Selasa, 31 Oktober 2017

HARI PEMUDA 2017 : BANGUNLAH JIWANYA, BANGUNLAH RAGANYA UNTUK INDONESIA RAYA

Padepokan Wulan Tumanggal yang terletak di kaki gunung Slamet, Sabtu kemarin (28/10) sontak ramai oleh sorak sorai penonton pada pertandingan beberapa cabang olah raga. 

Di dalam gedung serba guna bernama Samora (Sasana Among Raga) diramaikan oleh lomba bulutangkis, sedangkan di Sinangling (nama kolam renang di Padepokan Wulan Tumanggal) tak kalah serunya karena ada lomba renang yang diikuti oleh peserta dengan segala usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Sedangkan di pondok kopi Sasaling (kantin) diramaikan babak penyisihan lomba catur.

"Tujuan kami mengadakan Lomba olah raga yang tepat di hari Pemuda ini adalah untuk membangkitkan kembali semangat berolah raga. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, Pemuda masa kini banyak menghabiskan waktu dengan smartphone-nya, sehingga kurang akan aktivitas fisik dalam bentuk olah raga. Waktu istirahat di sekolah tak lagi digunakan untuk bermain di lapangan dan lebih banyak didepan gadget", jelas ketua panitia, Wisnu Widya Permana.

Dia juga menjelaskan bahwa pemuda dan olah raga adalah satu paket. Sebagai pelaku budaya spiritual, selain berupaya membangun generasi muda yang ber- jiwa nusantara, kita juga jangan sampai lupa menjaga raga untuk selalu sehat dan prima.

Mengutip lirik Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang berbunyi .....Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya, Untuk Indonesia Raya.... , maka dengan lomba ini kami mengajak seluruh Pemuda Indonesia khususnya Generasi Muda Perguruan Trijaya, Anak Alam Nusantara, untuk menjaga stamina dan kekuatan raga kita melalui olah raga, sebagai bekal membangun bangsa dan upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Perlombaan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Pemuda 2017 yang telah dilaksanakan oleh Perguruan Trijaya secara rutin setiap tahunnya. Kali ini kegiatan dilaksanakan selama 3(tiga) hari, mulai Jumat Kliwon sampai (27/10) sampai dengan Minggu Pahing, (29/10).

Bentuk kegiatan ini meliputi Sukuran dilaksanakan pada Jumat Kliwon malam Sabtu Legi, (27/10). Dilanjutkan dengan Upacara Bendera yang dilaksanakan Sabtu Legi (28/10), dan lomba 3 cabang olah raga yang dilaksanakan setelah Upacara Bendera. Malam Minggu Pahing akan dilaksanakan penyerahan Thropy/piala kepada masing-masing Juara Lomba.

"Kami memilih Bulutangkis, Renang dan Catur karena ketiga cabang olah raga tersebut merupakan jenis cabang olah raga yang mempunyai filosofi tinggi yang sangat  bermanfaat untuk kehidupan kita sehari-hari", lanjut Wisnu

Juara 1 dalam lomba bulutangkis perseorangan diraih Wisnu dari Purwodadi, disusul Purwanto dari Pemalang dan Taufik dari Yogyakarta. Untuk Ganda, juara 1 diraih pasangan dari Daerah Purwodadi, disusul dari Daerah Pemalang dan Daerah Padepokan.

Di lomba renang muncul sebagai juara 1 anak-anak putra diraih Tandan dari Tegal, disusul Yoga dari Tegal dan P.Saifullah dari Yogyakarta. Untuk dewasa putra juara 1 diraih Dedy dari Tegal, disusul Tatan dari Jakarta dan Leo dari Tegal. 

Untuk lomba renang anak-anak putri, juara 1 diraih Imelda dari Brebes, disusul Anita dari Yogyakarta dan Nurul dari Jakarta. Sedangkan kelas dewasa putri juara 1 diraih Anin dari Tegal, disusul Nalurita dan Ajeng yang keduanya adalah anggota paskib yang ikut meramaikan perlombaan ini.

