Sabtu, 02 Desember 2017

"RATU KALINYAMAT" BUKA LOMBA BACA KITAB KUNING

Ratu Kalinyamat, Jumat sore (1/12) membuka lomba baca kitab kuning di Balekambang, Jepara. Tari kolosal yang diikuti 78 penari ini mengangkat cerita tokoh legenda Jepara yaitu Ratu Kalinyamat dalam upaya mengusir penjajah Portugis. 

Tari tersebut merupakan rangkaian acara pembukaan Lomba Baca Kitab Kuning atau yang dikenal dengan istilah MQK (Musabaqoh Qira'atil Kutub) Nasional ke VI yang untuk tahun ini Jawa Tengah menjadi tuan rumah. Tepatnya di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara.

Dwi Laila Sari (22), mengaku sangat senang diberi kesempatan untuk memerankan Ratu Kalinyamat pada acara pembukaan MQK ini. Gadis cantik asal Blitar yang masih kuliah di ISI Solo ini mengaku hanya berlatih 3 kali untuk bergabung dan berkolaborasi dengan para penari dari Jepara.

Kontingen kesenian pimpinan Tony Haryo ini diberi mandat oleh Biro Kesra Setda Provinsi Jateng dan Dinbudpar Jepara untuk mengisi acara pembukaan MQK. Sedikitnya 120 seniman dan pendukung terlibat dalam tampilan sendratari Laskar Kalinyamat ini. Diantaranya terdiri dari penari, penabuh gamelan (pengrawit), pemusik, pesilat, dalang, sinden, penata musik, penata tari, penata rias dan busana.

Secara resmi MQK ke VI ini dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim. Seremonial pembukaan dipusatkan di lapangan utama Pondok Pesantren Balekambang. Tampak hadir, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Noor Achmad, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta jajarannya, Pengasuh Pesantren Balekambang KH Muhammad Makmun Abdullah, para Bupati dan Walikota di Jawa Tengah, para Kakanwil Kemenag Provinsi, Dewan Hakim, dan 1.456 santri dari 34 provinsi. Selain itu, ada ratusan official dan ribuan santri dan masyarakat sekitar Balekambang.

Mengawali sambutannya, Menag Lukman menyampaikan salam dari Presiden Joko Widodo. Menag juga menyampaikan permohonan maaf Presiden karena tidak bisa hadir menyapa para santri. Menag menegaskan bahwa pesantren merupakan miniatur Indonesia. Pesantren jadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa.

“Kami akan terus meningkatkan alokasi APBN untuk pesantren. APBD juga sudah sepatutnya menyediakan alokasi yang cukup untuk pesantren yang ada di daerahnya masing-masing,” kata Menag.

“Pemerintah Daerah sudah seharusnya peduli dengan layanan pendidikan di daerahnya, termasuk pesantren dan madrasah diniyah,” sambungnya.

Menag minta agar aturan yang membatasi keberpihakan Pemda terhadap pesantren dan madrasah diniyah bisa segera dibenahi. Demikian juga pemerintah pusat akan melakukan harmonisasi lintas kementerian dan lembaga guna membangun sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Menag menyampaikan selamat kepada para santri yang akan mengikuti musabaqah. Menurutnya, MQK adalah ajang olimpiade-nya pondok pesantren.

Menag juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah dan Bupati Jepara yang telah memberikan dukungan bagi kelancaran MQK ini. Apresiasi juga disampaikan kepada pengasuh pesantren KH Muhammad Makmun Abdullah.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta. Ganjar mengapresiasi rangkaian acara MQK tahun ini yang tidak hanya menjadi ajang lomba baca kitab kuning, tapi juga lomba pidato bahasa Inggris dan Arab.

“Saya lebih tertarik lagi, ada debat konstitusi berbasis kitab kuning. Ini lah kalau Menag nya itu orang yang tekun mensosialisasikan konstitusi kita waktu masih di MPR,” tuturnya. “Debat konstitusi ini akan lebih memantapkan kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara,” harapnya.

Dirjen Pendidikan Islam dalam laporannya mengatakan, MQK menjadi ajang silaturahim. Kehadiran ribuan santri pada acara ini dalam rangka merevitalisasi kajian kitab kuning dan pesantren. Melalui kajian kitab kuning, pesantren mendapat pemahaman yang moderat. Kyai dan ustadz sering merujuk kitab kuning. Tradisi kajian kitab kuning jadi roh keagamaan.

MQK diinisiasi oleh sejumlah kyai pesantren dan dimotori KH Said Aqil Munawar yang saat itu menjabat sebagai Menteri Agama. Tradisi itu terus dipelihara dengan beberapa peningkatan. MQK mulai tahun depan diselenggarakan dua tahun sekali.

Kategori Lomba
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementrian Agama Ahmad Zayadi mengatakan, ada tiga kategori perlombaan pokok dalam MQK, yaitu : Pertama, lomba membaca, menerjemahkan, dan memahami kitab kuning. Total ada 25 bidang yang akan dikompetisikan dan terbagi dalam tingkatan, yaitu: dasar, menengah, dan tinggi.

Untuk marhalah ula (tingkat dasar),ada lima bidang lomba, yakni: Fiqh, Nahwu (gramatika Bahasa Arab), Akhlak, Tarikh (sejarah), dan Tauhid. “Marhalah ula diikuti santri yang sudah berada di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal lima belas tahun kurang sehari,” ujarnya

Untuk marhalah wustha (tingkat menengah), ada sembilan bidang lomba, yakni: Fiqh, Nahwu (gramatika Bahasa Arab), Akhlak, Tarikh (sejarah), Tafsir, Hadis, Ushul Fiqh, Balaghah, dan Tauhid. “Bidang ini diikuti para santri yang sudah menetap minimal 1 (satu) tahun di pondok pesantren dengan usia maksimal 18 tahun kurang sehari,” imbuhnya.

Sedang untuk marhalah ulya (tingkat tinggi), ada 11 bidang lomba. Selain sembilan bidang lomba seperti yang dilombakan pada tingkat menengah, dua lainnya adalah bidang Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadis. “Marhalah ulya ini akan diikuti santri yang sudah mukim di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal 21 tahun kurang sehari,” tandasnya.

Kedua, lomba debat konstitusi berbasis kitab kuning. Lomba ini akan menggunakan Bahasa Arab dan Inggris. Diikuti oleh mahasiswa Ma’had Aly.

Lomba ini merupakan ikhtiar Kemenag untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tentang nasionalisme dalam Islam. Kalau merujuk pada sumber literatur yg otoritatif, dijumpai bahwa nasionalisme bagian dari Islam.

Ketiga, Eksibisi, yaitu pertunjukkan atraktif tentang nazham kitab populer di pondok pesantren yang diisi oleh Tim (maksimal 5 orang) dari setiap kafilah. Nazham yang akan ditampilkan antara lain dari kitab  Alfiyah Ibn Malik (kitab berisi 1000 bait syair tentang ilmu gramatika Bahasa Arab).

Selain kegiatan pokok tersebut, ada sejumlah kegiatan penunjang yang dihelat di lokasi MQK. Kegiatan penunjang sifatnya tidak dilombakan. Kegiatan sersebut adalah Halaqah Pimpinan Pondok Pesantren, Sarasehan dan Musyawarah MQK, Bazar dan Pameran Produk Pondok Pesantren, Diskusi Kepesantrenan dan Kitab Kuning, Pentas Seni kaum santri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar