Minggu, 26 Maret 2017

SATU LAGI SANG MAESTRO YANG TERLUPAKAN

Mbah Kasdu, sang maestro saat
foto bersama penulis
Pagi itu, Sabtu Wage 25 Maret 2017, di halaman kecamatan Mijen, Kota Semarang, digelar sebuah pentas budaya lokal, yaitu Festival Kuda Lumping. Ditengah kesibukan panitia dan seluruh peserta dalam gladi bersih upacara pembukaan, terlihat disudut lapangan ada sosok kakek dengan baju dan ikat kepala hitam yang sedang duduk tenang menikmati suasana.

Di tengah hingar bingar yang ada di lapangan saat itu, ada rasa penasaran penulis, dan terdorong untuk menemui kakek tersebut. Mungkin karena masih pagi dan terlihat sepi karena belum banyak penonton, penulis coba untuk menyapa beliau. Dalam obrolan singkat, rasa penasaran pun terjawab.

Mbah KASDU namanya. Beliau dulunya seorang pemain kuda lumping yang terkenal di daerah itu. Dari usia remaja hingga saat ini, sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada kesenian rakyat satu ini. Dari pemain, pelatih, penasihat hingga menjadi sesepuh di beberapa kelompok kuda lumping yang berada di kecamatan Mijen. Sekarang, dimana ada pertunjukan kuda lumping beliau pasti hadir, sejauh bisa dijangkau, tanpa diundang.

Obrolan pun berkembang, tak sesingkat yang direncanakan. Banyak hal yang penulis terima saat bersama beliau selama lomba itu berlangsung. Kakek 93 tahun ini, banyak memberikan petuah dan wejangan dari yang berhubungan dengan jaran kepang/turonggo kepang (sebutan lain kuda lumping dalam istilah jawa) sampai dengan laku hidup spiritual dari sudut pandang beliau.

Kebersamaan penulis dengan mbah Kasdu sepanjang festival, menjadi nilai tersendiri dan menjadi sebuah proses transfer ilmu antar generasi. Pemandangan yang sangat unik ini banyak dikomentari positif oleh para panitia, dimana satu juri termuda ini tengah berkolaborasi dengan sang maestro, disudut lapangan yang tak banyak orang memperhatikannya.

Festival Kuda Lumping ini diselenggarkan oleh Kecamatan Mijen dengan APBD Kota Semarang dalam rangka peringatan hari jadi Kota Semarang yang ke 467. Festival ini diikuti 7 (tujuh) kelompok dari 7 kelurahan yang ada di kecamatan Mijen.

Muncul sebagai penampil terbaik adalah Satriyo Budoyo Mudo dari kelurahan Tambangan, disusul Turonggo Sejati dari kelurahan Panji Ngadirgo dan penampil terbaik ketiga adalah turonggo Mudo dari Kuripan Ngadirgo

Pemberian hadiah dan trophy kepada pemenang dilakukan oleh Camat Mijen Ali Mochtar. Setelah itu para penampil terbaik 1, 2 dan 3 diminta untuk memainkan kuda lumping lagi, sampai dengan kesurupan. Sorak sorai penonton pun memeriahkan suasana siang itu. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar