Selasa, 19 Desember 2017

TARI RAKYAT, JURUS JITU SATUKAN RAKYAT

Ribuan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan sampai dengan manula pun berkumpul jadi satu di halaman pendopo kraton kawitan Amarta Bumi, Sekatul, Kendal, Minggu (17/12). Mereka tengah asyik menikmati sajian tari jaran kepang (kuda lumping) yang merupakan satu dari berbagai jenis kesenian rakyat.

Tari jaran kepang ini merupakan jenis tari rakyat yang menjadi tema dalam Festival Tari Rakyat Segoro Gunung yang digelar oleh pihak Kraton Amarta Bumi. Festival ini diikuti sebanyak 25 sanggar kuda lumping dari Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung.

Jumat, 15 Desember 2017

BERBUSANA ADAT PUN SEKARANG BISA DIJUMPAI DI SEKOLAH

Dulunya berbusana adat atau tradisonal jawa hanya dijumpai pada peringatan hari Kartini, sekarang mulai banyak dijumpai di sekolah-sekolah di Jawa Tengah. Pasalnya sejak pelimpahan kewenangan SMA/SMK dari Kabupaten/Kota ke Propinsi, selain menginduknya beberapa aturan akademis juga aturan-aturan lainnya termasuk pemakaian busana adat/daerah untuk semua pegawai dilingkungan pemprov Jateng setiap tanggal 15.
 
Pemandangan ini terlihat di SMK N 1 Jambu, Kabupaten Semarang pada saat kunjungan kerja Komisi E DPRD Jawa Tengah, Jumat (15/12). Semua pegawai dan tenaga guru mengenakan busana adat jawa. Terlihat SMK N 1 Jambu pun mempunyai motif kain batik khusus yang dipakai untuk iket (ikat kepala) dan  jarit (bawahan).

Minggu, 10 Desember 2017

DKI JAKARTA RAIH JUARA UMUM "GITA PERMATA NUSANTARA"



DKI Jakarta tampil sebagai juara umum dalam ajang bergengsi Parade Lagu Daerah “Gita Permata Nusantara”di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (10/12/).

Kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun ini merupakan event tingkat nasional yang menjadi salah satu wadah kegiatan untuk penampilan bersama dari berbagai provinsi dalam hal olah karya cipta dan penyajian lagu daerah.

Gita Permata Nusantara yang kali ini mengambil tema “Cinta Damai/Kerukunan Beragama”, diikuti 18 provinsi yang menampilkan lagu daerah garapan baru dengan arangsemen musikal bebas, namun tetap bernuansa daerah serta menyajikan lagu ciptaan seniman daerah setempat yang diciptakan khusus dalam event ini.


“Visi dan misi TMII adalah memperkenalkan budaya nusantara hingga di mancanegara dan dengan salah satunya melalui kegiatan ini mampu mempromosikan dan memasyarakatkan khasanah budaya daerah, gambaran peri kehidupan masyarakat serta potensi alam yang ada melalui nuansa lagu dan musiknya”, jelas Direktur Budaya TMII,  Drs. Sulistyo Tirtokusumo, MM. saat acara membuka Parade Lagu Daerah di Gedung Sasono Langgeng Budoyo, TMII, Jakarta, Minggu (10/12/).

Sulistyo berharap  agar kegiatan ini lebih ditingkatkan lagi menjadi besar dan luas. Pasalnya dengan kegiatan semacam ini bangsa Indonesia menjadi dikenal seluruh dunia bahwa bangsa ini kaya seni dan budaya. “Kegiatan kali ini diikuti 18 Provinsi, saya berharap ditahun depan akan bertambah, bila perlu semua 34 provinsi mengirimkan duta terbaiknya,” katanya.

Dewan juri pada acara ini antara lain penyanyi senior Trie Utami, kemudian Bens Leo yang merupakan produser musik senior, Frans Sartono sebagai pengamat dan wartawan musik senior, kemudian I Gede Eka Putra yang merupakan pencipta lagu, arangger dan pelatih pesta, serta Ertis Yulia Manikam, instruktur tari dan vokal sekaligus Manajer Informasi Budaya dan wisata TMII.

Dari sidang dewan juri, ajang Parade Lagu Daerah ini menghasilkan 4 kategori juara. Untuk penyanyi terbaik diraih provinsi Papua, pencipta lagu terbaik diraih DKI Jakarta, penata musik terbaik diraih DKI Jakarta, dan penyaji terbaik juga diraih provinsi DKI Jakarta. Dari hasil tersebut maka DKI Jakarta dinobatkan menjadi juara umum dalam Parade Lagu Daerah Tahun 2017.

Sabtu, 02 Desember 2017

"RATU KALINYAMAT" BUKA LOMBA BACA KITAB KUNING

Ratu Kalinyamat, Jumat sore (1/12) membuka lomba baca kitab kuning di Balekambang, Jepara. Tari kolosal yang diikuti 78 penari ini mengangkat cerita tokoh legenda Jepara yaitu Ratu Kalinyamat dalam upaya mengusir penjajah Portugis. 

Tari tersebut merupakan rangkaian acara pembukaan Lomba Baca Kitab Kuning atau yang dikenal dengan istilah MQK (Musabaqoh Qira'atil Kutub) Nasional ke VI yang untuk tahun ini Jawa Tengah menjadi tuan rumah. Tepatnya di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara.

Dwi Laila Sari (22), mengaku sangat senang diberi kesempatan untuk memerankan Ratu Kalinyamat pada acara pembukaan MQK ini. Gadis cantik asal Blitar yang masih kuliah di ISI Solo ini mengaku hanya berlatih 3 kali untuk bergabung dan berkolaborasi dengan para penari dari Jepara.

Kontingen kesenian pimpinan Tony Haryo ini diberi mandat oleh Biro Kesra Setda Provinsi Jateng dan Dinbudpar Jepara untuk mengisi acara pembukaan MQK. Sedikitnya 120 seniman dan pendukung terlibat dalam tampilan sendratari Laskar Kalinyamat ini. Diantaranya terdiri dari penari, penabuh gamelan (pengrawit), pemusik, pesilat, dalang, sinden, penata musik, penata tari, penata rias dan busana.

Secara resmi MQK ke VI ini dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim. Seremonial pembukaan dipusatkan di lapangan utama Pondok Pesantren Balekambang. Tampak hadir, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Noor Achmad, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta jajarannya, Pengasuh Pesantren Balekambang KH Muhammad Makmun Abdullah, para Bupati dan Walikota di Jawa Tengah, para Kakanwil Kemenag Provinsi, Dewan Hakim, dan 1.456 santri dari 34 provinsi. Selain itu, ada ratusan official dan ribuan santri dan masyarakat sekitar Balekambang.

Mengawali sambutannya, Menag Lukman menyampaikan salam dari Presiden Joko Widodo. Menag juga menyampaikan permohonan maaf Presiden karena tidak bisa hadir menyapa para santri. Menag menegaskan bahwa pesantren merupakan miniatur Indonesia. Pesantren jadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa.

“Kami akan terus meningkatkan alokasi APBN untuk pesantren. APBD juga sudah sepatutnya menyediakan alokasi yang cukup untuk pesantren yang ada di daerahnya masing-masing,” kata Menag.

“Pemerintah Daerah sudah seharusnya peduli dengan layanan pendidikan di daerahnya, termasuk pesantren dan madrasah diniyah,” sambungnya.

Menag minta agar aturan yang membatasi keberpihakan Pemda terhadap pesantren dan madrasah diniyah bisa segera dibenahi. Demikian juga pemerintah pusat akan melakukan harmonisasi lintas kementerian dan lembaga guna membangun sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Menag menyampaikan selamat kepada para santri yang akan mengikuti musabaqah. Menurutnya, MQK adalah ajang olimpiade-nya pondok pesantren.

Menag juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah dan Bupati Jepara yang telah memberikan dukungan bagi kelancaran MQK ini. Apresiasi juga disampaikan kepada pengasuh pesantren KH Muhammad Makmun Abdullah.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta. Ganjar mengapresiasi rangkaian acara MQK tahun ini yang tidak hanya menjadi ajang lomba baca kitab kuning, tapi juga lomba pidato bahasa Inggris dan Arab.

“Saya lebih tertarik lagi, ada debat konstitusi berbasis kitab kuning. Ini lah kalau Menag nya itu orang yang tekun mensosialisasikan konstitusi kita waktu masih di MPR,” tuturnya. “Debat konstitusi ini akan lebih memantapkan kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara,” harapnya.

Dirjen Pendidikan Islam dalam laporannya mengatakan, MQK menjadi ajang silaturahim. Kehadiran ribuan santri pada acara ini dalam rangka merevitalisasi kajian kitab kuning dan pesantren. Melalui kajian kitab kuning, pesantren mendapat pemahaman yang moderat. Kyai dan ustadz sering merujuk kitab kuning. Tradisi kajian kitab kuning jadi roh keagamaan.

MQK diinisiasi oleh sejumlah kyai pesantren dan dimotori KH Said Aqil Munawar yang saat itu menjabat sebagai Menteri Agama. Tradisi itu terus dipelihara dengan beberapa peningkatan. MQK mulai tahun depan diselenggarakan dua tahun sekali.

Kategori Lomba
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementrian Agama Ahmad Zayadi mengatakan, ada tiga kategori perlombaan pokok dalam MQK, yaitu : Pertama, lomba membaca, menerjemahkan, dan memahami kitab kuning. Total ada 25 bidang yang akan dikompetisikan dan terbagi dalam tingkatan, yaitu: dasar, menengah, dan tinggi.

Untuk marhalah ula (tingkat dasar),ada lima bidang lomba, yakni: Fiqh, Nahwu (gramatika Bahasa Arab), Akhlak, Tarikh (sejarah), dan Tauhid. “Marhalah ula diikuti santri yang sudah berada di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal lima belas tahun kurang sehari,” ujarnya

Untuk marhalah wustha (tingkat menengah), ada sembilan bidang lomba, yakni: Fiqh, Nahwu (gramatika Bahasa Arab), Akhlak, Tarikh (sejarah), Tafsir, Hadis, Ushul Fiqh, Balaghah, dan Tauhid. “Bidang ini diikuti para santri yang sudah menetap minimal 1 (satu) tahun di pondok pesantren dengan usia maksimal 18 tahun kurang sehari,” imbuhnya.

Sedang untuk marhalah ulya (tingkat tinggi), ada 11 bidang lomba. Selain sembilan bidang lomba seperti yang dilombakan pada tingkat menengah, dua lainnya adalah bidang Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadis. “Marhalah ulya ini akan diikuti santri yang sudah mukim di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal 21 tahun kurang sehari,” tandasnya.

Kedua, lomba debat konstitusi berbasis kitab kuning. Lomba ini akan menggunakan Bahasa Arab dan Inggris. Diikuti oleh mahasiswa Ma’had Aly.

Lomba ini merupakan ikhtiar Kemenag untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tentang nasionalisme dalam Islam. Kalau merujuk pada sumber literatur yg otoritatif, dijumpai bahwa nasionalisme bagian dari Islam.

Ketiga, Eksibisi, yaitu pertunjukkan atraktif tentang nazham kitab populer di pondok pesantren yang diisi oleh Tim (maksimal 5 orang) dari setiap kafilah. Nazham yang akan ditampilkan antara lain dari kitab  Alfiyah Ibn Malik (kitab berisi 1000 bait syair tentang ilmu gramatika Bahasa Arab).

Selain kegiatan pokok tersebut, ada sejumlah kegiatan penunjang yang dihelat di lokasi MQK. Kegiatan penunjang sifatnya tidak dilombakan. Kegiatan sersebut adalah Halaqah Pimpinan Pondok Pesantren, Sarasehan dan Musyawarah MQK, Bazar dan Pameran Produk Pondok Pesantren, Diskusi Kepesantrenan dan Kitab Kuning, Pentas Seni kaum santri.


Sabtu, 25 November 2017

BAHASA DAERAH PERKUAT IDENTITAS SUATU BANGSA

Bahasa Indonesia disamping sebagai bahasa negara dan bahasa resmi juga sebagai alat pemersatu bangsa, disamping itu bahasa juga sebagai identitas dari suatu bangsa tersebut dan setiap tempat di wilayah negara Indonesia memiliki keanekaragaman bahasa yang berbeda disetiap suku bangsa.

Para pemuda nusantara yang waktu itu masih berusia 20 an, memiliki pemikiran yang sangat hebat dan bijaksana dalam meneguhkan sumpah pemuda yang berisi 3 butir. Butir yang terakhir berbunyi "Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa indonesia". Mengapa kok tidak sama dengan 2 butir sebelumnya yang menggunakan kata "mengaku....." yang mana kalau dipanjangkan menjadi "mengaku bahasa satu bahasa indonesia". 

