Senin, 24 April 2017

JATENG RAIH JUARA PENYAJIAN BUSANA TERBAIK

Dengan busana daerah bertema Borobudur, provinsi Jawa Tengah meraih Juara Penyajian Busana Terbaik Antar Wilayah Jawa Bali Dwipa pada acara Parade Busana Daerah 2017, di gedung Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (23/04).

Acara yang digelar dalam rangka Ulang Tahun TMII ke 42 ini dibuka oleh Direktur Budaya TMII Sulistyo Tirto Kusumo. Terlihat beberapa dewan juri antara lain Nungki Kusumastuti, Samuel Patimena, Taruna Kusmayadi, Moh Rais dan Umi Sriningsih.

Provinsi Jawa Tengah diwakili oleh Sanggar Poesponingrat dari kota Solo, milik desainer Rory Wardhana. Selain memperoleh piagam kepesertaan dan uang pembinaan sebesar 2 juta rupiah, Jateng juga membawa pulang piala tetap dari Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.

Pada acara ini, Jateng juga menampilkan busana tradisi dodotan dan busana daerah dengan bahan limbah. Provinsi Kalimantan Timur tampil menjadi juara umum dalam Parade Busana Daerah 2017 ini.






Kamis, 20 April 2017

UPACARA PERNIKAHAN TEMBAKAU DI LERENG GUNUNG SUMBING

Adalah tembakau bernama Kiai Pulung Soto dan Nyai Srintil, yang kemudian dikawinkan dalam sebuah ritual di masyarakat lereng gunung Sumbing. Pernikahan ini sebagai simbol, penghargaan masyarakat terhadap hasil bumi, karena tidak sedikit warga yang hidup sebagai petani tembakau. 

Dengan ritual ini harapannya tembakau semakin jaya dan harganya semakin bagus, sehingga para petani tembakau bisa hidup lebih layak lagi dapat hidup lebih layak lagi. 

Ritual ini dikemas dalam sebuah atraksi gelar adat dan tradisi dalam rangka acara Peningkatan Penanaman Watak dan Perkerti Bangsa yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah di Muntilan, tepatnya di Joglo Jeep, Gunungpring, Muntilan Kabupaten Magelang, Selasa (18/4).

Acara yang ini diikuti sebanyak 120 peserta dari perwakilan pelajar tingkat SLTA se Kabupaten Magelang dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan Drs. Mulyono, M.Pd mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Senin, 17 April 2017

DENGAN RUWAT RIGEN, JAWA TENGAH RAIH JUARA UMUM PAWAI BUDAYA NUSANTARA

Kontingen Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Jawa Tengah meraih juara umum pada Pawai Budaya Nusantara yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (16/4). Pawai Budaya Nusantara ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati memperingati HUT ke-42 TMII yang dibuka oleh Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa.

Pawai Budaya Nusantara ini menampilkan keanekaragaman seni budaya dengan mengusung tema upacara adat dan tradisi yang dikemas dalam bentuk pawai dan atraksi budaya, dimana didukung oleh potensi seniman daerah dari seluruh provinsi di Indonesia. Setidaknya ada 20 provinsi yang ikut andil menjadi peserta tahun ini


Ruwat Rigen, saat tampil didepan podium
Sungguh luar biasa, dengan mengusung Ruwat Rigen Negeri Tembakau (rigen : anyaman bambu tempat menjemur tembakau) yang merupakan upacara adat dan tradisi di kabupaten Temanggung ini, Provinsi Jawa Tengah mampu meraih 4 dari 5 kategori penghargaan. Diantaranya yaitu masuk dalam 5 penyaji unggulan, memperoleh piagam penghargaan dan piala tetap dari Dirut TMII. Kemudian sebagai penyaji atraksi terbaik dan penyaji arak-arakan terbaik yang mendapat piagam penghargaan dari Dirut TMII, piala tetap dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan uang pembinaan, masing-masing sebesar Rp. 5 juta.

Dengan hasil tersebut, Jawa Tengah menjadi juara umum pada Pawai Budaya Nusantara Tahun 2017 dengan mendapat piagam penghargaan dan piala tetap dari Dirut TMII, piala bergilir dari Kementerian Parwisata Republik Indonesia dan uang pembinaan sebesar Rp. 10 juta.

Dari kiri : Didik Nuryanto, Eny Haryanti, Endah Palupi Puspitasari dan Sugeng Riyadi
Piagam, piala dan uang pembinaan kategori penyaji arak-arakan terbaik diterima oleh Didik Nuryanto, Kabid kebudayaan, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Temanggung, sedangkan untuk kategori penyaji atraksi terbaik diterima oleh Endah Palupi Puspitasari, pelatih sekaligus pemilik Sanggar Tari Puspita Sakanti di Kabupaten Temanggung. Penyerahan dilakukan oleh Dirut TMII DR. A.J. Bambang Soetanto.