Sedangkan pada lomba catur, juara 1 diraih Wisnu dari Purwodadi, disusul M. Taufik dari Yogyakarta dan Siswondo dari Pemalang. 

Trophy kejuaraan ini diserahkan langsung oleh pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryaningrat II pada malam minggu harinya, saat melaksanakan tradisi makan malam bersama dengan menu ayam bakar tanpa bumbu yang secara rutin dilaksanakan di Perguruan Trijaya setiap malam minggu pahing.

Minggu, 29 Oktober 2017

60 GENERASI MUDA IKUTI PEMBINAAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

Sebanyak 60 generasi muda dari 5 kabupaten di Jawa Tengah, menjadi peserta Pembinaan Generasi Muda Penghayat di Hotel @Hom Cilacap. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari sejak Selasa sampai dengan Kamis, 24 - 26 Oktober 2017 

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah bekerja dengan Disdikbud Kabupaten Cilacap.

Kasie Kebudayaan dan Purbakala pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Hermawati menjelaskan kegiatan ini penting agar para generasi muda memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai dalam ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tetap lestari.
Hal ini juga menjadi sarana bagi para sesepuh untuk memersiapkan generasi muda sebagai sebagai penerus ajaran kepercayaan.

“Sebab generasi muda memiliki peran penting dalam pelestarian nilai-nilai kebudayaan termasuk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa” ujarnya. Dijelaskan kegiatan bertema ‘Jadilah Generasi Muda yang Sehat dan Bertanggung Jawab untuk Kemandirian Organisasi Penghayat” ini dibagi dalam beberapa topik materi. Antara lain Perilaku Hidup Sehat bagi Generasi Muda,  Kedisiplinan, Kerja keras dan Bertanggung jawab dalam Olahraga, Sejarah Kepercayaan Terhadap  Tuhan Yang Maha Esa, serta Pengelolaan Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ditambahkan Hermawati, kegiatan juga dilengkapi dengan kunjungan ke beberapa lokasi sesuai tema diantaranya Batik Rajasamas Maos, Sanggar Seni Lengger Nusawungu, dan Perajin Sukun di Jalan Kendeng, Cilacap.

Para peserta merupakan penghayat kepercayaan dari Kabupaten Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, dan Kabupaten Tegal serta perwakilan dari Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Jawa Tengah.

Minggu, 22 Oktober 2017

KIRAB 20 GUNUNGAN DI KETEP PASS

Sabtu Wage (21/10), sebanyak 20 Gunungan berhasil di Kirab di lokasi wisata Ketep Pass, Sawangan, Kabupaten Magelang. Ke 20 Gunungan tersebut mewakili 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang untuk mengikuti Festival Gunungan dalam rangka memeriahkan Ketep Pass Summit Festival.

Event yang ini baru pertama kali dilaksanakan oleh Disdikbud ini merupakan hasil dari kerja sama dengan Disparpora Kabupaten Magelang.

Festival Gunungan ini secara simbolis dibuka oleh Bupati Magelang dengan pemukulan gong dan dilanjutkan dengan penyerahan gunungan stroberry dari Plt. Kepala Disdikbud Drs. Haryono, M.Pd kepada Bupati Magelang. Kemudian dilanjutkan penyerahan bambu oleh Kepala Disparpora Iwan Setiyarso, S.Sos. M.Si. kepada Bupati Magelang, sebagai dibukanya Festival Bambu Lighting yang juga meramaikan event Ketep Pass Summit Festival.

"Acara ini sungguh luar biasa, selain sebagai upaya melestarikan budaya peninggalan leluhur kita, Festival Gunungan ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kunjungan wisata di Kabupaten Magelang", ungkap Bupati Magelang Zainal Arifin sebelum membuka acara ini.

