Sabtu, 29 Juli 2017

MEMBENTUK KARAKTER BANGSA MELALUI TRADISI LISAN DAN PERMAINAN TRADISIONAL


Kontingen Kabupaten Semarang
saat menampilkan permainan tradisional.
Suatu tembang atau lagu yang didendangkan secara terus menerus disebuah permainan anak, mampu membentuk karakter pada anak tersebut. Karakter itu sesuai dengan nilai-nilai positif atau norma yang berlaku sesuai dengan kearifan lokal di daerah masing-masing.

Hal itu diungkapkan St. Wiyono, S.Kar, sebelum mengumumkan pemenang pada Festival Permainan Rakyat se Jawa Tengah di Pondok Tingal Borobudur, Mungkid (29/7).  

Event yang digelar setiap tahunnya ini diadakan oleh Seksi Nilai Tradisi dan Sejarah, Bidang Pembinaan Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. 

Festival ini diikuti 6 grup dari 6 Kabupaten/Kota yang mewakili 6 eks karesidenan se Jawa Tengah. Diantaranya dari Kabupaten Pemalang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Pati dan Kabupaten Sragen.

Dari ke 6 grup tersebut, muncul sebagai penampil tebaik diraih Kabupaten Semarang, disusul Kabupaten Pati dan urutan ke 3 diraih Kabupaten Sukoharjo.

Mereka mempunyai kemampuan yang bagus dan merata, seolah seperti bermain apa adanya dan karakter itu diperkuat salah satu anak yang memakai nomor dada, jelas salah satu juri, Eny Haryanti, mengomentari tim dari Kabupaten Semarang. Anak perempuan yang dimaksud adalah Lili. Pelajar kelas 6 SD Sudirman Ambarawa yang bernama lengkap Laellyana Rindi Evelina itu memang mempunyai bakat dibidang seni drama dan pernah menjadi juara dalam lomba dongeng berbahasa jawa.

Saya terkendala dalam menentukan setting peran dan penabuh gamelan, karena tidak mudah menentukan pemain sekaligus sebagai penabuh gamelan, ungkap Septiana, guru sekaligus sutradara dari kontingen Kabupaten Semarang. Sangat bersyukur kami mempunyai anak-anak yang mempunyai talenta yang bagus, jadi semua kendala bisa kami atasi dengan baik, lanjutnya.

FESTIVAL TRADISI LISAN
Kontingen Kabupaten Purbalingga saat menampilkan
tradisi lisan Ipat-Ipat Wayah Sandekala

Sebelumnya, pada Jumat malam (28/7), ditempat yang sama digelar Festival Tradisi Lisan se Jawa Tengah yang diikuti juga 6 tim dari kabupaten/kota perwakilan 6 eks karesidenan di Jawa Tengah. Diantaranya Kabupaten Demak, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Cilacap, Kabupaten  Wonogiri dan Kabupaten Karanganyar.

Tradisi lisan, budaya lisan dan adat lisan adalah pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pesan atau kesaksian itu disampaikan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan dapat berbentuk pantun, cerita rakyat, nasihat, balada, atau lagu. Dalam seni pertunjukan yang difestivalkan, tradisi lisan lebih sering ditampilkan dalam sebuah sajian panggung kolaborasi seni drama, tari, dan musik tradisi.

Muncul sebagai penyaji terbaik dalam Festival Tradsi lisan kali ini diraih Kabupaten Purbalingga, disusul Kabupaten Cilacap dan terbaik ke 3 (tiga) diraih Kabupaten Karanganyar.

Kabupaten Purbalingga yang menjadi penyaji terbaik itu menampilkan sebuah fragmen yang berjudul Ipat – Ipat Wayah Sandekala. Seni pitutur atau tradisi lisan ini menampilkan sebuah cerita rakyat yang mengemas pesan-pesan moral orang tua terdahulu. Pesan ini berupa larangan untuk melakukan suatu aktivitas pada saat pergantian waktu dalam satu hari, yaitu pergantian malam ke pagi, pergantian siang hari, dan pergantian sore ke malam.