"Saya sempat tidak percaya, bisa mendapat banyak penghargaan, seperti sebuah mimpi", ungkap Endah Palupi Puspitasari. "Sungguh ini merupakan pengalaman yang luar biasa, bahkan tidak pernah bermimpi bahwa kami dari sanggar kecil di desa bisa dipercaya mewakili provinsi Jawa Tengah dikancah nasional", tambahnya.
Penyerahan hadiah juara umum oleh Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirto Kusumo.

Sedangkan piagam, piala dan uang pembinaan sebagai juara umum, diterima oleh Eny Haryanti, Kepala Sub Bagian Pendidikan, Kebudayaan dan Perpustakaan mewakili, Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, sebagai penanggungjawab kontingen. Penyerahan dilakukan oleh Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirto Kusumo.

Satu kategori penilaian yang tersisa adalah penyaji tata rias dan busana terbaik yang diraih oleh provinsi Riau dengan mendapat piala tetap dari Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia.

"Selain nilai garap yang artinya bahwa materi itu baik, ada yang sangat penting yang menjadi unsur pokok penilaian, yaitu kontinuitas paket garapan dari start sampai dengan finish. Penilaian tidak hanya di depan podium saja, tetapi sepanjang jalan yang menjadi rute pawai", jelas tim pengamat. "Ada beberapa kontingen yang hanya berjalan tanpa menampilkan atraksi garapannya, bahkan ada yang tidak sampai finish", tambahnya.



 
 

Kontingan Jawa Tengah saat pawai keliling anjungan TMII
Tim musik pengiring Ruwat Rigen
Suasana penyerahan hadiah di Sanana Langen Budaya TMII







Kamis, 13 April 2017

ATAS PENOLAKAN WARGA, POLISI BUBARKAN ACARA DEKLARASI FPI KOTA SEMARANG

Setelah lebih dari satu jam dialog antara perwakilan warga kota Semarang dengan FPI tak menentukan titik temu, akhirnya Kapolrestabes Semarang, Kombes Abiyoso Seno Aji memutuskan untuk membubarkan kegiatan pembentukan DPW FPI Semarang. 

"Yang menolak di luar lebih banyak, kami tidak mau kondisi Kota Semarang jadi tidak nyaman. Tanpa FPI, Kota Semarang aman dan damai", jelas Abiyoso.

Sebelumnya, polisi menjaga ketat pembentukan Dewan Perwakilan Wilayah Front Pembela Islam (FPI) Semarang di Jalan Pergiwati I nomor 19, Bulu Lor, Semarang Utara, Kamis (13/4) sekitar pukul 18.30. Ratusan anggota gabungan dari Polrestabes dan Brimob Polda Jateng bersenjata lengkap berjaga-jaga di depan gang rumah Zaenal Petir yang digunakan kegiatan tersebut.

"Demi keamanan dan kenyamanan bersama, acara pembentukan ini dibubarkan,” ungkapnya saat memimpin audensi di rumah Zaenal Petir, yang digunakan untuk kegiatan. Ada pun, lanjut dia, keputusan tersebut diambil mengingat sebagian besar warga di Semarang menolak ada FPI di Semarang.“Ada atau tidaknya FPI, Semarang tetap aman, terkait keamanan dan lain-lain sudah ada kami,” jelasnya.

Ribuan massa yang terdiri dari warga dan anggota sejumlah Organisasi Masyarakat (Ormas) di Semarang yang menolak pembentukan DPW FPI Semarang, berusaha bergerak masuk ke lokasi acara di Bulu Lor, Semarang Utara. Namun saat hendak masuk ke dalam gang menuju acara tersebut, mereka dihentikan ratusan polisi yang sudah menjaga ketat di lokasi tersebut.

Tindakan tersebut tidak menyulut amarah, mereka mematuhi apa yang dilakukan petugas. Mereka yang berhenti di gang kemudian melakukan orasi. Dengan lantang ratusan anggota Ormas yang menolak tersebut terus menyurakan penolakan pembentukan FPI di Semarang. 

“Bubarkan FPI, jangan ada FPI di Semarang, Semarang sudah damai. NKRI harga mati” teriak mereka. “Sampai tetes darah penghabisan kami tetap menolak FPI di Semarang,” ungkap Wakil Ketua Barisan Merah Putih Indonesia Iwan Nur Cahyono.