Hal ini menunjukkan bahwa para beliau pendiri bangsa ini mempunyai apresiasi dan penghormatan yang tinggi bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dengan masing-masing bahasanya, dan bahasa daerah itu yang menjadi identitas dari masing-masing suku bangsa, jelas Prof. Dr. Teguh Supriyanto, M.Hum, guru besar FBS UNNES saat menjadi narasumber di acara Sinkronisasi Bidang Kebudayaan, di Megaland Hotel Solo, Kamis (23/11).

Dalam sesi yang sama, Kasubbag Pendidikan, Kebudayaan dan Perpustakaan Biro Kesejahteraan Rakyat, Setda Provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, menyampaikan tentang tupoksi Biro Kesra khususnya dalam bidang Kebudayaan. Beberapa diantaranya menyiapkan bahan pengoordinasian penyusunan kebijakan daerah,  menyiapkan bahan penyusunan data, menyiapkan bahan pengoordinasian pelaksanaan tugas Perangkat Daerah, menyiapkan bahan pertimbangan pemberian bantuan,  menyiapkan bahan monitoring, evaluasi dan pelaporan kebijakan daerah.

Selain itu Biro Kesra juga bisa melaksanakan kegiatan yang secara teknis tidak bisa dilaksanakan oleh OPD dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi kegiatan tersebut harus dilaksanakan. Beberapa kegiatan bidang kebudayaan yang telah dilaksanakan meliputi Rakor Pentas Duta Seni, Rakor Mudik Gratis Warga Jateng, Audisi Paduan Suara Gita Bahana Nusantara, Pawai Budaya dalam rangka HUT TMII di Jakarta, Festival-festival Kebudayaan tingkat Nasional, Tradisi Dugderan, Workshop Festival Seni dan Budaya.

Acara yang diselenggarakan Seksi Cagar Budaya dan Permeseuman, Dindikbud Jawa Tengah ini diikuti 100 peserta yang terdiri dari 35 Dinas se Jawa Tengah yang membidangi kebudayaan, kantor/instansi yang terkait dengan kebudayaan dan beberapa stakeholder bidang kebudayaan. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari sejak hari Selasa (21/11) sampai dengan Kamis (23/11).

Biasanya kegiatan semacam ini dari awal hingga akhir dilaksanakan dalam bentuk klasikal atau seminar, namun kali ini para peserta juga diajak untuk mengunjugi Museum Manusia Purba Sangiran dan nonton bareng Wayang Orang Sriwedari Solo.


Sabtu, 18 November 2017

6 PEMUDA MADIUN INI RESMI MENJADI ANGGOTA NGUDI UTOMO

Sebanyak 6 pemuda yang terdiri atas 4 laki-laki dan 2 perempuan ini, resmi menjadi anggota Paguyuban Ngudi Utomo, salah satu organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kota Madiun. Untuk menjadi anggota baru, mereka harus melewati beberapa tahapan hingga pada waktu yang tepat diadakan sebuah ritual penetapan.

Proses ritual penetapan anggota baru ini dinamakan dengan Panetesan Putra Murid Ngudi Utomo - Martowiyono. Ritual ini digelar di sekretariat Ngudi Utomo, Jl. Nogososro No.30 Josenan, Madiun, Jumat malam 17 November 2019.

Selain dihadiri Pengurus Pusat dan keluarga besar Ngudi Utomo, acara ini juga dihadiri rombongan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang terdiri atas Kepala Seksi Nilai Tradisi, Bidang Pembinaan Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Dra. Hermawati, M.T, serta Kasubbag Pendidikan, Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd.

Hadir pula Presidium MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia) wilayah Jawa Timur, Anang Yulianto, SH.

Ngudi Utomo merupakan satu dari 6 organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang terdaftar di Pemerintah Kota Madiun. Kelima organisasi lainnya antara lain Paguyuban Mandara Giri Mataram, Paguyuban Sumarah, Paguyuban Sapta Sila, Persatuan Warga Sapta Darma (Persada) dan Aliran Kebhatinan Perjalanan.

Selasa, 07 November 2017

MK PUTUSKAN PENGANUT KEPERCAYAAN BISA MASUK DI KOLOM AGAMA KTP

Hari ini, Selasa Legi 7 November 2017 menjadi hari yang bersejerah dimana negara, melalui Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa para penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa diakui dan bisa ditulis di kolom agama yang terdapat di KTP.

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa status penghayat kepercayaan dapat dicantumkam dalam kolom agama di kartu keluarga dan kartu tanda penduduk elektronik tanpa perlu merinci aliran kepercayaan yang dianut.

Menurut majelis hakim, hal tersebut diperlukan untuk mewujukan tertib administrasi kependudukan mengingat jumlah penghayat kepercayaan dalam masyarakat Indonesia sangat banyak dan beragam.
Hal itu disampaikan MK dalam putusan uji materi terkait aturan pengosongan kolom agama pada KK dan KTP.

Hal itu diatur dalam Pasal 61 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 64 Ayat (1) dan (5) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk) juncto Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan.

"Bahwa agar tujuan mewujudkan tertib administrasi kependudukan dapat terwujud serta mengingat jumlah penghayat kepercayaan dalam masyarakat Indonesia sangat banyak dan beragam, pencantuman elemen data kependudukan tentang agama bagi penghayat kepercayaan hanya dengan mencatatkan yang bersangkutan sebagai 'penghayat kepercayaan' tanpa merinci kepercayaan yang dianut di dalam KK ataupun KTP-el, begitu juga dengan penganut agama lain," ujar Hakim MK Saldi Isra saat membacakan putusan di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, Selasa (7/11/2017).
Saldi menuturkan, untuk menjamin hak konstitusional para pemohon, kata "agama" dalam Pasal 61 Ayat (1) dan Pasal 64 Ayat (1) UU Adminduk harus mencakup penganut penghayat kepercayaan.
Menurut MK, perbedaan pengaturan antarwarga negara dalam hal pencantuman elemen data penduduk tidak didasarkan pada alasan yang konstitusional.

Pengaturan tersebut telah memperlakukan secara berbeda terhadap warga negara penghayat kepercayaan dan warga negara penganut agama yang diakui menurut peraturan perundang-undangan dalam mengakses pelayanan publik.

Penganut Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, merupakan pemeluk keyakinan asli nusantara yang keberadaannya jauh sebelum agama-agama modern datang dari luar negeri. Kepercayaan ini tersebar luas diseluruh penjuru tanah air dengan beragam nama dan aliran, bahkan ada yang terbentuk dalam sebuah organisasi.

