Sabtu, 25 Maret 2017

KENDI, EMPAT UNSUR ALAM ADA DISINI

Kasturi, menjelaskan rahasia tentang kendi maling 
dengan 3 pucu (lubang utk minum) 
Dahulu, masyarakat kita lebih banyak mengenal kendi sebagai tempat air minum. Kendi yang berbahan dasar tanah liat ini, mempunyai banyak manfaat selain sebagai tempat air minum, tetapi dipercaya mempunyai manfaat lain, karena folisofi yang terkadung didalamnya.

Sebagai sebuah warisan leluhur masyarakat jawa, kendi masih banyak dijumpai dibeberapa tempat terutama daerah pedesaaan. Kesegaran alami, menjadi keunggulan kendi dibandingkan dengan tempat air minum modern seperti dispenser ataupun kulkas.

Terdapat 4 (empat) unsur alam yang ada dalam sebuah kendi. Tanah dan air menjadi unsur utama pembuatan kendi, dimana unsur ini mampu menetralisir kuman dan bakteri. Dilanjutkan dengan unsur api dan angin yang membantu proses tanah dan air tadi menjadi sebuah kendi .

Eka Luluk, saat belajar membuat gerabah disaksikan
camat Mayong, Rini Padmini
Hal ini dijelaskan oleh Kasturi, pengusaha kerajinan gerabah/keramik di Mayong, Jepara pada 120 peserta Jelajah Budaya Jawa Tengah periode II, Kamis (23/3). Didampingi camat Mayong, Rini Padmini dan Joko Pramono dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Pada kesempatan ini, Kasturi juga memberikan workshop singkat kepada para peserta untuk membuat gerabah.

Eka Luluk, peserta dari SMK N 1 Purwodadi merasa senang bisa belajar membuat gerabah dan hal ini merupakan pengalaman barunya. Dia juga berpesan agar kedepan acara seperti ini bisa ditambah durasi waktunya, agar semua peserta bisa berkesempatan untuk praktek membuat gerabah, tidak terbatas pada 2 atau 3 peserta saja.

Kunjungan di sentra gerabah Mayong ini, adalah rangkaian kunjungan Jelajah Budaya Jawa Tengah yang sebelumnya berkunjung di Monumen Ari-ari RA. Kartini yang berada di samping Kantor Kecamatan Mayong, Jepara.


Sebelumnya, rombongan melakukan kunjungan ke Taman Budaya Kudus, yang disuguhi gelar adat dan tradisi Ruwatan Manten Adat Kudus dengan menampilkan Barongan Kudus dan atraksi Kuda Lumping.

Setelah berkunjung di Jepara, dilanjutkan kunjungan terakhir di Kadilangu, Demak. Disini rombongan di sambut dengan tari Zipin Demak dan Seni Tradisi Kentrung.

Dra. Hermawati, MT tengah memberikan
sambutan di Kadilangu, Demak
Ketua panitia Jelajah Budaya yang juga sebagai Kasi Sejarah dan Tradisi, Bidang Pembinaan Kebudaaan, Dindikbud Jawa Tengah Dra. Hermawati, M.T, menyampaikan apresiasinya terutama kepada Ki Syamsuri atau biasa di panggil Mbah Kentrung, yang merupakan satu-satunya pelaku seni tradisi kentrung di kota Demak. Diharapkan, seni tradisi tutur ini dapat ditularkan atau diregenerasikan kepada yang lebih muda, dan hal ini tak lepas dari peran pemerintah Kabupaten Demak, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.


Jelajah Budaya Jawa Tengah periode II ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, dan diikuti 120 pelajar SMA dan SMK beserta guru pendamping dari 3 eks Karesidenan, yaitu Semarang, Pati dan Surakarta.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Drs, Mulyono, M. Pd, di Hotel Graha Muria, Colo, Kudus, Rabu Legi 22 Maret 2017.

Setelah acara pembukaan dilanjutkan dengan pemaparan Karya Tulis Ilmiah oleh peserta Jelajah Budaya. Seleksi karya tulis ini dilakukan oleh tim juri yang berjumlah 3 orang, yang berasal dari perwakilan guru pendamping peserta. Diambil 15 peserta dengan karya tulis terbaik untuk memaparkannya di depan peserta kegiatan.

Kegiatan ini ditutup Jumat Pon (24/3) yang sebelumnya didahului dengan tampilan tari Kethek Ogleng yang dibawakan salah satu peserta dari SMK N 2 Wonogiri, Raymodus Tri Utomo.

Dilanjutkan dengan pemaparan laporan Jelajah Budaya yang dibagi 3 kelompok berdasarkan wilayah eks karesidenan/Bakorwil. Setiap Bakorwil memaparkan salah satu dari ke 3(tiga) lokasi Jelajah Budaya yaitu Kudus, Jepara dan Demak. Laporan berisi tentang nilai yang bisa digali dari 3 objek tersebut dari aspek ekonomi, sosial dan regenarasi.

Selain karya tulis ilmiah dan keaktifan peserta selama mengikuti Jelajah Budaya, pemaparan laporan ini juga menjadi unsur penilaian dalam seleksi 15 calon perwakilan ditingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat regional.

Di tingkat regional, kegiatan ini dinamakan dengan Jejak Tradisi. diselenggarakan oleh BPNB (Balai Pelesarian Nilai Budaya) Yogyakarta yang menaungi 3 provinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY. Di tahun ini, rencana Jejak Tradisi akan dilaksanakan pada bulan April mendatang, Jelas Hermawati.

























  






Tidak ada komentar:

Posting Komentar