Kabag Ops Polrestabes Semarang AKBP Iga DP Nugraha mengatakan, sedikitnya 400 personel dari Polrestabes, Sabhara Polda dan Brimob Polda Jateng dikerahkan. “Personel kami kerahkan secara proposional. Ini gabungan dari Polrestabes dan Polda,” ujarnya.

Koordinator FPI Jateng, Sihabudin, menyayangkan sikap aparat yang terkesan sepihak, sehingga harus membatalkan acara FPI. "FPI itu kan ormas. Pembentukan ormas itu sendiri diatur dan dilindungi Undang-Undang. Jadi kenapa aparat harus melarang kami", ujar Sihabudin.

Perdebatan yang tak kunjung usai membuat situasi kembali memanas, hingga akhirnya sejumlah warga kampung ikut bereaksi dengan mengusir semua anggota FPI yang ada di lokasi. Untuk tetap melindungi masyarakat, pihak Kepolisian melakukan evakuasi terhadap anggota FPI menggunakan mobil polisi.

Gelombang penolakan acara pembentukan FPI Kota Semarang sudah dilontarkan oleh sejumlah organisasi dengan mengirimkan surat kepada pihak Polrestabes Semarang, sejak dua hari sebelum acara.

SURAT PENOLAKAN WARGA
Berikut ini isi surat penolakan keberadaan FPI yang dilayangkan oleh warga kota Semarang yang tergabung di berbagai kelompok/ormas. 

FORUM GABUNGAN PEMUDA BHINEKA TUNGGAL IKA SE-KOTA SEMARANG TOLAK FPI
Yth. Kapolrestabes Semarang
Yth. Walikota Semarang
Yth. Ketua DPRD Kota Semarang
Yth. Ketua MUI Kota Semarang

Assalamualaikum wr. wb.
Salam sejahtera kami sampaikan.

Kami warga kota Semarang yang mencintai kota ini, menghendaki kota tercinta kita tetap tentram dan damai dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Kami menyatakan MENOLAK DENGAN KERAS rencana pembentukan organisasi radikal yang suka menebar kebencian, fitnah dan permusuhan, serta gemar melakukan kekerasan berkedok agama, serta dipimpin oleh para tersangka pelanggaran hukum pidana.

Kami seluruh warga Kota Semarang yang masih waras, MENOLAK KERAS rencana pembentukan organisasi Front Pembela Islam (FPI) pada :
Hari/tgl : Kamis, 13 April 2017.
Waktu  : 20.00 s/d 22.00 WIB.
Tempat : Rumah Zaenal Petir Jl. Pergiwati I no. 19, Bulu Lor, Semarang Utara. Rencana akan dihadiri oleh pengurus FPI pusat H. Munarman.

Kami minta rencana tersebut DIBATALKAN dan DILARANG.
Kami ingatkan, di bulan Ramadhan lalu FPI dipimpin Sdr. Zaenal Petir dan HTI Jateng dipimpin Abdullah telah membatalkan acara buka puasa bersama yang digelar Ibu Shinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid yang ingin menjaga kemajemukan bangsa dalam rasa kasih sayang. Peristiwa itu telah merusak kedamaian kota Semarang di saat umat muslim sedang khusyuk beribadah dan berupaya berdakwah membangun persaudaraan tetapi diganggu organisasi intoleran tersebut. 

Kami tidak rela kota Semarang diwarnai aksi kekerasan FPI. Dan kami rela mati membela kehormatan kota ini. Apabila tuntutan kami ini tidak diindahkan, maka ada aksi spontan warga yang tidak akan bisa dicegah dan dikendalikan.
Wassalam.

Kami yang MENOLAK:
1. Patriot Garuda Nusantara
2. Gerakan Pemuda Ansor
3. Pelajar Cinta Tanah Air
4. Laskar Mahesa Jenar
5. Central Committee-Marhaenis Nasionalis Perjuangan
6. Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam Semarang
7. IKBS Lowo Ijo
8. Komunitas Gusdurian Semarang
9. Mahasiswa Bergerak Unnes
10. Teater Buih
11. Kodrat Semarang
12. KMF Semarang
13. PMII Semarang
14. PA GMNI Kota Semarang
15. Andalan Jeli Tangguh (AJT) Jawa Tengah
16. LSM Gagasan Anak Negeri (GAN) Indonesia
17. Satjipto Rahardjo Institute
18. Komunitas Payung
19. KSMW Semarang
20. Jejaring Antikorupsi (JEJAK) Jawa Tengah
21.A munib siddiq (suluk jalanan salatiga).
22 .MPII(Majelis Pemuda Islam Indonesia) Kota Semarang
23. Pemuda Pancasila
24. Pemuda Panca Marga
25. GANASPATI
26. Lindu Aji
27. Laskar Adipati Unus 
28. Laskar Ki Ageng Pandanaran