Minggu, 05 November 2017

ADAKAH MASA DEPAN PERDAMAIAN LINTAS IMAN DI INDONESIA?


Peserta "Peace Train 2: Jakarta-Surabaya" mengunjungi delapan rumah ibadah agama dan kepercayaan yang berbeda. Selama dua hari berproses bersama, mereka mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan keagamaan dalam atmosfir kebinekaan. Tak jarang berbagai kejutan diperoleh peserta, yang rata-rata masih muda, karena baru mendapat informasi langsung dari sumbernya, yang tidak diketahui sebelumnya.

Peserta dari Jakarta Christian Sugiarto (15) menyampaikan pengakuan bahwa selama ini dirinya abai terhadap eksistensi penganut aliran kepercayaan di Indonesia. Sebab informasi yang ia dapatkan selama ini hanya 6 agama. Sehingga kehadirannya ke Sanggar Candi Busana tempat para penghayat Sapta Darma di Surabaya beribadah dan beraktivitas mempunyai arti tersendiri baginya.

"Jujur saya baru belajar, ternyata keberagaman agama dan kepercayaan itu tidak hanya 6 agama yang diakui (negara), tetapi banyak sekali kepercayaan di Indonesia," ujar pelajar SMA Fons Vitae 1 Matraman Jakarta Timur.

Para peserta Peace Train 2, termasuk Christian, mendapat pengalaman menjumpai langsung komunitas penghayat Sapta Darma sekaligus informasi tentang keberagaman aliran kepercayaan yang ada di Indonesia. Mereka dibawa masuk dalam sejarah dan filosofi agama lokal Sapta Darma sekaligus juga diskriminasi yang dialaminya.

Peserta Peace Train 2 yang berasal dari berbagai daerah, di antaranya Medan, Riau, Makassar, Sorong, Banjarmasin, Jabodetabek, Cirebon, Salatiga, Rembang, Malang, Lamongan, Sidoarjo dan Surabaya, menempuh bersama-sama perjalanan keberagaman dan pergumulan iman, baik lahir maupun batin, dengan menggunakan kereta api.

Mereka dilepas secara simbolis menuju Surabaya Jumat malam (3/11) di Stasiun Gambir oleh beberapa tokoh agama. Sementara di ujung perjalanan religius ini ditutup dengan diskusi membahas tantangan perdamaian lintas-iman Indonesia di kalangan gerakan mahasiswa dan pemuda keagamaan di kantor GP Ansor Minggu petang (5/11) yang dihadiri juga GMKI, GMNI, PMKRI, KMHDI, PMII dan HMI.

Perjalanan religius mereka dimulai hari Sabtu (4/11) dengan mengunjungi sanggar Sapta Darma, kemudian bergeser ke Pura Segara Kenjeran (Hindu), masjid Ahmadiyah dan malam Minggu berkumpul di Masjid Cheng Ho untuk masuk dan melihat secara dekat bangunan rumah ibadah Islam dengan arsitektur Tionghoa. Di halaman masjid ini juga bersama-sama menggelar Pentas Budaya Bhinneka dan Narasi Lintas-iman yang melibatkan banyak pihak dan jaringan.

Minggu pagi (5/11) mereka yang terdiri dari berbagai latar agama mengikuti ibadah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gresik. Beberapa peserta yang menggunakan jilbab maupun santri-santri yang memakai kain sarung, peci atau kopiah dengan khidmat dan tidak canggung bersama-sama menjalani prosesi ibadah. Selama di Gresik mereka mengunjungi juga Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dan klenteng Tempat Ibadat Tri Dharma Kim Hin Kiong Gresik. Setelah itu mereka kembali menuju Surabaya mengunjungi Vihara Buddhayana Dharmawira Centre.

Dari kunjungan-kunjungan itulah selain untuk menimba informasi keagamaan juga menjadi ruang penggalian dan pengembangan nilai-nilai toleransi dan solidaritas lintas-iman.

Perempuan berjilbab dari Pekanbaru Laras Olivia (21) sengaja ikut beribadah di GKI karena didorong rasa ingin tahu bagaimana prosesi ibadah dalam agama Kristen berlangsung.

"Sama sih seperti pengalaman saya ketika beribadah sesuai dengan syariat dalam agama saya. (Ada rasa) kedamaian," ungkap Laras saat menyampaikan kesannya pertama kali memasuki gereja dan mengikuti ibadah agama Kristen.

Mahasiswi Universitas Islam Riau ini menaruh harapan sangat besar terhadap program Peace Train agar menjadi jembatan bagi isu-isu keberagaman. Motivasinya bergabung dalam kegiatan ini karena ingin bersama-sama anak muda lainnya bertekad menjalin kerjasama antar-iman.
"Jangan takut duluan dengan perbedaan iman. Selagi muda jangan tertutup, tapi terbuka, agar tidak termakan hoax (SARA)," demikian pesan yang ia tekankan kepada kalangan milenial.

Sementara santri dari Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Muhammad Abdul Mujib (23) menyampaikan motivasinya mengikuti Peace Train lantaran ingin memahami betul perbedaan agama dengan belajar langsung dari sumbernya. Ia sama sekali tidak khawatir mengikuti program lintas-iman akan memengaruhi dan mengguyahkan keimanannya.

"Selama beragama sebaik-baiknya, tidak usah khawatir dan cemas dengan agama lain. Toh semua agama mengajarkan kasih dan cinta," kata Mujib yang selama mengikuti Peace Train 2 ini selalu memakai kain sarung dan peci putih.

Di hadapan jemaat GKI Gresik dan peserta Peace Train 2 Anick Ht mewakili inisiator program menyampaikan bahwa selama dua kali berjalan (Peace Train sebelumnya digelar di Semarang, Jawa Tengah) ia menyaksikan anak-anak muda demikian senang belajar dan berkarya bersama untuk berproses menjadi duta perdamaian.

Untuk itulah, dengan mengacu pada besarnya sambutan para peserta maupun komunitas agama atau kepercayaan yang dikunjungi serta jaringan kerja lintas-iman yang mendukungnya, Peace Train ke depannya akan dilakukan secara luas ke daerah-daerah di Indonesia. "Sambutan luar biasa ini sangat membanggakan. Melaui Peace Train, Indonesia masih bisa diharapkan dari generasi milenial," tegas Anick.

Meski demikian, Pemimpin Redaksi Inspirasi.co ini tidak menafikan betapa anak muda sekarang rentan sekali ketularan ujaran-ujaran kebencian di media sosial. Hal tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan, sehingga sesuatu yang kecil pun bisa memicu konflik yang demikian besar.

"Peace Train sangat relevan bagi generasi milenial sebagai ruang untuk mengenalkan rumah ibadah dan nilai-nilai keagamaanya kepada mereka dengan cara menularkan energi-energi yang baik," pungkas Anick.



sumber : kabar sejuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar