Jumat, 26 Mei 2017

TARI RAKYAT MERIAHKAN TRADISI DUGDER

Siang kemarin, Kamis Kliwon (25/5) ribuan manusia tertumpah di pelataran MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah). Massa berkumpul sejak siang hari. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru kota Semarang, dan beberapa kota diluar Semarang.

Mereka berkumpul menjadi satu dengan para pelancong dari daerah lain untuk menyaksikan pagelaran kesenian rakyat yang digelar dipojok pelataran MAJT dalam rangka upacara tradisi Dugder 2017. Setidaknya ada 3 tari rakyat yang ditampilkan siang itu. Diantaranya tari prajuritan dari Wonosobo. dilanjutkan dengan Tari Warak dari kecamatan Semarang Utara. 

Tari warak yang ditampilkan secara apik oleh 4 remaja putera dan 4 remaja puteri ini merupakan juara 1 pada lomba tari warak yang digelar pemkot Semarang, senin lalu (22/5).

MAJT menjadi tempat terakhir dari iring-iringan rombongan Dugder yang diawali upacara pelepasan di Balai Kota Semarang, berlanjut ke Masjid Agung Semarang, kemudian finish di MAJT.

Acara rutin ini dilaksanakan setiap tahunnya menjelang bulan Ramadhan, dimana umat muslim akan melaksanakan ibadah puasa selama 1 bulan penuh. Dugder sendiri berasal dari kata Bedug dan Der. Bedug merupakan alat musik pukul yang digunakan masyarakat dahulu sebagai tanda waktu. Sedangkan Der berasal dari bunyi dentuman meriam. Gabungan dua bunyi tersebut digunakan masyarakat Semarang sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan.






  

Rabu, 24 Mei 2017

BELASAN WARAK GUNCANG BALAI KOTA SEMARANG

Belasan group warak ngendog Senin kemarin (22/5) mengguncang teras balai kota Semarang. Mereka menampilkan kepiawaiannya menari sambil atraksi membawa warak yang  mereka buat masing-masing.

Sedikitnya ada 16 group tari yang mewakili 16 kecamatan di kota Semarang. Lomba Tari Warak ini memang sudah menjadi agenda rutin setiap tahunnya yang diselenggarakan pihak pemkot. Dalam lomba ini dipilih 5 penampil terbaik yang masing-masing mendapatkan trophy dan uang pembinaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

Lomba Tari Warak dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Masdiana Safitri, SH.

Rabu, 17 Mei 2017

MENUMBUHKAN KARAKTER KEBANGSAAN DENGAN LAGU LAGU PERJUANGAN

Disaat kita menyanyikan lagu kebangsaan, seketika itu pula rasa patriotik dan nasionalisme tumbuh dalam diri kita. Lagu - lagu wajib nasional yang dinyanyikan secara bersama-sama dalam suatu paduan suara, menimbulkan energi positif yang akan membentuk karakter kita untuk selalu mencintai tanah air Indonesia.

Hal ini disampaikan Kepala Biro Kesra setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Supriyanto, MM saat membacakan sambutan Sekda Provinsi Jawa Tengah dalam acara pembukaan Audisi Paduan Suara Gita Bahana Nusantara (GBN) 2017 tingkat Jawa Tengah di Wisma Perdamaian, Rabu (17/5).

Jumat, 05 Mei 2017

PERAN KUNCI PEREMPUAN DALAM PELESTARIAN BUDAYA SPIRITUAL


Terlalu lama perempuan Penghayat tertidur lelap dan menutup diri dari jati dirinya sebagai Penghayat. Diskriminasi dan sigmatisasi adalah faktor pemicu utamanya. 

Dilaksanakannya Dialog Perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Hotel Semesta Semarang 2 s/d 5 Mei 2017, merupakan moment penting yang digelar Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kemendikbud RI, yang sebelumnya sudah didahului dengan kesadaran perempuan Penghayat Jatim untuk melaksanakan deklarasi perempuan pada 15 April 2017 lalu

Ini merupakan ruang yang sengaja diperuntukan bagi perempuan Penghayat yang bertujuan untuk membangkitkan dan membangun kesadaran perempuan untuk kembali memiliki kepercayaan diri dan  berkontribusi aktif dalam penguatan organisasi dan menyiapkan regenerasi dan kaderisasi penerus ajaran. Hal ini disampaikan oleh Dian Jennie, sekretaris MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia) wilayah Jawa Timur yang sekaligus menjadi salah satu narasumber pada acara tersebut.

Perempuan mempunyai peran kunci dan sangat vital dalam proses regenerasi dalam pelestarian budaya spiritual. Pelestarian itu akan memperkuat pembentukan karakter bangsa dan jatidiri bangsa Indonesia dan berperan untuk pembangunan berkelanjutan. tambahnya.