Oleh karena itu, MK memutuskan kata "agama" dalam Pasal 61 Ayat (1) dan Pasal 64 Ayat (1) UU Adminduk bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk penganut aliran kepercayaan.

"Majelis Hakim mengabulkan permohonan para pemohon untuk seluruhnya. Kedua, menyatakan kata 'agama' dalam Pasal 61 Ayat (1) dan Pasal 64 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk aliran kepercayaan," ujar Ketua MK Arief Hidayat saat membacakan putusan.

Permohonan uji materi diajukan Nggay Mehang Tana, Pagar Demanra Sirait, Arnol Purba, dan Carlim dengan nomor perkara 97/PUU-XIV/2016.

Para pemohon sebelumnya menilai, ketentuan di dalam UU Adminduk itu dinilai tidak mampu memberikan jaminan perlindungan dan pemenuhan hak yang sama kepada penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau penghayat selaku warga negara.

Selama ini, para penghayat kepercayaan, seperti Sunda Wiwitan, Batak Parmalim, dan Sapto Darmo, mengalami diskriminasi dalam mengakses layanan publik karena kolom agama dalam KK dan KTP mereka dikosongkan.

Dalam permohonannya, Nggay dan kawan-kawan meminta Majelis Hakim MK menyatakan Pasal 61 Ayat 1 dan Pasal 64 Ayat 1 UU Adminduk bertentangan dengan UUD 1945. Alasan pemohon, pasal-pasal yang diuji itu tidak mengatur secara jelas dan logis sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda dan melanggar hak-hak dasar yang dimiliki warga negara.


Minggu, 05 November 2017

ADAKAH MASA DEPAN PERDAMAIAN LINTAS IMAN DI INDONESIA?


Peserta "Peace Train 2: Jakarta-Surabaya" mengunjungi delapan rumah ibadah agama dan kepercayaan yang berbeda. Selama dua hari berproses bersama, mereka mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan keagamaan dalam atmosfir kebinekaan. Tak jarang berbagai kejutan diperoleh peserta, yang rata-rata masih muda, karena baru mendapat informasi langsung dari sumbernya, yang tidak diketahui sebelumnya.

Peserta dari Jakarta Christian Sugiarto (15) menyampaikan pengakuan bahwa selama ini dirinya abai terhadap eksistensi penganut aliran kepercayaan di Indonesia. Sebab informasi yang ia dapatkan selama ini hanya 6 agama. Sehingga kehadirannya ke Sanggar Candi Busana tempat para penghayat Sapta Darma di Surabaya beribadah dan beraktivitas mempunyai arti tersendiri baginya.

"Jujur saya baru belajar, ternyata keberagaman agama dan kepercayaan itu tidak hanya 6 agama yang diakui (negara), tetapi banyak sekali kepercayaan di Indonesia," ujar pelajar SMA Fons Vitae 1 Matraman Jakarta Timur.

Para peserta Peace Train 2, termasuk Christian, mendapat pengalaman menjumpai langsung komunitas penghayat Sapta Darma sekaligus informasi tentang keberagaman aliran kepercayaan yang ada di Indonesia. Mereka dibawa masuk dalam sejarah dan filosofi agama lokal Sapta Darma sekaligus juga diskriminasi yang dialaminya.

Peserta Peace Train 2 yang berasal dari berbagai daerah, di antaranya Medan, Riau, Makassar, Sorong, Banjarmasin, Jabodetabek, Cirebon, Salatiga, Rembang, Malang, Lamongan, Sidoarjo dan Surabaya, menempuh bersama-sama perjalanan keberagaman dan pergumulan iman, baik lahir maupun batin, dengan menggunakan kereta api.

Mereka dilepas secara simbolis menuju Surabaya Jumat malam (3/11) di Stasiun Gambir oleh beberapa tokoh agama. Sementara di ujung perjalanan religius ini ditutup dengan diskusi membahas tantangan perdamaian lintas-iman Indonesia di kalangan gerakan mahasiswa dan pemuda keagamaan di kantor GP Ansor Minggu petang (5/11) yang dihadiri juga GMKI, GMNI, PMKRI, KMHDI, PMII dan HMI.

Perjalanan religius mereka dimulai hari Sabtu (4/11) dengan mengunjungi sanggar Sapta Darma, kemudian bergeser ke Pura Segara Kenjeran (Hindu), masjid Ahmadiyah dan malam Minggu berkumpul di Masjid Cheng Ho untuk masuk dan melihat secara dekat bangunan rumah ibadah Islam dengan arsitektur Tionghoa. Di halaman masjid ini juga bersama-sama menggelar Pentas Budaya Bhinneka dan Narasi Lintas-iman yang melibatkan banyak pihak dan jaringan.

Minggu pagi (5/11) mereka yang terdiri dari berbagai latar agama mengikuti ibadah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gresik. Beberapa peserta yang menggunakan jilbab maupun santri-santri yang memakai kain sarung, peci atau kopiah dengan khidmat dan tidak canggung bersama-sama menjalani prosesi ibadah. Selama di Gresik mereka mengunjungi juga Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dan klenteng Tempat Ibadat Tri Dharma Kim Hin Kiong Gresik. Setelah itu mereka kembali menuju Surabaya mengunjungi Vihara Buddhayana Dharmawira Centre.

Dari kunjungan-kunjungan itulah selain untuk menimba informasi keagamaan juga menjadi ruang penggalian dan pengembangan nilai-nilai toleransi dan solidaritas lintas-iman.

Perempuan berjilbab dari Pekanbaru Laras Olivia (21) sengaja ikut beribadah di GKI karena didorong rasa ingin tahu bagaimana prosesi ibadah dalam agama Kristen berlangsung.

"Sama sih seperti pengalaman saya ketika beribadah sesuai dengan syariat dalam agama saya. (Ada rasa) kedamaian," ungkap Laras saat menyampaikan kesannya pertama kali memasuki gereja dan mengikuti ibadah agama Kristen.

Mahasiswi Universitas Islam Riau ini menaruh harapan sangat besar terhadap program Peace Train agar menjadi jembatan bagi isu-isu keberagaman. Motivasinya bergabung dalam kegiatan ini karena ingin bersama-sama anak muda lainnya bertekad menjalin kerjasama antar-iman.
"Jangan takut duluan dengan perbedaan iman. Selagi muda jangan tertutup, tapi terbuka, agar tidak termakan hoax (SARA)," demikian pesan yang ia tekankan kepada kalangan milenial.

Sementara santri dari Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Muhammad Abdul Mujib (23) menyampaikan motivasinya mengikuti Peace Train lantaran ingin memahami betul perbedaan agama dengan belajar langsung dari sumbernya. Ia sama sekali tidak khawatir mengikuti program lintas-iman akan memengaruhi dan mengguyahkan keimanannya.

"Selama beragama sebaik-baiknya, tidak usah khawatir dan cemas dengan agama lain. Toh semua agama mengajarkan kasih dan cinta," kata Mujib yang selama mengikuti Peace Train 2 ini selalu memakai kain sarung dan peci putih.

Di hadapan jemaat GKI Gresik dan peserta Peace Train 2 Anick Ht mewakili inisiator program menyampaikan bahwa selama dua kali berjalan (Peace Train sebelumnya digelar di Semarang, Jawa Tengah) ia menyaksikan anak-anak muda demikian senang belajar dan berkarya bersama untuk berproses menjadi duta perdamaian.

Untuk itulah, dengan mengacu pada besarnya sambutan para peserta maupun komunitas agama atau kepercayaan yang dikunjungi serta jaringan kerja lintas-iman yang mendukungnya, Peace Train ke depannya akan dilakukan secara luas ke daerah-daerah di Indonesia. "Sambutan luar biasa ini sangat membanggakan. Melaui Peace Train, Indonesia masih bisa diharapkan dari generasi milenial," tegas Anick.

Meski demikian, Pemimpin Redaksi Inspirasi.co ini tidak menafikan betapa anak muda sekarang rentan sekali ketularan ujaran-ujaran kebencian di media sosial. Hal tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan, sehingga sesuatu yang kecil pun bisa memicu konflik yang demikian besar.

"Peace Train sangat relevan bagi generasi milenial sebagai ruang untuk mengenalkan rumah ibadah dan nilai-nilai keagamaanya kepada mereka dengan cara menularkan energi-energi yang baik," pungkas Anick.



sumber : kabar sejuk

Selasa, 31 Oktober 2017

HARI PEMUDA 2017 : BANGUNLAH JIWANYA, BANGUNLAH RAGANYA UNTUK INDONESIA RAYA

Padepokan Wulan Tumanggal yang terletak di kaki gunung Slamet, Sabtu kemarin (28/10) sontak ramai oleh sorak sorai penonton pada pertandingan beberapa cabang olah raga. 

Di dalam gedung serba guna bernama Samora (Sasana Among Raga) diramaikan oleh lomba bulutangkis, sedangkan di Sinangling (nama kolam renang di Padepokan Wulan Tumanggal) tak kalah serunya karena ada lomba renang yang diikuti oleh peserta dengan segala usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Sedangkan di pondok kopi Sasaling (kantin) diramaikan babak penyisihan lomba catur.

"Tujuan kami mengadakan Lomba olah raga yang tepat di hari Pemuda ini adalah untuk membangkitkan kembali semangat berolah raga. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, Pemuda masa kini banyak menghabiskan waktu dengan smartphone-nya, sehingga kurang akan aktivitas fisik dalam bentuk olah raga. Waktu istirahat di sekolah tak lagi digunakan untuk bermain di lapangan dan lebih banyak didepan gadget", jelas ketua panitia, Wisnu Widya Permana.

Dia juga menjelaskan bahwa pemuda dan olah raga adalah satu paket. Sebagai pelaku budaya spiritual, selain berupaya membangun generasi muda yang ber- jiwa nusantara, kita juga jangan sampai lupa menjaga raga untuk selalu sehat dan prima.

Mengutip lirik Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang berbunyi .....Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya, Untuk Indonesia Raya.... , maka dengan lomba ini kami mengajak seluruh Pemuda Indonesia khususnya Generasi Muda Perguruan Trijaya, Anak Alam Nusantara, untuk menjaga stamina dan kekuatan raga kita melalui olah raga, sebagai bekal membangun bangsa dan upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Perlombaan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Pemuda 2017 yang telah dilaksanakan oleh Perguruan Trijaya secara rutin setiap tahunnya. Kali ini kegiatan dilaksanakan selama 3(tiga) hari, mulai Jumat Kliwon sampai (27/10) sampai dengan Minggu Pahing, (29/10).

Bentuk kegiatan ini meliputi Sukuran dilaksanakan pada Jumat Kliwon malam Sabtu Legi, (27/10). Dilanjutkan dengan Upacara Bendera yang dilaksanakan Sabtu Legi (28/10), dan lomba 3 cabang olah raga yang dilaksanakan setelah Upacara Bendera. Malam Minggu Pahing akan dilaksanakan penyerahan Thropy/piala kepada masing-masing Juara Lomba.

"Kami memilih Bulutangkis, Renang dan Catur karena ketiga cabang olah raga tersebut merupakan jenis cabang olah raga yang mempunyai filosofi tinggi yang sangat  bermanfaat untuk kehidupan kita sehari-hari", lanjut Wisnu

Juara 1 dalam lomba bulutangkis perseorangan diraih Wisnu dari Purwodadi, disusul Purwanto dari Pemalang dan Taufik dari Yogyakarta. Untuk Ganda, juara 1 diraih pasangan dari Daerah Purwodadi, disusul dari Daerah Pemalang dan Daerah Padepokan.

Di lomba renang muncul sebagai juara 1 anak-anak putra diraih Tandan dari Tegal, disusul Yoga dari Tegal dan P.Saifullah dari Yogyakarta. Untuk dewasa putra juara 1 diraih Dedy dari Tegal, disusul Tatan dari Jakarta dan Leo dari Tegal. 

Untuk lomba renang anak-anak putri, juara 1 diraih Imelda dari Brebes, disusul Anita dari Yogyakarta dan Nurul dari Jakarta. Sedangkan kelas dewasa putri juara 1 diraih Anin dari Tegal, disusul Nalurita dan Ajeng yang keduanya adalah anggota paskib yang ikut meramaikan perlombaan ini.

Sedangkan pada lomba catur, juara 1 diraih Wisnu dari Purwodadi, disusul M. Taufik dari Yogyakarta dan Siswondo dari Pemalang. 

Trophy kejuaraan ini diserahkan langsung oleh pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryaningrat II pada malam minggu harinya, saat melaksanakan tradisi makan malam bersama dengan menu ayam bakar tanpa bumbu yang secara rutin dilaksanakan di Perguruan Trijaya setiap malam minggu pahing.

Minggu, 29 Oktober 2017

60 GENERASI MUDA IKUTI PEMBINAAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

Sebanyak 60 generasi muda dari 5 kabupaten di Jawa Tengah, menjadi peserta Pembinaan Generasi Muda Penghayat di Hotel @Hom Cilacap. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari sejak Selasa sampai dengan Kamis, 24 - 26 Oktober 2017 

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah bekerja dengan Disdikbud Kabupaten Cilacap.

Kasie Kebudayaan dan Purbakala pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Hermawati menjelaskan kegiatan ini penting agar para generasi muda memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai dalam ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tetap lestari.
Hal ini juga menjadi sarana bagi para sesepuh untuk memersiapkan generasi muda sebagai sebagai penerus ajaran kepercayaan.

“Sebab generasi muda memiliki peran penting dalam pelestarian nilai-nilai kebudayaan termasuk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa” ujarnya. Dijelaskan kegiatan bertema ‘Jadilah Generasi Muda yang Sehat dan Bertanggung Jawab untuk Kemandirian Organisasi Penghayat” ini dibagi dalam beberapa topik materi. Antara lain Perilaku Hidup Sehat bagi Generasi Muda,  Kedisiplinan, Kerja keras dan Bertanggung jawab dalam Olahraga, Sejarah Kepercayaan Terhadap  Tuhan Yang Maha Esa, serta Pengelolaan Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ditambahkan Hermawati, kegiatan juga dilengkapi dengan kunjungan ke beberapa lokasi sesuai tema diantaranya Batik Rajasamas Maos, Sanggar Seni Lengger Nusawungu, dan Perajin Sukun di Jalan Kendeng, Cilacap.

Para peserta merupakan penghayat kepercayaan dari Kabupaten Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, dan Kabupaten Tegal serta perwakilan dari Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Jawa Tengah.

Minggu, 22 Oktober 2017

KIRAB 20 GUNUNGAN DI KETEP PASS

Sabtu Wage (21/10), sebanyak 20 Gunungan berhasil di Kirab di lokasi wisata Ketep Pass, Sawangan, Kabupaten Magelang. Ke 20 Gunungan tersebut mewakili 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang untuk mengikuti Festival Gunungan dalam rangka memeriahkan Ketep Pass Summit Festival.

Event yang ini baru pertama kali dilaksanakan oleh Disdikbud ini merupakan hasil dari kerja sama dengan Disparpora Kabupaten Magelang.

Festival Gunungan ini secara simbolis dibuka oleh Bupati Magelang dengan pemukulan gong dan dilanjutkan dengan penyerahan gunungan stroberry dari Plt. Kepala Disdikbud Drs. Haryono, M.Pd kepada Bupati Magelang. Kemudian dilanjutkan penyerahan bambu oleh Kepala Disparpora Iwan Setiyarso, S.Sos. M.Si. kepada Bupati Magelang, sebagai dibukanya Festival Bambu Lighting yang juga meramaikan event Ketep Pass Summit Festival.

"Acara ini sungguh luar biasa, selain sebagai upaya melestarikan budaya peninggalan leluhur kita, Festival Gunungan ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kunjungan wisata di Kabupaten Magelang", ungkap Bupati Magelang Zainal Arifin sebelum membuka acara ini.

Gunungan yang ditampilkan kali ini diwajibkan memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh panitian diantaranya merupakan hasil bumi yang menjadi ciri khas dari masing-masing kecamatan. Selain itu, gunungan juga harus dikawal oleh bregoda (pasukan) atau kesenian rakyat dengan memakai busana adat jawa atau kostum kesenian dari masing-masing kecamatan.
 
Dari 20 gunungan yang dilombakan, gunungan dari kecamatan Pakis menjadi penampil terbaik dalam festival kali ini. Disusul dari kecamatan Sawangan, dan penampil terbaik ke tiga dari kecamatan Windusari.

Minggu, 15 Oktober 2017

SAAT PARA DUBES MENARIKAN TAYUB BLORA



Meskipun dengan gaya yang terbatas dan sesuai kemampuan dan kemahirannya masing-masing, terlihat para Dubes dan Diplomat negara-negara sahabat begitu senang dan menikmati Tayub. 

Tayub adalah tari pergaulan khas kabupaten Blora, sebuah warisan seni budaya yang bersifat turun temurun.

Tidak main-main, dalam memperagakan Tayub, para Dubes ini dipandu langsung oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho.

Pemandangan ini terlihat pada sebuah Paket Acara Khusus Kabupaten Blora di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam (14/10). Selain Tayub, juga disajikan pula tari Gones Kenes yang ditampilkan 8 gadis cantik sebagai “Welcome Dance”, dan Seni Barongan dengan lakon Gembong Amijoyo Ndungkap.

Barongan Blora merupakan 1 dari 3 karya budaya dari Provinsi Jawa Tengah yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya TakBenda Indonesia Tahun 2017 oleh Kemendikbud Republik Indonesia. 

Jumat, 06 Oktober 2017

OGOH-OGOH DI ALUN-ALUN PURWOREJO

Tari Dolalak, tarian khas Kabupaten Purworejo
Memperingati Hari Jadi Kabupaten Purworejo ke 1116, Pemerintah Kabupaten Purworejo menggelar parade seni yang dipusatkan di Alun-alun sebelah selatan atau depan Kantor Bupati jalan Proklamasi Purworejo, Kamis Pon (5/10).

Parade seni ini diikuti oleh perwakilan 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Purworejo serta 7 kontingen partisipasi dari kabupaten tetangga seperti Kabupaten Magelang, Temanggung, Kebumen, Kulonprogo (DIY), Wonogiri, Kendal, dan Purbalingga. Sebenarnya Kabupaten Pemalang juga hendak mengirim kontingen, namun karena sesuatu hal maka urung berpartisipasi.

Dalam parade seni tersebut banyak yang menampilkan berbagai atraksi kesenian unggulan masing-masing kecamatan, hingga penampilan petikan drama atau cerita babad.

Rute parade seni dimulai dari kawasan SMA Negeri 7 Purworejo menuju jalan Jendral Urip Sumoharjo keutara kemudian belok kiri lewat Jalan Proklamasi depan Kantor Bupati atau panggung kehormatan yang ditempati sejumlah pejabat Purworejo. Setelah menampilkan atraksi seni, peserta kemudian belok kanan melewati depan masjid Agung lurus ke utara kemudian belok kanan lewat perempatan Hotel Inntan. Selanjutnya belok kanan dan finis di Gedung Kesenian Sarwo Edi.