Larangan dan wejangan orang tua yang dikalangan anak – anak sekarang banyak dicap sebagai tuntunan kuno, oleh tim kesenian Kabupaten Purbalingga dikemas dengan manampilkan suatu pemasalahan keluarga pada kehidupan masyarakat pedesaan. Permasalahan yang dihubungkan dengan larangan saat sandekala tersebut diselesaikan dan dikupas secara logika sehingga mudah diterima oleh akal pikiran generasi muda di era sekarang. 

Dewan juri kedua festival ini berasal dari praktisi, seniman dan budayawan Jawa Tengah. Diantaranya St. Wiyono, S.Kar dan Agung Kusumo Widagdo, S.Sn, yang merupakan seniman dan koreografer dari kota Surakarta. Kemudian ada Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, penari senior sekaligus pejabat di Biro Kesra Setda Provinsi Jateng, Hanindawan Sutikno, SE, sutradara teataer dari Taman Budaya Jawa Tengah, dan Bambang Permadi AAN, S.Kom, budayawan dari Padepokan Wulan Tumanggal.

Festival ini dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Drs. Bambang Supriyono, M.Pd dan dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Ahmad Husein, SE.

Selasa, 25 Juli 2017

MEMUNCULKAN NILAI-NILAI LOKAL DAN SPIRIT BUDAYA MELALUI SENI TARI


Puluhan peserta didik tingkat Sekolah Dasar seluruh kota Semarang, memenuhi salah satu ruang di SDN 02 Srondol Kulon, Selasa (25/7). Mereka adalah perwakilan dari 16 kecamatan di wilayah kota Semarang yang sedang beradu kreativitas dalam sebuah lomba tari.

Tiap regu berjumlah 3 anak dengan membawakan sebuah tari kreasi/ciptaan baru yang berangkat dari kreativitas, sesuai dengan tingkatan usia dan psikologi anak, baik gerak, tema, kostum, tata rias serta memunculkan nilai-nilai lokal dan spirit budaya kota Semarang, sehingga kekuatan tradisi dan kekayaan budaya lokal tersaji dengan jelas. 

Lomba tari ini adalah satu dari 9 lomba yang tergabung dalam sebuah kegiatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SD, yang telah menjadi kegiatan tahunan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang.  

Yang menjadi tema dalam lomba tari kali ini yaitu mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan dunia anak-anak dan kekhasan daerah setempat tentang cinta alam lingkungan, kepedulian sosial, kebersamaan dalam perbedaan, dan permainan anak-anak.

Tujuan diadakan lomba tari ini untuk memberikan wadah bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas seni dalam bidang seni tari. Selain itu juga untuk mengembangkan imajinasi, kepercayaan diri dan kepribadian siswa secara optimal, meningkatkan apresiasi dan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai budaya bangsa, dan membina rasa tanggung jawab serta kerjasama anara siswa dan guru dalam proses kreativitas seni tari.

Muncul sebagai penampil terbaik diraih nomor undi 05 dari SDN Manyaran 01 mewakili kecamatan Semarang Barat, dengan menampilkan Tari Sesarengan yang artinya kebersamaan. Disusul nomor undi 10 dari SDN Jomblang 01 mewakili kecamatan Candisari dengan Tari Sekolah. Dan penampil terbaik ke 3 (tiga) diraih nomor undi 16 dengan menampilkan Tari Reresik.

Selain Lomba Tari, ada 8 jenis lomba lainnya pada FLS2N Kota Semarang. Diantaranya Lomba Menyanyi Tunggal, Lomba Pantomim, Lomba Baca Puisi, Lomba Pidato Bahasa Indonesia, Lomba Gambar Bercerita, Lomba Membuat Kriya Anyam, Lomba Musik Pianika, dan Lomba Baca Al Qu'ran.

FLS2N
Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan bagian dari sistem pendidikan yang menyeluruh dalam rangka pembinaan karakter anak agar tumbuh dan berkembang secara seimbang baik jasmani maupun rohani. Pembinaan karakter anak yang dimaksudkan meliputi penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan kepribadian, moral, religius serta memilki keterampilan hidup menuju generasi muda yang potensial. 

Kegiatan  (FLS2N-SD) bertujuan untuk memberikan wadah berkreasi dengan menampilkan karya kreatif dan inovatif peserta didik sekolah dasar dengan mengedepankan sportivitas dalam pengembangan diri secara optimal sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan. 