Gunungan yang ditampilkan kali ini diwajibkan memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh panitian diantaranya merupakan hasil bumi yang menjadi ciri khas dari masing-masing kecamatan. Selain itu, gunungan juga harus dikawal oleh bregoda (pasukan) atau kesenian rakyat dengan memakai busana adat jawa atau kostum kesenian dari masing-masing kecamatan.
 
Dari 20 gunungan yang dilombakan, gunungan dari kecamatan Pakis menjadi penampil terbaik dalam festival kali ini. Disusul dari kecamatan Sawangan, dan penampil terbaik ke tiga dari kecamatan Windusari.

Minggu, 15 Oktober 2017

SAAT PARA DUBES MENARIKAN TAYUB BLORA



Meskipun dengan gaya yang terbatas dan sesuai kemampuan dan kemahirannya masing-masing, terlihat para Dubes dan Diplomat negara-negara sahabat begitu senang dan menikmati Tayub. 

Tayub adalah tari pergaulan khas kabupaten Blora, sebuah warisan seni budaya yang bersifat turun temurun.

Tidak main-main, dalam memperagakan Tayub, para Dubes ini dipandu langsung oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho.

Pemandangan ini terlihat pada sebuah Paket Acara Khusus Kabupaten Blora di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam (14/10). Selain Tayub, juga disajikan pula tari Gones Kenes yang ditampilkan 8 gadis cantik sebagai “Welcome Dance”, dan Seni Barongan dengan lakon Gembong Amijoyo Ndungkap.

Barongan Blora merupakan 1 dari 3 karya budaya dari Provinsi Jawa Tengah yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya TakBenda Indonesia Tahun 2017 oleh Kemendikbud Republik Indonesia. 

Jumat, 06 Oktober 2017

OGOH-OGOH DI ALUN-ALUN PURWOREJO

Tari Dolalak, tarian khas Kabupaten Purworejo
Memperingati Hari Jadi Kabupaten Purworejo ke 1116, Pemerintah Kabupaten Purworejo menggelar parade seni yang dipusatkan di Alun-alun sebelah selatan atau depan Kantor Bupati jalan Proklamasi Purworejo, Kamis Pon (5/10).

Parade seni ini diikuti oleh perwakilan 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Purworejo serta 7 kontingen partisipasi dari kabupaten tetangga seperti Kabupaten Magelang, Temanggung, Kebumen, Kulonprogo (DIY), Wonogiri, Kendal, dan Purbalingga. Sebenarnya Kabupaten Pemalang juga hendak mengirim kontingen, namun karena sesuatu hal maka urung berpartisipasi.

Dalam parade seni tersebut banyak yang menampilkan berbagai atraksi kesenian unggulan masing-masing kecamatan, hingga penampilan petikan drama atau cerita babad.

Rute parade seni dimulai dari kawasan SMA Negeri 7 Purworejo menuju jalan Jendral Urip Sumoharjo keutara kemudian belok kiri lewat Jalan Proklamasi depan Kantor Bupati atau panggung kehormatan yang ditempati sejumlah pejabat Purworejo. Setelah menampilkan atraksi seni, peserta kemudian belok kanan melewati depan masjid Agung lurus ke utara kemudian belok kanan lewat perempatan Hotel Inntan. Selanjutnya belok kanan dan finis di Gedung Kesenian Sarwo Edi.

Ogoh - ogoh dari kecamatan Purworejo
Pangamatan di lapangan, dari sekian peserta hanya penampilan kontingen dari Kabupaten Wonogiri dan Kelurahan Doplang selaku perwakilan dari Kecamatan Purworejo yang mendapat perhatian dari penonton. Kabupaten Wonogiri menampilkan kesenian Reog dengan segala atraksinya, sementara Kelurahan Doplang mengusung Ogoh-ogoh. Sedangkan peserta lainya sebagian banyak menampilkan kesenian Kuda Lumping dan tari Dolalak yang mungkin bagi masyarakat Purworejo sudah menjadi tontonan biasa.

Parade seni diakhiri dengan tusukan tombak ke Ogoh-ogoh oleh Bupati Purworejo Agus Bastian dan Wakil bupati Yuli Hastuti. Penusukan Ogoh-ogoh sebagai simbul hilangnya sukerto atau aura negatif di Kabupaten Purworejo.

MENUMBUHKAN KECINTAAN BAHASA JAWA DENGAN TEMBANG MACAPAT

Dalam rangka Bulan Bahasa, Pemerintah Kota Semarang, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar Lomba Tembang Macapat tingkat SMP/MTs se Kota Semarang, Rabu Pahing (4/10).

Lomba yang digelar di Gedung Ki Narto Sabdo kompleks TBRS (Taman Budaya Raden Saleh) Semarang ini diikuti 45 pelajar SMP dan MTs se Kota Semarang.

"Kegiatan ini merupakan upaya Pemkot Semarang melalui Disbudpar untuk melestarikan budaya jawa khususnya bahasa jawa dan menumbuhkan kembali kecintaan akan bahasa jawa di kalangan generasi muda khususnya para pelajar", jelas Siky Handini Wedariwati, SH, Kasi Sejarah dan Cagar Budaya, Disbudpar Kota Semarang sekaligus sebagai ketua penyelenggara.

"Ini sebagai tindak lanjut atas rekomendasi yang dihasilkan dari acara Sarasehan Bahasa Jawa tanggal 23 Maret tahun lalu", lanjut Siky.

Dewan juri terdiri dari pakar, akademisi, dan budayawan Widodo Brotosejati, S.Sn. M.Hum. dari UNNES, Kustri Sumiyardana dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan Ki Mulyono Harjowidodo dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah.

Muncul sebagai penampil terbaik Arianti Radma M dari SMPN 21 Semarang. Juara ke 2 diraih Diana Aisy Nabila dari SMPN 2 Semarang disusul Yudha Dwi Elisa dari SMP Maria Mediatrix. Juara Harapan 1 diraih Andi Bagas Maulana dari SMPN 42 Semarang, Harapan 2 diraih Meilina Fajar Arumsari dari SMPN 29 Semarang, dan Harapan 3 diraih Keisha Kumala Widyastuti dari SMPN 5 Semarang.

TELLING STORY


Hari berikutnya, Kamis Pon (5/10) ditempat yang sama juga digelar lomba Telling Story, atau mendongeng dengan bahasa jawa.

Siky menerangkan, dalam lomba yang baru pertama kali digelar tersebut, peserta menceritakan tentang cerita rakyat yang ada di Jawa Tengah. Untuk materi ceritanya sendiri sudah ditentukan oleh Disbudpar Kota Semarang.

Para peserta yang sebanyak 46 pelajar SMP dan MTs se-Kota Semarang itu bebas memilih tiga cerita, yang terdiri atas Timun Emas, Bawang Merah dan Bawang Putih, dan Legenda Rawa Pening.
Dewan juri lomba ini antara lain Widodo Brotosejati, S.Sn. M.Hum (UNNES), Hartono Samijan (penyusun kamus bahasa Dialek Semarangan - Suara Merdeka), dan Muhamad Fikri, SS (Balai Bahasa).

Hasil sidang dewan juri menentukan sebagai Juara 1 lomba ini diraih Hasna Alifa Zahra dari SMP Al Ashar 14, Juara 2 diraih Iftina Ika Rahmawati dari SMPN 2, Juara 3 diraih Latifah Maulidatil Ulya dari SMP Al Ashar 29. Sedangkan Harapan 1 diraih Regina Ayu Maulida dari SMPN 32 Semarang, Harapan 2 diraih Annisa Diva Karmelia Zahra dari SMP Al Ashar 23, dan Harapan 3 diraih Ghanim Faheema Damayanti dari SMPN 6 Semarang.