Ogoh - ogoh dari kecamatan Purworejo
Pangamatan di lapangan, dari sekian peserta hanya penampilan kontingen dari Kabupaten Wonogiri dan Kelurahan Doplang selaku perwakilan dari Kecamatan Purworejo yang mendapat perhatian dari penonton. Kabupaten Wonogiri menampilkan kesenian Reog dengan segala atraksinya, sementara Kelurahan Doplang mengusung Ogoh-ogoh. Sedangkan peserta lainya sebagian banyak menampilkan kesenian Kuda Lumping dan tari Dolalak yang mungkin bagi masyarakat Purworejo sudah menjadi tontonan biasa.

Parade seni diakhiri dengan tusukan tombak ke Ogoh-ogoh oleh Bupati Purworejo Agus Bastian dan Wakil bupati Yuli Hastuti. Penusukan Ogoh-ogoh sebagai simbul hilangnya sukerto atau aura negatif di Kabupaten Purworejo.

MENUMBUHKAN KECINTAAN BAHASA JAWA DENGAN TEMBANG MACAPAT

Dalam rangka Bulan Bahasa, Pemerintah Kota Semarang, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar Lomba Tembang Macapat tingkat SMP/MTs se Kota Semarang, Rabu Pahing (4/10).

Lomba yang digelar di Gedung Ki Narto Sabdo kompleks TBRS (Taman Budaya Raden Saleh) Semarang ini diikuti 45 pelajar SMP dan MTs se Kota Semarang.

"Kegiatan ini merupakan upaya Pemkot Semarang melalui Disbudpar untuk melestarikan budaya jawa khususnya bahasa jawa dan menumbuhkan kembali kecintaan akan bahasa jawa di kalangan generasi muda khususnya para pelajar", jelas Siky Handini Wedariwati, SH, Kasi Sejarah dan Cagar Budaya, Disbudpar Kota Semarang sekaligus sebagai ketua penyelenggara.

"Ini sebagai tindak lanjut atas rekomendasi yang dihasilkan dari acara Sarasehan Bahasa Jawa tanggal 23 Maret tahun lalu", lanjut Siky.

Dewan juri terdiri dari pakar, akademisi, dan budayawan Widodo Brotosejati, S.Sn. M.Hum. dari UNNES, Kustri Sumiyardana dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan Ki Mulyono Harjowidodo dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah.

Muncul sebagai penampil terbaik Arianti Radma M dari SMPN 21 Semarang. Juara ke 2 diraih Diana Aisy Nabila dari SMPN 2 Semarang disusul Yudha Dwi Elisa dari SMP Maria Mediatrix. Juara Harapan 1 diraih Andi Bagas Maulana dari SMPN 42 Semarang, Harapan 2 diraih Meilina Fajar Arumsari dari SMPN 29 Semarang, dan Harapan 3 diraih Keisha Kumala Widyastuti dari SMPN 5 Semarang.

TELLING STORY


Hari berikutnya, Kamis Pon (5/10) ditempat yang sama juga digelar lomba Telling Story, atau mendongeng dengan bahasa jawa.

Siky menerangkan, dalam lomba yang baru pertama kali digelar tersebut, peserta menceritakan tentang cerita rakyat yang ada di Jawa Tengah. Untuk materi ceritanya sendiri sudah ditentukan oleh Disbudpar Kota Semarang.

Para peserta yang sebanyak 46 pelajar SMP dan MTs se-Kota Semarang itu bebas memilih tiga cerita, yang terdiri atas Timun Emas, Bawang Merah dan Bawang Putih, dan Legenda Rawa Pening.
Dewan juri lomba ini antara lain Widodo Brotosejati, S.Sn. M.Hum (UNNES), Hartono Samijan (penyusun kamus bahasa Dialek Semarangan - Suara Merdeka), dan Muhamad Fikri, SS (Balai Bahasa).

Hasil sidang dewan juri menentukan sebagai Juara 1 lomba ini diraih Hasna Alifa Zahra dari SMP Al Ashar 14, Juara 2 diraih Iftina Ika Rahmawati dari SMPN 2, Juara 3 diraih Latifah Maulidatil Ulya dari SMP Al Ashar 29. Sedangkan Harapan 1 diraih Regina Ayu Maulida dari SMPN 32 Semarang, Harapan 2 diraih Annisa Diva Karmelia Zahra dari SMP Al Ashar 23, dan Harapan 3 diraih Ghanim Faheema Damayanti dari SMPN 6 Semarang.

Senin, 25 September 2017

DOA LINTAS AGAMA UNTUK PETANI INDONESIA

Dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 2017, Pemprov Jateng melalui Dinas Pertanian dan Biro ISDA (Infrastruktur dan Sumber Daya Alam) Setda Prov Jateng, menggelar acara Doa Lintas Agama dan Pagelaran Wayang Kulit di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan Semarang, Sabtu malam (24/9).

Acara yang bertema Nggayuh Kamulyaning Dulur Tani ini dihadiri 6 pemuka agama dan 1 pemuka kepercayaan, antara lain pemuka Kristen Pdt. Ekalasa Purwibawa, pemuka Katolik Romo Patricius Hartono, Pr, pemuka Hindu Drs. Anak Agung Ketut Darmajaya, M.Pd, pemuka Budha Widyanto Candra, pemuka Konghucu JS Siswoyo, pemuka Islam Drs. H. Taslim Syahlan, M.Si, dan pemuka Kepercayaan KRT. Sutrimo Puspoyudo Setyodipuro, S.Pd, MM.

Acara dimulai dengan sambutan Gubernur Jawa Tengah yang dibacakan oleh Sekda Prov. Jateng Dr. Sri Puryono KS MP. Kemudian dilanjutkan pembacaan doa secara bergantian oleh para pemuka agama tersebut. Rencana semula, pembacaan doa dilakukan oleh 7 pemuka agama dan kepercayaan, tetapi karena alasan tertentu pihak penyelenggara meralat acara dan pembawa acara hanya memanggil 6 pemuka agama saja untuk maju membacakan doa. 

Setelah doa lintas agama selesai, dilanjutkan dengan Fragmen Kartu Tani oleh FK METRA (Forum Komunikasi Media Tradisi) Kabupaten Semarang. Peringatan Hari Tani Nasional 2017 ditutup dengan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Saguh Hadi Prayitno dan mengambil lakon Dewa Ruci.



