Senin, 18 September 2017

6 MAESTRO TARI NUSANTARA BERBAGI PANGGUNG DI PENDOPO PURA MANGKUNEGARAN

Festival Payung Indonesia (FPI) 2017 yang digelar di Pura Mangkunegaran Solo, ditutup dengan pentas bersejarah, Minggu (17/9) malam. Enam maestro tari Nusantara berbagi panggung, diantarnya Rusini (69) dari Solo, Ayu Bulantrisna Djelantik (70) dari Bali, Retno Maruti (70) dari Jakarta, Munasiah Daeng Jinne (76) dari Makassar, Dariah (89) dari Banyumas, dan Didik Nini Thowok (62) dari Jogja. Dalam kemegahan Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, gemulai tari mereka menunjukkan konsistensi yang tak pernah mati.

Rusini membuka pentas dengan tarian yang diciptakan sendiri berjudul Roncen. Keindahan permainan anak-anak pada era 50-an tergambar dari gerak tubuhnya. Mengenakan kebaya panjang warna hitam, ia mempercantik penampilannya dengan selendang merah muda. Pencipta karya besar seperti Ronggolawe Gugur, Harya Penangsang Gugur, dan Tanding Parangkusuma ini berhasil menampilkan karya menakjubkan selama seperempat jam.

Selesai dengan tari yang penuh dengan kelembutan, Ayu dari Bali menyemarakkan suasana dengan musik ramai mengiringi Joget Pingitan. Gerak sakral yang biasanya ditujukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kesuburan tanah ini ditampilkan dengan penuh kegembiraan.

Ayu Bulantrisna Djelantik adalah cucu dari Anak Agung Anglurah Djelantik yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Karangasem, Bali. Guru yang dipanggil oleh sang kakek untuk mengajar tari antara lain Bagus Bongkasa dan Gusti Biang Sengog. Bulantrisna kecil mengenal tari tradisional Bali ketika usia 7 tahun dan pada saat usianya menginjak 10 tahun Bulantrisna diundang oleh Presiden Soekarno ke Istana Presiden di Tampaksiring, Gianyar, Bali untuk menghibur para tamu Istana.

Saat usia 11 tahun, Bulantrisna pernah menari Oleg di Jakarta untuk pertama kalinya. Menurut Bulantrisna menari merupakan pelepasan emosi, kreativitas, kegembiraan, bergerak dengan penuh penjiwaan, dan sebagai sarana berdoa. Kecintaan Ayu Bulantrisna Djelantik pada tari tak hanya sebatas gerak saja, tetapi ia juga mendirikan bengkel tari yang diberi nama "Ayu Bulan" pada tahun 1994. Salah satu kreasi tari ciptaan yang telah dibuatnya ialah tari Legong Asmarandana.
Urutan ketiga, maestro tari dari Solo yang telah lama menetap di Jakarta ini tak kalah gemulai. Retno Maruti yang malam itu dengan gaya tari jawa dan berproperty payung klasik seolah menunjukkan bahwa usia tak berpengaruh dengan keindahan gerak tarinya. Mengenakan kebaya warna ungu semakin memperlihatkan seolah dia kembali muda puluhan tahun.

Istri penari senior Sentot Sudiharto ini telah banyak menorehkan karya tari. Langendriyan Damarwulan, Abimanyu Gugur, Roro Mendut , Sawitri, Palgunadi, Rara Mendut, Sekar Pembayun, Keong Emas, Begawan Ciptoning, Kongso Dewo, Dewabrata, Surapati, Alap-alapan Sukesi, Portraits of Javanese Dance dan Bedaya Legong Calonarang

Tak sekadar pentas, Munasiah asal Makassar yang tampil di nomor keempat menunggu-nunggu malam istimewa tersebut. Ketika memulai tari Pakkarene Pajoge, ia seperti bernostalgia di era 50-an. Saat itu sebagai penari Presiden Sukarno, ia masih sering diajak keliling Nusantara, salah satunya di Pura Mangkunegaran.
“Saya masih ingat dulu terakhir pentas di Mangkunegaran sekitar tahun 50-an. Ini seperti nostalgia. Saya mengulang kembali sejarah perjalanan kepenarian saya saat masih menemani presiden dulu,” kata nenek dengan 53 cucu yang masih aktif menari tersebut.

Penuh kehati-hatian, peraih penghargaan presiden pada 2012 ini khusyuk menari selama hampir 20 menit. Tarian yang menceritakan tentang bidadari turun dari kahyangan dipentaskan tunggal dengan live music Makassar. Senada dengan tema acara, Munasiah juga membawa payung emas Teddung Mpulaweng asli dari Kerajaan Luwuk.

Semangat Munasiah mengulang kembali sejarah kepenariannya juga dirasakan generasi terakhir lengger lanang dari Banyumas, Dariah. Tarian Lengger Lanang yang telah membesarkan namanya dipentaskan dengan durasi lebih pendek. Sempat terlihat bingung, penari bernama asli Saddam ini spontan memulai gerak Lengger Lanang saat mendengar pukulan kendang. Tariannya berlanjut mengikuti iringan calung yang dipentaskan secara langsung.

Dariah yang telah menasbihkan dirinya sebagai perempuan Lengger ini memang sudah tak segesit dulu. Bahkan saat diwawancara seusai pentas ia agak sulit diajak komunikasi kecuali dengan suara keras. Namun, menurut cucu yang malam itu ikut mendampingi, Nur Kholifah, ia selalu siap sedia kalau diajak pentas. Setelah Solo, ia dijadwalkan mengisi pergelaran seni memperingati Bulan Sura di Banyumas.

Sebegai penari terakhir, Didik Nini Thowok menggemparkan Pura Mangkunegaran dengan kepiawaiannya. Tari khas topeng yang dikreasi dengan tampilan humor dan kelentikkan geraknya memecahkan suasana yang semakin malam itu. Kombinasi berbagai tari terlihat diantaranya tari jawa, tari bali, tari jaipong, cirebonan, banyumasan dia kemas dengan apik. Tak ketinggalan, ganti busana dan property nya pun dia suguhkan diatas panggung.

Selesai mempersembahkan tarian, mereka dianugerahi penghargaan sebagai maestro tari dari FPI 2017 bersamaan dengan beberapa para pengrajin payung. Anugerah tersebut diserahkan oleh KGPAA Mangkunegara IX.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar