESIA, SIAP TAMPIL DI UNNESCO

4 (empat) Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia siap diajukan kepada UNESCO untuk dicatatatkan sebagai warisan budaya dunia (World Intangible Herritage). Diantaranya adalah Pencak Silat, Pawukon, Pantun dan Lariangi.

Keempat WBTB tersebut telah memenuhi syarat dan lewat tahap seleksi oleh Kemendikbud melalui Direktorat Warisan Budaya dan Diplomasi, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Hal ini ditindaklanjuti dengan diadakannya rapat penyusunan dan pemaparan Kajian Akademis dari ke 4 WBTB tersebut yang diselenggarakan di Swiss-bell hotel Pondok Indah Hotel, 2 - 4 November 2016.