 

Senin, 18 September 2017

6 MAESTRO TARI NUSANTARA BERBAGI PANGGUNG DI PENDOPO PURA MANGKUNEGARAN

Festival Payung Indonesia (FPI) 2017 yang digelar di Pura Mangkunegaran Solo, ditutup dengan pentas bersejarah, Minggu (17/9) malam. Enam maestro tari Nusantara berbagi panggung, diantarnya Rusini (69) dari Solo, Ayu Bulantrisna Djelantik (70) dari Bali, Retno Maruti (70) dari Jakarta, Munasiah Daeng Jinne (76) dari Makassar, Dariah (89) dari Banyumas, dan Didik Nini Thowok (62) dari Jogja. Dalam kemegahan Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, gemulai tari mereka menunjukkan konsistensi yang tak pernah mati.

Rusini membuka pentas dengan tarian yang diciptakan sendiri berjudul Roncen. Keindahan permainan anak-anak pada era 50-an tergambar dari gerak tubuhnya. Mengenakan kebaya panjang warna hitam, ia mempercantik penampilannya dengan selendang merah muda. Pencipta karya besar seperti Ronggolawe Gugur, Harya Penangsang Gugur, dan Tanding Parangkusuma ini berhasil menampilkan karya menakjubkan selama seperempat jam.

Selesai dengan tari yang penuh dengan kelembutan, Ayu dari Bali menyemarakkan suasana dengan musik ramai mengiringi Joget Pingitan. Gerak sakral yang biasanya ditujukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kesuburan tanah ini ditampilkan dengan penuh kegembiraan.

Ayu Bulantrisna Djelantik adalah cucu dari Anak Agung Anglurah Djelantik yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Karangasem, Bali. Guru yang dipanggil oleh sang kakek untuk mengajar tari antara lain Bagus Bongkasa dan Gusti Biang Sengog. Bulantrisna kecil mengenal tari tradisional Bali ketika usia 7 tahun dan pada saat usianya menginjak 10 tahun Bulantrisna diundang oleh Presiden Soekarno ke Istana Presiden di Tampaksiring, Gianyar, Bali untuk menghibur para tamu Istana.

Saat usia 11 tahun, Bulantrisna pernah menari Oleg di Jakarta untuk pertama kalinya. Menurut Bulantrisna menari merupakan pelepasan emosi, kreativitas, kegembiraan, bergerak dengan penuh penjiwaan, dan sebagai sarana berdoa. Kecintaan Ayu Bulantrisna Djelantik pada tari tak hanya sebatas gerak saja, tetapi ia juga mendirikan bengkel tari yang diberi nama "Ayu Bulan" pada tahun 1994. Salah satu kreasi tari ciptaan yang telah dibuatnya ialah tari Legong Asmarandana.
Urutan ketiga, maestro tari dari Solo yang telah lama menetap di Jakarta ini tak kalah gemulai. Retno Maruti yang malam itu dengan gaya tari jawa dan berproperty payung klasik seolah menunjukkan bahwa usia tak berpengaruh dengan keindahan gerak tarinya. Mengenakan kebaya warna ungu semakin memperlihatkan seolah dia kembali muda puluhan tahun.

Istri penari senior Sentot Sudiharto ini telah banyak menorehkan karya tari. Langendriyan Damarwulan, Abimanyu Gugur, Roro Mendut , Sawitri, Palgunadi, Rara Mendut, Sekar Pembayun, Keong Emas, Begawan Ciptoning, Kongso Dewo, Dewabrata, Surapati, Alap-alapan Sukesi, Portraits of Javanese Dance dan Bedaya Legong Calonarang

Tak sekadar pentas, Munasiah asal Makassar yang tampil di nomor keempat menunggu-nunggu malam istimewa tersebut. Ketika memulai tari Pakkarene Pajoge, ia seperti bernostalgia di era 50-an. Saat itu sebagai penari Presiden Sukarno, ia masih sering diajak keliling Nusantara, salah satunya di Pura Mangkunegaran.
“Saya masih ingat dulu terakhir pentas di Mangkunegaran sekitar tahun 50-an. Ini seperti nostalgia. Saya mengulang kembali sejarah perjalanan kepenarian saya saat masih menemani presiden dulu,” kata nenek dengan 53 cucu yang masih aktif menari tersebut.

Penuh kehati-hatian, peraih penghargaan presiden pada 2012 ini khusyuk menari selama hampir 20 menit. Tarian yang menceritakan tentang bidadari turun dari kahyangan dipentaskan tunggal dengan live music Makassar. Senada dengan tema acara, Munasiah juga membawa payung emas Teddung Mpulaweng asli dari Kerajaan Luwuk.

Semangat Munasiah mengulang kembali sejarah kepenariannya juga dirasakan generasi terakhir lengger lanang dari Banyumas, Dariah. Tarian Lengger Lanang yang telah membesarkan namanya dipentaskan dengan durasi lebih pendek. Sempat terlihat bingung, penari bernama asli Saddam ini spontan memulai gerak Lengger Lanang saat mendengar pukulan kendang. Tariannya berlanjut mengikuti iringan calung yang dipentaskan secara langsung.

Dariah yang telah menasbihkan dirinya sebagai perempuan Lengger ini memang sudah tak segesit dulu. Bahkan saat diwawancara seusai pentas ia agak sulit diajak komunikasi kecuali dengan suara keras. Namun, menurut cucu yang malam itu ikut mendampingi, Nur Kholifah, ia selalu siap sedia kalau diajak pentas. Setelah Solo, ia dijadwalkan mengisi pergelaran seni memperingati Bulan Sura di Banyumas.

Sebegai penari terakhir, Didik Nini Thowok menggemparkan Pura Mangkunegaran dengan kepiawaiannya. Tari khas topeng yang dikreasi dengan tampilan humor dan kelentikkan geraknya memecahkan suasana yang semakin malam itu. Kombinasi berbagai tari terlihat diantaranya tari jawa, tari bali, tari jaipong, cirebonan, banyumasan dia kemas dengan apik. Tak ketinggalan, ganti busana dan property nya pun dia suguhkan diatas panggung.

Selesai mempersembahkan tarian, mereka dianugerahi penghargaan sebagai maestro tari dari FPI 2017 bersamaan dengan beberapa para pengrajin payung. Anugerah tersebut diserahkan oleh KGPAA Mangkunegara IX.