Senin, 28 Agustus 2017

LOMBA GUNUNGAN HASIL BUMI MERIAHKAN GREBEG AGUSTUSAN



Ratusan warga siang itu, Minggu (27/8) berduyun-duyun, sambil memakai berbagai busana adat dan profesi, menuju sebuah lapangan di perumnas Tlogosari, Semarang. Tampak beberapa pemuda mengusung gunungan hasil bumi yang telah di kreasi sehingga menarik perhatian warga.

Mereka adalah warga RW 21 Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang yang ikut meramaikan kegiatan tahunan yaitu upacara tradisi Grebeg Agustusan.

Setiap RT masing-masing membawa 1 gunungan, yang berisi hasil bumi dengan kreativitas mereka sendiri untuk dinilai dalam kegiatan ini. Hasil penilaian diumumkan diakhir grebeg, sebelum rebutan gunungan.

Sebelum grebeg dimulai, diawali dengan tampilan tari Semarangan yang diperagakan oleh pemenang lomba tari Semarangan yang diadakan semalam sebelum Grebeg. Dilanjutkan tampilan pemenang lomba menyanyi. Selanjutnya tampilan tari Gatotkaca.

Grebeg dilepas oleh Camat Pedurungan mewakili walikota Semarang dengan melepas kumpulan balon merah dan putih.

Diakhir Grebeg, sebelum rebutan gunungan, ditampilkan atraksi seni rakyat Rego Ponorogo yang diperagakan secara apik oleh Sanggar Reog Singo Wijoyo Mudo, dari Banyumanik, Semarang.

Minggu, 27 Agustus 2017

MENCIPTAKAN SATRIO UTOMO MELALUI DIKLAT GENERASI MUDA KSD

Untuk pertama kalinya, Persada (Pesatuan Warga Sapta Darma) Jawa Tengah, melaksanakan kegiatan kepemudaan di Kabupaten Semarang, tepatnya di Stiper Edu Agro Tourism, Bawen.

Kegiatan yang bertajuk "Pendidikan dan Pelatihan Remaja Kerokhanian Sapta Darma" ini digelar selama 3(tiga) hari, mulai hari Jumat (25/8) hingga Minggu (27/8).

Diklat yang diikuti kurang lebih 50 peserta generasi muda Kerokhanian Sapta Darma (KSD) se Jawa Tengah dan DIY ini dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang.

Diklat seperti ini memang baru pertama kali ini kami laksanakan, semoga dengan kegiatan ini mampu menggugah semangat para generasi muda khususnya remaja KSD, untuk menjadi manusia yang berbudi luhur, berkarakter kebangsaan dan meningkatkan kualitas SDM mereka dalam semua bidang, jelas ketua penyelenggara Rahmat Purwantoro.
 

Jumat, 25 Agustus 2017

PERJUANGAN WARGA SUNDA WIWITAN, GAGALKAN EKSEKUSI TANAH ADAT



Puluhan Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan Cigugur melakukan aksi tidur di jalan menuju lokasi eksekusi, di Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis pagi (24/8/2017).

Aksi ini merupakan bagian dari perjuangan yang dilakukan warga adat untuk menjaga sekuat-kuatnya bangunan yang akan dieksekusi. Padahal bangunan tersebut merupakan bagian wilayah cagar budaya.

Okki Satria, koordinator aksi menceritakan perjuangan yang dilakukan warga adat mempertahankan lahan dan bangunan yang menjadi bagian dari sejarah Sunda Wiwitan di Cigugur Kuningan.

Tahun 1976, kata Okky, Yayasan Tri Mulya mengajukan perlindungan Gedung Paseban Tri Panca Tunggal sebagai cagar Budaya.

Lalu, melalui SK Direktur Direktorat Sejarah dan Purbakala Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No 3632/C.1/DSP/1976, bangunan tersebut ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional.

Namun di tahun 2009, masyarakat adat dirugikan atas putusan pengadilan yang akan mengeksekusi Tanah Adat blok Mayasih. Putusan itu tertuang dalam Putusan Pengadilan Negeri Kuningan No.07/Pdt.G/2009/PN.Kng tanggal 18 Januari 2010 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No.82/Pdt/2010/PT.Bdg tanggal 5 Mei 2010 jo. Putusan Mahkamah Agung RI No.2394K/Pdt/2010 tanggal 12 Januari 2012 jo. Putusan PK No.21 PK/Pdt/2014 tanggal 18 Juni 2014.