Di sisi lain kegiatan FLS2N-SD diharapkan dapat meningkatkan kreativitas, dan memotivasi peserta didik untuk mengekspresikan diri melalui kegiatan sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Melalui kegiatan FLS2N-SD ini pula diharapkan dapat tetap terpeliharanya semangat dan komitmen para praktisi pendidikan di daerah, sehingga memungkinkan mereka selalu berupaya mengembangkan proses pendidikan khususnya bidang seni dan budaya. 





Minggu, 23 Juli 2017

MENGGALI KULINER BERBAHAN JAGUNG DENGAN CITA RASA TEMPO DULU

Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 22 dan 23 Juli 2017 mengadakan kegiatan Pameran Produk Unggulan dan Potensi Daerah Jawa Tengah dan Lomba Makanan khas se Jawa Tengah di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini "Indonesia Indah" Jakarta.

Kegiatan ini sebagai upaya mempromosikan kuliner Jawa Tengah untuk masyarakat luas dan diversifikasi makanan non beras dengan alternatif antara lain jagung. Dimana hasil pertanian jagung di Jawa Tengah sangat berlimpah.

Event ini juga untuk menciptakan peluang usaha dengan memanfaatkan potensi pangan lokal yang ada di Kabupaten/Kota, sehingga menjadi bagian dari tujuan wisata khususnya kuliner tradisional.

Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkaya tujuan wisata dengan menghadirkan beragam makanan khas daerah yang disajikan baik direstoran, waralaba dan dikenal luas karena menjadi hidangan di hotel – hotel berbintang.

Acara ini juga untuk mempromosikan kepada masyarakat Jakarta dan sekitarnya tentang aneka produk unggulan/Craft khas Jawa Tengah, menggali kreatifitas pekerja seni Kabupaten/Kota agar menghasilkan produk yang indah dan mewakili daerahnya, serta untuk menggiatkan UKM/home Industri seni karya dan kreatif.

Pameran Produk Unggulan dan Potensi Daerah Jawa Tengah mengambil tema "Aneka Produk Unggulan Khas Jawa Tengah”, serta tema Lomba Makanan Khas Jawa Tengah "Menggali Kuliner Berbahan Jagung dengan cita rasa tempo dulu (tradisional) dan layak menjadi sajian di Hotel berbintang"

Dalam Pameran Produk Unggulan dan Potensi Daerah Jawa Tengah ada beberapa point penting dalam kriteria penilaian diantaranya original (keaslian sesuai daerah), kerapihan/keindahan, kreatifitas batik dan tenun, dekorasi stand. Adapun kriteria Lomba Makanan Khas Jawa Tengah adalah cita rasa, original/otentisitas, penampilan/penyajian dan kreatifitas, dan keamanan pangan.

Penentuan pemenang Pameran Produk Unggulan dan Potensi Daerah Jawa Tengah ada 2 kategori. Kategori Batik sebagai “Craft” Juara I, II, III, Harapan I II, III, kategori Tenun sebagai “Craft” Juara I, II, III, Harapan I, II, III, sedangkan Kategori Lomba Makanan Khas Jawa Tengah ada 3 kategori. Makanan Kudapan/Appetizer Juara I, II, III, Harapan I, II, III, Makanan Utama/Main Course Juara I, II, III, Harapan I, II, III, Minuman Tradisional Juara I, II, III, Harapan I, II, III

Dalam Lomba Makanan Khas ditunjuk Tim Juri terdiri dari Chef Barra Radja Pattirajawane (Chef Executive), Ibu Ir. Krisnawati Ekananta Oetoyo, M.P. dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Bapak Nuansa Herwindo (Tata Saji dan Garnis).

Juri Pameran Produk Unggulan dan Potensi Daerah Jawa Tengah adalah Bapak Budi Prasetyo, S.H., M.M. (Kementerian Dalam Negeri RI), Ibu Ratna Kawuri, S.H. (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah) dan Ibu Sumartini, S.H., M.Hum. dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah Provinsi Jawa Tengah.

Acara ini dibuka oleh Sekda Jawa Tengah Dr. Ir. Sri Puryono Karto Soedarmo, MP dilanjutkan dengan pementasan duta seni Kabupaten Boyolali Sendratari Misteri Gunung Bibi, Tari Topeng Ireng, Tari Elang, Campursari, musik dangdut bertempat di Pendopo Agung Anjungan Jawa Tengah, Sabtu (22/7).