Pelestarian nilai budaya luhur merupakan indikator keberhasilan kaderisasi dalam organisasi kepercayaan. Ajaran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tentang sangkan paraning dumadi, manunggaling kawula Gusti, dan memayu hayuning bawana dimana mengandung nilai - nilai luhur akan menjadi kenangan apabila organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak melakukan kaderisasi.

Kegiatan yang diikuti 100 perempuan penghayat seluruh Indonesia wilayah barat ini dihadiri Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudyaan, Kemendikbud RI, Dra. Sri Hartini, M.Si, Kabid Kebudyaaan Disdikbud Jawa Tengah, Drs. Mulyono, M.Pd.

Rabu, 03 Mei 2017

UPACARA BENDERA HARDIKNAS PROVINSI JAWA TENGAH DIGELAR DI PELOSOK DESA DI GROBOGAN


Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar upacara bendera Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2017 di salah satu desa terpencil di Kabupaten Grobogan. Upacara digelar di lapangan SDN 1 Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Selasa (2/5/2017).

Untuk menuju desa tersebut tergolong sulit. Jalan sepanjang 20 km menuju Desa Mlowokarangtalun berupa batu padas yang jauh dari kesan nyaman jika dilintasi dengan kendaraan bermotor. Akses yang jelek nyaris seperti track offroad itu membuat iring-iringan mobil Gubernur Jateng berjalan lambat.

Karena itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang menjadi inspektur upacara sengaja naik mobil jenis doblecabin. Meskipun sedikit terlambat, setidaknya bisa lebih mempercepat perjalanan dibandingkan jenis minibus yang biasa dipakai disetiap kunjungannya ke daerah-daerah.


Ganjar mengaku sengaja menggelar upacara yang biasanya dipusatkan di Ibu Kota Provinsi, dipindahkan ke desa. “Ada maksud dan tujuannya. Kemarin yang sedang latihan di provinsi untuk menuju tempat ini butuh waktu enam jam,” kata Ganjar saat menjadi inspektur upacara. Salah satu alasannya adalah untuk meninjau SDN Mlowokarangtalun yang kondisinya rusak parah. Jangankan fasilitas penunjang berupa laboratorium, lantai ruang kelas ini hanya berupa paving block, berdinding kayu, dan tak ada plafon untuk atap ruang kelas.

Ganjar menambahkan, memindahkan upacara ke desa terpencil mengandung pesan masih banyak tugas dan pekerjaan yang belum tuntas. Para pendidik terus berjuang menanamkan karakter pendidikan kepada murid agar tercipta mental yang bagus, otak cerdas, serta hati yang bersih.

Dalam kesempatan itu, orang nomor satu di Jateng ini membacakan sambutan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy dengan tema Hardiknas tahun ini yaitu "Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas".

“Negara butuh perencanaan yang bagus. Tidak hanya soal kondisi sekolah yang mau roboh, tapi lebih ke akses pendidikan. Menciptakan pendidikan yang bisa meniupkan ilmu masuk ke dalam pikiran dan batin anak-anak. Sehingga mereka punya spirit intelektual bagus,” tegasnya.


Mengenai sekolah yang hampir roboh, Ganjar berjanji segera memperbaikinya. Pemerintah pun berjanji akan memperbaiki jalan desa yang berbatasan dengan Kabupaten Sragen ini. "Saya dan bupati akan bangun sekolah ini. Bupati melaporkan sepanjang jalan dianggarkan Rp 5 miliar. Tapi Bupati minta bantuan Rp 4 miliar, Pemprov akan bantu," kata dia.

Ganjar berkomitmen agar seluruh sekolah yang ada di Jateng agar diperbaiki. Jangan sampai pendidikan sudah terbuka, namun masih ada sekolah yang hampir roboh. "Dunia terbuka, sekolah mau runtuh, akses pendidikan anak, kesehatan. Apa kita tega mengambil duit negara, sementara jalan hancur, gedung mau roboh, apa kita rela," kata Ganjar.


Gubernur Jateng ini juga berkesempatan memberikan penghargaan bagi warga Grobogan yang berprestasi di dunia pendidikan, dari tingkat SD, SMP, SLTA, Perguruan Tinggi, hingga tenaga didik (guru).

Hadir dalam peringatan Hardiknas ini, Asisten Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Jawa Tengah Edy Joko Pramono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Gatot Bambang Hastowo yang juga sebagai Perwira Upacara, Bupati Grobogan Sri Sumarni lengkap dengan jajaran Forkopimda, serta jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Grobogan.