"Majelis Hakim telah keliru memahami objectum litis-nya, karena memahami objectum litis-nya sebagai sengketa waris," tutur Okky.

Padahal, sambung Okky, objectum litis-nya bukan sengketa soal waris, melainkan sengketa atas Perbuatan Melawan Hukum (PMH) yang terjadi di internal masyarakat hukum adat.

Atas kekeliruan dalam pertimbangan hukum tersebut berdampak hilangnya tanah milik adat hanya atas dasar pernyataan dan keterangan pihak ketiga (mantan juru tulis) yang tidak jelas dan tidak mendasar pada sejarah.

"Sementara kesaksian dari Pupuhu Adat yang mengetahui asal-asul tanah di persidangan tidak menjadi pertimbangan hukum. Karena keterangan beliau saat itu tidak disumpah dikarenakan menganut Agama Leluhur Sunda Wiwitan," tegas Okki.

Pada 22 Februari 2017 sebagai bentuk perjuangan untuk mengembalikan hak atas tanah adat dan hutan adat, warga adat mengajukan gugatan Perlawanan/Derden Verzet terhadap putusan Peninjauan Kembali No.21PK/Pdt/2014, tanggal 18 Juni 2014 dengan perkara No. 05/Pdt.Plw/2017/PN.Kng. Alasannya, objek sengketa merupakan bagian wilayah cagar budaya, sehingga perlu komunitas Kesatuan Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan, menggunakan hak hukumnya untuk menunda bahkan menolak eksekusi.

Apalagi, eksekusi ini bisa menimbulkan kerusakan baik fisik, maupun nilai-nilai yang menyertai cagar budaya tersebut. Karena bagaimana pun, bangunan tersebut tidak bisa dipisahkan dari nilai sejarah komunitas adat.
Pemohon eksekusi, sambung Okky, ternyata tidak memiliki legal standing kedudukan hukum untuk mengajukan gugatan/permohonan eksekusi.

Sedangkan termohon eksekusi, menempati dan tinggal di objek sengketa atas perintah dari Sesepuh Adat P Tedja Buana pada tahun 1973, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum.
Adapun objek sengketa merupakan tanah komunal Mayarakat AKUR Sunda Wiwitan berdasarkan amanat pendiri komunitas bahwa semua tanah dan asset (termasuk Objek sengketa) tidak dapat dibagi waris.
Bangunan yang hari ini akan dieksekusi, sambung Okky, adalah sebuah bangunan yang ditempati (bukan dimiliki) keluarga keturunan almarhum Kusnadi.

Bangunan tersebut digunakan untuk menyimpan alat pusaka, antara lain gamelan pusaka, wayang kulit, golek, dan lainnya. Keluarga keturunan Kusnadi inilah yang menjaga, merawat, sekaligus mengembangkan kebudayaan di Paseban Tri Panca Tunggal.



 Sumber : kompas.com



Sabtu, 19 Agustus 2017

NTT, JUARA UMUM PARADE TARI NUSANTARA KE 36

Jemmy (memakai Ti’ilangga, topi khas NTT) bersama para penari
Nusa Tenggara Timur, mampu menunjukkan kemampuannya sejajar dengan provinsi favorit lainnya, menjadi juara umum dalam ajang bergengsi "Parade Tari Nusantara" ke 36 (Tahun 2017) di Sasana Langen Budaya, TMII, Sabtu (19/8).

Melki Jemry Edison Neolaka, atau yang akrab dipanggil Jemmy Neolaka, melalui karyanya "Mula Hai Ngae" mampu memoles para pelajar SMA ini untuk tampil memukau dihadapan para penonton bahkan dewan juri. Lulusan ISI Yogyakarta ini mampu memberikan energi, tidak hanya power pada setiap gerak tetapi juga sentuhan tata rias dan busana sebagai pendukung tampilan. 

Parade Tari Nusantara yang merupakan perhelatan akbar tahunan ini dibuka Direktur Budaya TMII, Drs. Sulistyo Tirtokusumo, MM. Dalam acara pembukaan, ditampilkan juga secara apik prosesi penyerahan Piala Bergilir Juara Umum Tahun lalu dari provinsi Bali, yang dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, AA Yuniartha Putra kepada Direktur Budaya TMII.

Minggu, 13 Agustus 2017

GERRY DAN SEPTI TEPILIH MENJADI KAKANG DAN MBAKYU BLORA 2017

Gerry dan Septi
Gerry dan Septi, akhirnya terpilih menjadi Kakang dan Mbakyu sebagai Duta Wisata Kabupaten Blora tahun 2017. Mereka berhasil melewati semua tahap penilaian hingga pada malam Grand Final Sabtu malam (12/8). Nantinya mereka akan mewakili Blora ke kancah yang lebih tinggi, yaitu Pemilihan Mas dan Mbak Jawa Tengah.