Pemenang diumumkan pada hari Minggu (23/7) diawali dengan Jalan Santai Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah bersama Paguyuban Jawa Tengah, Lomba Membatik Motif Jawa Tengah dan Peragaan Busana Adat Jawa Tengah.


Sumber  : Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah

    

 




 



SEGALA AKSI INTOLERANSI HARUS DILAWAN, BEGINI CARANYA

Perkembangan situasi politik dan sosial masyarakat sering menimbulkan permasalahan yang menyangkut perbedaan. Kerap sekali perbedaan suku, ras dan agama/keyakinan yang seharusnya disyukuri sebagai potensi kekayaan dan kekuatan bangsa, oleh segelintir orang dijadikan sebagai senjata untuk meraih kekuasaan. Politisasi agama seolah menjadi jurus jitu untuk menggebug lawan politik. Hal ini terlihat jelas pada Pilkada DKI tahun lalu.

Menurut Dirut LBH Yogyakarta, Hamzal Wahyuddin, SH, data statisitk menunjukkan bahwa ada 3 (tiga) provinsi di negeri yang rawan akan tindakan intoleran dalam hal beragama dan berkeyakinan, yakni Jawa Barat, NAD dan DIY.

Tentu ini menjadi perhatian yg menarik, mengapa daerah dengan kultur budaya dan keberagaman yang bercorak bisa sering terjadi tindakan-tindakan tersebut. Ketika ditelusuri mendalam setiap kasusnya, biasanya terjadi dari hal-hal kecil semisal kesadaran masyarakat yang menolak keberagaman.

Uniknya lagi ada beberapa kasus yang ada dan timbul tenggelam, ketika menjelang proses "pertarungan politik" didaerah, sebut saja Pilkada misalnya.

Untuk itu Lembaga Bantuan Hukum (LBH) DIY menggelar seminar dan pelatihan Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Acara ini dilaksanakan selama 4(hari) sejak Kamis (20/7) sampai dengan Minggu (23/7), di Hotel Grand Sarila, Sleman.

Acara ini diikuti 25 peserta diantaranya perwakilan dari Gusdurian, Pemuda Muhammadiyah, NU, Syiah, Ahmadiyah, Penghayat Sapta Darma, PLUSH (LGBT), dan Difabel DIY. Beberapa perwakilan akademisi juga diikutkan diantaranya dari UIN, UII, UGM, UKDW dan Univesitas Sanata Darma.

Selain Dirut LBH Yogyakarta, hadir juga sebagai pembicara dari Alisansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), Agnes Heing Ratri, aktivis HAM Emanuel Gobay, advokat LBH Yogyakarta Yogi Zul Fadli, SH, MH dan Anastasya Kiki, SH.

 

Jumat, 21 Juli 2017

TINGGAL MENGHITUNG HARI, BAHAN AJAR PENDIDIKAN UNTUK PENGANUT KEPERCAYAAN SEGERA DITERBITKAN

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
dan Tradisi, Dra. Sri Hartini, M.Si, saat memberikan sambutan
Setelah disusun oleh tim ahli, Bahan Ajar Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa secara resmi akan bisa diberikan kepada peserta didik penganut kepercayaan.

Bahan ajar ini disusun sebagai tindak lanjut diterbitkannya Permendikbud No. 27 Tahun 2016 Tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Pada Satuan Pendidikan. Sehingga bahan ajar tersebut secepatnya segera diterbitkan guna mengejar kebutuhan pendidikan bagi peserta didik penganut kepercayaan sebagai penggati pelajaran pendidikan agama dan budi pekerti.

Sebelum diterbitkan, bahan ajar tersebut harus di uji publik, dan untuk pertama kalinya Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI menggelar uji publik bahan ajar tersebut di Hotel Grand Candi Semarang selama 2 hari, yaitu Kamis (20/7) dan Jumat (21/7).

Acara ini diikuti 50 peserta yang terdiri dari Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, Guru, Pengawas Sekolah dan Penyuluh Kepercayaan, mewakili wilayah Indonesia bagian barat meliputi Sumatera, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY.