Gerry, yang bernama lengkap Mas Frilian Gerry Hutama A merupakan pelajar dari SMA N 1 Blora. Dari 18 peserta putera, dia berhasil mengumpulkan nilai tertinggi setiap sessi penilaian yang dilaksanakan selama 3 hari, sejak hari Kamis (10/8) sampai dengan Sabtu malam (12/8). Di puncak acara, malam grand final, Gery yang bernomor undi 9 menampilkan bakatnya dalam memainkan tari Barongan Blora, yang merupakan kesenian rakyat khas kota Blora.

Septi, yang bernama lengkap Septiya Risqi Umami juga pelajar dari SMA N 1 Blora. Dia tampil anggun dengan kebaya biru tuanya dan nomor undi 24 di dada kirinya. Saat uji talent dia pun mampu memukau para penonton, dewan juri, bahkan hingga Bupati Blora Joko Nugroho yang hadir pada malam itu, dengan menampilkan tari Batik Mustika. Gerakan gemulai dan lincah gayanya, terlihat dia telah mempersiapkan dan belajar seni tari sejak kecil.

3 finalis terbaik, saat foto bersama dengan Bupati Blora
Joko Nugroho beserta istri
Perjuangan Septi untuk mencapai puncak tertinggi lebih berat dibandingkan Gerry. Dia harus bersaing dengan 25 peserta putri lainnya yang diantaranya sudah bersatus sebagai mahasiswi.

Untuk finalis terbaik kedua diraih Yulian Amiftahkul Ibra dan Reka Pitaloka. Sedangkan terbaik ketiga diraih Hilali Fahrian dan Fitri Inda Anggraeni.

Ajang Pemilihan Kakang dan Mbakyu Kabupaten Blora ini merupakan agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Blora, melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar).










Jumat, 11 Agustus 2017

PEMKOT SEMARANG FASILITASI SARASEHAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN

Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kamis Pahing kemarin (10/8) menggelar Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Gedung Mr. Moch Ikhsan Lt. 8, kompleks Balai Kota Semarang.

Sarasehan ini diikuti oleh 80 peserta yang merupakan perwakilan dari organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa se Kota Semarang dan perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Hadir sebagai pembicara pada sarasehan ini, Kasi Pemberdayaan Kepercayaan, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kemendikbud RI, Lita Rahmiati, S.Sos, M.Pp, Dewan Pakar MLKI Ir. Hertoto Basuki dan Budayawan Jawa Tengah Drs. St. Sukirno, M.S. Acara ini dimoderatori oleh Bambang Permadi AAN, S.Kom, dari Perguruan Trijaya.

Sarasehan ini sebagai media komunikasi, antara pemerintah dengan warganya, dalam hal ini para pelaku sekaligus pelestari budaya spiritual lokal, atau penganut kepercayaan yang biasa disebut dengan penghayat, jelas Siky Handini Wedariwati, SH, Kasi Sejarah dan Cagar Budaya, Disbudpar Kota Semarang sekaligus sebagai ketua penyelenggara sarasehan ini.

Sarasehan Penghayat ini merupakan kegiatan tahunan yang masuk dalam Program Pengelolaan Budaya Lokal pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. Sejak saya masuk Disbudpar tahun 2013, setiap tahun kegiatan ini kami ajukan dan sampai saat ini sudah terlaksana 3 kali, tambahnya.

Lita Rahmiati, saat menjawab pertanyaan
dari peserta sarasehan
Pada kesempatan ini, banyak pembahasan dan tanya jawab tentang layanan hak sipil untuk warga kepercayaan, khususnya yang akhir-akhir ini menjadi berita hangat yaitu layanan penddidikan. Lita menjelaskan saat ini bahan ajar untuk peserta didik penganut kepercayaan dalam proses uji publik, dan harapan kita semua bisa segera diresmikan sehingga secepatnya bisa digunakan sebagai pedoman pembelajaran.

Sebelumnya, acara dibuka oleh Sekdisbudpar Kota Semarang, Herawan Sasoko, SH dan dilanjutkan dengan tampilan tari Roro Ngigel dari Sanggar Sobokarti asuhan Totok Pamungkas.

Tari Roro Ngigel dari Sanggar Sobokarti Semarang