Foto bersama dengan Dra. Sri Hartini, M.Si
dan Tim Penulis Bahan Ajar.
Uji publik ini tidak untuk merubah struktur melainkan bertujuan untuk memperkuat atau mempertajam hasil yang telah disusun oleh tim penulis, jelas Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Dra. Sri Hartini, M.Si.

Diharapkan, kedepan acara seperti ini lebih diperbanyak pesertanya dari unsur Pengawas Sekolah, agar distribusi informasi bisa lebih cepat dan tepat sasaran ke sekolah-sekolah, terutama yang ada di daerah, tambahnya.

Bahan ajar yang diperuntukkan peserta didik SD, SMP dan SMA/SMK ini disusun oleh tim penulis yang terdiri atas 6 tenaga ahli. Mereka berasal dari para akademisi yang diantaranya juga merupakan pelaku budaya spiritual atau penganut kepercayaan yang biasa disebut sebagai penghayat.

Diantaranya adalah Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum, Guru Besar FBS UNY sekaligus sebagai ketua tim penyusun. Dr. Sumiyati dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud RI yang baru saja purna tugas. Dr. Andri Hernandi, dosen di ITB yang sekaligus sebagai Presidium MLKI. Kemudian Dr. Abdul Latif Bustami, Doktor Antropologi Universitas Indonesia yang sekarang menjadi Lektor Kepala, dosen UM (Universtitas Negeri Malang). Kemudian Ir. Sumarwanto, dosen UNTAG Semarang dan Drs. Widodo Sih Mirmanto, staf WK1 Bidang Kurikulum SMKN 7 Semarang.

"Semoga bahan ajar ini segera diterbitkan, agar kami yang dilapangan punya pegangan yang resmi", ungkap Sukma Dewi Nawangwulan, yang akrab disapa dengan Dewi. Dewi merupakan salah satu Penyuluh Kepercayaan yang saat ini tengah mengajar pendidikan Kepercayaan di 4 Sekolah di Kabupaten Cilacap, diantaranya SDN Margasari 01, SMPN Kedungreja 03, SMPN Gandrungmangu 03 dan SMK Yos Sudarso, Sidareja.

Ketua penyelenggara, Sjamsul Hadi, SH, MM, saat memberikan
sambutan didampingi Ketua BKSP Jawa Tengah, Ir. Hertoto Basuki

Ini merupakan pertama kali Bahan Ajar Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa diuji publik, rencana tahap kedua akan dilaksanakan pada bulan depan di Surabaya yang meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, NTT dan Sulawesi, jelas Sjamsul Hadi, SH, MM. Kasubdit Pembinaan Tenaga Kepercayaan dan Tradisi selaku ketua penyelenggara, dalam sambutan penutupan, Jumat siang(21/7).

Acara Uji Publik ini juga dihadiri Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Drs. Mulyono, M.Pd, dan Ketua BKSP Jawa Tengah, Ir. Hertoto Basuki.

Kamis, 20 Juli 2017

SEBUAH KEMUNDURAN PEMAHAMAN, JIKA TERJADI PENOLAKAN SAAT BUDAYA SPIRITUAL DITAMPILKAN DI RUANG PUBLIK

Agar masyarakat luas bisa mengerti dan memahami tentang makna budaya spiritual, maka kami mengharap pihak pemerintah, dari pusat sampai ke bawah untuk melaksanakan sosialisasi regulasi tentang layanan bagi penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga tidak ada lagi kejadian yang menimpa mahasiswa kami saat menggelar pertunjukkan seni Sintren ritualnya ditampilkan secara utuh dan lengkap, mengalami penolakan dari kepala desa tempat dia melaksanakan kuliah kerja nyata.

Hal tersebut adalah salah satu usulan dari Dr. KRT. Purwo Sasongko, M.Pd, penasehat kepercayaan Kejawen Maneges, yang menjadi peserta dalam acara Pengamalan Penghayatan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang digelar di Hotel Winner Pemalang, 19-20 Juli 2017.

Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah ini diikuti perwakilan organisasi kepercayaan dan dinas yang membidangi kebudayaan se wilayah eks karesidenan Pekalongan. Diantaranya Kab. Batang, Kab. Pemalang, Kota Pekalongan, Kab. Pekalongan, Kota Tegal, Kab. Tegal, dan Kab. Brebes.